HANTU TAMPAN

HANTU TAMPAN
HT 20


__ADS_3

Nara tersenyum dia berkata begitu karena disuruh Farid, sebab Farid ingin menghabiskan waktunya berdua dengan Lea. Setelah itu Nara kembali pada kekasihnya.


...HAPPY READING ALL...



Sepulang dari kampus. Lea dan Farid terlihat sangat bahagia karena telah menghabiskan banyak waktu berduaan. Teman teman hantunya yang mengetahui mereka sudah jadian pun mulai meledek. Salah satu kuntilanak memperkenalkan seorang anak kecil pada semuanya.


Anak itu tiba tiba saja memegang tangan Lea sambil menatap tajam. Lea sangat terkejut dan Farid bertanya siapa anak tersebut. Kuntilanak yang membawanya menjawab jika dirinya menemukan anak itu didekat kampus. Lea mengerutkan keningnya dan bertanya, “ kenapa aku gak lihat dia waktu disana?”


Kuntilanak hanya menggelengkan kepalanya. Pegangan anak itu semakin erat dan membuat Lea kesakitan. Melihat kekasihnya begitu, Farid langsung melepaskan genggaman anak itu dari Lea. Dan bertanya siapa nama anak tersebut.


“ Aku Andi," ucap si anak.


“ Ohh!! Kenapa kamu ikut kuntilanak?”


“ Aku takut berada disana,” jawabnya sembari melihat kiri-kanan.


Entah tahu darimana anak itu, tiba tiba saja berkata jika dirinya sangat ketakutan saat melihat lelaki yang mirip seperti ayah Lea. Mendengar itu Lea langsung kepikiran dengan apa yang dia lihat waktu malam itu. Dirinya pun bercerita kepada teman teman hantunya jika dia melihat lelaki yang mirip seperti ayahnya. Saat mereka mengikuti jejak darah di koridor kampus.


“ Ayah kamu punya kembaran?" tanya Farid dengan mengangkat sebelah alisnya.


“ Aku gak tahu, tapi kata ibu ayah memang punya kembaran tetapi udah meninggal dunia.”


“ Sudahlah nanti kita cari tahu lebih baik sekarang kamu kembali kerumah sakit," ucap Farid.

__ADS_1


.........


Berry sedang bernyanyi didalam kamarnya. Suara ketukan dari luar jendela membuat dirinya berhenti bernyanyi. Saat dia lihat, Berry tidak menemukan seorang pun diluar. Ketika dia akan lanjut lagi, suara ketukan pun muncul kembali. Satu, dua ketukan Berry masih berpikiran positif. Namun, ketukan itu terus terusan berbunyi dan membuat gadis berambut pendek itu merasa kesal.


Dia pergi keluar mencari sang kakak, dan setelah bertemu dirinya langsung memarahi Galang. Mendapatkan ocehan dari sang adik, Galang merasa bingung karena dirinya tidak melakukan apapun.


“ Apasih Ber?”


“ Gak usah pura pura kak, tadi yang ketuk ketuk jendela aku itu kak Galang kan?”


“ Gak ada kerjaan banget gue ngetuk jendela kamu, daritadi gue ada dikamar dan gak keluar sama sekali."


Berry terdiam, dan mengajak sang kakak untuk kekamarnya. Setelah berada di kamar, ternyata ketukan itu tidak lagi muncul. Hal itu membuat Berry kesal dan pasti omongan yang dia ucapkan ke kakaknya akan dibilang bohong.


Seperti yang dialami Berry, Galang memanggil adiknya dan menuduhnya. Berry pun mengelak jika dirinya daritadi ada dikamar tidak keluar sama sekali. Keduanya langsung teringat dengan apa yang Berry bilang.


“ Kak Galang.”


Berry menatap tajam sang kakak dan langsung beranggapan jika ketukan itu disebabkan oleh makhluk halus. Namun, sang kakak menepis anggapan tersebut.


Revan dan Panji yang sedang bermain game tiba tiba saja listriknya mati. Hal itu membuat kedua cowok tersebut merasa kesal. Revan menyuruh Panji untuk memeriksa, temannya itu pun pergi. Sudah cukup lama Panji pergi memeriksa tetapi, dia tak kunjung kembali kepada Revan.


“ Kemana sih tuh anak?" omel Revan yang kesal menunggu lama temannya.


Revan pun memutuskan untuk menyusul Panji. Tapi dirinya tak menemukan temannya itu, disaat sedang mencari Panji listrik kembali menyala dan disitulah dia melihat temannya yang sedang berdiri membelakangi.

__ADS_1


Revan berjalan untuk menghampiri Panji, setelah sampai dia menepuk pundak temannya dan listrik kembali padam. “ Sial!! Nih listrik kenapa sih?” Revan berdengus kesal tetapi dirinya sudah tidak khawatir lagi sebab Panji telah berada didepan nya.


“ Panji lu kemana aja njirr? Lama banget," tanya Revan kepada Panji yang masih saja membelakangi.


Suara yang sangat Revan kenal datang dari arah belakang, suara itu ternyata berasal dari Panji yang memanggil namanya. Revan berdiam sejenak dan berpikir.


“ Suara Panji? Tapi kok dari belakang bukannya tuh anak didepan gue?”


“ Woy Van kesini ege gue udah beli lilin nih,” panggil Panji


Revan menjawab ucapan Panji, “ Panji lu sebenarnya ada dimana? Kok suara lu kek dibelakang gue?”


“Ya gue emang dibelakang lu ege kan dah bilang kalo gue abis keluar beli lilin.”


Perbincangan mereka terhenti karena listrik kembali menyala. Betapa terkejutnya Revan melihat Panji yang memang benar berada dibelakang dia. Dirinya membalikkan badan dan melihat kedepan, tetapi Panji yang pertama telah hilang.


Dengan cepat Revan mengajak Panji untuk pergi, dia sekali lagi bertanya kepada sahabatnya itu. Dan jawaban Panji tetap sama jika dirinya setelah memeriksa langsung pergi membeli lilin tanpa pamit dahulu. Revan masih tidak percaya dan dia pun menceritakan hal sebenarnya apa yang dia lihat barusan.


Sedangkan dirumah Nara, dirinya pun sama mendapatkan teror. Saat sedang membaca buku, sebuah batu dilapisi kertas hampir saja mengenai kepala Nara. Dan jendela kamarnya pecah akibat batu yang terlempar itu. Nara melihat isi kertas tersebut, dan didalam nya tertulis:


Jika tidak ingin terkena teror lagi, maka kamu dan teman teman kamu harus datang ke kampus malam hari!! Ajak juga kedua junior mu dan lelaki hantu itu, aku tunggu kedatangan kalian malam ini!!


“ Hah? Apa maksud kertas ini?”


Berbeda dengan Lea, dia tidak mendapatkan teror sama sekali. Nara membuat sebuah grup chat untuk memberitahukan teror tersebut sekaligus ingin bertanya apakah mereka semua sama dengan dirinya atau cuman dia yang mendapatkannya.

__ADS_1


__ADS_2