HANTU TAMPAN

HANTU TAMPAN
HT 34


__ADS_3

Lalu datanglah seorang wanita dan membubarkan itu semua. Galang hanya berkata jika salah seorang dari mereka bertanya letak toilet. Nara pun langsung mengangguk dan membenarkan apa yang dikatakan Galang.


...HAPPY READING ALL...



Setelah kepergian Galang juga wanita itu. Lea mengajak teman temannya untuk masuk kamar.


“ Kalian merasa aneh gak sih sama wanita tadi?” tanya Lea dan di angguki teman temannya.


“ Si Galang juga ngapain dia disini? Kayaknya kita harus tanya,” sambung Panji.


20:00 malam. Semua diminta turun kebawah begitupun dengan Lea dan yang lain. Sesampainya mereka di perlihatkan jika seorang pria waktu sore tadi sedang berdiri didepan. Lea pun bertanya tanya dan kebetulan Berry berada disampingnya. Hal itu membuat Lea bahagia telah melihat lagi sahabatnya.


“ Lea gak seharusnya kamu datang ketempat ini,” bisik Berry.


“ Apa maksud kamu Ber?”


“ Kamu sudah salah menginjakkan kaki disini, orang yang telah masuk pasti tak akan bisa lagi untuk pergi keluar,” jelasnya lalu obrolan itu terhenti karena si wanita yang mengawasi Berry.


Orang orang yang ada disana sangat memuja pria tersebut. Lea CS merasa kebingungan dia hanya terdiam melihat yang ada didepan matanya. Begitu juga dengan keluarga Berry, mereka diam saja tidak mengikuti apa yang orang orang lakukan.


Setelah acara tadi selesai semua kembali pada kamarnya masing masing. Saat dikamar Nara di kejutkan dengan kedatangan Andi bersama si pocong.


“ Astaga kalian berdua," ucap Nara yang terkejut dengan munculnya teman hantu dia.


“ Hey kalian kemana aja? Kenapa gak pernah menampakkan wujud lagi padaku," sambung Lea.


Si pocong menjelaskan kenapa dirinya tidak menampakkan diri lagi. Ternyata dulu teman hantunya itu sedang mengumpulkan kekuatan.


“ Ouhh,” ucap Lea dan Nara bersamaan.


'Andai saja Farid masih ada' batin Lea.


Si pocong yang melihat wajah Lea seperti itu merasa ingin memberitahukan bahwa sebenarnya Farid belum pergi. Tapi si pocong ingat jika Farid masih belum pulih dan tidak ingin Lea menjadi cemas.


Tok tok tok tok

__ADS_1


Suara ketukan pintu Lea terdengar. Kedua gadis itu saling tatap, sebelum membukanya Nara menyuruh Andi untuk memeriksa siapa orang diluar.


“ Seorang lelaki sepertinya teman kakak tapi aku gak tahu namanya,” ucap Andi.


“ Baik lah makasih Andi.” Lea dan Nara berjalan membuka pintu, ternyata yang mengetuk tadi adalah Galang. Nara ingin bertanya sesuatu akan tetapi Galang hanya memberikan sebuah kertas lalu dirinya pergi.


Lea dan Nara mengernyitkan dahi.


“ Coba buka kak Nara,” titah Lea.


•••Gue mohon sama kalian semua untuk segera pergi dari tempat neraka ini. Setelah kalian berhasil keluar tolong untuk melapor ke polisi. Jika kalian melaporkan lewat telpon maka itu akan sia sia. Sebab, ditempat ini saluran internet sengaja di putus•••


•••Gue mohon sama kalian segera meninggalkan tempat ini, dan gue bersama Berry dan bokap akan berusaha keluar juga menyusul kalian•••


“ Apa kita besok harus benar benar pergi meninggalkan kak Galang dan keluarga nya?" tanya Lea yang tak ingin sahabatnya kenapa kenapa.


“ Seharusnya kita pergi. Tapi Lea, aku penasaran apa yang sebenarnya terjadi ditempat ini. Mengapa Galang berkata jika tempat ini seperti neraka? Padahal orang orang yang ada disini terlihat ramah.”


“ Tapi kak Nara merasa aneh kan?” tanya nya lagi dan Nara menganggukkan kepalanya.


...----------------...


Setelah melihat senyuman dari para tetangganya. Berry berkata pada sang kakak jika warga disana terlihat sangat aneh. Perkataan itu sepemikiran dengan apa yang Galang lihat.


Malamnya kedua anak itu melaporkan pada papanya jika mereka tidak merasa nyaman dirumah barunya. Namun sang papa menjawab jika tidak itu hanya perasaan anak anaknya saja karena baru merasakan tinggal di kota terpencil.


Mendengar ucapan begitu Galang dan Berry hanya menghela napas saja.


Setelah makan papanya menyuruh mereka untuk segera tidur. Karena besoknya mereka akan pergi untuk mencari universitas. Didalam kamar Berry mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Lea. Tapi sinyal disana tidak ada sama sekali.


“ Kak Galang,” panggil Berry yang kesal karena sinyal yang ada disana.


“ Kenapa Ber?”


“ Is kenapa sih papa harus nyari rumah dikota ini. Aku jadi gak bisa menghubungi Lea karena sinyalnya yang tidak ada,” jelas sang adik lalu Galang memeriksa ponselnya.


“ Lah iya, kok bisa sih? Papa kesini kan karena pekerjaan. Jika sinyal tak ada begini bagaimana bisa papa bekerja.”

__ADS_1


“ Nah itu makanya. Besok kita coba bicara aja kak ke papa,” jawab Berry.


Keesokan paginya. Keluarga itu telah bersiap pergi, si wanita kemarin datang kembali dan menanyakan apakah rumahnya terasa nyaman atau tidak. Papa Galang menjawab jika mereka merasa nyaman. Akan tetapi dari dalam lubuk hati kedua anaknya mereka merasa tidak nyaman.


“ Kalo begitu saya dan anak anak permisi untuk pergi mencari universitas,” pamit papa Galang.


Lelaki yang sedikit tua dan anak anaknya pergi menaiki mobil. Si wanita dan separuh warga yang melihat kepergian mereka terlihat tidak senang.


“ Kalian harus bersikap baik pada mereka,” ucap si wanita dan si warga mengangguk mengerti.


#Fov End


Besoknya Nara bangun lebih awal. Dia mencari si wanita kemarin untuk bertanya apakah mobilnya sudah di pompa atau belum. Tapi sayangnya Nara tak menemukan si wanita itu dia pun kembali ke kamarnya.


Pukul 08:00. Mereka semua kembali dikumpulkan untuk sarapan. Lea dan yang lain berpapasan dengan Galang. Teman cowoknya itu hanya menganggukkan kepala melihat pada Nara.


Dimeja makan Nara melihat si wanita dan dia pun langsung menanyakan mobilnya.


“ Terima kasih telah membatu kami," ucap Nara.


Setelah itu, mereka berempat berpamitan pada semuanya. Didalam mobil Lea berkata jika dia tidak bisa meninggalkan Berry begitu saja. Dan dia juga mengingatkan kembali jika kepergian mereka adalah untuk mencari Galang juga Berry.


“ Galang udah ada kenapa gak kita ajak aja dia," sahut Revan.


“ Kayaknya gak segampang itu membawa Galang dan keluarganya pergi," jawab Nara.


“ Kenapa?” Panji bingung dengan kekasihnya.


Nara mengeluarkan kertas yang Galang berikan padanya kemarin. Setelah membacanya kini kedua cowok itu mengerti jika Galang sedang dalam bahaya. Melihat mobil Nara yang tak pergi juga, si wanita menghampirinya dan membuat keempat remaja itu terkejut.


“ Apa kalian masih ingin menginap disini?" tanyanya.


“ Ahh eh tidak, kita akan segera pergi makasih atas bantuannya," jawab Nara.


Setelah keluar dari sana mereka kembali menghentikan mobilnya. Lea dan yang lain masih memikirkan cara untuk membawa Galang pergi.


“ Bukannya kata Galang harus lapor polisi? Kenapa kita gak pulang terus melaporkannya," ucap Panji.

__ADS_1


“ Nah bener tuh kata si Panjul," sahut Revan.


“ Masalahnya kita tidak mempunyai bukti apapun tentang rumah itu. Dan pastinya polisi tidak akan percaya dengan omongan kita," jawab Nara dan Lea hanya mengangguk saja.


__ADS_2