HANTU TAMPAN

HANTU TAMPAN
HT 58


__ADS_3

Saat pak Harto akan menyerang. Pak Sabar datang, dia menyuruh warganya itu pergi secara halus. Namun sayang, ucapannya tidak di gubris sama sekali


...HAPPY READING ALL...



Geraman yang sangat keras membuat orang orang yang ada dirumah sakit ketakutan. Ternyata pak Harto hanya ingin membuat Lea dan teman temannya takut. Lalu setelah itu dia membawa Clara pergi dari sana.


Galang yang mengira akan terjadi peperangan lagi antara makhluk halus dengan manusia, menghela napasnya karena semua itu hanya kiraannya saja. Gerald yang beru pertama kali lihat membuatnya sedikit ciut. Dia tak menyangka jika ada manusia yang mempelajari ilmu hitam.


“Sebaiknya kalian semua turun dan kembali kedalam,” titah pak Sabar.


Semua mengangguk. Di saat itu pula, orang irang di rumah sakit ingin mengusir Lea dan teman teman. Semua yang terjadi di akibatkan para anak muda itu. Mereka merasa terancam dengan kejadian tadi.


“Lang gimana ini?”


Galang menatap teman temannya dengan mata sayu. Dia tak tega jika harus memindahkan papanya yang masih terbaring lemah. Saat sedang bingung, pak Sabar datang dan berkata jika papanya sudah bisa di bawa pulang. Sebab nyatanya papa Galang tidak memiliki riwayat penyakit apapun, sakit yang dia alami semuanya ulah dari pak Harto.


Mendengar perkataan itu Galang senang. Dia sangat berterimakasih kasih pada pak Sabar yang telah mau membantu dirinya.


Ditempat lain. Pak detektif sudah selesai bertanya-tanya pada keluarga Lea dan yang lainnya. Saat akan melangkah, papa Lea menghentikannya dan lapor jika selama ini mereka selalu mendapatkan teror. Dia juga berpikir jika teror yang para warga alami terjadi semenjak dirinya dan keluarga pindah.


“Baik pak, saya akan melanjutkan investigasi lebih dalam lagi. Dan akan saya kirim beberapa polisi untuk menjaga rumah kalian. Kalo begitu saya pamit,” ucap pak detektif.


Sepasang suami istri itu menghela napas. Mereka berdua berharap jika si peneror keluarganya akan segera tertangkap agar mereka dapat hidup dengan tenang, tanpa di selimuti rasa ketakutan.


......................


“Sayang kamu bener mau masuk ke rumah itu?” ujar Panji pada istrinya sambil menunjuk rumah yang menyeramkan baginya.


“Mau gimana lagi, anak ini meminta kita masuk kedalam.”


“Baiklah demi kamu aku akan ikut kedalam.” Nara, Panji dan hantu bule masuk kedalam rumah.


Didalam rumah suasana terlihat gelap. Bahkan rumah tersebut ada garis polisi nya. Tiba tiba saja kepala hantu anak kecil itu merasakan sakit. Nara panik begitu juga dengan Panji.

__ADS_1


“What do you feel? Do you remember anything?”


“I just felt sick after being in this house, and I don't remember anything.”


“Apa katanya?” tanya Panji.


“Dia hanya sakit doang,” jawab sang istri.


Tanpa sengaja Nara menemukan buku yang sudah usang. Dia mengambil buku tersebut dan memasukkannya kedalam tas. Karena tidak menemukan apapun didalam sana, Nara mengajak suami dan hantu itu pergi.


Kembali pada Lea dan yang lain.


“Galang, Berry.”


“Papa,” ucap kedua anaknya.


“Papa udah beneran sembuh kan? Gak merasa sesak lagi atau lainnya? Aku dan kak Galang takut papa kenapa-kenapa. Mulai saat ini aku akan terus menjaga papa, sekarang yang aku punya hanya papa,” ucap Berry nyerocos.


“Om baik baik saja kan?” tanya Lea dengan ramah.


“Saya baik baik saja. Ini teman Galang dan Berry kumpul semua?” tanyanya. “Pasti ada pacar anak saya nih disini? Sebelumnya saya setengah sadar dan melihat seorang lelaki bersama Berry. Dia terlihat sedang menenangkan anak saya dengan penuh perhatian.”


“Baiklah kita lanjutkan perbincangan ini di rumah. Lebih baik sekarang pulang,” ucapnya.


“Iya Pah, aku ke tempat resepsionis dulu untuk bayar tagihan rumah sakit.”


Semuanya pergi keluar kecuali Galang. Dokter pun mengizinkan pak Arga untuk pulang.


Di perjalanan, suasana dalam mobil tidak terasa sepi karena Reno yang terus mengoceh. Di tambah dengan tingkah lucunya itu membuat semua tertawa. Gerald memuji Lea yang memiliki adik setampan dan sepintar Reno.


“Selama bertahun-tahun gue belum pernah denger lu muji gue Bang,” sindir Andra.


“Aelah si kunyuk Andra sirik aja,” ledek Elang.


“Apa sih ikut ikut aja ketombe basah,” ledek balik Andra.

__ADS_1


Tak berselang lama semua kembali berkumpul dirumah Galang. Gerald, Andra dan juga Elang yang baru pertama kali mampir terpana dengan rumah teman barunya itu.



“Mari semua masuk,” ujar pak Arga.


Berry mempersilahkan para tamunya untuk duduk. Lalu pergi bersama Lea untuk menyiapkan minuman dan makanan ringan.


Di ruang tamu, Revan mendapatkan video call dari sahabatnya yang tak lain Panji dan Nara. Cowok tengil tersebut memberikan banyak pertanyaan kepada pasangan baru itu. Semua yang tidak penting dia tanyakan.


Sedangkan ketiga cowok yang mendengarkan percakapan Revan hanya tersenyum.


“Ternyata asik juga ya gabung sama mereka,” ujar Andra.


“Gue akui kalo circle mereka seru,” sahut Elang.


“Selain itu mereka juga tetap mau berteman dengan sahabatnya yang sudah meninggal,” sambung Gerald.


“Hah?!”


Andra dan Elang kaget mendengar apa yang di ucapkan Gerald. Revan menyenggol lengan nya lalu dia pun membuat alasan.


“Hahaha kaget ya? Gue bercanda gak usah begitu muka nya. Lu berdua udah jelek jangan di bikin jelek lagi.”


“Andra! Nyokap lu dulu ngidam apa sih pas mengandung si Gerald? Kok ngeselin banget, dari dulu bawaan nya emosi terus kalo ngomong sama nih anak,” ucap Elang.


Berry dan Lea datang membawa minuman dan obrolan mereka pun terhenti.


Pukul 16:00. Para anak remaja itu masih belum pulang kerumahnya. Mereka masih asik mengobrol dengan pak Sabar dan papa Galang. Kedua orang tua itu menceritakan pengalaman bahagia dan menyedihkan mereka. Terlihat raut wajah Galang saat mendengarkan papanya yang menceritakan kisah cinta bersama mamanya.


Farid yang tak terlihat merasa bosan, lalu muncullah ide jahilnya. Seperti biasa korban pertamanya adalah Revan. Orang orang yang tidak melihat Farid pun merasa heran dengan tingkah Revan. Sedangkan sisanya hanya menahan tawa.


“Jadi hantu kok nakal,” ucap pak Sabar pelan.


Tak sengaja papa Galang mendengar.

__ADS_1


“Biasa pak, dia dari masih hidup juga suka jahil. Mungkin kebiasaannya itu kebawa sampai mati,” sahut Galang.


Revan akhirnya tahu siapa yang menjahili dirinya setelah mendengar perkataan Galang. Cowok itu memanggil nama Farid dan menyuruhnya untuk diam. Namun, bukan Farid namanya jika tidak berhenti menjahili. Justru dengan Revan berkata seperti itu membuat si hantu tampan terus menerus mempermainkan dirinya.


__ADS_2