
Biru akan turun ke lantai 1, namun saat ia mendengar suara Arini dan Indira yang sedang tertawa, Biru mengurungkan niatnya. Ia sedang tidak ingin berhadapan dengan kedua perempuan itu. Firasat Biru mengatakan akan ada hal yang tidak baik jika bertemu mereka.
Baru saja Biru hendak membaringkan tubuhnya di sofa, terdengar seseorang mengetuk pintu kamarnya.
"Nyonya."
Biru segera beranjak dan membuka pintu. "Ya, ada apa?"
"Maaf saya mengganggu waktu istirahat Nyonya. Tapi Nyonya Indira menunggu Nyonya Muda di bawah." Ucap pelayan yang mengetuk pintu.
Baru saja mau menghindar, sudah dipanggil. Keluh Biru.
"Terima kasih ya."
"Iya Nyonya."
Biru segera keluar dan menutup pintu. Ia berfikir jika cepat menemui Indira, ia akan bisa cepat kembali ke kamar.
"Nyonya memanggil saya." Ujar Biru begitu tiba.
Indira tersenyum melihat kedatangan Biru. "Iya. Begini, kamu kan istri Sora. Tapi kamu sama sekali belum pernah ke kantor. Jadi hari ini Arini akan menemani kamu ke kantor Sora sambil membawakan makan siang."
Biru menatap keduanya bergantian. Biru tahu ini adalah jebakan, namun Biru juga penasaran.
Mereka sudah lelah bermain di rumah, jadi mereka memindahkan lokasi ke kantor. Ok, aku akan menuruti permintaan kalian.
"Baik Nyonya." Ucap Biru sambil menatap Arini yang tampil full make up seperti mau kondangan.
"Kamu bersiap dulu, aku akan menunggu." Ujar Arini.
Biru pergi ke lantai 2 untuk mengambil tas kecil berisi ponsel dan dompet. Namun saat ia akan keluar kamar, ia teringat bagaimana hebohnya dandanan Arini. Oleh sebab itu ia memutuskan untuk mengganti baju.
Dress berwarna coklat muda yang menjadi pilihan Biru. Dress itu sangat biasa, tidak ada potongan atau variasi jahitan lain. Benar-benar biasa. Sebagai alas kaki Biru memakai flat shoes berwarna senada. Lalu ia memakai sedikit lip balm berwarna baby pink dengan aroma stroberi. Tak lupa Biru mengepang rambutnya ke samping.
"Let the war begin."
***
Berkali-kali Arini melirik Biru. Hatinya menjerit, tangannya gemas ingin mencakar wajah Biru yang terlihat begitu segar dan cantik alami. Style keduanya bagai langit dan bumi. Arini seperti seorang Tante yang membawa anak remaja. Padahal Arini hanya terpaut usia 1 tahun di atas Biru.
Begitu memasuki area kantor, keduanya langsung menjadi bahan pembicaraan.
"Itu Nona Arini 'kan? Cantik sekali. Tapi siapa di sampingnya?"
"Kan istrinya Tuan Sora."
__ADS_1
"Kok gayanya begitu. Nggak kelihatan istri pimpinan."
"Bagus kok gayanya, sederhana."
"Bagus apa? Sok imut, kampungan banget."
"Halah, bilang saja kamu iri karena dia yang jadi istri Tuan Sora."
"Aku sih Tim Nona Arini."
"Cantik, tapi merebut pasangan orang."
"Kasihan ya Nona Arini. Sudah diselingkuhi, tapi masih baik sama perebut kekasihnya."
"Iya, perempuan itu tidak tahu malu. Bisa-bisanya muncul di depan Nona Arini."
"Ihh, pelakor jaman sekarang buas. Sok suci, sok lugu."
Sekelompok pegawai yang berkumpul di depan lift tidak jauh dari Biru dan Arini terdengar bergunjing. Arini dengan sengaja mengibaskan rambutnya yang ada di pundaknya agar terlihat lebih cantik. Sedangkan Biru, ia terlihat tidak terpengaruh, dengan santainya ia memegang rantang yang berisi makanan.
"Jangan diambil hati ya." Ujar Arini setelah keduanya ada di dalam lift.
Biru tersenyum simpul lalu menjawab singkat. "Ya."
"Ruangan Sora tidak berada di lantai ini. Tapi aku ada perlu dengan pamanku. Saat ini mereka sedang rapat. Kau tidak keberatan, 'kan?" Tanya Arini pada Biru.
"Ya, tidak masalah."
Kedatangan mereka menarik perhatian para pegawai. Bahkan beberapa orang terang-terangan berdiri dan untuk melihat Biru. Pernikahan keduanya memang diunggah ke website perusahaan oleh Hasan. Itu semua atas permintaan Arini yang ingin mengekspos Biru.
Sora tidak bisa berbuat apa-apa, jika dihapus, tentu akan menimbulkan tanda tanya. Meski tidak suka dengan tindakan Hasan, Sora hanya bisa diam. Bagaimanapun, pihak yang akan paling dirugikan adalah Biru. Apalagi saat perjanjian mereka berakhir.
Saat menunggu Arini yang sedang bertanya ke salah satu pegawai, dua orang staf berjalan ke arah Biru. Terang-terangan mereka memindai Biru. Keduanya berhenti di mesin fotokopi yang berada di belakang Biru.
"Lebih cantik Nona Arini ya. Udah gitu baik lagi."
"Iya, gayanya sok imut sekali. Padahal merebut pacar orang."
"Tapi emang pelakornya imut sih."
"Imut apanya? Jelek begitu. Lihat, gayanya saja kampungan. Masih mending aku."
"Husss."
Keduanya lalu terkekeh. Arini yang sengaja berlama-lama diam-diam tersenyum. Ia sangat puas Biru dihina. Staf yang lain ikut berbisik-bisik. Hanya kedua staf di belakang Biru yang lebih berani berbicara dengan suara sedikit keras.
__ADS_1
"Sayang, bukan Nona Arini yang jadi istri Tuan Sora."
"Padahal lebih cocok Nona Arini."
Kedua pegawai itu kembali ke tempat mereka. Meletakkan kertas yang sudah difotokopi. Kemudian kembali menatap Biru.
Arini mendekati Biru.
"Sabar ya, jangan dengarkan mereka. Ayo, kita ke ruangan Sora saja. Sepertinya rapat ini masih lama."
Biru hanya mengangguk dan berbalik.
Namun diamnya Biru membuat kedua staf itu semakin menjadi-jadi. Mereka sudah dihasut oleh Arini sehari sebelum ia mengajak Biru ke kantor.
"Orang tuanya tidak becus membesarkan anak. Merebut milik orang lain."
"Ah, pasti orang tuanya juga gila harta."
"Isshhh, orang tua menjijikkan. Miskin dan gila harta. Sama seperti anaknya."
Diam-diam Arini kembali tersenyum mendengar penghinaan yang ditujukan pada orang tua Biru.
Biru berhenti dan berbalik. Kedua pegawai yang melihat Biru berbalik balas menatap dan tersenyum sinis. Mereka berbalik pergi sambil tertawa kecil.
Biru meletakkan rantang yang ia bawa. Dengan langkah lebar ia mengejar kedua pegawai tersebut. Kemudian Biru menarik rambut untuk menahan kepala keduanya dan mendorong hingga mereka saling berbenturan.
"Aahhh."
"Aduhhh!"
Tak hanya sekali, Biru melakukannya berulang kali. Jika hanya dirinya yang dihina, Biru masih bisa menahan emosi. Namun jika orang tuanya ikut dihina seperti itu, ia tidak akan berpikir 2 kali.
Biru seakan tuli, dengan wajah datar tanpa ekspresi, ia terus menarik rambut kedua wanita itu. Meski tangannya sibuk menarik rambut, tapi Biru masih bisa berkelit saat keduanya hendak melawan.
Arini yang menyaksikan hal itu dari belakang, tersenyum lebar. Ia sangat puas berhasil membuat Biru marah.
Tanpa melepaskan tangannya, Biru menoleh ke belakang dan menatap Arini yang sedang berjalan mendekatinya. Senyuman Arini memudar, tatapan Biru begitu dingin dan menusuk.
Bertepatan pintu ruang rapat terbuka. Rapat sudah selesai. Dan rupanya teriakan kedua staf tadi membuat para peserta rapat mengurungkan niat untuk lebih lama bercengkrama di dalam ruang rapat.
Arini segera menghampiri Biru untuk melerai mereka bertiga. Kemudian ia menarik Biru menjauh dari kedua staf yang sudah tersungkur di lantai.
...****************...
__ADS_1