HANTU TAMPAN

HANTU TAMPAN
HT 54


__ADS_3

CLARA


“Hah? Clara!” ujar Nara yang mendengar ucapan Farid. Sontak saja Revan dan Panji terkejut karena setahu mereka gadis jahat itu telah mati. Pemikiran mereka sama seperti Galang yang tak percaya jika Clara kembali.


...HAPPY READING ALL...



“Mau itu Clara atau bukan kita semua harus hati hati.”


“Oh iya, disini ada detektif juga. Dia datang untuk menyelidiki kasus pembunuhan disekitar sini,” potong Lea.


“Dimana?” tanya Nara.


“Di ruangan kak Gerald. Aku meminta dia untuk menjaganya sebentar.”


“Bagaimana keadaan Gerald? Apa dia benar benar mati atau masih bisa diselamatkan?”


“Aku belum tahu, tapi kalo kak Nara penasaran lebih baik kita hampiri pak detektif untuk menanyakannya.”


Semua pamit keruangan Gerald pada Galang dan Berry. Sesampainya didepan, Lea langsung bertanya keadaannya. Dan si detektif yang baru saja diberitahu dokter menjelaskan jika Gerald masih hidup namun cowok itu belum bisa sadar beberapa minggu.


Lea menghela napas. Dia bersyukur jika Gerald masih bisa selamat. Jika cowok tersebut tiada, Lea tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan semua pada keluarganya. Selagi Gerald dirumah sakit untuk dirawat, Lea harus menyiapkan berbagai alasan jika suatu saat Andra atau yang lain bertanya dimana keberadaan kakaknya itu.


Hari dimana Nara dan Panji pergi honeymoon pun tiba. Mereka berpamitan pada teman temannya.


“Woy Pan, hati hati.”


“Gass kan Pan,” ujar Revan di iringi tawaan teman yang lain.


“Kak Nara hati hati ya di perjalanannya. Dan jangan lupa untuk bawa oleh oleh kalo pulang,” sambung Berry.


Setelah berpamitan mereka benar benar pergi. Ternyata Nara dan Panji pergi ke London tempat dulu istrinya itu tinggal. Didalam pesawat Nara termenung dia tak menyangka jika akan secepat ini menjadi istri Panji. Dan dia juga merasa beruntung bisa mengenal suaminya dan keluarganya.


“Bagus juga rumah kamu disini Yang,” ujar Panji melihat lihat.

__ADS_1


“Banyak kenangan aku sama orang tuaku.”


Panji memeluk istrinya dan menghiburnya agar tidak sedih lagi. Kedatangan mereka kesana untuk berlibur dan menghilangkan semua beban.


Malam hari tiba. Panji terpana melihat Nara yang memakai pakaian berbeda dari biasanya. Dia mendekat pada istrinya.


“Pan, kamu mau apa?” tanya Nara yang terlihat gugup saat suaminya mendekat.


“Cantik banget pakai baju ini terlihat seksi,” goda Panji yang semakin mendekat. Bahkan wajah mereka berdua hanya tinggal beberapa senti saja.


Nara terlihat gugup dengan keadaan yang sekarang, melihat Panji yang terus saja mendekat padanya. Dia tidak keberatan jika Panji melakukannya sekarang, tapi perempuan itu masih merasa kaku dan terlihat belum siap.


“Udah sah ini gak usah takut,” ucap Panji.


“Ehh...,”


“Mau sekarang?” tanya nya sambil menggoda sang istri. Seketika wajah Nara terlihat malu malu. Pengantin baru itu lalu melakukan first kiss mereka.


Suasana malam menjadi gerah untuk pasangan itu. Mereka berdua mulai berhubungan badan sampai pagi tiba. Keesokan harinya, Mereka terlihat lelah. Nara juga terkejut karena di kasurnya terdapat noda darah yang segera saja dia bersihkan. Setelah membereskan kasurnya dia lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sedikit canggung didalam bathtub itu. Apalagi teringat dengan kejadian kemarin malam. Nara malu malu dan Panji yang melihat tingkah istrinya malah semakin gemas.


......................


Elang dan Andra masih saja mencari orang yang mencurigakan menurutnya. Di pencariannya itu mereka berdua tak sengaja bertabrakan dengan seorang perempuan yang memakai masker dan topi.


“Woy kalo jalan lihat lihat dong,” teriak Elang dengan emosi.


Perempuan tersebut hanya melihat kebelakang lalu melanjutkan langkahnya. Andra yang melihat tingkah aneh perempuan tersebut membuatnya ingin mengikutinya. Namun, Elang yang kesal tidak mau ikut ajakan dari Andra. Terpaksa dia pun tidak jadi pergi dan terus berjalan bersama Elang.


Disisi lain Berry dan Galang masih berada dirumah sakit.


Reno yang baru melihat Farid lagi pun merasa senang karena sudah lama mereka tidak bermain bersama. Rere yang sudah terbiasa melihat tingkah Reno yang aneh pun hanya bisa diam, dan anak kecil itu memutuskan untuk berpisah kamar.


Mendengar perkataan Rere membuat mamanya bertanya. Namun anak itu menjawab jika dirinya sudah besar dan ingin berpisah dari Reno. Rere juga menambahkan jika Reno sering kali menindih dirinya yang membuat tidur Rere tidak nyenyak.

__ADS_1


Padahal sebenarnya Reno tidak pernah begitu. Rere enggan untuk menceritakan pada orang tua dan kakaknya jika Reno suka bersikap aneh seperti bicara sendiri selayaknya sedang mengobrol dengan seseorang.


“Baiklah sayang, mulai malam ini kamu dan Reno pisah kamar. Kebetulan kan masih ada kamar satu lagi yang kosong,” ucapnya mamanya mengelus kepala Rere.


Datanglah Reno. “Kamu akan pisah kamar Rere?”


“Iya, kita kan sudah besar. Dan kamu tidurnya tidak bisa diam tahu. Aku jadi gak bisa tidur dengan nyenyak,” sahutnya yang membuat Reno mengembungkan pipinya.


Farid salut pada Rere yang tidak ingin Reno di cap sebagai anak yang aneh. Dia menyembunyikan kebenaran nya. Andai saja jika Rere tahu bahwa Reno berbicara sendiri itu sedang mengobrol dengan kakak laki lakinya. Mungkin Rere juga ingin ikut mengobrol dengan mereka.


“Papa kenapa?” tanya mama Lea pada suaminya yang terlihat murung.


“Kemarin papa pesan katering dan isi didalamnya ada jari manusia mah,” jelasnya yang membuat sang istri terkejut.


“Siapa ya Pah yang udah meneror keluarga kita? Coba papa pikir pikir lagi apakah papa mempunyai musuh atau tidak,” ucap sang istri. Dan suaminya menggelengkan kepala.


Kembali pada Nara dan Panji. Pasangan suami istri itu sudah menjalankan ritual mandi bersamanya. Mereka sudah siap untuk pergi jalan jalan, tak henti hentinya Panji mencium Nara yang membuat sang istri geli dan sedikit malu.


“Sayang kamu mau punya anak berapa?” tanya Panji tiba tiba.


“Eh ahh anu,” Jawab Nara gugup.


“Kalo aku sih mau punya anak 11 nanti kita bikin grup sepak bola,” ujar Panji.


“Astaghfirullah kamu gila. Dua aja cukup, sebelas anak emangnya aku sekuat apa hah!! Kamu sih enak tinggal hm aja dan aku yang merasakan sakitnya,” omel Nara.


“Hahaha aku bercanda aja kok, jangan ngambek lagi ya,” bujuk Panji. Pasangan itu pun melanjutkan perjalanan nya.


Galang semakin khawatir dengan keadaan papanya yang tak kunjung sembuh. Dia meminta Berry untuk menjaga sebentar karena dirinya akan pergi mencari orang yang bisa menyembuhkan penyakit papanya. Walau dokter selalu mengatakan baik baik saja.


Dikediaman Andra. Kedua orang tuanya merasa cemas karena anak pertama mereka yang tak kunjung pulang selama empat hari. Handphone nya pun tidak aktif, saat melihat Lea di luar akan berangkat. Mamanya Gerald menyapa lalu menanyakan keberadaan anaknya. Yang dia tahu terakhir pergi Gerald bersama dengan Lea.


Maaf ya kak gak up beberapa hari, karena author sudah nulis tapi selalu di tolak. Dan kemarin author merevisi kembali namun hasilnya sama. Semoga kali ini bisa lulus ya agar kalian dapat membaca kembali ceritanya.


Sekian terima kasih buat yang udah nunggu, sehat sehat semua☺️

__ADS_1


__ADS_2