
Saat ayah Clara melewati tempat Revan bersembunyi, cowok itu pun langsung mengayunkan tongkatnya pada si ayah. BUGHHH!!
Pukulan yang sangat keras mengenai pundaknya. Akan tetapi, lelaki tua itu tidak tumbang. Dia membalikkan badannya lalu tersenyum jahat kepada Revan.
...HAPPY READING ALL...
“ Gila kok bisa dia gak kenapa kenapa,” pikir Revan yang ingin pergi berlari.
...----------------...
Reno mengigau terus terusan memanggil nama kakaknya. Orang tua Farid bingung karena Lea tak dapat mereka hubungi. Mereka bertiga mencoba untuk membuat Reno tenang. Sayangnya, anak kecil itu malah menangis dan terus berkata ingin bersama Lea.
“ Perasaan mama gak enak Pah,” ucap Mama Farid.
“ Jangan berpikiran aneh. Lebih baik kita berdoa agar tidak terjadi apa apa dengan Lea.”
Sebuah patung besar yang terlentang. Terdapat tubuh Lea sedang rebahan sambil tersenyum. Lelaki mirip ayahnya duduk disamping sambil membaca mantra. Sosok berbaju merah itu sudah berada didepan mata Lea dengan senyum mengerikan.
Bukannya takut, Lea malah membalas senyuman itu. Farid dan yang lain masih mencari keberadaan Lea. Setelah cukup lama akhirnya mereka menemukannya. Hantu tampan itu dengan cepat menyingkirkan sosok merah tersebut dari hadapan kekasihnya.
Karena sosok itu telah terkubur lama, dia pun sudah memiliki kekuatan yang sangat besar. Bahkan Farid pun tak sanggup untuk mengalahkannya. Disaat teman hantunya itu sedang berkelahi, Berry, Nara mengambil kesempatan itu untuk membawa Lea pergi. Sedangkan Galang dan Panji menahan lelaki misterius itu.
“ Lea.”
Berry terus menggoyang goyangkan tubuh Lea. Usahanya pun tak sia sia. Sahabatnya tersadar, Nara dan Berry pun terlihat senang. Setelah itu Nara berteriak pada Galang dan Panji untuk mengajaknya pergi meninggalkan tempat tersebut. Saat akan pergi, Lea melihat kekasihnya yang sedang berkelahi.
“ Fariiiiddd....,” teriak Lea.
Farid berbalik melihat kekasihnya. Dan sosok merah itu pun dengan mudahnya menyerang dan menghisap kekuatan yang di miliki Farid. Hantu tampan tersebut jatuh tersungkur, tubuh Lea tiba tiba memancarkan cahaya yang sangat menyilaukan.
Ternyata Lea sedang berusaha untuk mengendalikan kekuatan yang ada pada dalam tubuhnya. Terlihat mimik wajah ketakutan dari lelaki yang mirip ayahnya itu.
__ADS_1
Tanpa ba-bi-bu Lea langsung menyerang sosok itu. Dan dia berhasil menjatuhkan musuhnya. Saat sudah merasa menang, Lea menghampiri Farid yang masih tersungkur lemah. Kedua makhluk itu menitikkan air matanya dan berpelukan. Karena waktu yang sudah cukup lama mereka berada di alam berbeda. Nara segera mengajak semuanya pergi. Akan tetapi, niat nya itu terhalang dengan serangan hebat dari si sosok merah. Kejadian itu mengharuskan Farid mengorbankan dirinya untuk melindungi Lea dan juga teman temannya.
Mereka berteriak menyebut nama Farid. Disaat akhir, hantu tampan itu meminta agar semuanya segera pergi. Panji yang tidak ingin mati konyol langsung menarik tangan Nara berlari. Sedangkan Galang masih terdiam menyaksikan, Berry menyenggol lengan kakak nya untuk mengajak Lea pergi dari tempat itu.
Setelah berlari, mereka sampai ditempat semula. Di luar sana pak satpam dan yang lain telah berhasil mengalahkan peliharaan ayah Clara. Saat melihat Lea, dia merasakan ada yang kurang diantara mereka. Ya! Pak satpam mencari keberadaan Farid si hantu yang memiliki wajah menawan.
Nara, Panji, Galang dan Berry mulai berpegangan tangan. Kecuali Lea, dia terus melihat kebelakang. Gadis itu tak dapat menahan rasa sakitnya melihat kekasihnya yang pergi. Dengan perasaan yang sama, Nara menggenggam tangan juniornya itu.
“ Kita harus keluar Lea,” ucap Nara dengan pelan.
“ Farid kak dia masih disana.”
“ Aku tahu tapi jika kita gak segera keluar maka kita akan terus ada disini. Dan raga kita yang diluar sana akan dianggap tiada karena jiwa aku dan yang lain terkurung disini. Apa kamu tidak kasian dengan adik kamu, Reno? Dia pasti akan merasa sedih jika tahu kakaknya tiada.”
Lea terdiam dan mereka pun kembali ke alam manusia.
“ Dimana Revan?" tanya Galang.
Panjang umur sekali, baru saja ditanya keberadaan nya. Revan pun datang dengan tangan yang berlumuran darah. Bukan hanya itu, Ayah Clara juga ternyata berada dibelakangnya. Revan berteriak agar mereka semua cepat cepat lari.
“ Kita harus lari Pan," ucap Galang.
“ Gue capek Lang daritadi lari larian terus,” sahutnya.
“ Lu mau mati?" tegasnya.
“ Tapi kak bagaimana dengan kak Revan? Kita harus bantu dia juga dan mengajak nya pergi, tunggu kak Revan sampai disini," sambung Berry.
“ Iya Lang. Kita teman gak seharusnya meninggalkan Revan sendirian dan menyuruhnya melawan ayah Clara seorang diri. Cukup Farid yang telah mengorbankan dirinya untuk keselamatan kita didalam sana,” ucap Nara dengan nada pelan dan melihat kearah Lea yang terus menatap tempat terakhir Farid.
“ Apa yang dibilang kak Nara bener kak, kalo kakak mau pergi ya sana duluan saja aku dan kak Nara akan membantu kak Revan.”
Revan yang masih berlari terus mengoceh mengapa teman temannya masih saja berada disana tidak melarikan diri. Dia pun kembali berteriak menyuruh Galang CS pergi.
__ADS_1
Bukannya pergi, teman temannya malah maju.
“ Kalian harus hati hati saat melawan lelaki itu,” peringat pak satpam.
“ Baik pak, karena dia bukan makhluk maka biarkan kami yang akan mengalahkannya.”
“ Tetap saja walau lelaki itu sama seperti kalian. Akan tetapi dia masih memiliki makhluk pelindung.”
Perbincangan terhenti. Ayah Clara tertawa dengan sangat keras. 'HA..HA.. HA..'
“ Tak perlu capek capek saya mengejar kalian semua. Kalian sendiri lah yang ingin menyetorkan nyawa kepadaku.”
“ Kita gak takut!!”
“ Bapak dan anak sama sama titisan iblis,” ucap Galang yang sudah muak dengan semuanya. Dia sangat ingin mengakhiri kejadian hari ini.
“ Menyerah saja pak tua. Boss mu disana sudah mati!” sambung Panji.
“ Akan tetapi apa kalian berhasil mengalahkan sosok itu,” jawabnya sembari menunjuk kearah dalam. Mereka berbalik dan terlihat jika sosok itu sedang berdiri memperhatikan nya dengan senyuman mengerikan.
“ Dia tidak akan bisa keluar dari dalam sana!" ucap Nara.
Pak satpam memotong ucapannya dan berkata jika sosok itu bisa saja keluar. Seketika Nara pun terdiam.
Tidak ingin terus berlama lama berada ditempat itu, Galang memulai perkelahian nya melawan ayah Clara. Melihat kakaknya yang tidak memegang senjata apapun membuat Berry khawatir akan keselamatan nya begutupun dengan yang lain.
“ Laanggg tangkap!!” Revan melemparkan tongkat bisbol nya kepada Galang. Dengan sigap dia menangkap tongkat tersebut. Rasa kesal campur emosi yang begitu besar. Tak segan segan Galang memukul atau Clara. Bukannya merasa sakit, dia malah terus tersenyum menatap Galang.
Ternyata apa yang dikatakan pak satpam benar, jika ayah Clara mempunyai satu makhluk yang melindunginya. Jam telah menunjukkan pukul 04:00 pagi. Pada akhirnya lelaki itu tersungkur jatuh. Dirasa sudah selesai, mereka memutuskan untuk segera meninggalkan kampus.
“ Masuk mobil Nara cepat Ber,” titah Galang.
Mereka pergi dengan kendaraannya masing-masing. Namun, bukannya pulang mereka malah pergi ketempat biasa berkumpul. Sesampainya disana, semuanya langsung tersungkur lemah dan pingsan.
__ADS_1
Pagi hari tiba, dimana kampus mereka digegerkan lagi dengan adanya darah yang bercucuran dilantai. Para dosen memeriksa cctv, dan mereka melihat Galang bersama teman temannya pada malam hari.
Dengan cepat para dosen menelpon semua orang tua anak anak yang terekam untuk meminta penjelasan apa yang sebenarnya telah terjadi.