HANTU TAMPAN

HANTU TAMPAN
HT 17


__ADS_3

Ibu Lea memotong pembicaraan itu, dia memberitahu dokter jika semalam tubuhnya tidak dapat digerakkan. Mendengar itu Lea teringat dengan kejadian semalam.


...----------------...


...HAPPY READING ALL...



“ Tenang saja Bu sekarang sudah tidak kenapa-kenapa kok," ucap si dokter.


Mengetahui ibunya yang sudah membaik, Lea merasa lega. Dia duduk disamping sang ibu dengan memegang tangannya dan mulai bercerita. Menceritakan semuanya kepada ibu merupakan hal paling bahagia, walau kita tahu bahwa sangat susah untuk bercerita kepadanya. Namun, jika seorang ibu sudah tidak ada disamping kita lagi, maka kita akan merasa kesepian, kehilangan, dan juga dunia terasa hampa tanpa ada nya sosok ibu didalam hidup kita.


Oleh karena itu, Lea menceritakan semuanya apa yang belum dia ceritakan pada ibunya. Tidak lupa Lea juga berkata jika dirinya dapat melihat hantu, bahkan dia juga mengaku mencintai salah satu hantu tersebut. Ibunya yang mendengar itu hanya tertawa yang menurutnya cerita soal hantu hanyalah candaan saja.


Ibu Lea mengelus lembut kepala anaknya. Dia mengingatkan Lea untuk menjadi anak yang baik dan jangan menjadi anak pendendam. Dia pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Moment ini lah yang gadis cantik itu rindukan, dia memeluk erat tubuh sang ibu. Ternyata suasana itu terlihat oleh kedua orang tua Farid.


“ Beruntungnya ibu itu yang mempunyai anak seperti Lea," ucap Mama Farid sambil bersender di bahu sang suami.


“ Gak boleh begitu, kita juga beruntung telah memiliki Farid dan Rere.”


“ Pah, mama kangen sama Farid. Andai saja dia masih hidup mama bakal jodohin dia sama Lea," ucapnya.


“ Nanti sore kita ke pemakaman Farid,” kata papa. Dirinya pun merasa kangen kepada anak laki lakinya itu, walau semalam sudah bertemu.


Dirumah Galang, Berry mengeluh pada kakaknya untuk dibelikan makanan favoritnya. Dia merasa lelah akibat kejadian dirumah sakit. Galang yang akan pergi bersama teman temannya pun menolak apa yang diinginkan sang adik.


“ Kaaakkk Galaaaannngggg!!!” Is sekali ini aja beliin makanan buat aku," Berry berteriak dengan sangat keras.


“ Berisik bocil!!” Ngapain sih beli itu si bibi udah masak, makan aja makanan yang ada."


Berry menggoyang goyangkan lengan kakaknya, dia terus membujuk Galang untuk membelikannya makan. Bel pintu berbunyi, saat dibuka ternyata itu adalah Clara. Berry tersenyum lalu berbisik pada kakaknya itu.

__ADS_1


' Udah mending beliin aku makanan terus kakak suruh siapa kek buat nganterin nya, setelah itu kakak boleh pergi kemana aja yang kakak mau. Sekalian kan menghindar dari Mak lampir satu ini,” bisiknya.


Galang langsung mengiyakan permintaan adiknya itu. Melihat Galang yang mengambil helm dan menaiki motornya, Clara cepat cepat menghampiri cowok tampan dan cool itu.


“ Minggir Cla, gue mau beliin si Berry makanan.”


“ Masa mau beli makanan pakai helm segala?” tanya nya yang tidak percaya.


“ Kaakkk Galaanngg cepetan!! Keburu metong nih adik mu yang imut ini,” Berry kembali berteriak.


“ Iyyaaa ini mau berangkat astaga,” jawab Galang diluar.


“ Gue ikut Lang.”


“ Gak! Lu tunggu aja disini,” tolak Galang.


Terpaksa Clara pun menunggu Galang dirumahnya. Hari sudah semakin siang, namun Galang tetap tak muncul untuk kembali. Karena sudah kesal dan menunggu lama, Clara menerobos masuk kedalam untuk menemui Berry.


“ Ahh gak penting, gue mau tanya sebenarnya Galang kemana sih? Lama banget beli makanan doang," ucapnya dengan kesal.


Clara terkejut karena Berry sedang makan, dia pun bertanya darimana Berry mendapatkan makanan tersebut sedangkan Galang belum kembali pulang. Ditanya begitu, dia hanya tersenyum saja sebagai jawaban yang di ucapkan Clara.


“ Heh gue tanya lu ya!!”


“ Apaan sih ganggu orang makan aja, ini tuh tadi Abang ojek yang nganter.”


“ Terus si Galang kemana?”


“ Ya pergi kumpul lah sama temennya,” jawab berry dengan enteng nya sambil melahap makanan.


“ Kok lu gak bilang ke gue?”

__ADS_1


“ Anda siapa ya? Pacar? Istri atau apanya kak Galang?”


Clara berdengus kesal dia merasa percuma dan sia sia berbicara dengan Berry. Dirinya pun memutuskan untuk pergi saja dari rumah Galang. Saat melangkahkan kakinya datanglah papa Berry yang pulang dari kantor.


“ Om," sapa Clara.


Papa Galang hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lalu melanjutkan langkahnya pergi kekamar. Berry yang melihat Clara kena cuek papanya tertawa senang, dia memperlihatkan jari tengah nya kepada Clara.


Setelah itu Berry mendapatkan telpon, ternyata itu adalah Galang yang ingin menanyakan Clara. Sang adik pun memberitahu jika Clara baru saja pergi dari rumahnya.


“ Ah masa dah pergi," ucap seseorang yang tiba tiba dari belakang berry.


“ Kak, kakak ada dimana? Kok suaranya kek kenceng gitu ya?” tanya sang adik yang masih belum sadar jika Galang sudah berada dibelakangnya.


“ Balik kebelakang cil,” titah Galang.


Berry membalikan badannya dan terkejut melihat Galang yang memakai topeng. Sedangkan Galang dia malah tertawa puas bisa mengerjai adiknya itu.


Lea izin pamit kepada sang ibu untuk menjemput Reno pulang sekolah. Dia juga meminta tolong kepada mama Farid untuk menjaga ibunya sebentar. Reno yang duduk didepan gerbang menunggu dijemput sang kakak sedang berbincang-bincang dengan pak satpam juga Farid. Reno menceritakan betapa hebatnya ayah dia kepada dua hantu itu. Pak satpam dan Farid yang mendengar itu hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


Kini Reno telah tahu jika satpam yang selalu dia ajak bicara bukanlah manusia, karena melihat Farid yang sedang mengobrol dengan si satpam saat Reno keluar dari kelas. Tak lama datanglah Lea memanggil nama adiknya, pak satpam berdehem sambil melirik pada Farid.


“ Makasih ya Farid udah mau jagain Reno," ucap Lea.


“ Iya santai aja nih anak udah gue anggap sebagai adek.”


“ Maksudnya itu adek ipar ya kak Farid,” ledek Reno.


“ Jiaahhkkk emang ada ya hantu yang pipinya merah kalo di ledek begitu,” sambung Reno.


Lea menegur Reno, anak kecil itu pun meminta maaf kepada Farid sambil menahan senyumnya. Mereka bertiga pulang kerumah sakit, di perjalanan Reno memberitahu sang kakak jika dirinya mendapatkan sumbangan dari para guru dan teman temannya. Dia mengambil tasnya dan mengeluarkan amplop yang berisi uang lalu memberikan nya pada sang kakak.

__ADS_1


Lea baru sadar melihat Reno memakai seragam sekolah, dia bertanya darimana adiknya itu mendapatkan seragam sedangkan rumahnya hangus terbakar. Dengan senang Reno menjawab jika sebelum pergi sekolah, ternyata Berry membelikan Reno seragam, tas dan juga sepatu. Oleh sebab itu, Reno dapat pergi kesekolah. Awalnya dia tidak ingin pergi beralasan ingin menemani sang ibu. Namun, karena dipaksa sang kakak dia pun mau tak mau harus menurutinya.


__ADS_2