
"Nona Manis hari ini akan dikirim ke bos rentenir untuk dinikahkan sebagai pengganti hutang ayahnya." ucap Yunho memberi informasi dadakannya.
"APAA??"
Yo il terkejut setengah mati.
"Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?"sentaknya dengan mata membulat kesal. Justru membuat Yunho geli.
"Dari pada membahas ini tuan, sebaiknya anda segera bertindak. kalau tidak...."Yunho menunjuk ke arah Manis.
"Shiitt!"
Yo il keluar dari mobilnya, bergegas menghampiri Manis dan ayahnya.
"Mau apa kau kemari haahh?"sentak Ayah Manis begitu melihat Yo Il datang mendekat.
Tanpa menjawab Yo Il langsung mengambil tangan Manis menariknya kesisinya. Namun tangan Ayah Manis sama kuatnya mempertahankan anak gadisnya itu.
"Pergi kau! Jangan mengacau lagi." ucap ayah Manis lantang.
"Berapa hutangnya?" tanya Yo Il dingin dan datar dangan masih bertahan mengenggam tangan Manis.
"Kau mau menggantinya?"tanya Ayah Manis dengan nada meremehkan.
"Berapa harga yang harus aku bayar untuk anak ini?"
Apa? kata-katanya itu? apa dia pikir aku ini barang? batin Manis kesal.
"Dua ratus juta."
Yo Il tertawa kecil.
Heeeehh.. Hahahahaha...
"Kenapa kau tertawa? Apa harga ini terlalu tinggi untukmu?" ejek Ayah Manis dengan mata mendelik meremehkan.
"Yunho!"panggil Yo il menatap dingin ayah Manis.
"Iya Tuan Muda."Yunho maju selangkah dibelakang Yo il, dengan sedikit membungkuk.
"Kau urus dia." Titah Yo il menarik kuat Manis hingga terlepas dari ayah Manis.
"Baik."
"Kau! Beraninya...." geram Ayah Manis meradang,
Yunho dengan sigap maju didepan Yo il yang menjauh. Yunho mengangkat koper yang sedari tadi dibawanya, dan membukanya. Ayah Manis langsung berhenti. Melihat banyaknya uang dikoper itu, mata Ayah Manis berbinar dan bersemangat.
Pria mata duitan itu mengulurkan tangannya hendak mengambil segepok, dengan cepat Yunho menutupnya. Hingga ayah Manis sedikit kesal.
"Mari kita bicara dulu." ajak Yunho dengan senyum tipis.
"Baiklah. Hahahaha... Ayo masuk tuan."ajak Ayah Manis ramah.
Yo il Menarik Manis menuju mobilnya,
"Apa-apaan ini Om?"tanya-nya sedikit tak terima. Yo il tersenyum tipis, dan berbalik menatap gadis itu.
"Apa kau mau menikahi bos rentenir itu?"
"Tentu saja tidak! Kenapa menanyakan hal yang sudah jelas!" kesal Manis
"Kalau begitu menurutlah dan diam." ucap Yo il yang juga sedikit kesal."Masuk ke mobil."
Manis menyentak nafasnya kasar.
yah, lebih baik dari pada dengan pria tua mesum itu. batin Manis memasuki mobil.
Sementara itu,Yunho duduk dikursi teras rumah Manis. Dengan ramahnya ibu tiri Manis menghidangkan minuman dan camilan.
__ADS_1
"Jadi apakah semua uang itu untuk kami?" tanya Ibu tirinya dengan sangat tidak sabar dan bersemangat."bukankah itu lebih dari 200 juta?"
"Ck! Diamlah." sergah Ayah Manis.
"Kalian sudah membawa anakku. Jadi mari kita bicarakan harganya..."ujar ayah Manis tanpa ragu dan malu.
Yunho tersenyum tipis.
"Kami juga tak ingin berlama-lama disini." ucap Yunho tegas."Silahkan dibaca dan ditandatangani"
"Apa ini?"
"Hanya surat perjanjian saja."
"Berapa uang yang kami dapat setelah menandatangani nya."tanya Ayah Manis tidak sabar.
"Ini...." Yunho mengangkat kopernya diatas meja, meletakkannya dan mendorongnya ke arah pasangan itu.
Dengan cepat Ayah Manis menandatangani sk itu. Lalu menyerahkannya pada Yunho. Pria itu mengulas senyum. Sementara Ayah Manis meraih uang dlm koper itu dengan wajah girang dan senang.
"Kedepannya tolong jangan mengganggu ataupun menghubungi nona Manis lagi."ucap Yunho berdiri.
"Tentu saja. Ambil saja dia. hahaha.." tanpa mengalihkan matanya dari tumpukan uang dalam koper. Begitupun dengan istrinya.
Yunho berbalik, memutar matanya malas.
Dasar orang tua mata duwitan. batin Yunho.
Yunho berjalan dan memasuki mobil. Mengendarinya meninggalkan rumah Manis.
______
Di lain pihak. Kantor Devan.
"Kamu siapa?" tanya wanita bertubuh proporsional dan berwajah cantik itu. menatap Angga curiga. Seorang wanita biasa dengan lancang duduk dikursi Tuannya.
"Aaaa... saya hanya duduk, saya belum menyentuh apapun."
"Aku tanya siapa kamu?"
Angga berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati wanita itu.
"Saya Angga Istri Mas Devan " ucapnya memperkenalkan diri.
Wanita itu terkejut. Tentu saja bagaimana bisa ada wanita yang tiba-tiba muncul dan mengaku-ngaku sebagai istri Tuan Devan.
Tidak mungkin! Bagaimanapun wanita ini terlihat kampungan. Tak mungkin istri Tuan Devan. Paling dia hanya wanita Jallaaang mengaku-ngaku saja. Nggak bisa aku biarkan. Bisa bisa aku malah dihukum gara-gara ada wanita yang asal masuk keruangannya seperti kasus nona Mona dulu. Pikir wanita itu.
"Hahahahaa" wanita itu tergelak.
"Tuan Devan belum menikah. Jangan mimpi deh. Kamu kehaluan rupanya. Ayo keluar! Sebelum Tuan Devan kembali."ucap wanita itu menarik tangan Angga.
"Tapi aku sungguh istrinya "
"Mimpi kamu! sudah banyak wanita yang datang menggoda tuan Devan. Tapi kamu yang paling berani menyebut istri."kesal wanita itu menarik paksa Angga keluar.
Di luar ruangan wanita itu masih menarik Angga.
"Hei, lepaskan aku dulu. Jika kamu tak percaya aku bisa menghubunginya." ucap Angga.
"Baiklah kalau begitu." ucap Wanita itu melepaskan tangan Angga. Toh, mereka sudah diluar ruangan.
Angga menghela nafasnya.. Lalu mengambil ponselnya. Dia tekan tombol power. Namun masih belum menyala juga.
"Aaahh,, ponselku habis batre."Gumam Angga menepuk jidatnya. dia melirik wanita disampingnya yang terlihat tersenyum mengejek.
"Hp ku habis batre. Bagaimana kalau aku pinjam telpon kantor?"tanya Angga canggung.
Wanita itu terkekeh, mengibaskan tangan di udara.
__ADS_1
"Halaahh.. alasan kamu saja. Tapi baiklah. ini untuk membuktikan kamu memang punya hubungan dan memang mendapat ijin masuk kesana."ketus wanita itu. Dia menuju meja terdekat lalu mengambil telpon kantor.
"Aku berbaik hati menekankan nomor extension tuan Devan." ucapnya menyerahkan ganggang telpon pada Angga.
Tuuuttt... Tuuuuttt... ceklek. Wanita itu langsung menekan tombol loadspeaker.
("Halo?") suara Gerald.
"Aaa, asisten Gerald, kenapa kamu yang menjawab?"tanya Angga tertegun.
("Apa ini Nona Angga?") Gerald balik bertanya. ("Tuan Devan sedang rapat. Jadi saya yang menjawabnya. Ada apa?")
"Aaa, begitu ya?"
("Kenapa menggunakan nomor kantor? Apa ada yang menyulitkanmu? Katakan saja siapa namanya, aku akan menanganinya nanti.")ucap Gerald.
"Aaa... tidak! Hanya...." Angga melirik wanita disampingnya yang terlihat sedikit panik.
("Seingatku ini nomor Sekertaris Yumi. Jika dia ada disana. Berikan padanya. Aku mau bicara.")
Angga melirik Yumi, Wanita itu mengangkat tangannya sambil melambai dan menggeleng panik.
"Tidak. aku hanya butuh chas ponsel. batre ku habis." Angga ngeles asal.
("Aaa.. Baiklah. Tunggu sebentar.") suara Gerald dari seberang sana.
"Tidak perlu kesini Asisten gerald. Saya akan pinjam pada salah satu karyawan sini saja." ucap Angga mencegah.
("Baiklah! katakan jika ada yang menyulitkanmu.")
Telpon terputus. Angga menghela nafas lega.
"Jadi kamu benar-benar sudah mendapat ijin masuk keruangan itu?" tanya Yumi.
"Begitulah."
"Maaf! Maaf kan aku! Aku tak tau! sungguh. Aku pikir kamu hanyalah orang bermuka tebal yang biasa mengganggu tuan Devan."ucap Yumi lagi menangkupkan tangan menyatu didepan mukanya.
"Tidak apa. Yang penting kamu percaya. Itu sudah cukup."balas Angga. "kalau begitu, boleh aku masuk lagi?"
"Tentu saja."
Angga melangkah menywntuh handle,
"Tunggu!" ucap Yumi, Angga menoleh.
"Tolong jangan adukan aku."pintanya.
"Baiklah." Angga tersenyum kecil lalu masuk kedalam ruangan Devan lagi.
___€€€____
Visual Manis
Visual Yunho
Reader kuuh , kasih semangat donk, biar aku up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
Salam___
😊
__ADS_1