Hartamu Menghancurkan Keluargaku

Hartamu Menghancurkan Keluargaku
Bab. 41


__ADS_3

Beberapa hari setelah pembicaraan mereka, Biru melihat Sora tampak menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Bahkan Sora sering lembur hingga lewat tengah malam. Hal itu membuat Biru mulai cemas, ia mengkhawatirkan kesehatan Sora.


Sudah hampir tengah malam, dan sama seperti beberapa malam sebelumnya, Sora masih berkutat dengan pekerjaan. Biru mengetuk sebelum membuka pintu ruang kerja Sora.


"Abang." Biru menjulurkan kepalanya.


"Iya Biru." Sora tampak sedang membereskan meja. "Masuklah."


Biru masuk dan menutup pintu. "Abang masih sibuk?" Tanya Biru pada Sora saat ia sudah berdiri di sampingnya.


"Tidak. Ini sudah selesai." Sora menatap Biru sejenak. "Ada apa?"


"Eummm... Akhir-akhir ini Abang sering lembur. Aku hanya sedikit cemas dengan kesehatan Abang." Biru tampak canggung saat mengatakannya.


Kedua alis Sora terangkat. "Cemas?" Ia bertanya kembali dengan tatapan menggoda. Sora melipat tangan di depan dada dan tubuhnya sudah sepenuhnya menghadap ke arah Biru.


"Ya, sedikit." Jawab Biru sambil melihat ke arah lain.


Sora menyentuh dagu Biru dengan lembut agar tatapan Biru fokus kepadanya.


"Besok, ada presentasi penting di perusahaan. Aku harus mempersiapkan semuanya sebaik mungkin." Ujar Sora sambil memainkan rambut Biru yang berada di bahu.


"Aku tidak melakukan hal lain, seperti yang sudah ku janjikan kepadamu. Yahh, sejujurnya aku menenggelamkan diri dalam pekerjaan untuk mengalihkan kemarahanku." Imbuh Sora dengan jujur.


Biru tersenyum dan mengecup pipi Sora. "Hadiah karena sudah bisa menahan diri."


Sora terdiam sesaat, namun sedetik kemudian ia menyeringai. "Aku mau lebih."


Setelah berkata demikian, Sora m3m4gut bibir Biru dengan lembut. Biru tidak menolak, ia bahkan membalas.

__ADS_1


Sora mengakhiri c1um4nnya kemudian menempelkan dahinya pada dahi Biru.


"Apa bisa lebih dari ini lagi?" Tanya Sora sambil menahan keinginan untuk segera menerkam Biru.


Tidak dapat Sora pungkiri, c1um4n mereka membangkitkan keinginan yang selalu saja muncul sejak kejadian di hotel. Namun Sora tidak pernah mau memaksa Biru. Ia ingin Biru memberikan haknya dengan kesadaran penuh tanpa paksaan apalagi bantuan obat seperti terakhir kali.


Biru tersenyum malu sambil mengangguk.


Lampu hijau yang Biru berikan membuat Sora tersenyum lebar. Ia memeluk Biru erat-erat. Mengecup punca kepala Biru beberapa kali, sebelum akhirnya turun ke dahi, pipi, hidung, kemudian bibir.


Saat c1um4n mereka semakin dalam dan intens, Sora mengangkat Biru dan mendudukkannya di meja kerja.


"1 ronde disini, dan ronde lainnya di kamar." Ucap Sora di sela-sela kesibukannya menjelajah.


"Tap ... Tapi ... Besok ... Besok ada presen ... presentasi." Biru terbata-bata mengingatkan Sora.


"Presentasinya setelah jam makan siang."


Sora menyeringai. "Tidak ada jalan kembali sayang." Ujarnya dan kembali menyerbu bibir Biru.


umm ... umm ... umm


***


Biru terkejut dan langsung duduk saat mendengar gedoran dan teriakan Ichigo di pintu kamar mereka.


"Mamaaaaa."


"Iy ... iya sayang." Biru segera turun dari tempat tidur. "Aduh ... Ssshhh." Biru tertatih memegang pinggangnya.

__ADS_1


"Mamaaa."


"Sa ... sabar sayang." Jawab Biru sambil berusaha berdiri dengan benar. Ia bahkan belum berpakaian. Hanya bermodalkan selimut menutupi tubuhnya.


Tiba-tiba saja terdengar gerakan dari tempat tidur diikuti sosok Sora yang langsung menuju ke pintu.


Sora membuka sedikit pintu kamar. "Ichi-chan, sama Sus Farah dulu ya. Mama sedang tidak enak badan."


"Ooo, Mama sakit. Ichi mau lihat." Ichigo berusaha masuk.


"Ichi mau adik bayi, 'kan?"


Ichigo langsung menatap Sora dengan mata berbinar-binar. "Iya Pa. Mau. Mama sedang buat adik ya Pa. Kalau begitu, Ichi sama Sus Farah saja."


"Anak pintar."


Ichigo segera berjalan kembali ke kamarnya. Namun ia tiba-tiba berbalik.


"Papa."


"Iya sayang."


"Kalau tepungnya habis, bilang saja ya. Biar Ichi beli. Ichi juga mau bantu buat adik. Tapi Sus Farah bilang tidak bisa. Jadi Ichi bantu beli tepung saja."


Sora menahan tawanya. "Iya sayang."


Farah yang berdiri tidak jauh dari Ichigo hanya bisa memukul dahinya.


Ya ampun Non. Iya kali buat bayi pakai adonan donat.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2