Hartamu Menghancurkan Keluargaku

Hartamu Menghancurkan Keluargaku
Bab. 10


__ADS_3

Arini begitu bahagia. Keinginannya untuk makan di restoran Amuz Gourmet akhirnya menjadi kenyataan. Ia begitu takjub, dengan mudahnya Sora mendapat tempat. Padahal, untuk bisa makan di restoran Perancis tersebut, setidaknya harus melakukan reservasi 1 minggu sebelum makan. Tapi Sora bisa mendapatkan tempat hanya dalam hitungan jam. Namun Arini masih saja berpura-pura merajuk.


"Maaf sudah membuatmu sedih." Sora menyodorkan sebuah paper bag dengan logo Louis Vuitton.


Arini menerima paper bag itu dengan wajah datar meski dalam hati ia sedang bersorak. Arini membuka paper bag dan mengeluarkan sebuah chain bag model terbaru yang diincar olehnya. Arini tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya lagi. Mata Arini berbinar-binar, senyumnya merekah sempurna.


"Terima kasih, sayang. Kamu selalu tahu apa yang aku mau." Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Arini tanpa bisa ia tahan.


Sora mengulas senyum tipis dan mengangguk. "Yang penting kamu tidak marah lagi sama aku."


Arini menggeleng pelan. "Iya, aku ngerti. Tapi jangan diulang lagi." Sahutnya sambil mengerucutkan bibir.


Sora hanya mengangguk. Ia merasakan ada yang ganjil dengan hatinya sendiri. Biasanya ia akan lega dan bahagia jika Arini tak lagi marah. Namun kali ini, ia merasa biasa saja.


"Kita mulai memesan makanan ya."


"Iya sayang."


Sora menyodorkan buku menu. "Kamu yang pilih."


Arini mulai memilih menu dengan wajah gembira. Tentunya bukan menu standart yang ia pesan. Tapi menu yang paling "wah" yang bisa membuat orang berdecak kagum saat melihat postingannya. Ya, Arini selalu haus akan pujian dan pengakuan dari orang lain.


Setelah memesan, Arini sibuk dengan ponsel miliknya. Ia begitu antusias mengunggah semua foto makanan dan swa foto dirinya ke akun Instagram miliknya. Dan tiba-tiba sebuah ide muncul.


Arini mengirimkan foto hadiah tas yang baru saja ia terima kepada Biru. Dilengkapi dengan pesan: "Hadiah dari suamimu. Ia begitu mencintaiku." Tidak hanya itu, Arini pun merekam suasana restoran dan mengirimnya pada Biru, dilengkapi dengan pesan: "Makan malam mewah, hanya untukku."


Sora yang mengamati setiap gerak gerik Arini hanya bisa mendesah pasrah. Ia menyesap wine di gelasnya hingga habis tak tersisa, kemudian menuangkannya kembali.


Setelah hidangan pembuka datang, fokus Arini telah kembali kepada Sora. Ia menceritakan begitu banyak hal. Sora hanya mengulas senyum tipis mendengar ocehan Arini yang sebenarnya tidak ia mengerti. 


Hidangan terakhir sudah habis. Arini kembali sibuk dengan ponselnya. Ia memeriksa pesan yang ia kirim kepada Biru.


Sialan! Dia hanya membaca pesanku tanpa membalasnya.


Ia meletakkan ponselnya di tengah meja dengan wajah kesal.


"Arini."


"Iya sayang."


Sira menunjuk sudut bibirnya sendiri. "Ada sesuatu disitu."


Arini segera menyentuh bibirnya. "Oh, benarkah? Kalau begitu, aku ke toilet dulu." Ucapnya dan langsung menyambar tas tangan miliknya kemudian bergegas pergi.


Sora menghela nafas berat sambil menatap kepergian Arini. Tiba-tiba ponsel Arini berbunyi, sebuah pesan masuk.


Sora segera meraih ponsel kekasihnya itu. Detik berikutnya kedua alis Sora bertaut. Sebuah pesan dari kontak yang diberi nama "Uncle".


Sayang, aku rindu. Aku menginginkanmu malam ini.


Rahang Sora mengeras. Tidak mungkin Hasan mengirim pesan yang tidak senonoh seperti ini. Gumam Sora.


Ia segera mengembalikan ponsel Arini ke tempat semula. Dan berusaha untuk menenangkan diri. Sora menyesap wine dengan perlahan dan menyusun rencana untuk menyelidiki kontak bernama "Uncle" itu. Ia pun segera menelepon ke rumah dan meminta Paman Ben untuk menyuruh salah satu supir datang.


Tak lama kemudian Arini datang. Sora berpura-pura sedang bermain game.


"Sepertinya tadi ponselmu berbunyi."


"Apakah ada telepon?" Arini terlihat cemas dan menyambar ponselnya.


Sora mengedikkan kedua bahunya. "Nadanya hanya sebentar."


Arini melihat pesan di bilah statusnya, diam-diam ia menahan nafas. Kemudian dengan gugup ia menatap Sora.


Untung dia sedang main game. Arini merasa lega.


"Ada telepon?" Tanya Sora kemudian menyimpan ponsel miliknya 


Arini menggeleng. "Bukan, hanya pesan dari teman sesama model di Paris." Arini berbohong.


"Jadi, apa rencana selanjutnya?" Tanya Sora sambil menatap Arini dalam-dalam.


Hal itu membuat Arini gugup, karena tatapan Sora membuatnya seperti sudah ketahuan menyembunyikan sesuatu.


"Ki … kita pulang saja ya sayang. Aku sudah lelah. Ingin tidur."


"Baiklah, ayo."


***


Satu jam kemudian, mobil yang dikemudikan Sora berhenti di depan sebuah rumah mewah di dalam kompleks perumahan. Sora bertindak seperti biasa, membukakan pintu untuk Arini.


"Terima kasih untuk makan malamnya. Maaf, malam ini tidak bisa mengundamu masuk." Ujar Arini berbasa-basi.


Sora mengulurkan tangan mengusap lengan Arini. "Aku mengerti. Tidur yang nyenyak ya."


Arini mengangguk dan segera masuk ke dalam rumah. Sora pun bergegas menuju mobil dan meninggalkan rumah Arini. Namun ia tidak pergi jauh. Di sebuah tikungan yang berada di blok lain, Sora berhenti. Tak jauh di belakangnya sebuah mobil sedan  Honda Accord berwarna putih ikut berhenti.


Sora segera keluar menghampiri pengemudi mobil sedan yang juga keluar dari mobil.


"Selamat malam, Tuan." Sapa Snag Supir sambil membungkuk.


"Ya, terima kasih sudah datang."


"Sudah tugas saya, Tuan. Ini Tuan, kuncinya."


Sora mengangguk. "Kunci ada di mobil. Hati-hati ya."


"Tuan juga, harap berhati-hati berkendara. Sudah malam."


"Iya pak. Saya pergi dulu."

__ADS_1


Sora mengemudikan mobil kembali ke blok rumah Arini. Ia berhenti tidak jauh dari rumah itu.


Tidak lama kemudian, gerbang terbuka dan mobil milik Arini keluar. Sora menunggu sebentar sebelum akhirnya membuntuti.


Kurang lebih dua jam berkendara, mobil Arini memasuki halaman Graha BIP. Dengan menjaga jarak, Sora pun mengikuti sampai ke tempat parkir.


Dari tempatnya, Sora bisa melihat dengan jelas mobil Jaguar berwarna biru tua yang dikemudikan Arini. Beberapa saat kemudian, tampak Arini keluar dari mobil.


Sora terkesiap, Arini memakai baju yang sangat minim. Mini dress off shoulder berwarna merah yang Arini pakai seakan tidak mampu menutupi area-**** ***** wanita itu.


Tangan Sora mencengkram stir dengan sangat kuat. Berkali-kali ia menarik dan menghembuskan nafas untuk menenangkan diri.


Sora segera mengambil ponsel dan menelepon Arini. Tepat saat Arini melewati mobil Sora dengan berjalan kaki, ponsel Arini berdering. Perempuan itu terlihat terkejut, ia segera mengangkat telepon sambil menutupi mulutnya.


"Halo sayang."


Terdengar suara Arini seperti orang kelelahan. Sora menatap ke arah Arini dengan tajam. Perempuan itu berdiri tidak jauh di depan mobil Sora.


"Sudah selesai membersihkan make up." Tanya Sora dengan suara dibuat selembut mungkin.


"Iya sayang. Ini aku sudah di atas tempat tidur. Hoaammm. Duh, maaf sayang."


Sora ingin tertawa mendengar Arini yang berpura-pura menguap. Rasanya ia ingin melempar sepatu yang ia pakai saat ini ke kepala wanita yang ada di depannya itu.


"Baiklah sayang, selamat tidur."


"Bye sayang."


Sora meletakkan ponsel dengan mata tak lepas dari Arini. Perempuan itu terlihat bernafas lega dan melanjutkan langkahnya. Dengan pakaian seperti itu, Sora yakin, Arini pasti pergi ke sebuah klub malam terkenal yang berada di lantai 1 gedung tersebut.


Sora menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan Graha BIP. Ia tidak ingin mencari tahu siapa yang ditemui Arini. Sudah cukup apa yang ia lihat malam ini. 


Sora tiba di rumah saat sudah larut malam. Ia membuka pintu kamarnya dengan hati-hati. Sora berjalan ke tengah ruangan dan terpaku pada sosok Biru yang tidur di lantai beralaskan futon.


Sora menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak pernah menyangka kehidupannya akan seperti ini. Ada Istri gadungan dan juga kekasih yang berselingkuh di sekitarnya.


***


Pagi hari, Sora bangun dengan suhu tubuh yang panas tinggi. Ia duduk sejenak dan menguatkan diri sebelum pergi ke walk in closet. Kemudian Sora turun ke lantai 1. Sora meminta Paman Ben mengantarnya. Seperti biasa, saat sedang sakit Sora akan menuju paviliun untuk tinggal bersama Keyko.


Kedatangan Sora pagi itu membuat Bibi Lun terkejut. Namun ketika ia melihat wajah Sora, Bibi Lun langsung mengerti. Tuan Muda itu dalam kondisi tidak sehat.


"Sora." Nenek Keyko terkejut melihat kedatangan cucunya.


"Ohayou." Suara Sora terdengar lemah. Oleh sebab itu Keyko segera menghampiri dan membawa Sora ke kamar yang biasa Sora gunakan.


"Apakah banyak yang harus kamu kerjakan sampai tidak mengurus diri?" Tanya Nenek Keyko.


Sora hanya mengangguk pelan. Semenjak ada Biru, Sora memang sengaja menyibukkan diri. Agar ia dan Biru tidak terlalu lama berada dalam satu ruangan. Kadang Sora bekerja di ruang kerjanya hingga dini hari. Selain itu, ada beberapa pekerjaan yang memang harus dikerjakan dengan serius dan tidak bisa diwakilkan.


Ditambah lagi dengan masalah yang terjadi semalam. Sora semakin tertekan. Kepalanya seperti mau pecah.


"Istirahatlah." Nenek Keyko segera keluar dan meminta Bibi Lun membuat sup yang biasa Sora makan saat sedang sakit.


***


"Biru, mau masak apa sayang?" Tanya Nenek Keyko ketika melihat Biru sedang berada di dapur.


"Sapo tahu dan ayam, Nek. Tadi Ichigo bilang ingin makan itu."


Nenek Keyko bertepuk tangan. "Bagus, sudah lama tidak makan sapo. Nenek tunggu. Dan buat yang banyak ya. Ada orang sakit yang harus kita urus."


Biru hanya mengangguk dan melanjutkan aktivitasnya. Keyko tidak bisa menekan Biru tentang hubungannya dengan Sora. Karena Keyko tahu benar bagaimana Sora jika sudah mengambil keputusan. Dia harus kena batunya dulu baru bisa berubah pikiran.


Beberapa saat kemudian, suara Ichigo membuat Sora bangun. Kamar yang ia tempati memang pintunya tidak ditutup. Hal ini memudahkan Nenek dan Bibi Lun untuk memantaunya.


"Sudah bangun." Tanya Nenek Keyko yang masuk ke dalam kamar.


"Iya. Ichigo sudah pulang ya."


"Sudah. Ayo makan dulu, Nenek sudah meminta Biru untuk membuat bubur."


Sora mengernyit. Biru memasak? Bukankah kata Ibu, Biru tidak bisa memasak?


Sora menggeleng. "Tidak Nek. Telepon Paman Ben saja, biar dia mengantar makanan dari rumah utama."


Nenek Keyko tidak menjawab. Tak lama kemudian Bibi Lun masuk dengan membawa semangkuk makanan berkuah yang membuat Sora penasaran.


"Apa itu?"


"Sapo. Ayo makan." Jawab Keyko.


"Apakah rasanya enak?" Sora ragu. "Siapa yang masak?"


"Cerewet sekali!" Hardik Nenek Keyko.


Sora terkesiap, ia segera menyuapkan sesendok kuah sapo yang masih hangat.  Enak. Gumamnya memuji.


Sora lalu menyendok isian dari sapo itu dan mulai memakannya dengan lahap.


Nenek Keyko tersenyum melihat Sora begitu menikmati hidangannya.


"Bagaimana?"


"Enak sekali. Tapi sayang, aku belum bisa menghabiskannya, Nek."


"Nenek tahu, kebiasaanmu jika sedang sakit pasti susah makan." Ujar Nenek kemudian mengambil mangkuk di tangan Sora. "Itu masakan Biru."


Sora membelalakkan mata. "Apa? Tidak mungkin. Dia bilang ke Ibu kalau dia tidak bisa masak."


"Benarkah?" Nenek Keyko tersenyum sinis. "Dia mengatakan itu karena tidak ingin melayani kegilaan Indira."

__ADS_1


Sora terdiam. Ia tahu Nenek tidak suka dengan istri kedua ayahnya, sama seperti Natsuki. Sora berusaha bersikap netral, dan ingin mereka rukun. Namun sepertinya itu semua tinggal harapan.


"Papa." Ichigo berlari masuk dengan senyum mengembang.


Keyko segera pergi dan membiarkan Biru menemani Sora dan Ichigo. Hingga akhirnya Ichigo tertidur. Ia sudah lelah bermain.


"Apakah dia sudah makan siang?" Tanya Sora pada Biru sambil membelai kepala Ichigo yang tidur di sampingnya.


"Sudah, Tuan."


Sora menghentikan gerakan tangannya. Ia kemudian menatap Biru.


"Bisakah, kau mengganti panggilanmu padaku? Lambat laun keluargaku akan curiga jika kau terus memanggilku "Tuan"."


Biru mengernyit, ia memikirkan panggilan apa yang cocok untuk Sora.


"Saya harus memanggil apa?"


"Pikirkanlah."


Biru terdiam, ia nampak sedang berpikir keras.


"Mas?"


Sora menggeleng.


"Kak?"


Sora memikirkannya sejenak. Namun kemudian ia menggeleng.


"Abang?"


Sora menimbang-nimbang dan kemudian mengangguk. Alis Biru terangkat, bibirnya menyeringai.


"Kak Sora." Ucapnya.


"Apa?"


"Saya akan memanggil Kakak pada anda, Tuan."


"Tidak, aku lebih suka dengan panggilan Abang."


"Lidah saya, suka-suka saya." Biru bergerak meninggalkan kamar.


"Biru!" Seru Sora dengan suara yang agak keras.


Biru lantas menoleh dan melotot memandangi Sora. "Jangan berteriak, nanti Ichi bangun."


"Ubah panggilanmu."


"Tidak mau!"


"Kalau begitu aku akan berteriak." Ancam Sora.


"Apa?!" Biru menatap tak percaya, sedangkan Sora tersenyum senang.


"Kau tahu sendiri bagaimana rewelnya Ichigo jika baru tidur kemudian tiba-tiba terbangun."


"Astaga." Desis Biru sambil memijat pelipisnya. "Baiklah." Biru berbalik dan segera keluar.


Tidak lama kemudian ia masuk membawa termometer dan obat penurun panas.


"Kita ukur suhu tubuh Tu … Bang … dulu."


"Panggil yang benar."


Hhhhhhhh … Biru mendesah kasar. "Maaf, Abang." Biru kemudian meletakkan termometer di ketiak Sora.


"Eh, bukankah panggilan itu kalau sedang di depan orang lain saja?" Tanya Biru.


Sora menggeleng. "Tidak. Meski kita hanya berdua kau harus tetap memanggilku seperti itu. Biar terbiasa."


"Terserah anda sajalah." Ucap Biru pasrah.


"Haiii!!!" Suara Natsuki membuat Biru dan Sora menjengit karena kaget.


"Ppsssstttttt!!!!" Biru dan Sora kompak meletakkan telunjuk di bibir dan meminta Natsuki diam.


"Ups, maaf!" Natsuki menutup mulutnya setelah melihat Ichigo sedang tidur.


"Tolong lihat termometernya ya Kak." Pinta Biru pada Natsuki.


"Ok."


Biru segera pergi ke dapur, ia menyiapkan bahan cemilan yang akan dimakan Ichigo ketika gadis kecil itu bangun. Tak lama kemudian ia kembali ke kamar Sora dan terkejut melihat Natsuki serta Bibi Lun sedang merapikan karpet tebal di lantai.


"Aku lelah, ingin berbaring." Kata Natsuki tanpa Biru tanya. "Dan ya, suhu tubuh Onii-chan 38 derajat."


Biru mengangguk, ia melihat obat penurun panas di nampan belum diminum Sora. Biru segera merobek pembungkus obat dan menyerahkannya pada Sora. Entah karena sakit, Sora jadi penurut. Ia meminum obatnya dengan patuh. Dan tanpa rasa canggung, Biru mengusap peluh di dahi Sora.


Hal itu bukanlah masalah besar buat Biru. Dia hanya melakukannya atas dasar rasa kemanusiaan. Tidak lebih.


Setelah memastikan Sora nyaman. Biru bergabung dengan Natsuki di karpet. Keduanya berbincang sejenak hingga akhirnya sama-sama tertidur pulas.


Nenek Keyko dan Bibi Lun yang melihat dari pintu tersenyum. Bahkan Nenek Keyko sampai meneteskan air mata. Rasanya sudah lama sekali, entah kapan terakhir kalinya Sora dan Natsuki berkumpul seperti ini di paviliun.


Keyko memandangi Biru dengan penuh sayang. Ia merasa, sejak kehadiran Biru, ada perubahan yang ia lihat dalam diri Sora dan Natsuki. Keyko berpikir, Biru akan menjadi penyambung hubungan persaudaraan yang mulai retak diantara Sora dan Natsuki. 


Tentu saja di usianya yang sudah semakin tua ini, Keyko mengharapkan yang terbaik untuk cucu dan cicitnya.


...****************...

__ADS_1


   


  


__ADS_2