Hamil Anak Siapa ?!

Hamil Anak Siapa ?!
Chap 51


__ADS_3

"Siapa pak? Yang malam-malam begini bertamu?" tanya bibi Angga heran.


"Entah buk! Biar bapak lihat dulu." paman Angga bersungut keluar kamarnya,


Perlahan bibi dan paman Angga menyalakan lampu ruang tamu dan membuka pintu rumah. Mereka tertegun.


Seorang pria tampan berdiri didepan pintu rumah mereka. Pria itu tersenyum ramah.


"Bolehkan saya masuk?"


Paman dan bibi Angga saling pandang. Bijakkah membiarkan pria asing masuk kedalam rumah dijam selarut ini? Begitulah arti pamdangan mereka.


Pria itu merogoh saku dalam jaketnya, lalu mengeluarkan aebuah buku berwarna Merah. lalu menyerahkannya pada sang tuan rumah.


Paman Angga menerimanya lalu membuka halaman depan. Dia tertegun lalu menatap pria didepannya.


"Masuklah." Paman Angga mempersilahkan.


Paman dan Devan duduk berhadapan diruang tamu, sementara bibi datang dengan membawa minuman hangat lalu mempersilahkan Devan meminumnya.


"Jadi kamu suami Angga?"


"Benar."


"Kenapa, tidak datang bersama Angga? Dan kenapa tidak memberi kami kabar sama sekali?" berondong Paman.


"Maaf, semua terjadi begitu saja." ucap Devan,"Dan sekarang kami sedang bertengkar, dia kabur dari rumah. Karena itu saya menyusulnya."


"Heemmmm...." Paman tampak berpikir."Aku nggak mau tau kenapa kalian bertengkar. itu sudah jadi urusan kalian berdua."


Devan tersenyum lega, jujur saja dia sedikit ragu bahkan enggan untuk menceritakan yang sesungguhnya.


"Tapi karena kamu sudah sampai disini dan ini sangat larut..." kata paman menatap tajam pada Devan."...menginaplah."


Devan tersenyum kecil mendengarnya.


"Terima kasih. Itu tujuan saya. paman sangat pengertian." ucapnya.


"Kamar dirumah ini sangat terbatas, kamu bisa tidur disini atau dikamar Angga terserah. Dia tidur di kamar sebelah kiri. itu yang pintunya kosong tak ada namanya." jelas Paman meletakkan buku nikah yang dari tadi dibawanya.


"Kami mau tidur dulu. besok kerja dan masih harus bangun pagi." Paman dan bibi beranjak dari duduknya, lalu memasuki kamarnya.


Devan menghela nafas lega, dia melepas jaketnya. Melangkahkan kaki nya ke kamar yang tadi paman tunjuk. Devan membuka pintu masuk lalu menutupnya tanpa suara. Langkah kaki Devan hingga kepinggiran ranjang, Menatap wajah Angga yang pulas dengan tidur menyamping.


Devan tersenyum melihat wanita yang begitu dirinduinya. Devan mengelus kepala Angga, menyusuri rambut yang sedikit menutupi wajahnya, menyibak lembut hingga wajah Angga terpampang jelas. Devan mengecup kening istrinya. Lalu dia mengelus perut Angga yang membuncit itu.


"Aku merindukan kalian."lirih Devan, "Kenapa pergi begitu lama?"


Devan menatap lama pada Angga, hingga akhirnya dia membaringkan diri disisi wanita itu, dan terlelap.


_____


Keesokan paginya,


Suara burung yang bersenandung dipagi hari, mengantar sinar mentari yang menelusup melalui celah-celah ventilasi dan jendela. Masuk menerpa wajah Angga.


Mata Angga mengerjap, melihat sekeliling..

__ADS_1


"Aaahhh,, aku dirumah bibi sekarang." gumam Angga lirih. Dia menarik sudut bibirnya.


Tangan Angga menyentuh benda kerat diperutnya, Angga melirik perutnya. Ada tangan disana. Mata Angga melebar.


Tak mungkin ini tangan adikku, warnanya terlalu pucat. Lalu milik siapa? Siapa yang beerani bahkan dirumah bibi dan pamanku? batin Angga berang.


Angga berbalik, dan betapa terkejutnya dia melihat Devan disana tertidur dengan melingkarkan tangannya di perutnya.


Aa-apa yang Mas Devan lakukan disini? batin Angga terkejut mendapati suaminya tidur pulas diranjangnya.


Bagaimana dia bisa tau? Atau, memang sejak awal Mas Devan sudah menunggu disekitar sini? Tidak mungkin! dia tidak sebebas itu. pikir Angga menatap wajah Devan.


Angga bangkit dari tidurnya. Menuruni ranjang dan berdiri berbalik melangkah. Namun tangannya tertahan, Angga menoleh.


"Kamu mau kemana?" tanya Devan dengan mata terbuka lebar.


"Aa-apa yang... Bagaimana Mas Devan bisa tau?"


Devan mengulas senyum.


"Itu karena kamu melakukan tarik tunai." jelas Devan bangun dari pembaringan dengan masih menggenggam tangan Angga.


"Tapi.... bukankah ini terlalu cepat hingga kamu bisa sampai disini malam ini?"


"Aku memang cepat, Angga."


____


Di meja makan.


"Benar."Devan mengangguk yakin dan senang.


"Kyaaaaa..... Aku tidak menyangka."seru Ane histeris, "teman-temanku pasti tidak akan percaya."


"Bolehkan aku minta foto?"


"Tentu saja adik ipar."


"Hentikan Ane! kita sedang makan pagi."tegur paman, "makanlah dengan tenang."


"Baik."Ane cemberut dan. sedikit kecewa.


"Tidak apa kan, Ane kan masih sekolah. masa puber. ingat?"bela Bibi menyentuh lengan suaminya.


"Bagaimana kalau hari ini kami mengantarmu kesekolah?"tanya Devan dengan mwngulas senyum manisnya.


"Assyyyiiikkk..."


"Bagaimana menurutmu sayang?" Devan beralih menatap Angga.


"Terserah."


Pagi itu, Devan mengantar kedua adik iparnya kesekolah. Tak lupa dia juga memberi mereka uang jajan.


"Hati-hati ya kaka,kaka ipar."ucap Ane riang gembira keluar dari mobil dan melambai.


"Teerima kasih kakka ipar."

__ADS_1


Devan yang hanya melongok lewat kaca jendela mobil yang terbuka, tersenyum dan mengangkat tangannya.


Devan kembali melajukan mobilnya,


"Kemana selanjutnya?"


"pulang."jawab Angga singkat.


"Kamu ngk mau pergi kemana begitu?"tanya Devan menawar.


"Tidak! kita pulang saja."tegas Anngga


"Baiklah."jawab Devan patuh.


Hening sesaat. Tak ada percakapan antar mereka berdua.


"kapan mas Devan akan kembali ke ibukota?"


"kapan kamu akan kembali kerumah?"Devan balik bertanya.


"Ini rumahku."


"bukan"


"Masss!"pekik Angga kesal.


Devan menepikan mobilnya,lalu menatap istrinya itu.


"Maaf. Maaf untuk semuanya. Dan aku tidak akan kembali tanpamu." ucap Devan tegas.


"Aku minta maaf."lirih Devan."Maafkan aku."


Entah ada getaran dihati Angga yang tak mau enyah. Rasanya sakit menjalari tubuhnya. Dan tatapan mata Devan penuh harap juga rasa bersalah itu sangat menyiksanya.


Kenapa dia hanya diam saja dan tak mengatakan apapun? Kenapa aku jadi merasa bersalah? batin Angga, merasa cenggung ditatap Devan selama itu.


"a-apa kamu nggak mau menjelaskan apapun padaku?"tanya Angga akhirnya.


"Menjelaskan apa? Kamu yang pergi menghilang kenapa jadi aku yang harus menjelaskan?"tanya Devan masih menatap Angga.


Angga menoleh, menatap wajah Devan dengan kekesalan, amarah,sedih, rindu, semua bercampur menjadi satu.


"Ini....."Angga menyentuh perutnya yang membuncit."perbuatanmu kan?"


Sesaat mereka saling menatap dengan pikiran dan hati masing-masing.... Menunggu ucapan apa yang akan Devan sampaikan.


___€€€____


Reader kuuh , kasih semangat donk, biar aku up terus setiap hari.


like dan komen ya


Terima kasih.


Salam___


😊

__ADS_1


__ADS_2