
Lea mengernyitkan dahi mendengar kata cantik yang di lontarkan Farid padanya. Ekspresi nya pun terlihat biasa saja berbeda saat si hantu tampan yang berkata begitu. Padahal andai saja Lea tahu orang yang memanggil nya cantik adalah Farid pasti dia juga akan membalasnya dengan menyebut cowok itu ganteng.
...HAPPY READING ALL...
Sampailah Lea di sebuah cafe untuk menemui sahabatnya. Berry langsung menceritakan tentang masalahnya kepada Lea, dimana sahabatnya itu telah menjalin hubungan dengan Andra tanpa sepengetahuan teman teman yang lain.
“ Kak Galang udah tahu Lea. Aku takut jika nanti dia marah sama Andra dan aku,” ucapnya.
“ Kak Galang emang gak ngizinin kamu untuk mempunyai kekasih?” Berry menganggukkan kepalanya dan wajah gadis itu terlihat murung.
Lea menenangkan sahabatnya untuk tidak khawatir akan hal itu. Dia akan coba bicara pada Galang lalu keduanya berpelukan dan pergi ke kampusnya. Pertemuan antara Galang dan Andra pun membuat Berry takut jika kakaknya akan menghajar pacarnya. Tapi hal itu salah, justru Galang mengajak Andra ngobrol dan makan di kantin. Kakaknya itu merangkul pundak Andra.
Saat dikantin, Andra bingung dengan sikap Galang padanya termasuk teman teman yang lain. Dia bertanya mengapa Galang mengajaknya berbicara. “ Katanya lu pacar adik gue?” ucapnya sambil memakan batagor.
Andra terdiam dia menyangka jika Berry telah memberitahukan hubungan nya pada Galang. “ Kata siapa?” jawabnya dengan gugup.
“ Udah jujur aja lu. Tenang gue gak bakal marah kok, lagipula Berry udah dewasa jadi gak ada hak lagi buat gue larang dia. Cuman satu yang gue minta dari lu.”
“ Apa?” tanyanya sembari mengangkat sebelah alis.
“ Jagain dia dan jangn sampai lu sakitin hatinya. Kalo lu ketahuan selingkuh nyakitin hati Berry, lu akan nerima konsekuensi nya.” ancamnya lalu tersenyum.
Andra hanya menelan ludah. Entah kenapa saat berdekatan dengan Galang nyalinya menjadi ciut. Perbincangan itu terdengar oleh Berry dan yang lain. Panji heran mengapa dia mengizinkan cowok songong itu berpacaran dengan adiknya.
“ Mau kemana? Udah Pan biar itu urusan mereka bertiga. Oh iya bunda kamu kemarin telpon aku,” ujar Nara yang menghentikan kekasihnya menghampiri Galang dan Andra.
“ Bilang apa?”
__ADS_1
Nara tersenyum memandang wajah tampan Panji. “ Kata bunda, kamu baru beli cincin ya? Buat siapa?” Lelaki itu hanya mengedipkan matanya. Lalu berdengus kesal. “ Is si bunda. Kan gue dah bilang jangan beritahu Nara.”
“ Gak boleh nyalahin bunda sayang.”
“ Iya. Nanti aku kerumah kamu Nar malam,” jawabnya.
“ Ekhem!!” Nikma merasa terkacangi oleh dua makhluk hidup itu. "I'm hungry, can we quickly order food? And stop not to spit your intimacy.”
“ Ngomong apa sih dia?” tanya Panji yang pusing dengan sahabat Nara.
“ Dia udah laper katanya. Terus kita gak boleh bermesraan disini,” jawab Nara sambil tertawa.
“ Ya elah tinggal bilang laper repot banget. Mohon maaf saya kagak paham bahasa anda.”
“ Nanti aku ajarin dia bahasa Indonesia by,” ujar Nara
Mereka bertiga memesan makan. Lalu mejanya di hampiri oleh Farid. “ Heh cowok cool!! Ngapain lu duduk disini hah?”
Nara menghentikan perdebatan itu dan mengizinkan Farid duduk bersamanya. Wajah tampan yang dimiliki Gerald selalu menarik perhatian para kaum hawa. Hal hasil meja yang mereka tempati di kerumuni mahasiswa perempuan.
Disisi lain, Revan yang akan berangkat ke kampus dihadang oleh sekelompok geng motor. Ternyata mereka adalah geng yang dulu bertanding dengan Farid sampai sahabatnya itu meninggal dunia. Lama tidak bertemu dengan mereka, Revan geram. “ Wow salah satu temennya si Farid nih, masih bernapas ternyata,” celetuk salah satu dari mereka.
“ Hahaha kan yang gak bernapas ketuanya boss,” sahut yang lain.
“ Iya juga. Lama gak ketemu, gimana kabar lu dan yang lain bajingan.”
Revan mengepalkan tangan, ingin rasanya dia memukul wajah lelaki didepannya dengan keras. Namun pada akhirnya dia lah yang di pukul habis oleh geng tersebut. Setelah membuat Revan tersungkur lemah dan babak belur mereka semua pergi sambil tertawa girang.
Revan merogoh celananya mengambil handphone. Panji kaget mendengar itu lalu menghampiri Galang dan mereka pergi menuju tempat Revan. Farid dan Andra pun ikut dengan mereka. Dan sesampainya disana terlihat Revan yang sedang terbaring sendirian di tengah jalan dengan keadaan yang sangat buruk.
__ADS_1
Dirumah sakit. Revan siuman dan teman temannya bertanya siapa yang telah melakukan ini padanya. Cowok itu menceritakan bahwa dirinya bertemu dengan musuh mereka dulu. Farid tertegun mendengarnya cerita dari Revan. Lamunannya itu dibuyarkan oleh Andra yang mengajaknya pergi dari sana.
“ Andra,” panggil Berry. “ Halo kak Gerald,” sapanya dengan ramah dan tersenyum. Kini giliran Berry yang akan mengambil hati kakak pacarnya. Halo juga,” jawab Farid.
“ Ada apa Ber?”
“ Eum..anu, eh gak jadi deh. Ya udah kalo kamu mau pergi lanjut aja,” ujarnya yang membuat kedua cowok didepan mengernyitkan dahi.
Farid dan Andra pergi. Sedangkan yang lain masih melihat Revan. Lea izin pada teman temannya untuk pulang duluan karena dia harus menjemput Reno pulang sekolah. Hari pun semakin siang jadi Lea cepat cepat mencari taksi.
Disekolahan Reno. Anak kecil itu sedang menunggu kakaknya menjemput. Dia seperti biasa duduk didepan dengan ditemani oleh pak satpam hantu. Teman temannya yang selalu melihat Reno berbicara sendiri telah menganggapnya gila. Tapi dia tak memperdulikan itu semua karena yang dia tahu bahwa dirinya berbicara dengan satpam sekolahan.
“ Pak kalo kita kangen sama seseorang harus gimana?” tanya Reno.
“ Anak kecil kangen sama siapa? Hayoh kamu sudah punya pacar, saya bilangin ke kakak kamu nanti.”
“ Aku gak mau pacaran.”
“ Sudah lama ini aku kangen sama ibu dan ayah. Walau sudah memiliki keluarga baru, tapi Reno gak bisa melupakan ketulusan dan kasih sayang ibu ayah,” jelasnya yang membuat pak satpam iba terhadap anak kecil didepannya. Dia kasian umur yang belum dewasa itu sudah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya. Jika saja tidak ada keluarga Farid maka Lea dan Reno akan merasa sangat kesepian.
Tak lama datanglah Lea. Reno beranjak dari duduknya, terlihat jika mata Reno habis menangis dan dia pun menanyakan apa yang terjadi. Namun Reno menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
“ Ya udah pulang yuk,” ajaknya.
Dikediaman keluarga Farid sedang heboh dengan sebungkus plastik hitam besar. Para warga penasaran dengan isi didalamnya. Mama Lea ikut berkumpul dengan yang lain, dia menduga jika itu ulah dari orang yang selalu meneror keluarganya selama ini. Walau sudah pergi menjauh tetapi peneror tersebut masih saja mengikuti keluarganya.
Andra dan Farid yang sudah pulang pun heran karena melihat ramai ramai ada didekat rumahnya. “ Ada apa sih?”
“ Eh Gerald, Andra. Kalian sudah pulang ternyata. Ini loh tadi ada orang yang melempar plastik hitam ke komplek kita.”
__ADS_1
“ Apa isinya? Udah dibuka belum mah?” tanya Andra yang penasaran.