
Biru tetap tenang dan terus menatap Raya. Sedangkan Sora dan Natsuki terkejut bukan main. Keduanya bahkan bertanya dengan setengah menjerit secara bersamaan.
Raya yang tersadar akan kecerobohannya menjadi panik. Ia akan pergi namun dengan cepat Sora menangkap tangan Raya.
"Apa yang sudah kau lakukan di belakang kami, Raya?!" Tanya Sora dengan penuh intimidasi.
Wajah Raya sudah benar-benar pucat.
Di lain sisi, Natsuki menatap Biru dengan rasa penasaran yang menggunung.
"Biru, apa yang Raya katakan benar?" Tanya Sora tanpa melepas tatapannya dari Raya.
"Ya, benar." Jawab Biru dengan suara lantang. "Dialah perempuan yang berhubungan badan dengan calon suamiku saat itu."
Jawaban Biru membuat hati Sora tercubit. Ia menatap Raya dengan kecewa. Sora melepas tangannya.
"Ka ... kakak." Raya menangis. "Maaf Kak."
"Kau pasti tahu kalau Biru sedang mengandung dan mereka akan menikah. Iya 'kan?"
Raya menggeleng, melihat itu Biru tersenyum sinis.
"JAWAB YANG JUJUR!!!" Sora kembali membentak Raya.
"Iy ... Iya Kak ... Aaakkhhhh!"
__ADS_1
Raya terhuyung saat tamparan Sora mendarat di pipinya. Disaat yang sama, Indira sadar dari pingsannya.
"Cepat gugurkan kandungan itu!" Ucap Indira membuat Raya semakin terdesak.
"Sora! Tangkap Raya, kita bawa dia ke Rumah Sakit sekarang juga." Pinta Indira pada Sora.
Mendengar itu, Raya segera berbalik dan berlari secepat mungkin untuk menyelamatkan diri.
"Raya!" Indira berusaha berdiri untuk mengejar. "Sora, kejar adikmu!"
Sora masih tidak bergerak, pengakuan Raya membuat dirinya seperti orang linglung.
"Aaakkkhhhhh!!!" Terdengar jeritan Raya dari depan.
Natsuki dan Paman Ben segera berlari, sedangkan Biru, ia menghampiri Sora terlebih dulu dan menarik tangan pria itu untuk ikut ke depan.
"Raya!!!" Indira menjerit histeris. Raya sedang terbaring dengan posisi tertelungkup di lantai dengan darah yang mulai merembes keluar. Tampaknya ia terjatuh saat berlari.
"Cepat bawa ke rumah sakit!" Seru Biru melihat kondisi Raya. Paman Ben bergerak dengan sigap diikuti oleh Natsuki dan Indira.
Sedangkan Sora masih menatap Biru dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Abang, ayo cepat ambil tas dan kita ikut mereka." Biru menggoncang lengan Sora.
"Kamu masih mengkhawatirkannya? Dia penyebab kamu kehilangan anak."
__ADS_1
Kalimat Sora membuat Biru terdiam beberapa saat.
"Sora! Biru!" Teriak Natsuki dari dalam mobil.
"Kami akan menyusul. Aku ambil tas dulu." Jawab Biru.
Setelah mendengar jawaban Biru, mobil langsung bergerak menuju Rumah Sakit.
Biru kemudian menatap Sora dengan tenang. "Janin di dalam perut Raya tidak bersalah, Bang. Janin itu tidak tahu apa-apa." Kata Biru sambil menepuk pundak Sora beberapa kali.
Setelah itu Biru berlari menuju kamar untuk mengambil dompet dan ponselnya. Begitu akan keluar, Sora sudah berdiri di ambang pintu kamar.
Tanpa mengatakan apa-apa terlebih dulu, Sora langsung memeluk Biru dengan erat.
"Aku bersedia menebus kesalahan Raya. Lakukan apapun yang kau mau kepadaku." Lirih Sora.
Biru tersenyum dan mengusap punggung suaminya itu. "Tidak perlu, ada yang sudah membalasnya untukku."
Biru merenggangkan pelukan Sora dan mengecup bibir Sora. "Ayo kita susul mereka."
Sora mengangguk menyetujui ajakan Biru. "Terima kasih, sayang."
"Jangan berterima kasih, aku tidak sebaik itu. Jujur saja, tadi aku senang saat mendengar kekasihnya tidak mau bertanggung jawab."
Kedua alis Sora terangkat. Biru menatapnya sambil menahan senyum.
__ADS_1
"Aku bukan malaikat, Bang."
...****************...