Hamil Anak Siapa ?!

Hamil Anak Siapa ?!
chap 41


__ADS_3

Pria itu membuka pintu ruang privat itu bersamaan dengan dering ponselnya, Angga mengecek, dilayar tertera nama Devan.


Angga terhenyak kaget.


Mas Devan? batin Angga terkejut, dia beralih menatap pintu yang mulai terbuka itu. Angga mengangkat telponnya dan dengan perlahan menempelkannya di telinga.


("Kamu dimana? Kenapa Gerald tak menemukanmu di apartemen?") Suara Devan disebrang sana.


("Angga? Kamu mendengarku?")


Apa ini? Jadi dia bukan orang mas Devan? Lalu siapa?


"Silahkan Nona."


Dengan ragu Angga melangkah. Didalam sana Pak James tersenyum menyambutnya. Angga bernafas sedikit lega.


("Angga!")suara Devan masih terdengar.


"Mas Devan, aku bertemu dengan ayah dulu."


("Apa?")


"Nanti kita bicara lagi." Angga menutup sambungan telponnya.


Angga melangkah mendekat, dan berdiri di depan meja.


"Duduklah!" titah Pak James,"Apa aku mengejutkanmu?"


Angga duduk di kursi samping dia berdiri. "Iya ayah, saya sangat terkejut."ucapnya tersenyum.


"Kamu mau makan apa?" Tanya pak James membuka buku menu, hp nya berdering. Pak James meliriknya.


"Sepertinya, dia sangat kwatir denganmu." ucap pak James menunjukkan layar ponselnya pada Angga. Ada nama Devan disana. Pak James tersenyum kecil lalu memencet tombol hijau.


"Ada apa?" suaranya. pak James terdiam sesaat


"Aaaa, dia bersamaku." kata pak James, "Kami sedang makan siang. Kemarilah kalau kamu sangat ingin bergabung."


Pak James terdiam lagi, mendengarkan suara Devan disebrang sana."Baiklah."


Sambungan telpon berakhir.


"Pilihlah apa yang kamu suka." ucap pak James sambil membolak mbalikkan buku menu.


"Ayah,"


"Heeemmm.." pak James berdehem.


"Kenapa tidak memberitahuku jadi aku akan sedikit berpakaian sopan." ucap Angga berhati-hati.


Pak James mengalihkan pandangannya, menatap Angga lekat.


"Kamu sudah berpakaian sangat sopan Angga." ucap pak James dengan senyum tipisnya."Lagi pula kamu sedang hamil, sebaiknya pakailah pakaian yang nyaman untukmu."


"Aaa, iya."

__ADS_1


"Baiklah. Kamu sudah memilih?"


"aku ikut pilahan ayah saja."


"Haaaiiiisss, jangan begitu. Kamu kan yang sedang hamil. pesanlah apa yang cucuku mau."


Mata Angga berbinar. Tentu saja ucapan Pak James menyentuhnya. bagaimana tidak? Pria itu bahkan menganggap anak yang dia kandung adalah cucunya. Angga merasa terharu. Namun dia juga sedih. Selama makan siang bersama, Pak James terus bersikap ramah dan baik padanya, juga sangat perhatian. Membuat Angga merasa bersalah.


Mungkin saja ayah tak tau jika ini bukanlah anak Mas Devan. Jika ayah mengetahuinya mungkin reaksinya akan berbeda. batin Angga bersedih hati.


" Kenapa berwajah begitu?"tanya Ayah melihat Angga yang tiba-tiba berwajah sedih, padahal sebelumnya sangat bersemangat.


"Aaa... tidak ayah."


Pak James tersenyum maklum.


"Pasti karena hormon, saat hamil memang mood sering berubah-ubah. Apapun yang membuatmu tidak nyaman katakan saja." ucap Pak James dengan wajah tegas namun lembutnya.


"Angga, ayah minta maaf untuk kelakuan ibu mertuamu ya." ucap Pak James.


"Kemarin dia benar-benar keterlaluan. Sangat membuatku malu." ucap Pak James lagi."Lain kali jika dia begitu lagi katakan saja padaku, Ayah yang akan mendisiplinkannya."Sambung pak James dengan senyum teduhnya.


"Tapi, ayah jamin, dia tak akan melakukannya lagi." terang pak James.


Angga merasa sangat lega, bahkan Ayah Devan mendukungnya. Mungkin memang benar, tak seharusnya dia menanggungnya sendiri.


Setelah usai bermakan siang bersama, Pak James mengantar Angga ke kantor Devan. Juga menemaninya kelantai dimana ruangan Devan berada.


"Sesuai janjiku, ini aku antar istrimu kemari." ucap pak James menuntun Angga masuk keruangan Devan.


"Terima kasih ayah." ucap Devan Duduk dari kursi kerjanya.


"Tidak usah, aku masih ada janji juga pekerjaan yang tertunda."tolak Pak James cepat.


"Aku pergi dulu."pamitnya kemudian.


"Baiklah."


Setelah Devan mengantar ayahnya keluar dari ruangannya dan menutup pintu Devan duduk di sofa samping Angga duduk.


"Bagaimana acara makan siang hari ini?" tanya nya merangkul pundak istrinya.


"Hanya makan siang biasa."


"Oh ya? Apa ayah tidak mengatakan apapun?"


"Hanya menyampaikan maaf ibu."


"Aaaa..."


Hening sesaat,


"Aaa. mas Devan," Angga agak ragu juga membicarakannya, "Ayah, terus berfikir ini adalah anakmu.." ucapnya sembali memeluk perutnya sendiri.


"Aku tak ingin ayah salah paham terus dan bergikir begitu. Walau bagaimanapun dia harus tau"

__ADS_1


"Aku tak mau membohonginya, walau aku tak bilang ini adalah anakmu, tapi tak mengatakan apapun padahal kita tau Ayah beranggapan seperti itu juga kurasa salah."


"Jadi, bagaimana jika, kita katakan saja."


Devan terdiam sejenak.


Sebenarnya disini yang tidak tau apa-apa adalah kau Angga. batin Devan menghela nafasnya.


"Mmmm... sebenarnya, ayah sudah tau.." kata Devan pelan.


"Benarkah?"tanya Angga tak percaya menatap wajah Devan."Jika begitu beliau masih tetap bersikap baik padaku. Beliau benar-benar berhati mulia."


Tidak begitu, sebenarnya dia hanya merasa bersalah. batin Devan kesal mengalihkan pandangannya kesamping.


Toktoktok,


Gerald masuk dengan sebuah tablet ditangannya. Dia membungkuk memberi salam.


"Anda sudah sampai disini nona Angga."sapanya.


"Iya, maaf membuatmu repot tadi."


"Tidak apa. saya bersyukur anda bersama tuan besar." kata Gerald tersenyum kecil.


"Tuan,sudah waktunya," Gerald beralih menatap tuannya.


"Aku masih ada rapat sebentar, tidak apa-apa kan jika kamu menunggu disini dulu?"tanya Devan lembut melongok jam ditangannya.


"Tidak apa."


"Baiklah."


Devan mengecup kening Angga, lalu menerbitkan senyum. "Jika butuh apa-apa hubungi Gerald."


"Baik." balas Angga, "selamat bekerja. Perhatikan langkahmu."


Angga menghela nafasnya saat punggung Devan menghilang bersamaan dengan pintu yang tertutup. Angga memandang ruangan itu berkeliling. Dia mulai berjalan, melihat seluruh ruangan Devan. Sangat rapi dan manly dengan nuansa hitam dan putih.


Angga duduk di kursi kerja Devan. Menatap sekeliling ruangan dari sana. Angga tersenyum kecil.


TOKTOKTOK


Pintu dibuka dari luar. Dengan segera Angga berdiri.


Seorang wanita menatapnya curiga dengan mata tajam dan penuh permusuhan.


"Siapa kamu?"


___€€€____


Reader kuuh , kasih semangat donk, biar aku up terus setiap hari.


like dan komen ya


Terima kasih.

__ADS_1


Salam___


😊


__ADS_2