
"Devan! kamu mau kemana nak?" tanya wanita paruh baya itu.
"Mau apa ibu kemari?"
"Tentu saja menemui anak bungsu ibu."
Devan tersenyum, dia sudah tau semua kelakuan ibunya. Saat Angga mandi tadi Devan mengecek cctv dan melihat ibu dan Mona yang sudah mengganggu istrinya saat dia sedang tak berada dirumah.
"Datanglah saat aku tidak ada ibu. lakukan seperti kemarin."sindirnya dengan senyum sinis.
"Devan!" ibu terlihat kaget anaknya itu seperti mengetahui semuanya."Apa maksud bicaramu itu."
"Jangan ganggu istriku ibu." ucap Devan pelan namun penuh penekanan. "Dia mengandung cucumu. perlakukan dia selayaknya menantumu yang lain."
"Apa?" ibu terlihat tak suka apa lagi mendengar wanita tak jelas itu mengandung anak Devan."Benarlah dia mengandung anakmu?" menunjuk Angga.
Ibu menyentak nafas nya kasar. seolah menyangkal apa yang Devan katakan. Ibu menatap sinis pada Angga yang memilih menundukkan kepalanya.
"sudah kuduga! wanita kampung murahan! kau menjerat Devan dengan anak yang kamu kandung! beraninya kamu." ibu merapatkan mulutnya, menahan semua emosi yang hampir dia luapkan didepan anaknya.
"Apa kamu yakin itu anakmu Dev? Bisa saja itu anak pria lain dan dia mengatakannya itu anakmu!"geram ibu mencoba mempengaruhi.
Devan terlihat mengontrol emosinya. Dia mengepalkan tangannya. dan mempererat genggamannya.
"Kami sedang sibuk bu, datanglah lain kali." Devan berjalan melewati ibunya dengan menarik tangan Angga. Dia tak memperdulikan pekikan ibu menyebut namanya berulang. Devan memasukkan Angga kedalam mobilnya, lalu melaju kencang.
Angga yang sedari tadi terdiam hanya menunduk, dia tau Devan sedang mengntrol emosinya, dan dia tak ingin mengganggunya. Membiarkan Devan adalah jalan terbaik.
Setelah cukup lama saling terdiam. Angga akhirnya memberanikan diri bersuara.
"Mas Devan." lirihnya.
"Kita mau kemana?"
"Kamu mau kemana?"masih fokus menyetir.
"Heeemm?"Sedikit menoleh pada Devan.
"Kamu maunya pergi kemana?"
Angga terdiam sejenak. "mungkin ke curug"
"Baiklah."dengan senyum tipis.
Devan membawa mobilnya menuju pegunungan dan berhenti di sebuah tempat wisata curug memarkirkannya disana dan membeli beberapa minuman dan snak untuk bekal selama perjalanan menanjak ke curug.
Devan berjalan didepan. Dan angga dibelakang. gadis itu mulai kelelahan. dia tertinggal cukup jauh. Angga berhenti sejenak. dia kehausan, mengatur nafasnya bersandar pada pinggiran tebing yang berbatu. Angga mengusap perutnya.
"apa kamu lapar nak?"
Angga melirik jalan menanjak di sisi kiri. tak ada orang, bahkan Devan pun sudah tak terlihat lagi.
Angga kembali mengatur nafasnya. tak lama Dia melihat sosok pria yang turun lagi setengah berlari menghampirinya. wajahnya terlihat sangat kuwatir.
"Kamu nggak papa? masih kuat? Maaf! aku terlalu tenggelam dalam pikiranku hingga meninggalkanmu sejauh ini." ucapnya dengan nafas ter engah.
__ADS_1
"Mas Devan, apa tadi kamu kembali dengan berlari?"
"Heeemm.." Dengan wajah penuh ke kawatiran.
Angga tersenyum.
"Aku haus."
Devan mengambil air mineral lalu memberikannya pada Angga.
"Maafkan aku."ucapnya pelan,"kita istirahat dulu." Devan menuntun Angga ke gundukan tangga di tepian agar orang lain bisa tetep lewat nantinya.
"Kamu lapar?"
Angga mengangguk.
Devan menyuapinya dengan roti yang tadi mereka beli. Setelah cukup beristirahat mereka melanjutkan perjalanan.
"Naiklah!" Devan berjongkok didepan Angga menepuk bahunya sendiri.
"Tapi."menatap punggung Devan.
"Aku tidak mau kamu tertinggal lagi. kamu pasti capek. Naiklah."
"Aku semakin berat Mas Devan."
"Aku tau! cepatlah naik. atau kamu mau aku menggendongmu didepan?"
"Aaaa tidak." Angga langsung memposisikan diri dipunggung Devan.
Hangatnya punggung mas Devan.
Lama mereka terdiam. menikmati udara alam yang segar menuju curug. Devan beberapa kali membenahi gendongannya.
"Angga."
"Heeemmm?" angga melingkarkan tangannya mendekatkan tubuhnya dipunggung Devan, wanita itu meletakkan dagunya di bahu pria yang menggendongnya itu.
"Maafkan ibuku."
"Kenapa mas Devan meminta maaf?"
"Ibu sudah jahat padamu karena aku."
Angga terdiam.
"Aku tau ibu sudah beberapa kali menemuimu dan pasti mengatakan hal yang tidak pantas. seperti hari ini. Kamu harus medengar makian ibu."
"Aku nggak apa Mas." angga menghela nafasnya."lagi pula itu memang benar. Ini anak pria lain. Mas Devan terlalu baik mengakuinya."
Devan membenarkan lagi gendonganya. wajahnya terlihat sedih.
Jika kamu tau kenyataannya mungkin kamu akan membenciku Angga. -batin Devan menyesali perbuatannya dulu. walau diapun tak menginginkannya.
"Aku memang terlihat sedang menjeratmu sekarang."
__ADS_1
"Itu nggak benar. Jangan dengarkan apa yang orang lain katakan. Kamu istriku dan anak dalam perutmu juga anakku. Heemmm?"
Mereka terdiam sesaat.
"Mas Devan, kenapa ada ART baru dirumah?"
Devan tersenyum
"Agar kamu lebih memperhatikan tubuhmu dan jangan mengerjakan apapun."
"Apa aku dipecat?"
"Kenapa masih memikirkan itu? Tidak ada suami yang memecat istrinya."
"Tapi... kamu majikanku..."
"Dan aku juga suamimu..."
Mereka terdiam lalu tiba-tiba tertawa bersamaan.
"Kenapa kamu tertawa?"
"Kenapa mas Devan tertawa?"
"Rasanya seperti judul sebuah ftv saja. majikanku suamiku." ucap Devan tertawa geli.
"Benar." Angga masih tertawa geli.
"aku mencintaimu Angga."
Angga terdiam wajahnya memerah mendengar pernyataan cinta suaminya.
"Entah sejak kapan,Aku juga tak tau. Entah karena apa, aku juga sudah tak ingat. Rasanya mengalir seperti air di curug itu."
Devan dan Angga menatap pancuran air yang terjun dari atas.
"Deras sekali. Seperti cintaku." Devan berjalan cepat mendekat pada air terjun.
"Bagaimana dengan mu Angga?"
*Aku tak berani mengakuinya. Aku sudah terbiasa. dengan semua perlakuan manismu. dengan ciuman lembutmu dengan hangatnya tubuhmu.
Aku takut mengakuinya, semua kebaikanmu yang tak beralasan atau karena sisi memanusiaanmu padaku. aku takut mengakuinya, aku takut tenggelam dalam kebaikanmu hingga aku salah mengartikannya sebagai cinta*.
Devan duduk di bebatuan tak jauh dari aliran air yang begitu pun angga, membiarkan kakinya menyentuh dinginnya air curug yang segar.
Di curug itu sangat ramai mengingat ini akhir pekan. ditambah cuaca yang mendukung.
Devan kembali mengeluarkan perbekalan. menikmati suasana pagi menjelang siang itu dengan roti dan mineral. Setelah cukup puas menikmati suasana di curug itu. Mereka kembali.
Angga tertidur didalam mobil ditengah perjalanan pulang. Devan tersenyum melirik Angga yang pulas disampingnya, Devan mengambil tangan Angga. menggenggamnya dan mencium punggung tangannya. Dia letakkan tangan itu di dadanya yang menghangat.
Rasanya sudah lama aku tidak merasakan perasaan seperti ini. Perasaan yang bahkan Mona belum pernah berikan.
Sesampainya di apartemen Devan membaringkan tubuh Angga di kamarnya. Kamar Devan. Devan mengelus perut Angga yang mulai membuncit.
__ADS_1
Maafkan papa. Papa akan menjaga kalian dari serangan luar apapun yang terjadi.