HANTU TAMPAN

HANTU TAMPAN
HT 39


__ADS_3

Papa Farid pun tidak dapat pokus dengan pekerjaannya. Dia selalu mendapatkan telpon dari sang istri. Selain itu, sering ada pengiriman paket yang aneh datang kerumah mereka. Dan di dalam paket tersebut kadang terdapat sehelai rambut dengan jari kelingking.


...HAPPY READING ALL...



Farid telah kembali dari asrama itu. Lea dan yang lain pun sudah siap akan pergi. Mereka tidak ingin berlama lama berada ditempat ini. Dengan bantuan detektif, menurutnya akan lebih gampang.


“ Apapun yang terjadi kita akan terus bersama. Gak ada yang ninggalin satu sama lain,” ucap Nara.


Semua menganggukkan kepala. Saat di perjalanan pak satpam sengaja menemui keempat remaja itu dan berbicara kepada Nara jika dia akan membantunya. Semakin banyak yang membantu maka rencana mereka akan berhasil.


“ Silahkan lanjut tugas kalian masing masing. Kamu! Reni terus awasi anak anak itu, dan untuk kamu Rangga ambil organ yang bagus lalu kirimkan.” Ayah Clara memerintah anak buahnya dan memberikan kertas yang berisi alamat.


“ Baik.” Perkumpulan mereka bubar, Ayah Clara berjalan dan akan menghampiri berry yang berada dalam kamarnya. “ Tunggu aku manisss.”


Di luar sana Lea dan yang lain sedang berpikir bagaimana mereka akan masuk kedalam. Sedangkan gerbang begitu sangat tinggi. Saat sedang serius, terdengar suara mobil yang akan keluar. Keempat remaja dan satu detektif segera bersembunyi.


“Mau kemana mereka?” tanya Lea.


Tanpa aba aba terlebih dahulu, Panji menerobos masuk sebelum pintu gerbang tertutup. Hanya dia seorang yang berhasil, hal itu membuat Nara kesal.


“Gue bakal cari cara buka gerbangnya, Tunggu okay!”


“Gila si Panji. Dia kira nih asrama biasa apa, gak tahu didalam sana ada bahaya apa nanti,” gerutu Revan.


Teman teman yang lain hanya terdiam. Nara mendekat kepada Farid dan meminta hantu tampan itu untuk menemani kekasihnya. Dia tak ingin jika sesuatu terjadi kepada Panji.


Farid melirik kepada Lea dan pacarnya itu tersenyum. “ Okay! Asal lu semua hati hati dan jangan gegabah kek si Panji. Kalo bisa ikutin arahan dari para hantu ini, mereka sudah tahu letak kamar Galang.”


Setelah berkata begitu, Farid menyusul Panji yang sedang mencari letak pembukaan gerbang.


“Kok nenek nenek mau aja tinggal disini?” tanya Panji pada dirinya sendiri sembari memperhatikan sekitar.


Tak sengaja Panji melihat orang yang bernama Rangga itu sedang membawa seorang lelaki ke suatu tempat. Dia pun mengikutinya karena penasaran. Nampak beberapa kepala terpajang pada dinding yang membuat Panji bergidik melihat semuanya.


Degg!!!! Pundaknya terasa ada yang menepuk. Dia pun membalikkan badannya dengan pelan, “Galang?”


“Panji? Lu ngapain disini hah?”

__ADS_1


“Gue tadi lihat orang masuk bawa cowok kedalam," jawabnya. “ Lu juga kenapa ada ditempat ini?” tanyanya balik.


“Pan ini tempat berbahaya, mending lu kembali.”


“Gak!!” Jawab Panji dengan singkat. “Tujuan gue datang ketempat ini adalah untuk menyelamatkan lu dan Berry. Mana mungkin gue pergi begitu aja setelah berhasil masuk kedalam.”


“Gue kan udah bilang ke pacar lu untuk panggil polisi. Jangan berbuat sesuka hati kalian, gue gak mau lu semua kenapa-kenapa cuman gara-gara gue.”


“Udah Lang lagipula gue kesini gak sendiri, diluar sana masih ada yang lain. Dan ya seorang detektif juga ada,” ucap Panji.


“Detektif?”


Percakapan mereka terpotong karena Farid yang sengaja menampakkan dirinya. “Udah puas ngomongnya??”


“Farid?”


“ Shuuttt!!” Farid meminta kedua temannya itu untuk tidak berbicara dan menyuruh bersembunyi. Karena dirinya mendengar langkah kaki yang akan menuju ketempat mereka.


Diluar sana, Nara khawatir dengan Panji. Lea juga berusaha mencari jalan masuk dibantu oleh si detektif.


“ Bang pocong,” ucap Andi.


“ Kita hantu kan? Kenapa gak kita masuk aja terus buka gerbang otomatis ini.”


“ Laahhhh, iya juga. Kenapa gak kepikiran? Capek capek kita nunggu,” sahut si pocong.


Lea yang mendengar percakapan itu hanya membuang napasnya. Dia pun baru sadar jika ada hantu yang akan membantu membukakan gerbang. “ Kalian kenapa gak bilang daritadi?” ucapnya dengan wajah yang sudah capek.


Dua hantu itu malah cengengesan lalu pergi menembus masuk. Kini diluar hanya tersisa Lea, Detektif, Nara dan si pak satpam. Walau Lea tak dapat melihat kehadiran hantu satpam akan tetapi dia bisa merasakannya.


“ Mana sih lama banget mereka?" omel Lea yang sudah kepanasan menunggu.


“ Sabar Lea.”


Tak sengaja Lea menyentuh gerbang tersebut dan yang terjadi adalah gerbangnya dapat terbuka. Lea, Nara dan detektif hanya terdiam tak mengerti. “ Hah? Kok bisa sih?” pikirnya.


“ Lea kamu pakai jurus apa? sekali sentuhan gerbangnya langsung kebuka,” tanya Nara yang tak percaya.


“ Aa-aku gak tahu kak Nara,” jawabnya sembari menggeleng.

__ADS_1


Pak satpam menghampiri Nara dan berbisik jika Lea masih memiliki kekuatan. Seketika itu Nara pun teringat dengan kejadian yang mereka alami di gerbang belakang kampus dahulu. Tanpa menunggu lama mereka langsung masuk, si Detektif yang masih heran hanya bisa diam melihat apa yang dilakukan anak anak remaja itu.


Ditaman depan, terlihat Papa Galang yang sedang menjemur bersama para nenek nenek. Dia melihat kedatangan Lea seperti mengerti papanya Galang pun mengalihkan perhatian orang-orang.


Dengan memberi kode untuk Lea pergi kekamar anaknya, yaitu Berry. Sedangkan orang yang akan mereka selamatkan sedang bersama ayah Clara didalam kamar. Berry terlihat sangat ketakutan saat lelaki tua itu akan membuka bajunya. Langkah demi langkah ayah Clara maju mendekat.


“ Kemari sayang kita akan bersenang-senang terlebih dahulu sebelum kamu di eksekusi oleh Rangga,” ucapnya dengan senyum menggoda sekaligus mengerikan.


“ Jangan coba coba mendekat,” sahutnya lalu melirik pada bantal. Berry sebelumnya telah di beri sebuah pisau oleh Galang untuk adiknya itu berjaga-jaga.


“ Tenang lah hanya sebentar saja, kita akan menikmatinya bersama,” goda nya.


“ Berhenti atau saya akan bunuh kamu!!!” ucap Berry sambil menodongkan pisau.


HAHAHAHA, “ silahkan bunuh saya jika kamu bisa!!”


Ayah Clara sudah sangat dekat dengan Berry dan gadis itu terus saja mundur sampai dirinya terjebak. Tangan Berry bergetar hebat pisau yang dia pegang pun hampir jatuh kelantai.


Tinggal beberapa langkah lagi lelaki tua itu akan memulai aksinya melecehkan seorang gadis. Untungnya, Galang datang dan langsung menendang alat vital lelaki tersebut.


“ BERANI LU HAH!!” Galang emosi melihat itu pertarungan antara dia dan ayah Clara pun terjadi.


“ Berr cepet sini,” panggil Panji.


Dengan cepat Berry langsung ke Panji. Dia memeluk sahabat kakaknya karena masih merasa syok dengan dirinya yang akan di lecehkan. Tak lama Lea, Nara datang dan melihat semua.


“ Kenapa dengan Berry, Pan?” tanya Nara.


“ Nanti aja tanya nya Nar, lebih baik kalian bawa Berry pergi dari sini. Biar aku dan Revan yang akan membantu Galang.”


Nara hanya mengangguk.


“ Kan Panji.”


“ Apa Lea?”


“ Farid?” ucapnya dengan pelan.


“ Oh iya, Farid lagi ada diruang bawah tanah. Tenang Lea dia gak akan kenapa kenapa.”

__ADS_1


__ADS_2