Hamil Anak Siapa ?!

Hamil Anak Siapa ?!
Chap 9


__ADS_3

Devan melirik jam ditangannya pukul 7.30 . Devan menoleh kearah pintu kamar Angga. Pintu itu masih tertutup rapat sejak dia menutupnya tadi.


Apa yang dia lakukan didalam sana? Kenapa tidak keluar-keluar.


Devan membuang nafasnya. Mengalihkan pandangan lagi ke layar tv didepannya. mencoba menikmati apa yang disuguhkan oleh siaran cenel digital.


Devan kembali melihat jam yang melingkar ditangannya. pukul 8.00 malam. Devan melihat lagi pintu kamar Angga yang tertutup. masih tertutup rapat.


Apa mungkin dia pingsan?


Devan terlonjak berdiri dari duduknya. Wajahnya sudah terlihat cemas.


Benar. Mungkin saja dia pingsan.


Devan berjalan cepat kedepan pintu kamar Angga. tangan nya sudah menyentuh handle pintu. Ia berhenti.


Tunggu! Jangan buru-buru. Bagaimana bila malah seperti tadi? Bisa-bisa dia malah berfikir aku mesum.


Devan melepas pegangannya di handle pintu. Devan menempelkan telinganya di pintu. mencoba mendengarkan apa yang ada didalam. Namun gendang telinganya tak bisa menangkap suara apapun didalam sana.


Coba kuketuk saja.


Toktoktok


hening.


ketok sekali lagi.


toktoktok


sunyi.


Apa dia benar-benar pingsan?


Gurat cemas dan kuwatir berlebihan tercetak di wajah Devan.


"Angga? Kamu baik-baik saja? Apa kamu pingsan?"mengetuk dengan tidak sabar.


Masih tak ada sahutan. Devan semakin cemas.


"Aku buka ya."


Devan menyentuh lagi handle pintu.


Ckleekk. Pintu dibuka dari dalam.


Wajah Angga menyembul dari celah pintu yang dia buka sedikit. Separuh tubuhnya masih tersembunyi dibalik pintu. Dia hanya mengenakan kaus tanpa lengan bertali spageti, dan sebuah kardigan yang masih mengambang dilengannya.


Kenapa wajahnya kuwatir begitu? Apa dia takut aku akan membuka paksa? batin Devan


Angga terdiam. Dia membenarkan tali spageti yang turun dari bahunya. Tadi dia terburu-buru kepintu hingga belum sempurna memakai kardigannya,masih menggantung dilenganya.


Devan menelan ludahnya dengan susah. Sialan! tenanglah hati. tenanglah tubuhku.


"Keluarlah. Kita makan malam bersama." Devan berjalan mendahului ke meja makan.


Setelah membenarkan posisi kargidannya sampai kepundak. Angga mengikuti dibelakang.


"Duduk." perintah Devan yang sudah duduk lebih dulu.


"Saya akan makan nanti saja tuan." masih berdiri di samping kursi. Angga mengambilkan makanan untuk Devan.


"Duduk! dan makan!" sedikit meninggikan suaranya. Angga seketika langsung duduk. Setelah meletakkan piring Devan, Angga mengisi piringnya sendiri.


"Apa yang kamu lakukan didalam kamar?"


"Saya ketiduran tuan."


aku tak mungkin bilang jika aku menunggu anda masuk kekamar kan Tuan. Setelah kejadian tadi membuat ku malu. batin Angga.


Mereka makan dalam keheningan. Angga makan sambil menunduk, sedikitpun dia tak menegakkan kepalanya. Dia masih sangat malu.


Devan meliriknya beberapa kali.


Apa yang dia pikirkan? Kenapa dari tadi menunduk?


Devan menjejalkan makanannya kemulut dan mengunyahnya.

__ADS_1


"Eehheemmm." Devan berdehem. mengambil gelas berisi air putih di atas meja dan meminumnya hingga habis setengah.


"Kamu baik-baik saja?"


"Iya tuan." Angga masih menunduk. Aku Malu tuan. apa ini bisa disebut aku baik-baik saja?


"Baguslah, Aku pikir tadi kamu pingsan."


Angga tersenyum canggung.


"Aku minta maaf untuk yang tadi. Aku tidak bermaksud kurang ajar. Aku hanya kuatir, sampai asal membuka pintu kamarmu." Devan menjelaskan. Dia merasa mungkin saja Angga tidak nyaman dengan kelakuannya tadi. Tentu saja bodoh!!


"Saya yang salah tuan,karena tidak mengunci pintu."


"Hemmm. Bisakah kamu tidak bicara terlalu formal padaku?"


Angga menegakkan kepalanya. "Maksud Tuan?"


"Jangan menggunakan bahasa yang formal. Bicara saja seperti aku ini temanmu."


"Ahahaha.. Mana saya berani Tuan. Anda majikan saya. Itu tidak sopan."


"Tidak apa. Aku merasa sangat tua jika kamu menggunakan bahasa formal seperti itu." Devan sedikit memajukan badannya. "Oke?"


Angga menggigit bibir bawahnya.


"Hei! Kamu setuju?"


"Tapi...."


"Dan jangan panggil aku Tuan."


"Jadi? Saya harus memanggil anda apa tuan."


"Sudah kubilang jangan menggunakan bahasa formal."ucap Devan lagi. "Atau kamu mau aku memotong gajimu karena membangkang?"


"Aaaa.. Tidak tuan. Saya tidak akan bicara formal."memotong dengan cepat.


"Hei. " Devan menunjuk dengan jari nya.


"Maaf aku belum terbiasa tuan."


"Jangan memanggilku tuan."


"Lalu? Aku harus memanggil apa?"


"Hmmm... Asistenku sebelumnya memanggilku Mas. Panggil saja aku Mas Devan."


"Iya?" Angga terlihat bingung.


"Panggil aku Mas Devan. Coba panggil."


"Mas Devan?" sedikit ragu.


Devan tersenyum puas.


"Mulai sekarang, panggil aku begitu."


"Baik, Mas Devan."


Devan tersenyum lagi. melanjutkan makannya.


"O iya. Boleh aku menanyakan hal yang pribadi?"


"Silahkan tuan."


"Hei!"menunjuk dengan jarinya.


"Aaa.. Mas Devan. Maksud saya silahkan Mas Devan."


Devan tersenyum lucu.


"Apa kamu sudah menikah ?"


Wajah Angga sedikit berubah."Belum"


"Apa kamu punya pacar?"

__ADS_1


Wajah Angga berubah lagi."Tidak."


Devan menyadari perubahan wajah Angga. Walau sudah tau, dia tetap bertanya,


"Kamu boleh tidak menjawabnya jika merasa keberatan." Devan memakan satu suap terakhirnya.


"Bagaimana kamu bisa hamil?" memancing reaksi Angga.


Angga menegakkan kepalanya. Menatap Wajah Devan yang menatap lekat padanya. hening sesaat.


Apa aku terlalu lancang? batin Devan.


"Kamu tidak perlu menjawabnya." ucapnya kemudian.


"Aku... Aku tidak tau."


"Apa?"


"Aku tidak tau siapa orang bejat yang melakukannya."


Wajah Devan berubah.


Orang bejat? Kamu mengataiku orang bejat? Hei, aku tidak akan melakukannya jika bukan karena orang-orang brengsek itu mencampur obat perangsang dalam minumanku. menggerutu dalam hati.


"Aku tidak tau kapan dimana dan siapa yang melakukannya."Air mata Angga meleleh. "Tapi jika aku menemukan siapa orangnya. Aku pasti akan memotong Bu**** nya." mengucapkan dengan mata berkobar sambil mengusap pipinya yang basah.


tangan Angga yang mengepal kuat memegang sebuah pisau buah membuat Devan bergidik ngeri dan reflek memegangi benda berharganya dibawah sana.


"Bagaimana jika, orang itu menyesal dan mau bertanggung jawab?" Dengan ragu bertanya.


BRAAKK!


Devan terlonjak kaget.


"Aku tetap akan mengkebirinya." Mata Angga semakin berkobar."Setelah apa yang dia lakukan padaku. Aku bahkan harus mengalami ketakutan seperti ini. Takut akan dipecat. Takut tidak mendapat pekerjaan. Takut bila keluargaku di kampung tau. Haaaaahh.."


Angga beralih memandang Majikannya, Membuat Devan salah tingkah. sekaligus ngeri.


Sepertinya pancinganku salah.


"Jika Mas Devan menjadi aku. Apa Mas Devan akan memaafkannya?" bertanya dengan marah dan menjurus ke pemaksaan. Tak tertinggal tatapan mata mengintimidasinya.


"Jangan! jangan dimaafkan. Iya! Kebiri saja dia. Ahahahhaa.." ucap Devan ngeri. Dia mengelap keringat dingin diwajahnya.


Sial! kenapa aku jadi takut sendiri?


"Kamu baik-baik saja Mas Devan?"Angga mengulurkan tangannya kedepan hendak menyentuh wajah Devan yang berkeringat. Tentu yang dengan cepat Devan tepis.


"A-aku baik-baik saja."


Setelah percakapan malam itu. Devan terbaring diatas ranjangnya. Dia menatap langit kamarnya.


Bayangan akan Wajah Angga dengan pisau berkelebat dipikirannya. Dia terus bergidig kengerian.


Sial! Bagaimana jika dia benar-benar melakukannya padaku?


CEKLEK.. Devan mendengar suara pintu kamarnya dibuka. Dia melongok mengangkat kepalanya tanpa bangun dari tempat tidurnya.


SRAAKK. SRAAKK. SRAAAKK.


Devan semakin penasaran. Jantungnya berpacu dengan cepat.


Langkah kaki terdengar semakin dekat. Dari balik tembok penyekat muncul Angga dengan baju tidur bertali spagetinya yang salah satu sisinya turun dari pundaknya. Terlihat seksi menggoda.


Tiba-tiba wajah Angga berubah menyeramkan. Dengan seringai diwajahnya dan menggengam sebilah pisau ditangannya.


Devan terlonjak kaget.


"Kau pelakunya kan?" suara yang Angga keluarkan terdengar mengerikan,membuat Devan ngeri dan bulu halusnya meremang.


"Kau si orang bejat itu kan?"


Angga semakin mendekat.


"Tidak! Maafkan aku!"


"Tidak ada maaf! Aku kebiri kamu!"

__ADS_1


Angga yang kalap semakin mendekat dengan pisau ditangannya siap menghujam.


"WAAAAAAAA"teriak Devan.


__ADS_2