Hamil Anak Siapa ?!

Hamil Anak Siapa ?!
chap 54


__ADS_3

Devan dan Angga sama sama terdiam didalam mobil. Dengan pikiran mereka masing-masing. Devan menyentak nafasnya beberapa kali, dadanya serasa ditindih beban berat, begitu menyesakkan.


"Mas Devan..."


"Akuu..."


ucap keduanya bersamaan.


"Kamu duluan saja."ucap Devan, fokus menyetir.


Angga terdiam sesaat..


"Aku pikir, bagaimana jika apa yang mereka katakan adalah benar..."


"Tidak. itu tidak benar."tegas Devan.


"Tapi sepertinya...."


Devan menginjak remnya, tepat disebuah pinggiran taman.


"Ayo kita tetap hidup bersama." ucap Devan, "Jangan dengarkan apa yang orang lain katakan. Hidup ini kita yang menjalani. Sudah susah payah aku menemukanmu, apa kita akhirnya harus berpisah? Hanya karena kita mungkin bersaudara?"


"Angga, ada kemungkinan mereka salah."


"Kalau begitu ayo kembali dan meluruskan."ucap Angga menatap netra Devan.


"Tidak." tegas Devan, "Itu hanya, akan membuat kita semakin bimbang."


"Ayo kita pergi jauh dari mereka. temukan kebahagiaan kita sendiri."ajak Devan mengiba.


"Aku tak ingin berpisah lagi denganmu. Apapun alasannya. Kita pasti bahagia Angga."


Angga terdiam. Dia juga merasa sesak. Bagaimana bisa, saat dia ingin memutuskan kembali pada suaminya, justru datang kenyataan yang begini menyakitkan.


"Setujulah. Katakan kamu setuju sayang."


Angga menyentuh pipi Devan dengan lembut. Wajah sendu pria itu sangat menyakitkan matanya, juga melukai hatinya.


Devan mencondongkan kepalanya. Menyesap bibir lembut istrinya. Lidah keduanya bergulat dengan lembut. Walau isakan tangis mengiringi pertemuan bibir mereka.


"Aku mencintaimu."


"Aku juga."


"Ayo kita pergi jauh." ajak Devan tersenyum menatap lembut istrinya.


____


Di sisi yang lain.


Yo il menatap hamparan laut yang tenang dari jendela vila nya. Dengan telpon genggam ditangannya.


"Baiklah. bagus jika begitu."lirihnya berbicara pada seseorang disebrang sana.


"terima kasih." Yo il mematikan sambungan telponnya.


Yo il menghela nafas lega. Dia merasa tenang Angga sudah berkumpul dengan keluarganya di kampung, juga mendengar kabar bahwa Devan juga sudah ada disana.


"Tuan!"


Yo il menoleh.


"Ada apa?"


"Bagaimana dengan Mbak Angga?"tanya Manis mendekat.


"Dia baik-baik saja. sudah bertemu dengan keluarganya dikampung."


"Benarkah?" tersenyum senang."Haaaa.... melegakan sekali. Aku sudah sangat kuwatir."


"Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"


"Menurutmu apa?"

__ADS_1


Manis terbengong.


"Apa kita tidak kembali ke kota?" tanya Manis memiringkan tubuhnya melongok Yo il yang menatap pantai di kejauhan.


"Apa kamu suka pantai?"tanya Yo il tiba-tiba.


"Heemmm.."


"Ayo kepantai."


"Benarkah?" Manis bersemangat.


###


Manis berlarian di pantai, mengejar ombak dan menghindari buih. Sedangkan Yo il hanya menatapnya mengikuti dengan langkah pelan. Pantai itu sangat sepi, seperti pantai pribadi saja.


Pasir nya yang putih dan ombak yang bergulung-gulung membuat buih dibibir pantai. Sangat indah dengan beberapa pohon mangrov di sisi yang lain. Cantik.


Siang itu tak terlalu panas, hanya mendung bergelayut tanpa tanda akan hujan. Hanya mendung yang teduh.


"Tuan!"panggil Manis berdiri membungkuk dengan kedua tangannya bertumpu pada lutut.


"Kemarilah!" Lambai Manis agar Yo Il mendekat. Pria itu berlari kecil dan berhenti tepat di samping Manis.


"Lihat!" Manis menunjuk tiga lubang dipasir.


"Bukankah ini mata kerang?"


Yo il membungkuk dan ikut memperhatikan.


"Disini ada banyak mata kerang. Bagaimana kalau kita mencari kerang?"Usul Manis bersemangat.


"Aku ambil sekop dulu." ucap Yo Il, mengambil langkah kembali ke vila.


"Skalian ember tuan." seru Manis mencorongkan tangannya di depan mulut.


Tanpa menjawab Yo Il hanya mengacungkan jempolnya. Lalu kembali berlarian ke Vila. Selama menunggu Manis menggali mata kerang itu. Benar saja ada beberapa kerang dibawah pasir. Dengan lihay, Manis mengambil kerang-kerang itu.


Dikejauhan, Yo Il yang membawa Ember dan sekop mendekat. Manis tak menyadarinya. Dia masih asyik mencari lobang dan menggembol kerangnya.


Mata Yo Il terpaku. Melihat sebagian perut Manis yang mulus dan ramping sedikit terlihat. Menampakkan pusar Manis yang indah. Yo il menelan ludahnya, hingga jakunnya ikut bergerak turun.


Manis menoleh.


"Tuan!" seru Manis girang, melangkahkan kakinya mendekat.


"Lihat! Aku dapat banyak kerang!" riangnya menjembreng bajunya agar kerang dalam kausnya terlihat. Namun karena beban berat kerang yang dia bawa membuat kaus atasnya sedikit melar hingga menampakkan dada atasnya. Membuat Yo il kembali menelan ludahnya, hingga jakunnya ikut bergerak turun.


"Aaaa... masukkan kemari." ucap Yo il dengan wajah memerah.


Sial! kenapa denganku ini? pikir Yo il.


Manis tanpa merasa berdosa memindahkan kerang-kerang itu kedalam ember.


"Sudah tuan! Ayo kita cari lagi!" Manis bersemangat, berbalik mencari lobang. Manis menoleh mwndapati Tuannya hanya mematung saja.


"Tuaann?"


"Tuaann!"


Yo il tersentak kaget.


"Ada apa kenapa berteriak??"


"kenapa tuan melamun? apa tuan memikirkan mbak Angga?"


"Tidak."


" Jadi apa yang tuan lamunkan?"


"Tak usah kepo."


Manis menggulum bibirnya.

__ADS_1


Taulah, aku memang kepo. Tapi nggak perlu ketus gitu juga kalik.. batin Manis cemberut.


Seusai berburu kerang, mereka kembali. Di vila, Manis dan Yo il memanggang hasil buruan. Mereka tak hanya dapat kerang, selama mwncari tadi mereka juga mendapat beberapa kepiting, dua cumi, dan satu ikan.


"Hasil buruan kita lumayan sekali tuan."celoteh Manis dengan wajah riangnya. Gadis itu membolak-mbalikkan cumi dan kepiting dipanggangan.


Yo il disampingnya juga ikut meletakkan beberapa kerang.


"Sepertinya ini sudah matang. Piring!" ucap Manis.


Yo Il mengambil piring. Reflek karena Manis memintanya tadi saat dia akan memberikannya pada Manis, dia berhenti.


"Hei, siapa disini tuannya?" protes Yo Il.


"Ahahaha.... kan tuan yang dekat piringnya. Mengambilkan juga tidak masalahkan?"tertawa canggung.


"Ini tidak akan terjadi untuk kedua kalinya."Yo Il memperingatkan.


"Baik! baik! baik tuan." Manis menyaut piring ditangan Yo il.


Seusai memanggang, Manis dan Yo il duduk di sofa luar vila. Mereka menikmati seafood panggang dan sebotol anggur.


"Eeemmmm... enak sekali!" seruu Maniss berdecak menghabiskan segelas anggurnya.


"Tuang lagi tuan."


Yo il mengulas senyum melihat tingkah Manis. Dia menuang kembali anggur ke dalam gelas Manis. Gadis itu langsung menenggaknya hingga habis.


"Wuuuuaaaahhh... kuat minum juga kamu!" Yo il bertepuk tangan.


"Terima kasih." ucap Manis dengan wajah memerah,


"Tuan, apa mbak Angga baik-baik saja?"


"Tentu! Kamu mengkawatirkannya?"


"Heemmm... kamu tidak tuan?"tanya Manis mulai mabuk."Kamu terlihat mencintainya."


"Hahahah.. aku mencintainya? Benarkah? Bagaimana kamu tau?"Yo il juga mulai kehilangan kesadarannya.


"Hmmmm... tentu saja, aku punya mata."


"Hahaha.. kupikir matamu itu hanya pajangan."


"Tuan kenapa meledekku?"Memasang wajah sedih.


"Apa cinta tuan bertepuk sebelah tangan?"


"Kau anak kecil terlalu banyak omong."


"Kasian sekali kau tuan.. hahaha..." ledek Manis makin meracau."Kamu tampan tuan, pasti banyak gadis diluar sana mengantri untukmu."


"Aaah, benarkah? apa kau juga ada disana?"


"Tidak! aku kan disini sisimu tuan. Untuk apa aku mengantri. hahahha.."


Yo il tercenung, menatap gadis yang tertawa lebar itu.


"Begitukah?" ucap Yo il pelan.


"kalau begitu, ayo kita lakukan...." Yo il menubruk tubuh Manis hingga terjatuh disofa, Yo il menautkan jemarinya dengan jari milik Manis. Mencium lembut bibir mungil itu.


____€€€____


Reader kuuh , kasih semangat donk, biar aku up terus setiap hari.


like dan komen ya


Terima kasih.


Salam___


😊

__ADS_1


__ADS_2