
Ternyata semuanya adalah ulah Clara. Dan kejadian tersebut pun di lihat oleh Farid, termasuk Galang dan teman teman.
......................
Lea yang di perlakukan seperti itu sedikit merasa malu. Dia pergi meninggalkan kantin, Farid pun menyusul Lea. Disana Farid memeluk Lea yang sedang menahan tangis, dia tidak tahu apa masalah dirinya dengan Clara. Sampai sampai perempuan itu melakukan hal tersebut.
“ Gak usah cengeng, lu itu cewek kuat gue gak mau lihat lu nangis lagi. Tenang aja gue selalu ada disisi lu Lea,” dengan mengusap air mata yang mengalir di pipi Lea.
Gadis yang masih memeluk hantu itu sedikit merasa tenang dengan ucapannya. Lea bersyukur telah di pertemukan dengan Farid walau sudah bukan manusia. Namun, cowok itu selalu memberi perhatian lebih yang membuat Lea jatuh cinta kepadanya.
Tak lama Berry datang dan Farid melepaskan pelukan tersebut.
“ Lea kamu gpp,” tanya sahabatnya itu.
“ Aku gpp.”
“ Is bener bener ya tuh cewek. Kenapa sih kak Galang dulu jatuh cinta sama dia,” gerutu Berry dengan wajah kesal.
Ditempat lain, Galang masih belum menyadari jika sikap Clara kepada Lea merupakan rasa cemburunya. Entah cemburu karena masih memiliki perasaan atau ada maksud lain.
“ Lang kok si Clara sekarang beda ya? Gak kayak dulu. Cewek manis, baik, ramah.” Revan dan Panji heran dengan sifat Clara yang berubah.
“ Btw lu udah putus apa masih pacaran sama dia, Lang?” Tanya Panji.
“ Gue sih udah nganggap kalo hubungan gue sama dia break," jawab Galang dengan datar. “ Dia ninggalin gue dalam keadaan terpuruk, bahkan pergi tanpa memberi kabar sebelumnya.”
Revan menepuk pundak Galang dan mencoba menghibur sahabatnya itu.
......................
__ADS_1
Reno yang masih duduk didalam kelasnya merasakan ada yang meniup lehernya. Anak kecil tampan itu seketika langsung bergidik, apalagi dia masih bersekolah ditempat yang dulu. Sekolah yang berdampingan dengan tempat kakaknya SMA dulu, yang membuat kematian ayahnya.
Pada saat waktu istirahat, Reno dihampiri pak satpam yang bernama Agus itu. Reno sudah cukup akrab dengan bapak bapak itu, walau dirinya tidak tahu jika lelaki tua yang suka di ajak bicara itu bukanlah manusia.
“ Pak aku boleh tanya gak?” Tanya Reno.
Pak satpam menganggukkan kepalanya pelan.
“ Bapak kan udah lama jadi satpam disana, apa bapak tidak merasakan hal aneh sebelum kejadian kemarin?"
“ Kamu ini ya bapak udah biasa dan ngga pernah merasakan sesuatu yang aneh aneh disana. Bahkan setelah kejadian kemarin bapak," jawab lelaki tua itu sambil tersenyum.
“ Oh iya pak, tadi Reno ngerasain kayak ada yang meniup leher Reno.” ucap anak kecil itu.
“ Tenang saja kamu gak akan kenapa kenapa selagi bapak masih ada disini. Kamu jangan pernah merasa takut."
Reno tersenyum girang, namun disisi lain teman temannya sekarang mengaggap jika Reno tidak waras. Mereka merasa heran mengapa Reno selalu saja berbicara sendiri disaat jam istirahat. Suatu hari ada salah satu temannya yang melapor kepada guru dan memperlihatkan Reno yang berbicara seorang diri.
Sedangkan dikampus, mereka kembali berkumpul dilapangan dan mendengarkan instruksi para seniornya. Malam ini mereka akan menginap dikampus, seniornya mengingatkan kembali para junior untuk membawa barang barang yang sudah diberitahu.
“ Aku kerumah kamu dulu ya Lea. Abis itu kerumah aku lalu berangkat," ucap Berry dengan gembira dan tidak sabar untuk menjadi mahasiswi di university yang sangat terfavorit itu.
Dimana university yang isinya anak anak pintar dan kalangan orang kaya. Lea yang mendengar ucapan Berry hanya tersenyum ragu, karena entah kenapa dirinya merasakan hal yang sangat berbeda saat memasuki gerbang kampus.
Saat sedang asik berbincang, datanglah Nara menghampiri kedua gadis itu. Nara sangat senang bisa bertemu dengan Lea. Dia tiba tiba saja merasakan aura yang besar didalam tubuh Lea yang membuat dirinya selalu merasa tenang saat didekatnya.
“ Boleh gak aku ikut sama kalian?"
“ Wah kak Nara, tentu saja boleh dong udah lama kan kita gak barengan," jawab Berry.
__ADS_1
Pukul 16:00 mereka sudah berada dirumah Lea. Terlihat sang ibu sedang mengintrogasi adiknya, Lea pun bertanya apa yang sudah terjadi.
“ Ada apa Bu? Kok Reno ditanya tanya kayak gitu?"
“ Nih adik kamu gurunya nelpon dan bilang jika dia selalu bersikap aneh saat jam istirahat,” jawab sang ibu.
“ Kamu kenapa Ren? Apa yang kamu lakukan emang saat jam istirahat, sampai guru kamu menganggap kamu aneh?"
“ Ngga ngapa ngapain orang aku cuman ngobrol sama pak Agus satpam sekolah yang waktu itu. Kan dulu Reno pernah bilang sama kakak,"
“ Setahu kakak ngga ada satpam yang namanya pak Agus, kakak kan udah lama sekolah disana dan pastinya kakak kenal dengan satpam disekolah itu," jelas Lea yang masih penasaran siapa satpam yang dimaksud oleh adiknya itu.
Nara dan Berry hanya mendengarkan perbincangan ibu dan adik kakak itu. Lalu datanglah Farid dan berbisik untuk berbicara dengan Lea berdua saja. Nara kembali terkejut melihat Farid yang membisikkan sesuatu kepada Lea.
Gadis itu izin pergi ke kamarnya, Nara yang penasaran pun berpura-pura untuk pergi ke toilet. Didalam kamar, Farid menjelaskan jika satpam yang Reno maksud adalah satpam lama yang mati karena tumbal juga. Dia juga memberitahu Lea jika satpam tersebut baik, bahkan dia lah yang sudah memberitahu apa yang akan terjadi waktu itu.
Didepan pintu Nara terkejut karena Lea mengobrol dengan Farid sahabatnya yang sudah meninggal itu. Karena takut ketahuan dan Berry curiga, Nara pun segera kembali.
Tak lama Lea sudah siap dengan barangnya. Sebelum pergi dirinya memberitahu sang ibu untuk tidak memikirkan hal itu lagi. Ibunya pun hanya menganggukkan kepalanya lalu melirik pada Reno.
Farid tersenyum pada adik Lea dan melambaikan tangannya karena malam ini dia tidak dapat menemani Reno bermain.
Kini mereka sedang berada dirumah Berry, kedatangan mereka bertiga disambut hangat oleh tuan rumah.
“ Rumah si Galang gak pernah berubah tetap dengan mewah dan masih terlihat aesthetic," ucap Nara yang terkagum kagum dengan rumah sahabatnya itu. Walau dirinya sudah lama tahu tapi entah kenapa selalu dibuat kagum.
“ Eh Ber, kakak mu itu masih sering balapan ngga sekarang?" Tanya Nara.
“ Kak Galang kayaknya masih deh, kak Revan sama pacar kakak juga mereka masih balapan setiap malam Minggu," jawab Berry yang sambil menyiapkan barang barang.
__ADS_1
“ Wah si Panji belum gue jitak tuh anak kepalanya. Udah dibilang jangan balapan lagi karena bahaya, gue takut dia kayak temannya itu yang meninggal.”
Temannya itu yang dimaksud adalah Farid, dia tidak menyebutkan namanya. Pukul 17:30 mereka dalam perjalanan menuju kampus. Berry berhenti mendadak karena didepannya terdapat satu mobil yang menghalangi nya. Setelah turun ternyata itu Clara, dia memperingati Lea untuk tidak berdekat dekat dengan Galang apalagi caper.