Hartamu Menghancurkan Keluargaku

Hartamu Menghancurkan Keluargaku
Bab. 34


__ADS_3

Biru dan Arya sepakat untuk tidak menyinggung persoalan sertifikat itu di depan anggota keluarga Kinomoto lagi. Kecuali jika Nenek Keyko yang ingin membahasnya.


Sulit, tapi demi keamanan mereka. Biru harus menekan rasa penasarannya, sementara Arya memutuskan untuk mencari Arini dan meneruskan penyelidikan.


Biru berdiri di balkon yang mengarah ke lapangan golf. Pikirannya dipenuhi dengan berbagai spekulasi. Mencoba merangkai kepingan-kepingan puzzle. Sampai akhirnya ia menghentikan laju pikirannya, sebab ia sadar, masih banyak kepingan yang hilang.


"Ada apa?"


Biru berjingkat sambil berbalik. "Ya ampun Abang. Buat kaget saja." Ujar Biru sambil meletakkan tangan di dada.


Sora tertawa pelan, wajah Biru yang terkejut membuatnya gemas. Hubungan mereka sudah mengalami kemajuan. Biru tidak lagi bersikap datar di depan Sora.


"Melamun apa? Permintaan Ichigo?" Tanya Sora sambil berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam kantung celananya.


Tatapan Sora yang teduh, suaranya yang berat terdengar seksi, Biru melayang. Tanpa sadar ia menatap Sora untuk beberapa detik.


"Apa aku setampan itu?" Tanya Sora lagi.


"Eh?" Biru mengerjap beberapa kali. Ia lantas membuang wajah menyembunyikan rasa malunya.


Bagaimana bisa aku menatapnya terang-terangan seperti itu? Keluh Biru dalam hatinya.


Sora tertawa kecil. "Kemana Biru yang datar dan dingin?" Imbuh Sora kembali menggoda Biru.


"Berhenti mengganggu." Sergah Biru, jengah.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu hilangkan semua kerutan di dahi ini. Nanti tidak baby face lagi." Sora menjentikkan jari di kening Biru.


Biru meringis. "Sakit Abang!" Serunya dengan tangan terulur untuk mencubit perut Sora. Tapi sia-sia saja, otot perut Sora yang kokoh membuat Biru kesulitan menyerang.


Sora tertawa, tapi Biru tidak kehabisan akal. Ia beralih ke kedua pipi Sora. Menarik ke kiri dan ke kanan secara bersamaan. Membuat mulut Sora melebar.


"Hahahahaha." Biru senang bisa membalas Sora.


Tak ingin kalah, Sora menangkap pinggang ramping Biru dan mulai menggelitik.


Gelak tawa keduanya terdengar dari balkon.


Dari taman rooftop yang tidak jauh dari sana, Raya menatap keduanya dengan tangan mengepal. Ia menatap Biru dengan emosi yang meluap-luap.


***


Sayang? Ya, perasaan itu sudah bersemi dalam hati Sora.


Setelah mobil Sora menghilang di balik gerbang, Biru pun masuk ke dalam rumah. Baru beberapa langkah, Raya sudah menghadangnya. Tampaknya Raya memang sudah menunggu kedatangan Biru.


"Heh perempuan si4l4n!!! Jangan senang dulu ya. Tidak lama lagi Kak Sora akan membuang kamu setelah tahu siapa kamu yang sebenarnya." Hardik Raya dengan berapi-api. "Atas dasar apa kamu berani memukul mamaku?


Biru menatap lurus ke manik mata Raya, penuh intimidasi.


"Kenapa tidak kau tanyakan sendiri pada ibu mertua tersayang? Berapa biaya menyewa pembunuh untuk membunuhku dan Ichigo?" Biru balik bertanya.

__ADS_1


Raya berdecih. "Huhhh! Kamu jangan mengarang cerita pasti ... "


"Aku juga penasaran. Kalau kuberi tahu Sora bahwa kamulah yang tidur dengan mantan calon suamiku saat itu. Apa dia akan tetap membuangku?" Biru memotong ucapan Raya. Bahkan ia sengaja mengeraskan volume suaranya.


Raya terkesiap, ia menoleh kesana kemari memastikan tidak ada orang lain di sekitar mereka. Dan kesempatan itu dipergunakan Biru untuk melewati Raya sambil menyenggol bahunya dengan sengaja.


***


"Brengsek!!! Brengsek!!! Brengsek!!!" Seorang pria paruh baya meluapkan emosinya dengan memukul barang-barang yang ada di sekitarnya. Suara benda-benda jatuh terdengar ke penjuru gudang.


Sementara itu, di salah satu sudut, Indira tengah berbaring tak sadarkan diri.


Hari ini mereka menerima kiriman sebuah kontainer yang dilengkapi pendingin. Dari pesan yang tertera di invoice, kontainer tersebut harus dibuka oleh Indira. Malangnya, perempuan itu jatuh tak sadarkan diri setelah melihat isi di dalam kontainer.


Beberapa mayat pria tergantung terbalik bak daging. Yang lebih mengerikan, semua jenazah itu sudah tidak memiliki kulit dan rambut. Di setiap kaki di gantung kertas label yang berisi foto jenazah sebelum dikuliti.


"Cari tahu, siapa yang melakukan ini!" Perintah pria itu pada orang-orang yang ada di sekitarnya.


"Baik Tuan!"


Setelah mengatur nafas, pria tersebut melangkah mendekati Indira yang belum kunjung sadar.


"Sebenarnya siapa perempuan yang sudah kau singgung itu? Bagaimana dia bisa punya kemampuan melakukan semua ini."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2