
“Eh tidak perlu Tante. Kita berdua sudah sarapan dirumah. Kami kesini ingin mengajak Lea untuk menjenguk papa Berry.”
“Baiklah, tunggu Lea selesai menghabiskan sarapannya.”
Gerald dan Elang mengangguk.
...HAPPY READING ALL...
Selesai sarapan mereka bertiga langsung pergi. Kebetulan hari itu minggu, Reno merengek ingin ikut dengan kakaknya. Karena sudah lama tak bersama maka Lea pun mengizinkan adiknya itu.
“Aku pamit ya Mah.”
Baru saja melangkah, datang tamu yang Lea kenal. Dia adalah si detektif.
“Nak Lea? Ini rumah kamu?”
“Iya pak ini rumah saya. Apa bapak mau menyelidiki kasus pembunuhan itu?”
“Iya nak Lea. Boleh saya bertemu dengan kedua orang tua kamu untuk meminta penjelasan mereka?”
“Ahh masuk saja pak. Saya akan pergi menemui Berry dirumah sakit. sebentar, saya panggil mereka dulu.”
Mama Lea keluar, dia mempersilakan pak detektif masuk kedalam. Sedangkan Lea dan yang lain langsung pergi. Di perjalanan, mereka bertiga bertemu dengan Galang juga Revan. Lea menyuruh Gerald berhenti.
“Kak Galang,” ucap Lea yang penasaran dengan lelaki tua.
“Kamu gadis yang sangat istimewa nak,” ujar pak Sabar sembari senyum.
“Eh, makasih pak. Kak Galang mau kemana?”
“Ini mau kerumah sakit, kenalin ini pak Sabar. Dia yang akan mencoba menyembuhkan penyakit papa Arga.”
“Oh..., aku juga mau kesana bareng kak Gerald dan Elang.”
Perbincangan selesai. Mereka pun pergi bersama. Sesampainya dirumah sakit, pak Sabar melihat keadaan pak Arga. Dimana dia melihat jika ada sesosok makhluk besar disamping.
__ADS_1
Farid yang melihat keberadaan makhluk itu pun terkejut. Karena sebelumnya tidak ada satu makhluk berada di ruangan papa Galang.
“Bawa teman teman kamu pergi dari sini anak muda,” titah pak satpam pada Farid didalam hati.
“Eh.”
Tanpa ba-bi-bu Farid menyuruh Lea membawa teman temannya keluar. Galang hanya menurut, dan semuanya melihat sebuah cahaya dari dalam ruangan. Elang dan Andra yang baru pertama kali melihat itu kaget juga tak percaya. Disaat sedang serius, Reno tiba tiba saja tidak ada didekat Lea.
Hal itu membuat kakak nya panik. Tanpa disuruh, Farid bersama teman teman hantunya pergi mencari keberadaan Reno di sekitaran rumah sakit.
“Aww!” Lea memegang dadanya sembari menyebut nama Reno.
“Kamu kenapa Lea?” ucap Berry dengan cemas. Gerald meminta Andra menjaga dua gadis itu, sedangkan dirinya bersama Revan dan Elang akan mencari Reno. Awalnya Galang ingin ikut membantu, namun Gerald melarangnya karena dia harus menemani sang papa.
“Gue serahin semuanya sama lu. Tolong temukan Reno dan bawa dia dengan keadaan selamat,” ucap Galang.
“Gue janji sama lu,” jawabnya lalu pergi.
Gerald yang mempunyai kemampuan melihat Farid pun mengikuti kemana mereka pergi.
Elang dan Revan mengangguk mengerti. Sedangkan dirinya pergi bersama Farid. Saat mereka berhenti di salah satu ruangan, Andi datang memberitahu jika dia melihat Reno bersama seorang perempuan.
Farid khawatir, takut jika perempuan itu adalah Clara. Maka cepat cepat mengajak Gerald pergi ketempat yang Andi tunjukkan. Benar saja, sampainya disana Farid melihat Clara yang tersenyum aneh. Terdapat Reno juga yang sedang memegang tangan Clara dengan tatapan kosong.
“Lea kamu mau kemana? Jangan pergi dulu kamu terlihat pucat,” ujar Berry.
“Aku gak bisa disini terus Ber. Reno sedang dalam bahaya, aku harus nyelamatin dia.”
“Tenang Lea. Lu disini aja istirahat, Farid dan yang lain sedang mencari Reno. Mereka pasti bisa membawa adik Lu kembali,” ucap Galang.
Kembali pada Farid. Clara membawa Reno naik ke atas. Disana perempuan jahat itu mencoba untuk menyuruh Reno melompat. Orang orang yang berada dibawah heboh, karena melihat kejadian itu.
Dikit demi sedikit Reno mulai melangkahkan kakinya maju. Orang yang ada di rumah sakit berteriak, namun tak ada dari mereka yang berniat membantu.
“Lang lu jaga disini sama dia. Tangkap jika Reno benar benar jatuh. Gue bakal naik ke atas,” titah Gerald.
Sesampainya di atas, Clara tertawa melihat Farid. Yang merupakan sahabatnya dulu. Dia terus meledek Farid dan mengancam keselamatan orang tuanya.
__ADS_1
“Semua ini salah kalian semua!! Kalian telah membunuh Bokap gue, dan sekarang adik pacar lu bakal gue suruh loncat.”
“Harusnya lu sadar Clara. Perbuatan yang lu lakukan dulu bersama bokap lu keterlaluan. Gue tahu siapa dalang dari kematian kedua orang tua Lea. Dan itu semua ulah lu!”
“Gue ngelakuin itu karena Lea ikut campur dengan urusan gue! Jika saja cewek itu tidak datang di kehidupan Berry dan Galang, maka rencana gue akan berhasil.”
“Dari awal Lea dan Galang gak ada hubungan apapun. Justru gue lah yang pacar Lea, semuanya hanya lah kecemburuan lu doang. Bahkan gue kecewa, lu bukan Clara yang gue kenal dulu. Cewek baik ramah, kini lu berubah menjadi monster.”
Gerald yang baru sampai mendengar pertengkaran mereka. Berbeda dengan orang orang di bawah, mereka menganggap Clara mengalami gangguan jiwa yang berbicara sendiri.
Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Gerald melangkah dengan pelan menghampiri Reno yang sudah di ujung. Melihat itu Farid terus saja membuat Clara emosi padanya untuk mengalihkan perhatian.
Usahanya berhasil. Reno di selamatkan Gerald, Clara yang menyadari itu langsung menyerang Gerald dengan kekuatan hitamnya.
“Kak Faariiddd,” teriak Reno yang sudah sadar.
Setelah menjatuhkan Gerald. Clara ingin melukai Reno, namun pak satpam, si pocong, Andi dan juga Farid menghalanginya.
Cuaca yang cerah kini berubah menjadi gelap. Pak Sabar juga merasakan hal yang sangat besar akan terjadi. Dia menyuruh Galang untuk membawa teman temannya kembali.
“Kak Galang aku ikut,” ucap Lea yang menghentikan langkahnya.
“Okay.”
Di perjalanan menuju lantai atas. Galang menelpon Revan untuk masuk kedalam. Menunggu Diruangan papanya bersama berry dan yang lain. Revan bingung, karena dirinya di titahkan untuk menjaga di bawah oleh Gerald.
Mengetahui Reno sudah selamat, maka Revan mengajak Elang untuk segera masuk. Galang dan juga Lea sudah sampai di atas, baru saja datang mereka di perlihatkan dengan tergeletak nya Gerald.
“Kak tolong Gerald,” titah Lea pada Galang.
“Rennnnooo,” teriaknya.
Reno berlari pada kakaknya. Tak lama datang lah pak Harto dengan jubah hitamnya. Seketika tubuh Lea merasakan energi yang sangat kuat.
Hari yang masih siang pun berubah menjadi suasana yang sangat menyeramkan. Para makhluk yang berada dirumah sakit pun terlihat ketakutan dengan kekuatan yang ada di dalam tubuh Clara, pak Harto, Lea serta Farid.
Saat pak Harto akan menyerang. Pak Sabar datang, dia menyuruh warganya itu pergi secara halus. Namun sayang, ucapannya tidak di gubris sama sekali.
__ADS_1