Hamil Anak Siapa ?!

Hamil Anak Siapa ?!
Chap 22


__ADS_3

Steve terbangun dia melihat sekeliling,


Dimana aku? tempat ini tak asing, aku pernah tidur disini. Mungkinkah?


Han Yo il melangkah mendekati pintu, membuka pintu perlahan, dia mendengar suara nafas berat dan lenguhan. Han mengintip dari celah pintu yang terbuka. Melihat seorang pria dengan pakaian basah tengah melakukan olah raga orang dewasa😁.


Han tertawa lucu. menyadari siapa pria itu. Saudara sepupunya. Orang yang dia kenal bahkan tak pernah berhubungan diluar batas itu sedang melakukan hal terlarang dengan seorang wanita yang bahkan dia tak yakin dia sadar.


Setelah menunggu beberapa saat dia mendengar Devan bergumam kesal. Han kembali mengintip. Melihat pria itu meninggalkan wanita malang itu terkapar dilantai.


Han mendekat, melihat wanita itu menyeluruh. Dia mengangkat wanita malang itu dan membaringkannya di sofa tak jauh dari tempatnya terbaring tadi.


Han melangkah hendak meninggalkannya, tapi dia berhenti dan menoleh. melihat lagi gadis itu. Pakaiannya atas sedikit terbuka, menampakan kulit mulusnya. Mata Han menjelajah, dari mata, bibir, leher, kulit dada atasnya yang terbuka kancingnya. lalu semakin kebawah. hingga rok remple nya yang terlihat sedikit terangkat.


Han tersenyum kesal. membungkukkan tubuhnya. Han mencium aroma tubuh wanita itu. bau parfum Sepupunya masih menempel padanya. wajah Han semakin mendekat lalu menempel pada kulit leher gadis itu.


Han membuka matanya. Dia melihat berkeliling. dia sudah berada ditempat yang berbeda. Han duduk terbangun memastikan lagi tempatnya bangun. itu kamarnya.


Haaaaahh... jadi aku bermimpi lagi? pada hal yang sama? apa karena rasa bersalah lagi?


Han yo il mengusap wajahnya kasar. Han berjalan menuju kamar mandi, mengguyur tubuhnya dibawah sower.


Sepertinya aku harus mencari lagi gadis itu


Han Yo Il memakai pakaiannya dia berjalan menuju mobilnya, membawanya ke apartemen Devan. Han melangkah lebar menuju lift namun terhenti dan bersembunyi dibalik tembok. Dia melihat bibi nya dan Devan sedang berbincang,


Ada gadis itu disana. Apa yang mereka bicarakan?


han mendekat perlahan tapi masih mencoba menyembunyikan tubuhnya.


sayup Han Yo il mendengar, percakapan yang biasa dia dengar seorang ibu yang menentang hubungan anaknya dengan wanita yang berbeda drajatnya. Membuat Yo il muak.


Kenapa pemikiran bibi masih seperti itu? Sangat berbeda dengan ibu. asal wanita itu tulus mencintai dan anaknya juga mencintainya. Dia tidak masalah. Untung aku memiliki ibu yang bijak.


Han melihat Devan pergi, bersama dengan gadis itu. Han terdiam sejenak. untuk apa dia tetap disana? sementara orang yang ingin dia temui sudah pergi. walau dia punya teman kencan di apartemen itu juga, han merasa enggan untuk berkunjung.


Han Yo il pria berusia 29 tahun yang masih melajang. Pria yang suka mempermainkan wanita lalu meninggalkan luka, dan dia yang tidak berminat memiliki hubungan lebih dengan wanita selain urusan ranjang itu. kini malah mengendap dan mencari wanita yang sudah bersuami. bahkan bersuamikan saudara sepupunya sendiri.


Han menertawakan dirinya sendiri. dia meminum minuman memabukan di bar bawah yang masih berada di lingkingan apartemen.


Dulu dia pernah melakukannya juga sebelum dia tau Mona wanita penggoda yang mendekatinya itu ternyata kekasih Devan. Han merasa kasihan pada sepupunya itu, dia begitu setia dan membanggakan kekasihnya itu tanpa tau Mona sudah berselingkuh darinya.


Dan kini dia tertarik pada wanita yang sudah menjadi istrinya. parah bukan?


Han kembali lagi menenggak minumannya.

__ADS_1


_____


Angga terbangun dia merasakan benda berat yang menindih tubuhnya. Angga tidur miring kekiri. Mencoba menggerakkan kakinya namun terkunci. Angga meraba dibawah selimut mencari tau apa yang membuatnya keberatan itu.


Angga menoleh, membalikkan tubuhnya, Melihat wajah Devan yang miring ke sisinya. Angga menatap wajah tidur yang tenang itu. Menikmati wajah tampan yang memeluknya. Tanpa sadar Angga mengangkat tangannya hendak menyentuh hidung Devan.


Namun dia urungkan, Angga menarik jarinya kembali. Mata gadis itu menjelajah, disetiap lekuk wajah pria didepannya. jari angga kembali terulur dan berhenti tepat di depan bibir Devan.


"kenapa dari tadi tidak jadi menyentuh?"


Angga terkejut, bibir itu bergerak dan mengeluarkan suara. gegas dia menarik kembali jarinya.


Netra Devan terbuka. Bibirnya mengulas senyum.


"Sudah puas memandangi wajahku?"


Wajah angga memerah. Dia malu ketahuan menatap lama wajah pria didepannya. Angga membuat jarak hendak bangkit, tapi tangan dan kaki Devan lebih dulu menindihnya dan semakin erat memeluknya.


"Kenapa tidak jadi menyentuh?"


Angga yang sudah tertangkap basah itu akhirnya mengikuti saja.


"Sejak kapan Mas Devan bangun?"


"Sejak tadi."


"Aku hanya memejamkan mata, siapa yang pura-pura tidur?"


"Itu sama saja."


"Tidak sama."


"sama Mas Devan."


"Enggak!"


"sama!"


"Tidak!"


"Sama....uuuggg...."


Devan sudah menautkan bibirnya, mencium Angga dengan kelembutan dan pergerakan perlahan.


Morning kis? Sudahlah, aku nikmati saja. Ciuman Mas Devan selembut ini.

__ADS_1


"Manis."


Angga mengatur nafasnya, Kenapa setiap kali berciuman dengan nya aku selalu kehabisan nafas. Walau dia melakukannya dengan selembut itu.


"Bernafaslah." bisik Devan pelan."Saat berciuman jangan tahan nafasmu."


Devan kembali menautkan bibirnya, mencium angga lebih lembut lagi, dan dengan gerakan perlahan.


Devan mengangkat tubuh Angga dan menempatkannya diatas tubuhnya. Tangan Devan menjelajah, menelusup masuk kedalam baju Angga. menyusuri kulit terdalamnya.


Angga menikmati ciuman yang Devan berikan, mereka saling menautkan lidah, bergumul disetiap helaan nafas yang mereka keluarkan.


Angga melenguh. Membuat Devan makin bergairah. Angga mengangkat wajahnya membuat jarak. Dia merasakan ada yang mengeras dibawah sana.


"Maaf."


"Aku bisa mengatasinya. Cium aku lagi sayang."


"Tapi..."


"Aku bisa mengatasinya.." ucap Devan pelan." meski jika kamu belum siap melakukannya denganku. Aku akan mengatasinya sendiri. Cium aku lagi."


Angga kembali menautkan bibirnya, tanpa dia sadari tangan Devan sudah membuka kancing piayamanya satu persatu. Tangan nakal itu masih sibuk menjelajahi tubuh Angga.


Bibir Devan perlahan berpindah keleher Angga, samakin turun hingga ke dada atasnya. menyesap kulit mulus wanita itu. Angga pun sangat menikmati setiap sentuhan bibir Devan ditubuhnya. Angga kembali melenguh. kini bahkan semakin sering. Hingga Devan tak tahan lagi, dia bangun dan berjalan cepat ke kamar mandi. Angga terdiam di atas ranjang, memandang tubuh pria itu menghilang dibalik pintu kamar mandi. tak lama terdengar suara gemericik air yang jatuh dari sower.


Satu jam berlalu, Devan keluar dengan rambut yang basah dan hanya berbalut handuk dipinggangnya. Pria itu tersenyum menatapnya. Devan mulai memakai pakaianya.


"Aku bekerja hari ini, dan nanti sore aku ada penerbangan ke kota M. mungkin tiga hari aku akan berada disana. Kamu dirumah dengan Bik Biyan ya?"


"Apa? kamu mau pergi selama itu?"protes Angga kaget,"Kenapa tiba-tiba?"


"Apa kamu merasa kehilangan?"goda Devan dengan cengiran.


"Tidak." memalingkan wajah.


"Aku akan menelponmu setiap hari. Heeem?" ucap Devan menyentuh pipi Angga.


"Aku berangkat dulu."


Angga mengantar Devan hingga pintu depan apartemennya. Setelah Devan pergi,Angga merasa kesepian dan bosan. Setelah bergulung-gulung diatas karpet ruang utama, Akhirnya angga memutuskan untuk jalan-jalan ketaman saja.


Angga menikmati suasana taman yang cukup ramai itu. Angga mengambil duduk dibangku taman yang kosong dan teduh. Melihat air mancur dan anak-anak yang bermain sepeda ditaman membuatnya tersenyum.


sebuah benda dingin menempel dipipinya Angga menoleh. Pria tampan memegang sebuah botol ditangannya.

__ADS_1


"Hai!"


"Han Yo il? Steve!"seru Angga girang.


__ADS_2