Hamil Anak Siapa ?!

Hamil Anak Siapa ?!
Chap 49


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian. Usia kandungan Angga sudah masuk tujuh bulan.


Angga dengan perut buncitnya berjalan perlahan diteras vila Yo il,tentu saja ditemani oleh Manis yang sudah tidak bersekolah lagi alias lulus SMK.


"Aku baca di gugel berjalan-jalan setiap pagi dan sore cukup membantu saat melahirkan nanti." ucap Manis menyedot jus buah naganya.


"Benar."Angga mengiyakan, dia masih terus melangkahkan kakinya berjalan bolak balik.


"Disini tenang, aku sangat suka."


"Yaahh,, sayangnya susah kalau butuh apa-apa. Jauh dari pasar, jauh dari swalayan." keluh Manis.


"Apa kamu sudah sangat ingin jalan-jalan?"


"Kak Angga mau?"


Mmmm, kupikir tak ada salahnya keluar sesekali, toh masih dikota ini, tak mungkin bakal bertemu dengan Mas Devan juga. pikir Angga mempertimbangkan.


"Baiklah. Ayo. Kita ajak supir untuk mengantar kita ke kota." ucap Angga menyetujui.


"Aaayyeeeeee!"sorak Manis girang.


Angga dan Manis pun pergi meninggalkan Vila Yo il dengan seorang pelayan disana yang bisa menyetir. Membawa merek ke swalayan besar di kota itu.


Mereka berjalan-jalan dan menikmati keramaian mal itu. Manis teringat dia belum memberi kabar pada Yo il.


Cekrek!


Manis mengirim foto selfinya bersama Angga diswalayan itu.


Yo il melihat foto konyol Manis dan Angga tersenyum lebar. "Seperrinya aku sudah terlalu lama meninggalkan mereka. Akan kukejutkan dengan kedatangaku nanti."gumam Yo Il


Sore harinya,Yoil benar-benar datang dengann membawa martabak. Tentu saja disambut dengan suka cita.


"Akan kuambilkan minuman dingin!"ucap Manis sembari berlari kecil kedapur.


"terima kasih."ucap Angga dengan senyum kecil.


"Jangan sungkan. kita berteman"ucap yoil."mau sampai kapan kamu bersembunyi seperti ini?"tanya Yo il duduk disofa ruangan itu, lalu menyenderkan punggungnya.


"Cepat atau lambat Devan akan tau."lanjut Yo il lagi.


"Aku tau."ucap Angga menunduk, sorot mata sendu terpancar di netranya.


"Kalau begitu, muncullah dan hadapi. kau tak bisa terus-terusan sembunyi. Dia mencarimu!"ujar Yo il menatap Angga yang terdiam.


"Apa yang kau takutkan? Apa kau marah karena dia berbuat begitu? bukankah dia lalu menikahimu? Atau apa kamu marah karena merasa dibohongi?"kata Yo il dengan menaikkan nada bicaranya satu oktar. Jujur saja dia cukup lelah bermain kucing-kucingan begini.


Angga terdiam, dia merenung sejenak.


"Angga berhentilah menipu dirimu sendiri. Kau bersembunyi seperti ini hanya akan menyakiti kalian berdua. Apa yang Devan lakukan memang salah, tapi dengan sembunyi seperti ini kamu juga salah."lanjut Yo il lagi yang mulai tak sabar.


"satu-satunya saran dariku adalah, memaafkan. hanya itu. Dan kalian akan tenang dan damai."pungkas Yo il melihat Manis sudah kembali dengan sebotol minuman dingin dan sebotol soda.


"Hey, mana gelasnya?"seru Yo il pada Manis yang meletakkan kedua botol itu di meja.


Gadis itu langsung cemberut saja.


"Tunggulah satu-satu... Tangan cuma dua nih."ketusnya berbalik melangkahkan kakinya, baru dua jengkal, Manis berhenti lalu menoleh.

__ADS_1


"Kita minum langsung dari botol aja." cengirnya nggak mau cepek bolak balik.


###


Sementara itu,setelah beberapa bulan pencarian yang tak membuahkan hasil bagi Devan. Tetap melakukan aktifitasnya seperti biasa. Dia tetap harus berlanjut. Walau begitu Devan masih belum menyerah.


"Apa kau sudah menemukan titik terang tentang istriku?"Tanya Devan pada Gerald asistennya. Saat Mereka sudah berada didalam ruang pribadi Devan.


"Belum, tapi kami sudah menyebar beberapa orang di negri ini untuk mencari."terang Gerald.


"Tidak mungkin dia keluar negri kan?" gumam Devan.


"Tidak. kami sudah memeriksa daftar dan cek cctv. tapi tak meneemukan Nona Angga."jelas Gerald lagi.


"Bagaimana dengan nama samaran?"


"Kami juga sudah memasukkan kemungkinan itu tuan."


"Jadi, peluangnya hanya tinggal di negri ini ya."


"Benar."


"Hmmmm...." Devan terlihat berfikir."Apa kau punya kenalan seorang hacker?"


"Maaf?"Gerald sedikit memajukan tubuhnya."Bukankah tuan memiliki kerabat hacker profesional?"


Devan menoleh pada Gerald, mencoba berpikir keras. Dia mendapatkan satu nama.


"Steve?"


"Benar."


"Bisakah kau carikan yang setara dengan nya?"


"Aku punya sesuatu dalam pikiranku."


"Baik tuan."


Devan tersenyum tipis. "Aku lupa kalau kau seorang hacker. Maaf sepupu."


Angga tidak mungkin tiba-tiba menghilang tanpa jejak. pasti ada seseorang bersamanya. Seseorang..... pikir Devan lagi menatap dingin.


____


Disisi lain,


Yo il yang baru saja selesai dengan pekerjaan kantornya, Keluar dari ruangnya.


Hari ini aku harus melihat keadaan Angga dan bocah ingusan itu. sudah lebih dari seminggu aku meninggalkan mereka. Walau ada penjaga dan pelayan, tetap saja. pikir Yo il memasuki lift.


Aku juga tak bisa gegabah dengan sering pulang pergi kesana. itu bisa menimbulkan kecurigaan. Tapi mau sampai kapan seperti ini? batin Yo Il lagi.


Yo Il berjalan keluar dari lift. Di lobi seseorang telah menunggunya. Pria itu tersenyum pada Yo il yang tertegun melihat kedatangannya yang tak terduga.


"Lama tidak bertemu sepupu."ucap Devan dengan senyum tipis diwajahnya.


Yo Il menatap Devan dingin. Cepat atau lambat aku akan menghadapi ini. kata Yo il dalam hati.


###

__ADS_1


Kedua pria bersaudara itu, duduk disebuah bar pribadi. Disana hanya ada mereka dan bartender terpercaya. Dengan segelas tequila dan cooktail.


"Ada apa mencariku?" tanya Yo Il memecah kebisuan diantara mereka.


"Kenapa?" tanya Devan. "Aku hanya ingin minum denganmu."


Yo Il tergelak.


"Hahahahha.... Ayolah! Kita tidak sedekat itu Devan."


"Kenapa? Bukankah kita dulu sangat dekat."


"Yaaa.... sejak kau begitu membenciku karena wanita seperti Mona." Ucap Yo Il enteng.


"Benar. Dan itu tidak sebanding."


"Harusnya kau katakan itu sejak dulu sepupu."Yo Il menyesap tequilanya.


"Aku tau."ucap Devan. "Aku butuh bantuanmu."


Yo Il terdiam. Lalu tiba-tiba dia tertawa terbahak bahak.


"HAAHAHAA Seorang Devan bisa membutuhkan bantuanku. Menggelikan."oceh Yo il menyesap lagi tequilanya.


"Aku benar-benar membutuhkan kemampuanmu, sepupu."


"Baiklah. Cepat katakan. Waktuku tak banyak." Tukas Yo Il tak sabar.


"Carikan Angga untukku."


DEG!


Wajah Yo Il seketika berubah. Yo Il mematung sesaat dia membeku. Namun sesegera mungkin dia mengontrol diri, jangan sampai Devan curiga. Dia tak ingin Devan menemukan Angga lebih dulu sebelum wanita itu benar-benar siap untuk bertemu.


"Sepupu! Kenapa berwajah begitu?"


"Maaf, aku tak bisa."


"Kenapa? Apa kau sengaja menyembunyikannya?"


"Ck!" Yo Il berdecak.


"Kau mencurigaiku?"menatap Devan dingin sambil beranjak dari duduknya.


Devan tersenyum tipis. "Terserah bagaimana pemikiranmu."


"Tak ada yang perlu dibicarakan lagi. aku lelah. Aku pergi." ujar Yo Il melangkahkan kakinya menjauh dari bar.


Devan mengulas senyum, "sepertinya aku menangkap ekormu" gumam Devan.


____€€€____


Reader kuuh , kasih semangat donk, biar aku up terus setiap hari.


like dan komen ya


Terima kasih.


Salam___

__ADS_1


😊


__ADS_2