
Nara ingin menarik tangan kedua orang tuanya. Dia masih ingin bercerita lagi kepada mereka. Namun, Panji membangunkannya dan bertanya apa yang terjadi? Sebab Nara terlihat sedih dan ada air mata yang mengalir di pipi lembutnya itu.
“Ahh hanya mimpi! Aku gpp tadi ada mama dan papa datang,” jelasnya yang kecewa karena pertemuan dia dan orang tuanya hanyalah mimpi.
...HAPPY READING ALL...
Panji mengelus istrinya. “Jam berapa sekarang?” tanya Nara yang linglung.
“Baru juga jam 21:00 malam.”
“Yeahh aku ketiduran, Lea dan yang lain udah pulang?”
“Iya, ya udah lanjut lagi aja tidurnya.”Panji menyuruh istrinya itu untuk melanjutkan tidurnya. Nara memandang wajah lelaki didepannya, “ kenapa hah? Mau sekarang?” Pertanyaan dari Panji membuat Nara malu, perempuan itu pun langsung merebahkan dirinya lagi dan membelakangi sang suami.
Panji tersenyum melihat tingkah Nara yang begitu, dia tidak akan memaksa istrinya itu untuk melakukannya sekarang.
Keesokan harinya. Gerald yang asli sedang menunggu pengantin baru keluar dari rumahnya. Dia ingin bertemu dengan Nara dan memastikan apakah semalam dia dapat melihat keberadaannya.
Ditempat lain, Galang dan Berry sibuk mengurus papanya yang sakit. Padahal kemarin malam kondisi papanya itu terlihat baik dan masih bugar. Namun, pagi tadi tiba tiba saja keadaannya berubah.
Lea juga seperti biasa mengantarkan sang adik kesekolah. Papanya pergi ke kantor sedangkan mama berkumpul bersama ibu ibu kompleks di tukang sayur.
Perbincangan mereka terdengar asik sampai membuat Andra dan Elang tertarik mendengarkan. Ibu ibu itu menjelaskan jika akhir akhir ini sering datang teror kerumah mereka. Dari bungkusan hitam mencurigakan sampai ada kiriman paket juga.
Dua cowok yang terkenal nakal kini berubah menjadi detektif dadakan. Andra dan Elang ingin mencaritahu orang yang telah meneror warga komplek. Mereka juga berniat akan mengajak Gerald (Farid) untuk menyelidiki hal tersebut.
“Sayang kamu harus hati hati jika pulang malam ya,” ucap Mama kepada Lea yang baru saja mengantarkan Reno.
“Kenapa ma? Apa peneror itu mengikuti keluarga kita sampai kesini?” Mamanya terkejut karena Lea tahu masalah peneror keluarganya. Dia mengangguk atas pertanyaan sang anak. Lalu mengingatkan lagi agar Lea berhati hati.
“Apa papa punya musuh ma?”
“Mama gak tahu. Yang mama tahu papa kamu selalu baik sama karyawannya ataupun orang lain.”
“Mungkin papa menyakiti perasaan orang lain, yang membuat orang tersebut sakit hati dan ingin balas dendam. ”Perkataan tersebut terucap begitu saja dari mulut Lea. Dengan cepat dia menutup mulutnya dengan tangan, lalu izin pamit untuk kuliah.
Mamanya memandang kepergian Lea. Dia menyipitkan mata dan setelah itu pergi ke kamar mencari sesuatu.
__ADS_1
Drrrttt... Drrrttt... Drrrttt...... Suara dering handphone terdengar. Ternyata Lea lah yang menghubungi Berry, dia khawatir karena sahabatnya itu belum menelpon memberi kabar.
Perbincangan dari jarak jauh itu, Berry menjelaskan jika dirinya tak bisa pergi ke kampus dulu karena harus mengurus papanya yang sedang terbaring sakit. Mendengar orang tua sahabatnya sakit, Lea pun memutuskan untuk menghampirinya. Dia ingin menghibur Berry agar tidak sedih.
Saat akan meluncur ke tempat sahabatnya. Farid menghampiri Lea dan menawarkan tumpangan. Mengetahui siapa Gerald sebenarnya, gadis itu pun tak canggung lagi dan menerima tawaran itu.
“Papanya Berry sakit?” tanya Farid membuka obrolan agar tidak sepi.
“Iya. Padahal kemarin pas di acara kak Nara papanya Berry masih terlihat segar sehat.”
“Gak ada yang tahu rencana tuhan.”
Suasana kembali sunyi. Kini Lea yang membuka obrolan. Dia menanyakan keberadaan Gerald dan kapan Farid akan kembali ke wujud sebelumnya, menjadi si hantu tampan. Cowok itu menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu dimana Gerald. Terakhir kali melihat Gerald saat malam kemarin.
Bwaaa......
Dua hantu buluk membuat kaget sepasang kekasih itu. Farid menjitak si pocong pelan karena terkejut. “Dasar setan, ganggu orang berduaan aja,” ucapnya kesal.
“Kalian lagi ngomongin hantu baru itu kan? Siapa namanya? Gerald.”
“Dia lagi ada dirumah Nara. Gak tahu ngapain, mungkin mau minta makan,” sambungnya disertai gelak tawa.
“Eh kak. Kemarin aku lihat ada sosok yang mirip sama perempuan yang suka ke kak Galang.”
“Clara!!” ucap Farid dan Lea barengan.
“Kamu yakin Andi? Bang Poci, bener yang dibilang Andi?” tanya Lea yang tak percaya.
Hantu ikat itu pun mengangguk dan membenarkan ucapan Andi. Percakapan mereka pun selesai setelah mobil memasuki tempat parkir rumah sakit. Lea dan Farid langsung menanyakan tempat papa Berry dirawat. Sesampainya di ruangan terlihat Galang dan adiknya yang sedang menemani papanya.
“Ber,” panggil Lea.
“Lea.” Berry memeluk sahabatnya. Dia terlihat khawatir dengan keadaan papanya yang terbaring lemah. Bahkan dokter mengatakan jika papanya itu baik baik saja.
“Lang,” ucap Farid. “Rid, kayaknya bokap gue gak sakit.” Farid mengerutkan keningnya, dia tak mengerti dengan ucapan Galang.
“Maksudnya?”
Galang menjelaskan apa yang dokter katakan padanya tadi. Bahwa papanya tidak memiliki riwayat penyakit dan saat diperiksa juga keadaanya terlihat baik. “Jadi maksudnya bokap lu ada yang guna guna atau santet gitu?” tanya Farid yang langsung di angguki Galang.
__ADS_1
“Oh iya Lang. Gue dapat info kalo teman hantu gue si pocong dan Andi melihat Clara.” Galang tak percaya dengan ucapan Farid. Setahu dia Clara sudah mati.
“Apa sebenarnya tuh cewek belum mati ya? Dan sekarang mencoba untuk balas dendam ke kita.”
“Lu jangan ngada-ngada Rid. Ngga mungkin Clara masih hidup.”
“Bisa jadi, kita kan ngga melihat jasad dia waktu dikampus.”
“Tapi dia mati dibawa makhluk halus ke dimensi lain.”
“Nanti kita bicarakan lagi aja bareng si Nara dan yang lain. Btw lu gak ada niat buat bawa bokap lu ke kyai atau ustadz gitu Lang? Mungkin aja ini bukan sakit biasa sama seperti yang ku bilang tadi.”
“Woy burung Elaaannngggg,” teriak Andra pada sepupunya itu.
“Apa ego!”
“Lihat deh, ini..ini jari kelingking manusia Elang.”
Mata Elang langsung tertuju pada benda yang ditunjukkan Andra. Awalnya dia mengira jika itu hanya jari mainan saja. Namun, setelah diambil tercium bau yang tak sedap pada jari tersebut.
“Ambil Lang bungkus terus kita ke kantor polisi,” ujar Andra.
“Eh Ndra. Kalo kita ke kantor polisi pasti nanti bakal rame disini dan kita akan di interogasi lama. Gimana kalo kita kumpulkan bukti yang banyak dan selidikin sendiri dengan cara kita.”
“Lu mau jadi detektif dadakan Lang? ”
“Iya nih aura detektif conan tiba tiba aja ada di diri gue. Ayo Ndra kita cari petunjuk lain,” ajaknya.
Kembali pada Gerald, dia masih saja menunggu Nara keluar. Terlihat lah orang yang ditunggunya datang, Gerald sengaja berdiri didepan perempuan itu. “ Minggir,” ucap Nara yang membuat Gerald senang. Ternyata bukan hanya Lea dan Farid saja yang bisa melihat keberadaannya.
“Sayang ayo,” ajak Panji.
“Bentar,” jawabnya. Gerald menahan Nara pergi, dia ingin meminta tolong padanya.
Dia Gerald. Oh iya aku kan udah mencari dia kemana mana tapi gak ketemu. Eh sekarang anaknya nongol sendiri. Apa dia udah bertemu sama Farid? Nara bergumam.
”Farid.” Gerald dengan cepat menyebutkan nama si hantu tampan.
Nah kan. Kalo gitu nih cowok udah ketemu Farid.
__ADS_1
“Okay, nanti kita bicara lagi kalo Farid, Lea dan yang lain sudah berkumpul. Sekarang aku akan pergi dulu,” ucap Nara. Panji yang melihat istrinya berbicara sendiri pun tahu jika didekat mereka ada makhluk lain.