Hartamu Menghancurkan Keluargaku

Hartamu Menghancurkan Keluargaku
Bab. 57


__ADS_3

Keyko memanggil Sora dan Natsuki. Ia ingin berbicara dengan kedua cucu mereka secara pribadi.


"Nenek." Sapa Natsuki dan duduk terlebih dahulu disusul Sora.


Keyko tersenyum lembut menatap kedua orang yang sangat ia sayangi.


Natsuki menatap heran semua berkas yang ada di atas meja.


"Ini, apa?" Tanya Natsuki.


"Ini semua berkas harta milik keluarga kita, belum termasuk yang disimpan di sebuah brankas tang ada di bank." Jawab Nenek Keyko dengan tenang.


Natsuki dan Sora saling berpandangan untuk sesaat.


"Biru pergi karena ini." Ucap Keyko sambil menatap sedih ke tumpukan surat berharga di atas meja.


"Nenek." Sora tercekat, mata Natsuki berkaca-kaca.


Keyko menarik nafas dalam-dalam. "Kami bekerja keras saat itu, dengan harapan bisa membuat anak, cucu dan cicit menikmati kebahagian dan kedamaian." Kenang Keyko dengan mata berkaca-kaca.


"Tapi tidak menyangka malah mencabut nyawa banyak orang." Imbuhnya diiringi tetesan air mata.


Sora dan Natsuki tidak dapat berkata apa-apa lagi. Dalam hati mereka pun membenarkan ucapan Sang Nenek.


"Apa keputusan Nenek?" Tanya Sora memecah keheningan.


"Jual saja semua ini. Atau, terserah kalian mau apakan."


Natsuki dan Sora kembali berpandangan.


"Nenek yakin?" Tanya Natsuki.


"Yakin, asal kalian tidak takut hidup susah." Keyko mengusap air mata dan tersenyum menatap Sora dan Natsuki bergantian.

__ADS_1


Natsuki tertawa kecil. "Nek, uang bulanan yang Kak Sora beri sudah tidak pernah aku pergunakan lagi. Usahaku lancar Nek. Cukup untuk kebutuhan hidup."


Sora menatap Keyko dengan penuh keyakinan. "Sebenarnya, aku juga sudah berhasil membangun sebuah perusahaan pembuat game."


Natsuki dan Keyko tercengang. "Benarkah?" Tanya keduanya bersamaan.


Sora tersenyum tipis. "Iya."


Natsuki memukul bahu Sora karena terlalu girang. "Akhirnya, Kakak mengerjakan hal yang Kakak suka."


Keyko pun tersenyum gembira. "Nenek senang dan bangga dengan pencapaian kalian."


Sora merasa hatinya menghangat. "Aku bisa menafkahi kalian dengan uangku sendiri, mulai saat ini."


Natsuki mencebik. "Aku sudah besar Kak. Sudah bisa membantu Kakak membiayai hidup kita semua."


Sora mengernyit. "Kamu tidak mau tinggal di apartemen lagi?"


Keyko dan Sora menatap Natsuki dengan mata melebar.


"Jangan menatapku begitu. Semua terjadi begitu cepat, dan masalah datang bertubi-tubi. Jadi aku tidak sempat cerita." Ujar Natsuki dengan senyum malu-malu.


Nenek Keyko berdiri dan memeluk Natsuki. "Selamat ya sayang. Nenek tahu kau bisa memilih dengan benar." Keyko mengecup kepala Natsuki dengan gemas.


"Akhirnya adik semata wayangku sold out." Sora tersenyum geli.


"Aku bukan barang!!!"


***


"Apa?! Tidak Tuan! Saya tidak mau!" Ujar Zayn bahkan berdiri dari tempatnya duduk.


Sora masih memegang dadanya. Penolakan Zahn diiringi suara yang kencang membuatnya sangat terkejut.

__ADS_1


"Kau mau aku mati mendadak?!" Tanya Sora dengan kesal.


Zayn terlihat merasa bersalah. "Tu ... Tuan ... Ma ... Maaf, bukan bermaksud begitu." Zayn kembali duduk dengan perasaan tidak enak.


"Zayn, aku tidak mengerti dengan dirimu. Aku memberimu semua ini tanpa syarat, kenapa malah menolak?"


"Karena saya tidak pantas menerima semua ini, Tuan."


"Ini tidak semuanya Zayn, sudah dibagi dengan Bibi Lun."


"Tapi masih terlaku banyak Tuan. Kenapa perusahaan ini tidka diberikan kepada keluarga Nyonya Amaya saja?" Usul Zayn sebab ia tidak mau menjalankan perusahaan itu


Sora mendesah kasar. "Mereka juga menolak."


Zayn terdiam, ia mencari cara agar tidak menerima perusahaan dan kekayaan keluarga Kinomoto.


"Bagaimana kalau kita jual saja perusahaan dan properti lain?" Usul Zayn lagi.


Sora terdiam sejenak. "Baiklah kalau begitu, sepertinya kau lebih nyaman dengan pemberian berupa uang."


Mata Zayn seakan keluar dari tempatnya. "Uangnya bukan buat saya, Tuan." Ujar Zayn dengan penuh penekanan.


"Tapi kami juga tidak mau uang itu, Zayn!" Sora tak mau kalah.


Mulut Zayn terbuka, ia seakan ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak bisa terucap. Akhirnya ia mendesah kasar.


"Begini saja, kalau kau merasa itu terlalu besar. Kita akan beri bantuan ke beberapa yayasan, sisanya untukmu."


"Haruskah untuk saya, Tuan?" Tanya Zayn melemah.


"Harus!" Jawab Sora tegas.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2