
Devan dan Angga akhirnya sampai di rumah utama. Mereka disambut oleh Pak James dan ibu Cory, walau wanita tua itu tampak sangat tak senang dengan kehadiran Angga. Namun dia terlihat sangat bagus memerankan ibu mertua yang baik, dengan senyum yang dipaksakan itu.
"Baguslah kalian datang."ucap Pak James, memeluk anak lelakinya.
"Ayo masuk." sambung pak James. "Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan denganmu, "Tapi itu nanti saja."
"Kalian pasti sangat lelah bukan, bagaimana kalau kalian istirahat dulu?" sela ibu Cory, melirik anak lelakinya,
"Aku sudah menyuruh seseorang untuk membersihkan kamarmu."lanjutnya lagi memeluk lengan Devan.
"Aa,, Baiklah ibu." ucap Devan menarik lengannya dan berpindah meneluk pinggang istrinya.
"Ayo sayang. Kamu belum melihat kamarku bukan?" ajak Devan mengulas senyum.
"Aaaa... iya."Angga sedikit canggung melirik ibu mertuanya yang jelas memberi tatapan tidak suka.
"Istirahatlah kalian. Kalau sudah waktunya makan siang akan kami panggil." ucap Pak James melambaikan tangannya.
Setelah memastikan Devan dan angga tak terlihat lagi, Pak James melirik istrinya
"Jaga sikapmu sayang, dia tetap menantu kita. Jangan membuatku malu dengan tingkah dan perlakuan konyolmu padanya."
"Suamiku... Bukankah kau sudah memarahiku untuk yang terakhir kalinya, aku tidak akan melakukannya lagi. Tapi keberadaan wanita itu sangat mengganggu."ujar Ibu Cory mengomel."Kenapa kau malah mengundang mereka kemari suamiku? Apa rencana mu?"
"Aku tak punya rencana. Aku hanya ingin dia merasakan memiliki keluarga disini." Pak James berlalu meninggalkan istrinya.
Pak James melangkahkan kaki nya keruang kerjanya. Perlahan menutup pintu ruangan itu. Beberapa langkah kakinya bergerak dan berhenti pada rak buku berbahan kayu jati itu. Pak James menarik beberapa buku yang cukup tebal. di balik sana ada ruang yang menampakkan sebuah foto berbingkai. Ada James saat masih muda dengan seorang wanita, dan itu bukan Cory.
"Apa kabarmu?" suaranya pelan.
###
Devan Dan Angga memasuki kamarnya. Kamar itu begitu luas dan bersih. Angga ternganga melihatnya. sangat berbeda jauh dengan kamar Devan di apartemennya.
Devan melangkahkan kakinya, Menghirup dalam-dalam aroma kamarnya. Dia mengulas senyum lebar.
"Home sweet home."
Devan mendekati ranjangnya lalu merebahkan diri disana.
"Haaaaahh..... nyamannya...."serunya girang."Sudah lama sekali!" sambungnya berguling-guling di ranjang berukuran king size itu.
"Kemarilah Sayang!" Memanggil Angga dengan lambaian tangan, lalu menepuk ruang kosong disisinya.
Angga bersingut mendekat. Lalu dudu dipinggiran ranjang, Devan menarik tangan Angga hingga gadis itu terbaring disisinya. Gegas Devan memeluknya, sebelum wanita itu bangkit lagi.
"Tidurlah sebentar."
"Apa kamu nggak mau mengajakku melihat-lihat seluruh rumah ini?" tanya Angga mencoba melepaskan diri.
"Kamu mau?"
"Heeemmm..." angguk Angga, "Aku ingin tau dimana mas Devan dibesarkan."
"Baiklah. Sebentar ya, aku masih ingin seperti ini." memeluk Angga lebih erat.
____
Setelah beberapa jam berlalu, Devan membawa Angga berkeliling rumah, melihat kolam ikan, taman samping dan belakang rumahnya, juga kolam renang yang cukup besar.
Angga tertegun, matanya berkeliling, melihat sekitar. Dia merasa mengenali tempat itu. Angga kembali teringat akan saat dia tergolek lemaas dan pingsan.
__ADS_1
Angga menatap rumah kaca tak jauh dari kolam renang. Angga berjalan perlahan menuju romah kaca. Devan hanya menatapnya dengan pandangan tanya.
"Ada apa?" tanya-nya menyusul dari belakang dan memeluk perutnya, saat ini perut itu sudah buncit.
"Aku ingat tempat ini."ucap Angga menatap berkeliling.
"Aku pernah kemari."lanjut Angga, wajah Devan berubah seketika. Dia terkejut, panik, dan menyesal juga merasa bersalah. semua itu bercampur menjadi satu.
"Ka-u ing-at a-pa?"
"Aku dulu pernah magang disini satu hari. Lalu aku pingsan. dan terbangun setelah sore hari."terang Angga mencoba mengingat.
"Dan, Saat itu aku terbangun diatas sofa itu." Angga menunjuk sofa diruang kaca itu.
"Aku yakin aku pingsan dan jatuh diatas lantai ini. Kenapa aku bisa terbangun disofa."gumam Angga lagi."Mas Devan, Aku tidak menyangka ini rumahmu."
"Iyaa... aku juga terkejut kamu pernah kemari"Devan mengalihkan pandangannya, dengan wajah tegang dan cemas.
"Bisa ya ada kebetulan semacam ini. Kenapa dulu kita tidak bertemu?" Angga mengulas senyum menatap berkeliling.
Kita memang bertemu. Hanya kamu tak tau. Maaf, aku terlalu pengecut untuk mengakui. batin Devan menatap sayu Angga.
Devan menghela nafasnya, "ayo kita keluar." ajaknya.
"Waaahhh,, kolam renang ini jernih sekali. Aku jadi ingin berenang." seloroh Angga melihat kolam renang yang luad itu.
"Kamu bisa berenang?" tanya Devan.
"Heemmm..."
"Kamu mau berenang?"
"Bolehkah?"
"Ganti bajumu dulu."
"Aku tak punya baju renang."ucap Angga tersipu."Biasanya jika berenang hanya begini saja."
"Oohh ya?" Tanya Devan sangsi."Bukan karena kamu malu?" ledeknya dengan seringai.
Angga menggeleng.
"Ayo berenang." Devan melepas pakaiannya dan hanya menyisakan celana kolornya.
Wajah Angga memerah. "Mas Devan akan begitu?" mengalihkan pandangan matanya menatap langit.
Devan terkekeh."Berenang ya begini. Ayo."
Devan turun kedalam kolam lebih dulu "Ayo masuk."
Angga perlahan menurunkan kakinya dan duduk dipinggiran kolam.
"Aku begini saja."
"Ayolah. Aku menjagamu. Aku akan menangkapmu."
Ragu-ragu, Angga akhirnya menceburkan diri ke Dalam kolam.
"Hati-hati, kamu membawa anakku juga." serunya menangkap Angga dan menjaganya dalam pelukannya.
Devan terkekeh.
__ADS_1
"Aku bisa berenang Sayang."
"Oke." Devan melepaskan pelukannya."Bagaimana kalau kita berlomba adu cepat sampai ujung sana."ajaknya menunjuk ujung terjauh kolam.
"Kalau aku menang, kamu pijit aku, kalau kamu memang kamu aku pijit. bagaimana?"
Angga tersenyum kecil.
"Baiklah. Aku duluan." seru Angga mencuri start.
Devan terbengong, lalu mengulas senyum tipis.
"Dasar istri nakal. Lihat saja aku hukum kamu nanti malam!"Serunya menyusul.
Sesudah berenang dan membersihkan diri, juga berganti baju, Ayah James mengundang mereka untuk makan siang bersama.
Seusai dari makan siang, pak James langsung mengajak Devan ke ruang kerjanya.
"Kenapa ayah ingin bicara dengan ku?" tanya Devan memasuki ruang kerja ayahnya,
"Ini mengenai peristiwa di rumah kaca."
"Kenapa mengungkitnya lagi. Aku sudah menikahinya sesuai permintaan ayah."
"Masalahnya, masih ada yang terlibat. Dan seseorang sudah menyabotasenya."tegas Pak James menatap tajam.
Devan menyipitkan matanya.
"Apa maksud ayah?"
"Han. Brengsek itu mencoba menutupi anaknya."geram pak James mengepalkan tangannya.
"Bicaralah yang jelas ayah. Jangan membuatku kesal."kata Devan tak sabar.
"Lihat ini!" seru pak James menunjukan vidio di laptopnya. Devan mendekat dan memperhatikan layar laptop.
"Ada bagian yang dipotong. Setelah aku telusuri Yo il juga ada disana."
"Apa?" Devan terkejut, kakinya serasa lemas, "Itu anakku ayah. Jangan coba-coba membuatku bimbang."ucapnya gusar.
Devan melangkah mundur.
"Dev!"
"Itu anakku. Itu benihku. Jangan coba untuk mempengaruhiku."ujar Devan berpaling dan melangkah keluar dari ruang kerja ayahnya.
Devan tertegun, pintu ruangan itu terbuka sedikit, dia menarik handel nya, disamping pintu ada dua cangkir kopi dinampan yang diletakkan diatas meja samping pintu.
"Siapa?"
wajah pria itu berubah tegang, Devan semakin gusar..
___€€€___
Kira kira siapa ya readers yang ikut mencuri dengar apa yang Pak James dan Devan bicarakan? Pelayan rumah tangga, Ibu Cory atau Angga?
Reader kuuh , kasih semangat donk, biar aku up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
__ADS_1
Salam___
😊