
"Bangun!"ucap ibu menatap sinis pada Angga."Ikut aku."
Angga mengikuti langkah ibu. Kemana wanita itu akan mambawanya? apakah dia akan diusir sekarang? Bukankah ibu sejak awal tak menyukainya? Bagaimana ini? Apa yang harus Angga lakukan?
Ibu berhenti diruangan yang terpisah. Disana hanya ada Angga dan ibu saja. Dengan bersedakep ibu duduk di sebuah kursi sofa.
"Duduk!"perintahnya menunjuk pada kursi merah dengan dagunya. Angga duduk tanpa membantah.
"Katakan berapa uang yang kamu minta?"
Angga mengangkat kepalanya, tersentak melihat kearah Ibu.
"Jangan berpura-pura dan berwajah lugu seperti itu." sinis Ibu merasa muak melihat kepolosan wajah Angga.
"Katakan padaku. Berapa uang yang kamu inginkan untuk pergi dari kehidupan Devan?"
"Sa-saya tidak...." meremas tangannya sendiri.
"Heeeh, jangan munafik. Kamu mendekati Devan karena uangnya kan? Karena itu aku akan memberikannya padamu." Ibu mengeluarkan selembar cek menyodorkannya pada Angga.
"Aku rasa ini cukup."menggoyangkan selembar cek itu, agar Angga segera mengambilnya.
Angga terdiam, tidak bergerak sedikitpun. Angga masih meremas tangannya yang bergetar.
"Ayo ambil! Atau kamu ingin lebih banyak lagi?" ucap ibu mengintimidasi."Katakan! Akan aku berikan. Jika kau cukup tidak tau malu memintanya."
Angga menunduk.
"Tidak ibu."
"Diam!" sentak ibu marah."Aku bukan ibumu. Lancang sekali kamu menyebutku Ibu!"
"Ma-maaf Nyonya." Mata Angga sudah berkaca-kaca.
"Ambil!" terus menggoyangkan lembaran cek ditangannya.
"Apa kau lumpuh? haahh? Tak bisa menggerakkan tanganmu? Atau kau memang serakah? haahh?" sentak ibu tidak sabar matanya sudah membulat sempurna.
"Hentikan Bu!"
Ibu terkejut, menoleh kearah suara itu muncul. Begitupun dengan Angga.
Tuan Devan. batin Angga lega.
"Apa yang ibu coba lakukan?" Devan mendekat. Meraih lembaran cek ditangan ibunya yang belum sempat Ibu tarik kembali.
Devan tertawa lucu, menatap tajam pada ibunya. Devan tak percaya ibunya benar-benar akan melakukan hal seperti ini.
"Hanya segini harga untuk anak ibu?" sinis Devan tajam."Murah sekali. Ternyata aku tidak seberharga itu untuk ibu."
"Devan!"
Devan beralih menatap Angga. Menarik tangannya hingga berdiri.
"Terima kasih uang nya bu, kami akan menggunakannya semaksimal mungkin." sinisnya lagi. Membawa Angga menjauh dari ruangan itu. tanpa memperdulikan ibu menjerit memanggil namanya.
"Devan!"
"Devan!"
Angga terseret mengikuti langkah Devan, tangannya menggengam kuat.
"Mas...."
__ADS_1
"Mas Devan..."
Angga masih terseret mengikuti langkah Devan.
"Mass Devan...."
Kenapa dia? Apa Dia marah? Padaku? atau pada ibu? kenapa diam saja tidak menghiraukanku? batin Angga.
"Tuan Devan..."
Devan berhenti tiba-tiba, membuat Angga menubruknya.
"Aaaaa.... Mas Devan kenapa tiba-tiba...." menggosok hidungnya.
Devan berbalik dengan wajah merah, rahang yang mengeras dan bibir yang mengatup menahan emosinya. Angga yang melihatnya mengkerut.
Dia marah. batin Angga yakin.
"Kenapa kamu diam saja? Apa kamu nggak bisa melawan haahh?" marah.
Dia benar-benar marah, aku harus bagaimana? batin Angga dengan wajah hampir menangis.
Tangan Devan mengepal. Melihat wajah Angga yang seperti itu, Devan melepaskan cengkraman. Mengusap kasar wajahnya. Menarik nafasnya perlahan.
"Maaf. Ayo kita pulang." ajaknya saat emosinya mencair.
Beberapa saat yang lalu, Devan yang berdiri didepan meja diruang kerja bersama Ayahnya, menjatuhkan dua buku nikah berwarna hijau tua dan merah itu dimeja.
"Ayah puas?"
Ayah yang duduk dikursinya melihat buku itu lalu mengambil salah satunya. Membuka lembaran buku itu, Dia menarik sudut-sudut bibirnya.
"Kau mau pulang sekarang? Kamarmu sudah dibersihkan."meletakkan kembali buku yang diambilnya.
"Tidak."Balas Devan yakin,"Aku lebih suka tinggal diapartemenku." tolaknya. mengambil kembali buku nikahnya dan memasukkannya kedalam saku jasnya.
"Aku tau." balas Devan datar . "Aku pergi." menundukkan kepalanya. berbalik dan melangkah keluar.
Dalam perjalanannya menuju ruang santai,Devan melewati ruangan yang Angga masuki, Devan mendengar suara ibunya dengan sangat jelas. Devan tertawa kesal. Devan melangkahkan kakinya mendekat.
"Hentikan Bu!"
______
Dalam mobil menuju apartemennya. Devan melihat jam yang melingkar di tangannya. masih pukul 22.00. malam. Devan melirik gadis imut disampingnya.
"Kamu mau mengunjungi suatu tempat?"
"Ya?"terbangun dari lamunannya."Tidak. Ini terlalu malam, pasti sudah pada tutup. Pulang saja Mas Devan."
"Hei. Kenapa masih memanggil Mas Devan?"
"Apaa?" bingung. "Maksud Mas Devan? aku harus memanggil apa?"
Devan menghela nafasnya kesal. Angga semakin bingung.
"Kan sudah latihan tadi."
"Latihan?"
"Huuuuhh...."Makin kesal.
Mata bulat Angga masih menatap Devan minta penjelasan.
"Masa lupa sih?"
__ADS_1
Angga masih menatap bingung dengan mata bulatnya. Malah membuat Devan gemas.
"Kamu lupa dengan latihan dalam mobil tadi?"
Mata bulat itu masih melihat kearah Devan.
"Sayang?" polos Angga.
"Iya." gemas Devan.
wajah Angga memerah mengalihkan pandangannya kedepan.
"Gunakan kata itu mulai sekarang dan seterusnya." Devan menyentuh hidungnya untuk menutupi bibirnya yang terangkat. Dia kesulitan menahannya agar tidak tersenyum.
"Hei. Kenapa diam saja?"
"Aku pikir itu hanya berlaku di rumah besar saja."lirih Angga.
"Haaaaahhh...."Devan menghela nafas kesal.
"Kita sudah berlatih keras. Sayang jika tidak dipakai. Ayo. Katakan Sayang."
Angga memiringkan tubuhnya. Menatap kesal pada Devan.
"Sebenarnya, Ini hanya akal-akalan Mas Devan saja kan?"mencoba protes.
Devan tertawa lucu.
"Aku hanya merasa sayang saja. kalau latihan kita yang lama dan panjang itu jika tidak digunakan."beralasan.
Angga terlihat berfikir.
"Baiklah."akhirnya.
Devan tersenyum puas, namun dia mencoba menutupinya dengan menyentuh hidungnya sendiri.
"Kamu mau mengunjungi suatu tempat?" sengaja mengulang.
"Nggak Mas.... Mmm, Sayang."
Devan tersenyum geli lagi. masih menyentuh hidungnya.
"Aku tau, ada tempat yang bagus kalau malam gini. Mau?" ucap Devan melirik jail.
"Dimana?"penasaran.
"Kamar!
Hahahahaha.."
Angga menyipitkan matanya. Dengan kesal mensedakepkan tangannya dan mengerucutkan bibirnya.
Devan masih tergelak. melirik Angga bergaya seperti itu membuatnya gemas. Devan menepikan mobilnya. Angga menatapnya penuh tanya.
Dengan gerakan cepat Devan menangkup kepala Angga, dan melummaat bibirnya. Mata Angga membola merasakan lidah Devan yang membelit lembut lidahnya. Menyesap mulutnya. Hingga dia kesulitan bernafas. Devan mengakhiri ciumannya. Tersenyum memamerkan wajah tampannya.
Jantung Angga berdegub hebat.
Ada apa denganku? Apa ini karena hormon?
_______
Visual Angga lagi
__ADS_1
Visual Devan lagi