
Mamanya memanggil anak anaknya untuk segera keluar. Dan mereka pun berjalan menuju rumah Gerald yang sudah ramai dengan orang orang.
Kedatangan mereka disambut baik oleh keluarga Gerald.
...HAPPY READING ALL...
Sebelum acara di mulai. Mamanya memanggil Gerald yang tak lain itu Farid untuk bertemu dengan tetangga barunya. Dia memperkenalkan anaknya pada keluarga Lea.
Farid yang melihat keberadaan orang tua dan kekasihnya terkejut. Dia tidak percaya melihat mereka dirumah barunya. Dengan ramah dan sopan Farid menyapa kedua orang tuanya dan mencium telapak tangannya. Dia mencoba untuk menahan rasa rindunya dan sangat ingin memeluk mereka.
Andra datang dan menghentikan perbincangan itu. Gerald di ajak pergi menjauh. Setelah itu Andra memberitahu kakaknya jika ada geng motor yang ingin mengajaknya bertanding.
“ Kapan?” tanya Farid.
Untungnya dulu Farid merupakan anak geng motor terus meninggal karena kecelakaan saat balapan. Kemungkinan besar arwah nya yang masih di dunia manusia belum bisa tenang karena kecelakaan yang dia alami.
“ Minggu depan,” jawab Andra sembari melirik kanan kiri.
Lalu kedua cowok itu dipanggil lagi oleh orang tuanya. Acara dimulai, para tamu istimewa dari kalangan atas berkumpul mengelilingi Gerald. Setelah tiup lilin, Gerald berjalan menghampiri Lea lalu mengajaknya berdansa. Sontak gadis itu pun terkejut, dia tak percaya jika Gerald mendekati dirinya.
Kedua orang tua Gerald dan Lea ikut kaget melihat anak anaknya yang sedang berdansa. Banyak tepukan dari para tamu acara pun menjadi sangat meriah. Dari tempat lain, si pocong, Andi dan pak satpam juga datang ke acara tersebut. Mereka berdiri dipojokkan sambil memilih makanan sisa orang.
“ Pak dansa yuk,” ajak si pocong.
“ Halah kamu ini. Gimana mau dansa tangan kamu aja di ikat Cong,” jawab pak satpam.
“ Ndi bukain Ndi ikatannya.”
“ Gak mau ahh,” jawabnya.
“ Udah kita sebagai hantu diem aja. Anteng anteng jangan bikin masalah,” ujar pak satpam.
Dikediaman Galang. Tak sengaja cowok cool itu melihat Poto seseorang di tas milik adiknya. Dia mendekat lalu mengambil Poto tersebut. “ Cowok tadi siang kan? Kok bisa di tas si Berry?” pikirnya.
Berry yang baru saja keluar dari kamar mandi terkejut mendapati kakaknya di dalam kamar. Terlihat wajah panik dari Berry setelah tahu jika kakaknya sedang memegang poto dirinya dengan Andra.
__ADS_1
“ Kak Galang ngapain disini?” Berry takut jika nanti kakaknya itu akan memarahi dirinya karena ketahuan berpacaran. Dia mencoba untuk mencari berbagai alasan saat Kakaknya bertanya nanti.
“ Ini cowok waktu siang tadi kan? Ada hubungan apa kamu sama dia? Poto berdua, jika benar sejak kapan kalian menjalin hubungan ini, hah!!”
“ Nah kan sekali ngomong pasti ngasih banyak pertanyaan,” batin Berry.
“ Jawab Ber!” Galang dengan tegas menyuruh adik satu satunya itu menjawab pertanyaan darinya.
“Umm—anu kak..,” jawabnya terhenti sebab papa mereka memanggil.
Galang menatap adiknya dengan tajam. Berry bergidik melihat sikap kakaknya yang seperti itu. Segera gadis itu membereskan barang barangnya lalu menelpon sang kekasih. Andra yang sedang berpesta bersama keluarganya tak sempat mengangkat telpon dari Berry.
“ Is kemana sih kok gak di angkat?” dumelnya.
......................
07:15Am.
Farid sedang berada di balkon rumahnya. Dia menatap rumah baru Lea dan tak sengaja melihat kekasihnya itu yang akan memakai pakaian. Sontak saja dia langsung berbalik badan tidak ingin melihat kemolekan tubuh Lea.
“ Umm kira kira Farid suka gak ya sama penampilan baru aku? Dan sebenarnya dia dimana sih, dari kemarin gak kelihatan batang hidungnya.”
Drrrttt Drrrttt suara dering telpon terdengar. Lea langsung mengambil handphonenya. “ Berry.”
Dua sahabat itu berbicara lewat telpon. Berry bercerita jika sebenarnya dia dan Andra cowok yang di benci Panji telah menjalin hubungan. Lea kaget mendengar itu, dan bertanya apakah Galang tahu tentang hubungannya. Berry menjelaskan bahwa kakaknya melihat Poto dia dan Andra yang berdua.
Lea meminta Berry untuk melanjutkan ceritanya saat dikampus. Dia ingin mematikan teleponnya karena harus mengantarkan Reno pergi sekolah dulu.
“ Kak Leeaaa,” teriak Reno yang sudah telat berangkat sekolah.
“ Benttaaaarr.”
Lea turun dan sudah melihat adiknya yang sedang menunggu dengan wajah murung. Reno terlihat sangat menggemaskan saat dirinya sedang merasa kesal. Dengan lembut Lea mencubit pipi adiknya. Lalu langsung mengajaknya pergi.
“ Di anterin supir apa mau kayak dulu berangkat pakai angkot?” tanyanya.
“ Pakai angkot kak soalnya pak supir kan lagi nganterin papa kekantor,” ujar Reno.
__ADS_1
“ Oh iya kakak lupa.”
Mereka berjalan kedepan menunggu angkutan umum datang. Namun, sudah pukul 07:30 belum satu pun angkot yang mereka temui.
“ Mau kemana?” tanya Farid yang menggunakan mobil.
“ Sekolah kak Gerald,” jawab Reno.
“ Nunggu angkot? Gak bakal ada disini mah, mending bareng kakak aja yuk,” ajaknya.
“ Gak perlu, makasih.”
“ Ayok kak aku juga udah telat nih,” sambung Reno yang langsung ditatap oleh Lea.
Akhirnya mereka bertiga pun berangkat kesekolah Reno. Dimana sampingnya itu tempat Lea bersekolah dulu saat SMA. Tempat sang ayah meninggal disana dan kejadian kejadian mengerikan terjadi.
Didalam mobil Reno menanyakan keberadaan Farid pada kakaknya. Lea hanya diam tak menjawab sebab dirinya pun tidak tahu dimana pacarnya itu berada sekarang. Tidak ada kabar dan teman teman hantunya pun tidak ada yang memberitahu.
Farid yang sedang menyetir hanya menahan senyumnya. Sebenarnya dia sangat ingin memberitahukan jika dirinya adalah si hantu tampan yang masuk pada tubuh Gerald. Namun, dia menunggu waktu yang tepat.
Sampailah mereka disekolah Reno. Anak kecil itu turun dari mobil dan mencium telapak tangan kakaknya juga Gerald. Lea melihat sekeliling ternyata sekolahnya dulu masih tetap sama tidak ada perubahan sama sekali.
Farid yang masih melihat penampakan walau sudah menjadi manusia. Dia segera menggandeng tangan Lea untuk pergi dari sana. Sebab dia melihat sosok makhluk menyeramkan yang sedang menatap mereka berdua. Lea hanya diam saat tangannya di gandeng oleh cowok yang belum dirinya kenal banget.
“ Lepasin.”
“ Sorry gak bermaksud.”
“ Hm.”
“ Dingin banget. Takut pacarnya marah ya kalo lihat kita gandengan?”
Lea tak menjawab ucapan Farid. Dia masih saja memikirkan kemana hilangnya si hantu tampan itu. Kekhawatiran menyelimuti pikirannya, dia tak ingin jika kekasih hantunya kenapa kenapa.
Telpon kembali berdering Lea mengangkatnya. Setelah itu dia meminta Farid untuk berhenti. Tanpa banyak bicara cowok itu menurutinya. “ Hati hati cantik.”
Lea mengernyitkan dahi mendengar kata cantik yang di lontarkan Farid padanya. Ekspresi nya pun terlihat biasa saja berbeda saat si hantu tampan yang berkata begitu. Padahal andai saja Lea tahu orang yang memanggil nya cantik adalah Farid pasti dia juga akan membalasnya dengan menyebut cowok itu ganteng.
__ADS_1