Hamil Anak Siapa ?!

Hamil Anak Siapa ?!
Chap 13 : Keluarga Devan


__ADS_3

Devan mondar mandir di ruang utama menunggu Angga yang bersiap. Sesekali dia melirik arlojinya.


"Kenapa lama sekali?"bergumam.


Devan berjalan kearah kamar Angga, tangannya menyentuh handel pintu.


Tunggu! Bagaimana bila dia sedang telanjang seperti waktu itu.


Devan kembali berjalan keruang utama. Duduk menunggu disofa. Devan melirik lagi jam tangannya,melongok kearah pintu kamar Angga. Devan berdiri, berjalan lagi kearah kamar Angga. Dia hendak mengetuk, tapi diurungkannya. Devan berbalik ke arah ruang utama. Beberapa langkah, Devan berhenti menoleh, berbalik kembali ke depan pintu kamar Angga, tangannya mengambang hendak mengetuk, pintu sudah terbuka dari dalam.


Mata Devan membola. Angga sudah berdiri dengan bluse motif bunga berwarna biru dipadukan rok pendek selutut. Dengan make up nude tipis diwajahnya,rambutnya terikat agak tinggi kebelakang, membuatnya terlihat seperti ABG.


Ya Tuhan! Dia manis sekali.


Wajah Angga sedikit kikuk melihat reaksi Devan didepannya.


"Apa aku terlihat aneh?" canggung.


Devan masih menunjukan ekpresi yang sama, tidak menjawab sedikitpun.


"Sebaiknya aku ganti saja."berbalik.


Dengan cepat tangan Devan menahannya.


"Jangan! Kamu sudah sangat manis."


Angga tercenung.


"Benarkah?"


"Heem.. Aku sampai pangling. Aku pikir siapa anak ini. Ternyata kamu." tertawa kecil.


Angga menarik bibirnya ke atas.


Uuugghhh... dia benar-benar manis. Hei, ini bukan waktunya.


Devan menarik tangan Angga keluar dari kamarnya.


"kita sudah sangat terlambat."setengah berlari, Angga sedikit terseog dibelakangnya.


Devan dan Angga sudah dalam perjalanan ke Mansion keluarga Shin. Dalam mobil merah itu, Devan beberapa kali melirik Angga.


"Eehheemm.." berdehem,"Angga. Aku akan mengenalkanmu sebagai istriku. Jika mereka bertanya macam-macam, biar aku saja yang menjawab,atau suruh saja mereka bertanya padaku. Okey?"


"Oke." mengangguk mengerti.


"Dan jangan keceplosan. Mulai sekarang,panggil aku sayang." mengusap hidungnya untuk menutupi bibirnya yang terangkat."Ayo coba berlatih."


"Ya?"


"Panggil aku sayang."


Angga tersenyum canggung.


Rasanya agak...


"Cepat! panggil aku sayang! kita sudah semakin dekat."


"Sayang."kikuk


"Jangan kaku begitu."protes Devan,"Biar aku tunjukkan. Eeheemm."


"Sayang."dengan nada lembut.


Angga terkekeh.


"Hey! kenapa tertawa?"

__ADS_1


"Rasanya geli mendengar Mas Devan mengucapkannya."


Devan mendesis.


"Baiklah."mengkerut.


"Panggil aku sayang."ulang Devan lagi."Sayang. Saaa-yaaangg... Saayaaaangg."mengucap dengan nada lembut dan mesra.


Angga tergelak, langsung mendapat tatapan protes Devan. Dia menepikan mobilnya.


"Sayaangg.. Sayaang.."Devan mengulang.


"Kenapa berhenti Mas Devan?"bingung.


"Tujuan kita sudah dekat. Kita tidak akan jalan sebelum kamu mengucapkan Sayang dengan benar. Ayo ucapkan. Sayang."sedikit mengancam.


"Sayang."masih canggung.


"Salah. Ulangi."


"Sayang?"


Devan menggeram. Angga gelagapan.


"sayang."


"Masih kaku."


"Sayang."


"Tidak alami."


"Sayang."


"Sedikit lebih mesra."


Devan tersenyum lebar.


"Benar. ucapkan seperti itu terus."


"Sayang."


Devan melajukan lagi mobilnya. "Ulangi."


"Sayang." Devan terus mencoba menyembunyikan senyumnya. "Terus!"


Selama setengah jam perjalanan, Selama itu pula Angga terus mengucapkan kata 'Sayang'. Seperti yang Devan minta. Akhirnya gerbang mansion terlihat.


Mobil merah itu berhenti tepat didepan pintu utama. Ada seorang pelayan yang menyambut.


"Semua sudah berkumpul tuan muda."ucap pelayan itu.


"Baiklah."Devan menyerahkan kunci mobilnya.


Tangan yang awalnya menggenggam tangan Angga berpindah melingkar dipinggang gadis itu. membuatnya terlonjak kaget menatap Devan.


"Apapun yang aku lakukan nanti, jangan terkejut. Okey?"berbisik ditelinga Angga.


"Kenapa?"menatap bingung.


"Karena kita suami istri yang saling mencintai. Heemm?"tersenyum memainkan alisnya.


"Tunggu sebentar."menghentikan langkah. Devan menarik ikat rambut Angga hingga terurai.


"Cantik."


Devan melingkarkan tangannya lagi ke pinggang Angga. Membuat jantung gadis itu kembali terlompat.

__ADS_1


Dalam ruang santai itu, Angga hanya mengenal Ibu saja duduk didekat pintu yang menghubung langsung ke taman samping, dan ayah Devan duduk tak jauh darinya. Sepasang suami istri paruh baya, duduk di kursi panjang adik dari ayah Devan. Tak jauh dari mereka ada seorang pria tampan dengan tubuh proporsional, berdiri bersandar pada pintu dengan memasukkan satu tangannya ke saku celananya melihat keluar.


Disofa lain ada putra sulungnya Egi dan istrinya Laura, Juga kaka kedua Devan, Kenan dengan istrinya brigita,



Mereka terlihat bercengkrama. Hingga Devan muncul.


"Selamat malam semua." sapanya dengan senyum lebar.


Semua mata terpusat padanya.


"Sepertinya kami sedikit terlambat."


"Devan!"ibu terkejut.


"Jadi ini menantu Ayah?" Ayah Devan berdiri, berjalan mendekat.


"Benar! Dia sangat manis bukan?" semakin merapatkan tubuh Angga. Gadis itu menundukkan kepalanya.


Ayah berhenti tepat di depan pasangan itu. Tangan Angga bergetar. Dia menggenggam tangannya sendiri agar tenang. terasa keringat mengucur di punggung dari balik bajunya. Malam itu tidak panas,namun suasana tegang sangat terasa. Apalagi saat Ayah Devan mendekat, suara langkahnya bahkan bagai bom yang siap meledak. Angga sangat ketakutan. Bagaimana jika reaksinya tak kalah dengan Ibu? Menentang dan tidak menyukainya. Haruskah Angga siap di usir?


"Selamat datang." sambut Ayah dengan tangan terbuka lebar.


Angga terlonjak kaget. Dia menegakkan kepalanya. Kenapa reaksinya berbeda dengan ibu? Pria tua itu menyambutnya? Benarkah?


Ayah Devan meraih tubuh Angga dan memeluknya. Pria tua itu tersenyum penuh wibawa.


"Kenapa wajahmu begitu? Apa kamu pikir aku akan memakanmu?"


"Ti-tidak Tu-tuan."


Ayah tersenyum lagi,


"Jangan memanggilku Tuan. Aku ini ayah mertuamu."


"Maaf."


"Panggil aku Ayah."


"Baik Ayah."tersenyum simpul.


Ayah kembali berjalan dan duduk disamping Ibu."Perkenalkan dirimu."


"Sa-saya..." beralih menatap Devan


Apa yang harus saya ucapkan tuan? Bukankah sekarang harusnya bagian anda?


Devan hanya diam saja dengan senyum tipis diwajahnya.


"Saya Angga putri."


"Jangan Gugup sayang. Aku bersamamu." ucap Devan, menempelkan hidungnya dengan hidung Angga dan menggoyangkannya.


Wajah Angga sudah memerah. Gadis itu hanya tersenyum canggung.


"Akan ku perkenalkan keluargaku padamu."menyudahi aksinya.


"Kamu sudah mengenal ibu kan? dan juga ayahku." Devan menuntun Angga mendekat dan memperkenalkanya sebagai istrinya.


Setelah itu mereka makan malam. Dalam keheningan tentunya, ayah Devan tak suka ada suara lain selain suara sendok dan piring yang beradu di meja makan.


Seusai santap malam, Devan dan Ayah masuk keruang kerja ayahnya. Angga Devan tinggal bersama keluarga yang lain menonton tv. Angga merasa canggung.Tentu saja, Apalagi tatapan tidak suka yang ibu tujukan padanya, membuat nyalinya menciut.


"Bangun!"ucap ibu menatap sinis pada Angga."Ikut aku."


Angga mengikuti langkah ibu. Kemana wanita itu akan mambawanya? apakah dia akan diusir sekarang? Bukankah ibu sejak awal tak menyukainya? Bagaimana ini? Apa yang harus Angga lakukan?

__ADS_1


__ADS_2