
"Benarkah?" gumam Angga penuh tanya.
Dan Devan hanya mengangguk penuh keyakinan.
"Tapi aku tak pernah berjalan dalam tidur." bantah Angga walau wajahnya masih ragu.
"Kamu kan tidur. Mana mungkin tau. Kamu ngga sadar."
"Benar juga." Gumam Angga pelan namun masih terdengar oleh Devan,
Pria itu tersenyum kecil, dia coba tahan.
"Apa ini pengaruh hormon?"gumam Angga lagi. menatap Devan dengan ragu.
Devan mengangguk-angguk setuju dengan yakinnya.
"Ya sudah! Aku masak dulu." ucap Angga berdiri ditepian ranjang.
Devan menariknya hingga gadis itu duduk terjatuh diranjang yang empuk. Tubuhnya sedikit terdorong kebelakang namun ditahan dengan tangan Devan. Pria itu memiringkan tubuhnya.
cup
bibirnya sudah menyesap bibir Angga. Gadis itu terkejut hingga matanya membola.
"Morning kiss."bisik Devan melepaskan tangannya membiarkan gadis itu kembali terbaring diatas ranjang.
Sementara dia berjalan menuju kamar mandi yang memang ada didalam kamarnya. Angga terdiam. Dia masih sedikit kaget dengan morning kiss yang Devan berikan tadi. Wajahnya sudah memerah bagai udang rebus.
"Loh? Kamu masih disini?" suara Devan mengagetkanya dari lamunan.
Angga terduduk meliriknya. Pria itu hanya melilitkan handuk dipinggangnya. Membiarkan perutnya yang sixpack terexpose sempurna dimata Angga.
Gadis itu bahkan menatapnya tanpa berkedip. hingga air liurnya menetes. Devan tersenyum dan duduk disampingnya. Tanpa aba-aba Devan mengecup bibir Angga. Menyesapnya dan mengeksplore kedalamannya. seluruh ruang dimulutnya dia libas. Hingga dia puas dan mengakhiri ciumannya.
Devan menatap wajah merah wanita yang tersengal kehabisan nafas itu. Dengan senyum lebar yang menambah tampan wajahnya.
"Mas Devan nakal!"Seru Angga berlari keluar dari kamar dengan muka memerah.
Membuat Devan gemas dan tertawa lucu.
Angga berjalan kearah dapur dengan memegangi pipinya yang masih memerah. Didapur ada seseorang yang sedang menyiapkan sarapan. Angga berjalan dengan ragu dan berhati-hati.
"Maaf! Anda siapa?"
Wanita setengah tua itu tersenyum pada Angga.
"Saya ART disini. Tuan Devan yang menyewa saya. Nama saya Biyan." wanita itu memperkenalkan diri.
Angga tersentak kaget.
Apa? ART baru? Apa itu artinya aku dipecat? -batin Angga hampir menangis.
"Kamu sudah bertemu dengannya?" seru Devan berjalan mendekat.
Angga menoleh. manatap Devan meminta penjelasan. Namun pria itu hanya tersenyum melewatinya sambil mengacak-acak rambut Angga.
Devan duduk dimeja makan. Disana telah sersaji sarapan. Angga berjalan menyusul dan duduk di kursinya. Dengan wajah ditekuk dan menunduk.
__ADS_1
"Mas Devan apa maksudnya ini?"bisik Angga
"Apaa?"
"Art baru?"
"Heeemmmm?"
"Art baru? apa aku dipecat? jadi kamu mperkerjakan art baru?"
Devan tersenyum lucu.
"kita bicarakan nanti setelah sarapan." Devan mulai makan.
Angga sedikit lesu. tp makan juga. Devan hanya tersenyum melihat Angga makan dengan lahab.
"Apa makanannya Enak?"
"Heemmm."
"Habiskan." Devan mengambilkan lagi sesendok lauk ke piring Angga berikut dengan sayur dan yang lainnya.
Angga sedikit terkejut namun dimakannya sampai tandas juga.
seusai sarapan Devan duduk di sofa ruang utama menonton tv. Angga menyusul duduk disampingnya.
"Mas Devan apa sekarang aku dipecat? Kenapa memperkerjakan ART baru?" menatap penuh harap.
"Heeemmm?" Devan tak begitu mendengarkan Angga menoleh sedikit.
"Kenapa...."
Angga menggeleng.
"Mandi dulu sana."
Angga membuang nafas kesalnya. Dia beranjak ke kamar mandi dengan kesal. seusai mandi Angga mencari handuk. Namun tak dia temukan.
Haaahhh? Apa-apaan ini? kemana perginya semua handuk disini? bahkan jubah mandi pun tak ada? Sial mana bajuku sudah terlanjur basah lagi. batin Angga hampir menangis.
Lama terdiam. Angga coba mengintip dari celah pintu. Lalu menutupnya kembali.
Haaahhh..... Bagaimana sekarang? Tak mungkin aku berlari seperti ini sampai kekamar.
Angga terduduk diatas kloset sambil berfikir dan merenungi diri. Tak lama terdengar suara pintu kamar mandi diketuk.
"kamu baik-baik aja?" suara Devan terdengar kuwatir dari balik pintu.
Angga mengangkat kepalanya menatap pintu kamar mandi. Lalu berjalan mendekat.
Apa aku minta saja pada Mas Devan mengambilkan handuk? Aaahhh, malu lah. Batin Angga menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Heii! Angga? Kamu nggak pingsan kan?" Suara dibalik pintu mulai terdengar sedikit lebih tinggi tingkat kekawatirannya. dibarengi dengan suara ketukan yang semakin tidak sabar.
Haaahhh... Masa bodoh. batin Angga lagi.
"Aku dobrak nih."
__ADS_1
"Jangan!" teriak Angga dari dalam kamar mandi.
"Angga?"
Angga melirihkan suaranya.
"Mas Devan ambilkan handuk."bicara pelan sekali mungkin Orang dibalik pintu pun tak dengar.
"Apa?"
"Ambilkan handuk." sangat lirih namun lebih keras dari sebelumnya.
"Apaa??"
Hiiiiihh... Mas Devan apa sudah hilang pendengarannya? apa apa apa terus dari tadi. batin Angga menggerutu.
"Handuk."
"Handuk kenapa?"balas Devan dari balik pintu.
"Ambilkan handuk."
"Haaahh??"
hhhiiiiihhhh.... ngeselin banged sih.
"Tolong Ambilkan handuk! Disini nggak ada handuk!" suara Angga setengah berteriak dengan muka memerah.
Angga keluar setelah Devan mengambilkannya handuk. Pria itu menunggu diruang utama saat Angga siap dengan pakaian santainya. Angga masih berhenti disamping sofa tempat Devan duduk.
"Sudah selesai?"
Angga mengangguk. Devan berdiri tepat didepan Angga, membuat gadis itu sedikit memundurkan tubuhnya.
"Biar kuperiksa."
Apaaa? periksa apa? kenapa wajah dan tubuhnya mendekat sedekat ini? Aaaaa, periksa apaaaann? Kenapa malah menciumku?
Setelah cukup puas mencium Istrinya, Devan tersenyum melihat wajah memerah bak udang rebus itu.
"Baiklah. Ayo pergi." menarik tangan Angga.
"Kita mau kemana Mas Devan?"
Angga yang masih bingung mengikuti langkah Devan keluar Apartemennya menuju lift. Begitu masuk kedalam lift, Devan langsung menekan tombol lantai dasar. Kebetulan dalam lift hanya ada merek berdua.
"Aku selalu penasaran makan apa dan minuman apa yang kamu konsumsi." ucap Devan menangkupkan kedua tangannya diwajah Angga.
"Sepertinya kita mengkonsumsi makanan yang sama. Tapi kenapa bibirmu ini seperti candu buatku." Devan menyesap lagi bibir Angga.
UUUUUUGGGHHHHHH hari ini entah sudah berapa kali Mas Devan menciumku. Batin Angga.
Bahkan di lift juga? batinnya lagi.
Devan menyapu bibir Angga yang basah karena ulahnya. Dia tersenyum dengan lebar melihat wajah merah istrinya itu membuatnya semakin gemas.
Devan melihat lampu lift yang mununjukan lantai dasar. pintu lift terbuka. Mereka hendak keluar namun terhenti sejenak. Melihat orang yang berdiri didepan mereka.
__ADS_1
Wajah bahagia Devan memudar seketika. Angga memilih memundurkan tubuhnya bersembunyi dibalik tubuh Devan yang menggenggam erat tangan.