
Hari sudah siang ketika Paman Ben mengantar baju dan makanan untuk Sora dan Biru.
"Maaf Tuan, ini minumannya." Seorang pelayan membawa 1 karton air mineral kemasan gelas.
"Taruh saja disini. Saya sendiri yang akan membawanya ke dalam." Pinta Sora.
"Kenapa harus membeli 1 karton, Tuan Muda?" Tanya Ben, heran melihat karton air mineral yang masih lengkap dengan segel.
"Berjaga-jaga, jangan sampai kami diberi obat lagi." Jawab Sora. Membuat Paman Ben merasa bersalah.
"Saya permisi, Tuan." Paman Ben berpamitan. Sora hanya mengangguk dan membawa semua pesanannya ke kamar.
"Biru … ayo makan dulu." Ujar Sora dengan lembut sambil mengusap kepala Biru.
"Aku capek Bang. Nanti saja." Gumam Biru dengan mata masih tertutup.
Sora terkekeh pelan. Biru semakin menggemaskan karena terlihat seperti anak kecil yang enggan beranjak dari tempat tidurnya.
"Jangan begitu, nanti kamu sakit."
Biru langsung membuka matanya dan menatap Sora dengan tajam. "Siapa yang sudah buat aku jadi begini?"
"Iya…iya… Aku yang salah. Marahnya nanti saja, sekarang makan dulu."
Dengan susah payah Biru mencoba untuk duduk dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Tidak usah ditutup. Aku sudah melihat dan menikmatinya."
"Nanti Abang khilaf." Jawab Biru datar.
Sora hanya geleng-geleng kepala dan membawa nampan ke tempat tidur. Setelah memastikan kaki nampan aman, ia duduk di kursi untuk menikmati makanannya sendiri. Sora sengaja membiarkan Biru makan di tempat tidur.
Selama makan, tidak ada obrolan yang terdengar. Entah karena makanannya enak, atau karena suasana canggung.
***
"Biru, biarkan aku menggendongmu." Entah sudah berapa kali Sora mengatakan itu sejak mereka meninggalkan kamar Arini.
Namun jawaban Biru tetap sama. "Tidak."
Biru benar-benar marah. Walau ia harus berjalan sambil memegang dinding, ia tidak peduli. Sesekali ia menggigit bibirnya untuk menahan sakit di area in tim nya.
Sora menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Wajah Biru tidak bisa menyembunyikan kalau ia benar-benar kelelahan. Bukan hanya karena Sora, tapi juga karena ia turun tangan langsung mempersiapkan acara ulang tahun Ichigo.
"Biru!" Sora menghampiri saat melihat Biru hampir jatuh.
"Lepas!" Biru menepis tangan Sora dengan kasar.
"Aku tahu kau marah padaku, tapi izinkan aku untuk membantumu. Jangan keras kepala!" Sentak Sora.
Biru melayangkan tatapan tajam pada Sora. "Keras kepala katamu?! Siapa tadi yang bersikeras untuk tetap mempertahankan pernikahan palsu ini!!!" Emosi Biru meledak.
Pasalnya setelah makan dan berganti baju, Biru meminta agar mereka mengakhiri pernikahan palsu ini karena ada poin perjanjian yang dilanggar. Namun Sora bersikeras untuk tetap meneruskan sampai waktu yang disepakati.
"Bukankah aku tidak pernah mencampuri urusan anda, Tuan Sora?! Tapi semalam anda merobek pakaian saya! Terlepas itu karena jebakan Arini. Seharusnya pernikahan palsu ini berakhir sekarang juga!"
"Tapi aku tidak mau melepasmu!"
"Kenapa?!"
"Karena … karena Ichigo." Jawab Sora dengan ragu-ragu.
"Cihhhh." Biru tertawa sumbang. "Anda bisa mencari perempuan lain yang mau menjadi istri palsu menggantikan saya."
"Pernikahan palsu?! Istri palsu?!"
Suara Keyko mengagetkan mereka berdua. Sora dan Biru serentak menoleh ke belakang.
Di koridor itu, tak jauh dari mereka. Sudah berdiri Keyko, Amaya, Natsuki, Andre dan Paman Ben.
"Nenek." Desis Sora dan Biru bersamaan.
Air muka Keyko dan Amaya sudah tak dapat lagi dijelaskan. Sora dan Biru sampai menelan ludah dengan kasar saking takutnya melihat ekspresi para Nenek.
"Ben."
"Saya, Nyonya Besar."
"Buka kamar Sora dan Biru." Keyko memberi perintah.
"Natsuki."
"Iya Nenek."
"Minta supir untuk membawa pulang Farah dan Ichigo setelah Ichigo selesai berenang."
"Baik, Nek."
"Setelah itu datanglah ke kamar Nenek."
"Iya Nek."
Keyko menatap Sora dan Biru yang mematung.
"Hhhhh! Untung jantung kami berdua kuat." Lirih Keyko. "Ben, bawa mereka berdua ke dalam kamar dan pastikan mereka tidak bisa kemana-mana. Andre, tingkatkan keamanan. Utamakan yang ahli bela diri."
__ADS_1
"Baik, Nyonya."
"Iya, Nek."
"Silahkan Tuan, Nyonya." Paman Ben mempersilahkan Sora dan Biru untuk masuk. Mereka berdua masuk dengan patuh tanpa mengucapkan sepatah kata.
***
Pintu kamar terbuka, terlihat Natsuki dan Andre berdiri di ambang pintu. Setelah mereka masuk, penjaga di luar segera mengunci pintu.
Natsuki geleng-geleng kepala, Sora tengah berdiri menatap keluar jendela, sedangkan Biru duduk di tepi ranjang menghadap ke pintu.
"Everest, sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Natsuki pada Biru. Pertanyaan itu membuat Sora menatap Biru dengan dahi berkerut. Ia tidak menyangka kepanjangan dari "Ev" yang selama ini diucapkan Natsuki adalah Everest.
"Aku … "
Pintu terbuka, Keyko dan Amaya berdiri dengan tatapan datar.
Keduanya masuk dan duduk di sebuah sofa. Melihat itu, Sora segera duduk di tepi ranjang yang berhadapan dengan mereka. Disusul oleh Biru.
"Ceritakan. Kau lebih dulu, Biru." Titah Keyko.
Biru menarik nafas dalam-dalam dan mulai menceritakan tentang rumahnya yang dijual Paman Nanta, sampai akhirnya ia menyetujui kontrak Sora. Dan sekali lagi, Biru tidak menceritakan alasan sesungguhnya ia menerima kontrak itu.
Keyko terdiam, sedangkan Amaya memijat pelipisnya.
"Sora, giliranmu."
Tidak berbeda jauh dengan yang diceritakan Biru. Sora pun menceritakan yang sebenarnya. Toh, tidak ada gunanya lagi untuk berbohong.
Setelah mendengar penjelasan Sora dan Biru. Nenek Keyko terdiam, ia nampak sedang berpikir.
"Nenek sudah mempersiapkan pernikahan kalian. Kali ini pernikahan sungguhan."
"Apa?" Tanpa sadar Biru berdiri.
Sedangkan Sora hanya menatap Nenek sekilas, lalu membuang wajah ke arah jendela.
"Nyonya, saya minta maaf sudah membohongi anda. Tapi tolong, jangan nikahkan kami berdua." Biru memohon. "Saya akan pergi dari kehidupan keluarga Kinomoto. Saya tidak akan mengungkit atau menuntut apapun. Saya berjanji."
Sora dengan cepat memalingkan wajah menatap Biru. Hatinya tercubit. Setelah melewati malam panas berdua, Biru tetap tidak ingin terikat pernikahan yang sesungguhnya dengan dia.
"Tidak bisa, Nak. Kalian sudah melebihi batasan. Sora harus bertanggung jawab." Amaya menimpali.
"Nyonya, saya sudah katakan. Saya tidak akan menuntut. Karena dalam hal ini, saya juga salah. Tolong Nyonya." Biru mengiba pada Amaya.
"Keputusan kami sudah bulat." Ucap Keyko tegas. Setelah itu Keyko berdiri dan beranjak pergi, diikuti oleh Amaya dan Paman Ben.
Biru jatuh terduduk di tepi ranjang. Ia menunduk sambil menarik rambutnya.
"Everest." Natsuki mengusap pundak Biru.
"Maaf Ev." Jawab Natsuki dengan pelan. "Lagian, kamu juga. Punya uang banyak kenapa tidak membayar sesuai yang diminta Sora?" Natsuki akhirnya mempertanyakan hal yang mengganjal di hatinya sejak mendengar cerita Biru.
"Aku meninggalkan tabunganku. Dan ternyata Mas Arya memblokirnya." Jawab Biru.
Kembali hening …
Tiba-tiba ponsel Andre berdering. Ia segera menyerahkannya pada Biru.
"Mas Arya mau bicara." Ujar Andre.
Kening Biru mengernyit.
"Aku sudah menelponnya tadi dan menceritakan rencana Nenek. Bahkan Nenek sudah bicara dengan Mas Arya." Andre menjelaskan.
Sora yang dari tadi hanya menyaksikan interaksi ketiga orang di hadapannya tiba-tiba diserang sakit kepala. Ia seakan baru sadar kalau tidak mengenal asal usul Biru, sama sekali.
Dia dari Hongkong? Punya seorang kakak laki-laki? Kenapa namanya Everest? Astaga … Bahkan Natsuki dan Andre tidak mengatakan apapun tentang Biru.
Akhirnya Biru menggeser ikon berwarna hijau itu.
"Halo Mas."
"Hhhhh." Terdengar helaan nafas berat dari ujung sambungan telepon. "Halo. Tolong aktifkan speaker-nya." Pinta Arya.
Meski tidak mengerti dengan permintaan Sang Kakak, Biru tetap melakukan yang Arya mau.
"Mas, tolong. Aku tidak mau menikah." Suara Biru terdengar memelas.
"Maaf. Mas tidak bantu kamu, dek." Arya langsung menolak permintaan Biru tanpa pikir panjang.
Biru terkejut. "Mas Arya sudah tidak sayang Biru?"
"Sayang."
"Terus?"
"Memangnya kamu sayang sama Mas?"
"Ya sayang."
"Kalau sayang, kenapa tidak dengar-dengaran sama Mas? Mas larang kamu pulang ke Malang. Kamu melawan. Mas bilang relakan saja rumah orang tua kita. Kamu juga melawan. Bahkan kamu menyetujui kontrak itu tanpa berdiskusi dulu dengan Mas. Iya kan?"
Biru terdiam, semua yang dikatakan Arya adalah sebuah kebenaran.
"Memang, ngeyel itu tidak ada obatnya. Sekarang terima saja resiko dari keputusanmu itu. Nasi sudah jadi bubur. Terserah kamu mau tambahkan santan atau suwiran ayam goreng." Imbuh Arya.
__ADS_1
"Tapi Mas … "
"Kamu sudah besar, Biru. Kamu harus menanggung konsekuensi dari setiap langkah yang kamu ambil."
Biru kembali terdiam, air matanya mulai menetes.
"Andre, kamu dengar suara saya 'kan?"
"Iya Mas Arya." Jawab Andre sambil mendekat ke arah Biru.
"Kamu gantikan saya jadi wali Biru. Awasi dia baik-baik. Saya akan kirim nomor orang-orang yang bisa menandingi Biru jika dia macam-macam."
"Baik Mas. Saya mengerti."
"Dan katakan pada calon suami Biru. Kalau dia menyakiti Biru, saya akan datang lebih cepat dari malaikat maut."
Andre dan Natsuki langsung menatap Sora. Sedangkan Sora hanya tersenyum simpul.
"Saya pastikan Biru akan bahagia bersama saya, Mas Arya." Sahut Sora dengan suara yang lantang. Membuat Biru langsung menatapnya.
"Saya pegang janji kamu." Suara Arya terdengar begitu berwibawa, hingga membuat Sora terdiam untuk sesaat.
"Dek."
"Iya Mas." Biru semakin tidak bersemangat.
"Jalani dengan penuh … " Arya sengaja menggantung kalimatnya.
"Tanggung jawab." Biru menyempurnakan kalimat Arya.
***
Keesokan harinya, upacara pernikahan Sora dan Biru digelar di taman yang berada di atap hotel. Yang menyaksikan hanya Nenek Keyko dan Nenek Amaya, Natsuki dan Andre juga Paman Ben dan Bibi Lun.
Nenek Keyko sendiri yang memastikan semuanya bukan berkas palsu maupun pendeta gadungan seperti sebelumnya. Upacara digelar tanpa resepsi. Oleh sebab itu, ketika semua rangkaian acara selesai, mereka segera meninggalkan hotel.
Biru menatap cincin yang bertengger di jari manisnya. Hatinya terasa sangat berat. Apalagi saat mobil yang mereka tumpangi mulai memasuki halaman kediaman Kinomoto.
Berbeda dengan Sora yang terlihat biasa di luar, namun di dalam hati ia sedang berbunga-bunga. Sejak Nenek mengatakan akan menikahkan mereka, Sora benar-benar bahagia.
Biru segera masuk ke dalam rumah tanpa menunggu Sora. Ia masih tak berbicara pada pria yang sudah menjadi suaminya ini. Meski harus menahan sakit, Biru tetap berjalan dengan cepat. Secepat yang ia mampu. Sora hanya tersenyum lebar melihat Biru yang bertingkah seperti itu.
Tidak jauh dari posisi Sora, Arini menatap penuh rasa cemburu. Ia sangat marah karena gagal, namun ia tidak dapat berbuat apa-apa karena Natsuki mengancam akan membongkar rencananya untuk menjebak Sora ke publik.
Arini tidak mungkin bisa melawan Natsuki. Apalagi ia harus kembali ke London.
"Sora."
Sora menoleh ke arah sumber suara. Dan raut wajahnya berubah setelah melihat Arini.
"Jangan muncul lagi di depanku." Ucap Sora. Membuat senyum Arini menghilang.
"Aku … aku hanya ingin menghabiskan malam denganmu. Karena hari ini aku akan berangkat ke London." Arini memasang wajah sedih.
Emosi Sora semakin naik. "Bukankah dari dulu kita sudah berkomitmen untuk tidak melakukannya sebelum menikah?"
"Maaf sayang. Aku terlalu mencintaimu, aku tidak ingin kehilangan dirimu. Aku terpaksa memakai cara itu."
"Mencintaiku? Hahaha." Sora tertawa sumbang. "Lebih baik sekarang enyahlah dari hadapanku."
Arini terhenyak. "Apa? Tidak Sora. Maafkan aku. Aku ingin bersamamu."
"Bukankah kau akan pergi? Maka pergilah. Jika tidak sia-sia saja tiket pesawat di tanganmu."
Arini menggeleng. "Tidak, jika bukan kau yang mengantarku pergi."
"Kalau begitu jawabanku tetap sama."
"Sora!" Emosi Arini tersulut. "Jangan keterlaluan!"
Sora tersenyum sinis. Ia membuka ponsel dan memperlihatkan foto saat Arini pergi ke club malam dengan pakaian minim.
"Kau berada di depan mobilku saat kau mengatakan akan segera tidur."
Arini tercekat, ia menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Sora … aku … "
Sora mengangkat tangannya sebagai tanda agar Arini berhenti berbicara.
"Aku terpaksa menipumu. Saat itu manajer tiba-tiba ingin bertemu." Arini berkilah.
"Hentikan omong kosongmu, Arini!"
"Aku tidak berbicara omong kosong!" Arini balas membentak. "Oh. Jangan-jangan karena Biru, jadi kau menjebakku?" Tuduh Arini.
"Aku tidak sepicik dirimu." Desis Sora.
"Huhh!" Arini tersenyum sinis. "Kau harus ingat Sora, aku keponakan kesayangan Paman Hasan. Jadi … "
"Jadi diamlah atau kupastikan kita jatuh bersama. Haruskah kubawa semua bukti aborsi yang kau lakukan di London?"
Arini mundur beberapa langkah, tubuhnya bergetar. Ia tidak menyangka Sora mengetahui perbuatannya.
Melihat Arini yang kalah telak dengan ucapannya, Sora segera masuk ke dalam rumah untuk mencari Biru.
...****************...
__ADS_1