HANTU TAMPAN

HANTU TAMPAN
HT 45


__ADS_3

Revan memukul kepala Galang yang berkata jika Berry live streaming di kamar mandi. “ Gue bercanda Van.”


“ Bercanda kek gitu. Masa adek lu live streaming di toilet pas buang air.”


Hahahanahah


Semua tertawa.


...HAPPY READING ALL...



Setelah menemukan adiknya mereka semua pergi. Berry sedikit gugup berada didekat Galang. Dia takut jika kakaknya itu mengetahui hubungannya dengan Andra.


Dirumah, Reno dengan Rere sedang bermain di teras depan. Saat sedang asik, mereka berdua kedatangan seseorang yang memberikan dua anak kecil itu kantong plastik.


“ Reno coba kamu lihat isinya,” ujar Rere.


“ Kita harus memberikannya pada mama dulu Re, tidak sopan membuka tanpa mendapatkan izin.”


“ Apa ya isinya? Bulat besar, kayaknya buah semangka deh,” ucap Rere dengan polos.


Rere merengek untuk Reno membuka kantong plastik tersebut. Karena berisik anak lelaki itu pun menurutinya. Reno membukanya dengan perlahan dan terlihat sedikit warna dari benda itu. Buah semangka yang di kiranya ternyata bukan. Benda tersebut berwarna hitam dan berambut.


“ Ayo langsung buka jangan sedikit sedikit,” titah Rere yang tak sabar untuk melihat isinya.


Bruggghhhh......


Reno langsung melemparkan kantong plastik tersebut dan dua anak kecil itu berteriak membuat mama nya yang ada didalam langsung keluar. “ Kenapa?” tanya nya dengan cemas.


“ Iii-ittuu...,” tunjuk Reno dengan gemetar.


Mamanya mendekat memeriksa. Setelah mengetahui isinya dia pun terjatuh dan gemetar. Dengan cepat membawa kedua anaknya masuk kedalam lalu menelpon suaminya yang masih di kantor.


Berbeda dengan keluarga Gerald. Mereka sedang menyiapkan acara untuk ulang tahun anaknya yang kemarin tidak sempat di laksanakan.

__ADS_1


Semua asisten sibuk mendekor dengan mewahnya.


Nara yang sedang belajar tidak pokus dengan keberadaan seorang perempuan di pojokan. Dia pun izin pergi ke toilet dan kepergiannya di ikuti juga. Dengan kesal Nara bertanya apa yang perempuan itu mau?


“ Tolong aku,” ucapnya dengan lirih.


“ Gak.”


Perempuan tersebut malah memegang tangan Nara. Tingkahnya yang seperti orang gila membuat para mahasiswi disana berpikir aneh aneh. Gerald pun tak sengaja melihat Nara yang sedang di ganggu hantu perempuan. Dia berjalan menghampiri dan ingin mengusir hantu tersebut.


“ Ekhem,” ucap Gerald yang tak lain Farid.


Nara melirik pada laki laki yang menghampirinya. Dia menyipitkan matanya memperhatikan Farid. Baru saja Nara akan berkata tiba tiba ponselnya berdering. Drrrttt... Drrrtt!! Gadis itu melihat nama dalam ponselnya. Matanya langsung melotot setelah tahu sahabat luar negeri nya akan pindah ke Indonesia.


Lalu Nara kembali kekelas dan langsung mengambil tasnya pergi begitu saja walau masih ada dosen didalam. Panji sebagai kekasihnya merasa heran mengapa Nara terlihat buru buru pergi. Dia memberi kode pada Galang dan Revan untuk dirinya mengikuti Nara.


Tak butuh waktu lama Panji heran mengapa Nara pergi ke bandara. Dia terus melangkahkan kakinya mencari keberadaan kekasihnya.


Nara bertemu dengan sahabatnya yang bernama Nikma Ardelia. Mereka berpelukan dan itu di lihat oleh Panji. Style Nikma yang seperti lelaki membuat Panji geram dan mendorongnya ternyata setelah di lihat itu adalah seorang perempuan.


“ Sorry sorry gue kira lu cowok tadi,” ucap Panji.


“ Astaga Panji. Tenang aku gak bakal selingkuh kok,” ujar Nara dengan tersenyum.


“ I'm sorry my boyfriend, he misunderstood thinking that you were a man,” ucap Nara.


Nikma hanya mengangguk saja. Nara dan Panji pun mengajak Nikma pergi. Diperjalanan Panji menjadi supir dan kedua perempuan tersebut sedang asik mengobrol dengan bahasa Inggris. “ Oh tuhan bisakah suruh dua gadis ini berbicara indo? Saya pusing dengernya. Hiksss,” gumam Panji.


......................


Papa Farid yang di telpon sang istri langsung pulang dan sesampainya dirumah dia melihat isi kantong plastik tersebut. Ternyata isi nya itu kepala dari salah satu satpam rumahnya. Karena sudah kelewatan dengan apa yang terjadi dia melaporkan semuanya pada pihak kepolisian.


Di kantor polisi dirinya sang istri menjelaskan jika setiap hari selalu mendapatkan teror yang sangat menyeramkan. Polisi bertanya apakah keluarga mereka mempunyai musuh atau apa? Dan papa Farid menjawab jika dirinya tidak mempunyai yang namanya musuh.


Setelah laporan pasangan suami istri itu pamit dan polisi akan mengusut kasusnya. Dirumah, mereka berniat akan pindah rumah karena sudah tidak tahan dengan semua teror. Sambil menunggu kepulangan Lea dari kampus, kedua orang tuanya sudah bersiap-siap dan merapikan pakaian.

__ADS_1


Sore hari tiba. Anak gadis yang ditunggu akhirnya pulang. Lea heran mengapa orang tuanya itu memegang koper. “ Kita mau kemana?”


“ Pindah rumah sayang, gak jauh kok tetap di kota ini.”


“ Kenapa kok kita pindah sih?” tanyanya lagi.


“ Gpp. Oh iya baju baju kamu sudah mama masukin tinggal bawa aja. Ayok,” ucap mamanya.


Lea menghela napasnya dengan kasar. Karena dari pagi sampai sore kekasih hantunya itu belum juga menampakkan diri. Dia takut jika nanti Farid datang dan rumah sudah sepi tidak ada siapapun.


Mereka sampai dirumah barunya. Lea berasa tak asing dengan jalan yang tadi dia lalui. Setelah di teliti lagi ternyata rumah barunya berdekatan dengan rumah Gerald dan Andra. Mama Gerald yang tahu ada tetangga baru langsung menyapanya dengan ramah. Tak hanya itu, dia juga mengundang keluarga Lea untuk ikut pesta malam ini acara ulang tahun anaknya.


“ Wah terima kasih Bu. Insyaallah saya dan keluarga datang ke acara ibu,” ujar mama Farid dengan ramah.


“ Baik saya tunggu ya kehadirannya. Kalo begitu permisi dulu saya.”


Setelah perbincangan sedikit itu mereka sekeluarga melanjutkan beres beresnya. Lea menelpon Berry dan memberitahunya jika dia baru saja pindah rumah. Sahabatnya yang mendengar itu kaget dan memberikan banyak pertanyaan yang membuat Lea pusing.


Sikap Berry yang seperti itu karena dia tak ingin nanti Lea akan mengalami nasib buruk nya seperti dia dulu saat berada di asrama ayah Clara yang ternyata sekte sesat.


Saat akan menutup telpon, Berry meminta alamat rumah baru Lea dahulu dan telpon pun dia matikan.


Kini malam pun tiba. Lea sudah bersiap dengan gaun putihnya yang akan datang ke acara ulang tahun sang tetangga. Reno dan Rere terpana melihat Lea yang begitu cantik dan anggun.


“ Kak Lea cantik banget,” ucap Rere.


“ Kakak aku,” sahut Reno.


“ Kakak aku juga. Emm, menurut kamu aku cantik juga ngga Ren?” ujar Rere yang menggoyang goyangkan badannya.


“Is gak di jawab. Ya udah deh,” Rere berdengus kesal karena Reno tak menjawab pertanyaan nya.


Mamanya memanggil anak anaknya untuk segera keluar. Dan mereka pun berjalan menuju rumah Gerald yang sudah ramai dengan orang orang.


Kedatangan mereka disambut baik oleh keluarga Gerald.

__ADS_1


__ADS_2