Hamil Anak Siapa ?!

Hamil Anak Siapa ?!
Chap 15 : Recharge!


__ADS_3

Disebuah pusat perbelanjaan Devan dan Angga memasuki sebuah toko tas brended.


"Mas Devan. kenapa kita kemari?"


Angga celingukan, dia tau tas tas disana tidaklah murah.


"Tentu saja membeli tas."berjalan melihat-lihat tas yang terpajang di display.


"Mas Devan butuh tas?" mengikuti dibelakang.


"Bukan buatku, pilihlah yang mana yang kamu suka."


"untukku?" menunjuk wajahnya sendiri


"Heemmm."


"Tapi disini mahal. Kita pindah saja. Ayo kepasar, disana lebih murah."ajak Angga menarik lengan Devan.


"Haaahh....."Devan menghela nafas kesal.


"Disana terlalu murah. Uang kita sangat banyak."


"Benarkah?"mata Angga berbinar.


"Heeem." mengangguk senang. "Ibu sudah memberi kita uang semalam. Jadi ayo kita habiskan hari ini."senyum kemenangan.


"Mas Devan!"memukul lengan Devan.


"Apa sih? Dia sudah berikan! Sayang kalau tidak dipakai." Senyum lagi.


Angga mengerucutkan bibirnya membuat Devan gemas.


"Jangan Mas Devan."wajah Angga sudah muram.


"Kenapa?"


"Uang itu....." Angga berucap dengan lemas.


"Uang itu?"


"kita tidak seharusnya mengambil uang itu."


"Kenapa?"


"Uang itu, Bukankah Mas Devan juga tau? uang itu untuk membayarku menjauh darimu."jelas Angga sedikit kesal Devan seolah tidak perduli.


"Apa itu artinya kamu tidak mau jauh dariku?"goda Devan mengerling.


"Bukan begitu."kesal dengan sikap Devan."Bukankah ini artinya aku menyetujui semua yang ibu katakan?"


Devan mengernyit.


"Aku tidak suka dengan sikap ibuku. Dia membuatku kesal. Jika dia melakukannya lagi. Terima saja uangnya. Dan jangan pernah pergi dariku. Heemm?"


"Itu artinya aku sangat serakah. tidak tau malu. Mungkin ibu akan menuntutku." lirih Angga,lemas.


"Itu akan jadi urusanku!"tegas Devan mengangkat dagu Angga dengan jarinya. Hingga mata mereka bertubrukan. Angga menunduk dengan muka merahnya. Devan jadi gemas dibuatnya.

__ADS_1


Kenapa kamu manis sekali sih?


"Kamu mau memilih sendiri atau aku yang pilihkan?"tawar Devan menyentuh satu tas.


Angga melirik tas itu. tag nominalnya membuat Angga melongo.


Itu mahal sekali batin Angga terkejut.


"Aku yang pilihkan. Ini saja." ucap Devan asal. "Permisi! Bisa tolong bungkuskan tas ini?" Devan memanggil karyawan ditoko itu


"aaaa, tidak! Jangan!"cegah Angga cepat." Aku yang akan memilih sendiri."akhirnya menurut.


Devan tersenyum tipis.


"kenapa? Bukankah ini bagus?"


"Aku, tidak suka warnanya. Juga modelnya. Aku akan memilih sendiri."asal beralasan.


"Baiklah. Pilih yang banyak."titah Devan dengan senyum kemenangan.


Akhirnya mereka membeli dua tas branded disana. Beberapa gaun, set perhiasan dan satu baju couple yang langsung mereka pakai.


Devan menautkan jarinya pada jari Angga yang membuat muka Angga memerah. Mata Devan melirik pada seorang pria yang bersembunyi disudut toko dengan kamera ditangannya. Devan tersenyum tipis.


Dalam Sebuah Cafe.


Ibu Devan melihat kiriman foto-foto Devan dan Angga yang berbelanja menggunakan uangnya. Tangan ibu mengepal,menggebrak meja.


"Kurang ajar!"


Ibu masih kesal dan marah. Ibu menyeruput minumannya, didepannya duduk seorang wanita cantik.



Sebenarnya Mona juga kesal. Gara-gara gadis kampung itu dia tersingkir. Ditambah lagi, gadis itu mendapat restu dan sambutan dari Ayah Devan yang bahkan tidak merestuinya dulu. Sungguh membuatnya geram. Apa yang gadis itu miliki? Kenapa Mona bisa kalah darinya? Dia yang seorang wanita berkelas dan memiliki derajat yang sama bisa tersingkir oleh gadis desa? Yang benar saja!?


"Ibu...."lembutnya mengelus tangan ibu.


"Dia sangat tidak tau malu. lihat dia. Dia bahkan menghabiskan seluruh uang ibu." Geram ibu."Dengan tidak tau malunya berbelanja sana sini dengan wajah sok polosnya. Membuataku jijik saja."


"Tenang ibu! jangan gegabah. ini hanya akan membuat Devan membenci ibu. Hanya ibu satu-satunya yang kupunya sekarang."ucap Mona dengan wajah memelas.


"Hanya ibu satu-satunya harapanku."


Ibu mematap iba pada Mona.


"Maafkan ibu. Ibu tak bisa mengajari Devan dengan baik. Entah sihir apa yang wanita kampung licik itu pakai hingga Devan meninggalkanmu seperti ini."


Mona tersenyum.


"Tak apa ibu. Ibu masih berada dipihakku saja sudah cukup."


"Mona, kita harus mengatur strategi lagi. Aku tidak rela bermantukan gadis desa itu."Ucap ibu menatap harap pada Mona."Tolong! Jangan berpaling dari Devan,Dia hanya tersesat sesaat. Devan pasti akan kembali padamu."


"Iya ibu. Mona juga berharap begitu."


_____

__ADS_1


Dalam Apartemen Devan


Devan menjatuhkan tubuhnya ke sofa setelah meletakkan beberapa kantong papperbag di lantai. Angga yang berjalan mengikuti dibelakang berhenti tak jauh darinya.


"Haaaahh" Devan mendesaaahhh lemas.


"Melelahkan sekali. Aku butuh recharge." ucapnya melirik Angga.


"Aku ambilkan minuman dingin."berbalik hendak melangkah kedapur.


"Jangan! Kemarilah!" seru Devan sedikit mengangkat kepalanya.


"Iya?" Angga mendekat.


"Aku butuh recharge."


"Apa yang Mas Devan butuhkan."


"Sayang!" mengangkat tangannya.


"Aaa... Apa yang sayang butuhkan?"


Devan menarik sudut-sudut bibirnya keatas.


"Recarge." menarik tangan Angga, hingga jatuh terduduk di sofa. Devan memutar tubuhnya hingga berada diatas tubuh Angga. bertumpu pada lutut dan tangannya. Melummaatt bibir Angga. menyusuri setiap ruang dimulutnya.


Manis. Membuatku ketagihan.batin Devan


Uuugghhh! Tuan Devan menciumku lagi. Sejak menikah dia sudah menciumku dua kali. Boleh aku memberontak? suara hati Angga.


Devan mengakhiri ciumannya saat Angga kehabisan nafas.


"Bernafas." Devan tersenyum lebar."Kamu belum pernah berciuman ya?"


Wajah Angga memerah.


"Aku ajari. Lakukan seperti yang aku lakukan."


Devan mencium Angga lagi. Dengan lembut dan perlahan.


"kenapa diam saja?"


Devan kembali mencium Angga.


"Lakukan seperti yang aku lakukan."


Devan sekali lagi mencium Angga.


"Gerakkan bibir dan lidahmu."


Devan sekali lagi mencium Angga.


"Aku nggak akan berhenti sebelum kamu membalasku"


Ciuman Devan menjadi semakin tak sabar. Angga bahkan tanpa sadar meneteskan air matanya. Devan menghentikan ciumannya saat merasakan tetesan hangat di jarinya.


"Kamu tak ingin berciuman denganku?"suara Devan terdengar begitu pilu. Sakit ternyata saat wanita yang dia cium justru menangis.

__ADS_1


Pria itu menegakkan tubuhnya,menatap gadis yang terdiam dengan bulir bening yang membanjir dipipinya. Dengan perasaan tak menentu, Devan berlalu kekamarnya. Tentu saja dia menyesal, wanita dihadapannya justru menangis tanpa perlawanan. Hampir saja dia menuruti hasratnya.


__ADS_2