
Biru sedang berdiri di salah satu balkon lantai dua yang menghadap ke gerbang utama. Ichigo sudah berangkat ke sekolah, Sora pun sudah berada di kantor. Ia sedang tidak ingin menghadapi Indira, jadi Biru memilih untuk menyendiri.
Tiba-tiba gerbang terbuka, sebuah mobil Mercedes Benz E Class berwarna hitam memasuki halaman. Tak lama kemudian terlihat Natsuki berjalan mendekat. Pintu mobil terbuka, Andre keluar dan membuka pintu penumpang untuk Natsuki.
Sebelum masuk ke dalam mobil, Natsuki yang tahu keberadaan Biru menatap ke atas dan melambai, kemudian diikuti oleh Andre. Biru tersenyum lebar membalas lambaian tangan keduanya.
Biru menarik nafas dalam-dalam. Ia pernah merasakan kehangatan di sudut hatinya karena perhatian Andre, namun itu dulu. Saat Biru tahu jika di hati Andre sudah ada gadis lain. Biru memilih untuk melepaskan. Dan kini, ia bisa terbebas dari perasaan yang bertepuk sebelah tangan.
Tangan Biru terulur memegangi dadanya, bersamaan dengan senyuman yang memudar. Kini hatinya kembali dingin. Biru kembali menarik nafas dalam-dalam.
"Mungkin aku memang ditakdirkan untuk tidak memiliki pasangan. Ini karma karena sudah salah memilih pria hingga membuat Ayah dan Ibu meninggal." Lirih Biru, kembali menyalahkan dirinya sendiri.
***
Biru menyambut Ichigo yang baru saja pulang sekolah. Tidak disangka, ternyata hari ini Sora yang menjemput putrinya.
"Aku pulang." Suara Ichigo yang ceria membuat para pelayan tersenyum.
"Selamat datang." Sambut Biru dengan penuh kehangatan.
Ichigo segera menghambur masuk dalam pelukan Biru.
"Mama."
"Iya sayang. Bagaimana sekolahnya?"
"Senang. Tadi Ichi bilang ke teman-teman. Ichi sudah punya Mama." Cerita Ichigo dengan mata berbinar.
Biru tersenyum dan mengecup kedua pipi Ichigo. Ia segera menggendong gadis kecil itu dan masuk ke dalam. Tidak mempedulikan Sora yang tertegun melihat senyuman manis Biru.
Saat berjalan masuk, mereka berpapasan dengan Raya yang langsung berlari memeluk Sora.
"Kakkkk." Rengek Raya.
"Hmmm, ada apa lagi?"
"Uang jajanku habis." Jawab Raya yang hendak berangkat ke kampus.
Kening Sora berkerut. "Bukannya seminggu yang lalu barusan kakak transfer?"
"Aku beli tas baru." Raya meringis sambil memperlihatkan tas branded yang sedang ia bawa.
Sora hanya bisa menghela nafas kasar kemudian mengusap kepala Raya. Meski bukan adik kandung, Sora tetap menyayangi Raya. Berbeda dengan Natsuki. Meski sudah berulang kali dinasehati oleh Sora, Natsuki tetap tidak menyukai Raya dan Indira.
Sebelum naik tangga, Biru sempat menoleh dan melihat interaksi antara Raya dan Sora. Kemudian ia melanjutkan langkahnya menuju lantai 2.
Kelihatannya Tuan Sora sangat menyayangi Raya. Hhhhhh, sial!!! Aku harus menahan diri. Jika tidak, Raya akan benar-benar mewujudkan ancamannya.
Biru sedikit kecewa, ia tidak bisa leluasa bermain dengan Raya.
Tidak bisa! Aku harus bicara dengan Tuan Sora.
Setelah selesai mengurus Ichigo, Biru mencari keberadaan Sora. Tak perlu waktu lama, pintu ruang kerja Sora terbuka dan terlihat pria itu sedang sibuk mencari sesuatu.
Biru menarik nafas dalam-dalam sebelum mengetuk pintu.
Tok…Tok…Tok…
"Masuk."
"Permisi Tuan."
Sora mengangkat wajahnya setelah mengenali suara Biru.
"Ada apa?"
"Bolehkah saya meminta waktu anda? Sebentar saja, Tuan." Pinta Biru.
Sora duduk dan meninggalkan aktivitasnya. Ia menatap Biru dengan serius.
__ADS_1
"Silahkan." Sora menggerakkan tangannya dan mempersilahkan Biru duduk di kursi yang ada di depannya.
"Terima kasih."
"Katakan." Ujar Sora setelah Biru duduk.
"Bisakah anda berjanji, selama saya tetap menjadi istri palsu anda, rumah keluarga saya tetap aman?" Tanya Biru dengan hati-hati.
"Tentu saja. Anda bisa memegang ucapan saya." Jawab Sora dengan penuh keyakinan. "Apa ini berkaitan dengan Ibu dan Raya?"
"Iya Tuan."
Sora mengangguk-anggukkan kepalanya. "Jangan khawatir. Perjanjian ini hanya antara kita berdua. Orang lain tidak akan bisa ikut campur."
Biru lega. "Terima kasih Tuan. Sebagai ganti, saya tidak akan berkomentar tentang hubungan anda dan Nona Arini. Kecuali jika dia menyinggung saya seperti selama ini. Atau melibatkan Ichigo di dalamnya. Maka jangan salahkan saya jika bertindak kasar."
Sora menarik nafas dalam-dalam. Ingatannya kembali dengan tingkah Arini pada Biru yang membuat Sora mulai merasa tidak nyaman. "Ya, saya tahu kalau anda hanya membela diri."
Biru berdiri. "Sudah tidak ada lagi yang ingin saya katakan. Terima kasih sudah meluangkan waktu anda. Permisi Tuan." Pamit Biru.
Di pintu, Paman Ben yang akan masuk mendengar ucapan terakhir Biru.
"Paman Ben." Sapa Biru.
"Nyonya Muda." Sahut Paman Ben sambil membungkuk.
"Masuklah Paman." Terdengar suara Sora di belakang Biru. Oleh sebab itu Biru mempercepat langkahnya meninggalkan ruang kerja Sora.
Sementara itu, di dalam ruang kerja, Paman Ben yang baru saja meletakkan teh dan camilan menatap Sora dalam diam.
"Ada apa Paman?" Tanya Sora yang kembali menghentikan aktivitasnya karena diperhatikan Paman Ben.
"Maaf Tuan. Tapi, akan aneh bagi orang luar jika mendengar Nyonya Muda memanggil anda dengan kata "Tuan". Saya tidak bermaksud mencampuri urusan pribadi Tuan Muda. Tapi ini saya katakan agar tidak ada desas desus muncul."
Sora mengerti maksud Paman Ben. "Terima kasih Paman. Aku akan membicarakannya dengan Biru."
***
"Ternyata kau lebih cocok menjadi tukang kebun. Apakah aku perlu memecat semua tukang kebun dan membiarkanmu bekerja sendirian?"
Suara Raya membuat Biru berdiri dan berbalik.
"Silahkan. Jadi kakakmu bisa memberiku uang. Tanpa perlu aku menjual tubuh pada pemuda lain." Sindir Biru yang membuat wajah Raya pucat.
"Ka … kau. Kak Sora sangat menyayangiku. Dia pasti akan lebih mempercayai ceritaku dari pada ceritamu." Sahut Raya.
Biru tersenyum mencemooh. "Benarkah? Jika demikian, kenapa dia tetap menikahiku? Aku yakin, sebelum pernikahan, kau sudah menjelek-jelekkan aku di depannya. Iya 'kan?"
"Kau … " Raya terpojok. Ia menoleh, takut jika ada pelayan yang mendengar percakapan itu. Sambil menghentakkan kaki, Raya pergi meninggalkan Biru.
***
Menjelang makan malam…
Natsuki dan Biru duduk bersama sambil melihat majalah fashion. Biru yang merasa diperhatikan segera mengangkat wajah, namun hanya sebentar. Terlihat Raya dan Indira sedang berjalan menuju ke arah mereka.
"Kak Natsuki. Apa yang akan kakak lakukan jika ada ular betina merayap naik ke ranjang calon suami Kakak?" Tanya Biru tiba-tiba saat Raya dan Indira sudah dekat dengan mereka.
Natsuki yang tidak memalingkan wajah dari majalahnya segera menjawab pertanyaan Biru. "Tentu saja memotong kepala ular itu."
Raya yang mendengar itu menjadi semakin ketakutan. Tanpa sadar ia mencengkram tangan Indira dengan kuat.
"Ya ampun Raya! Sakit!" Pekik Indira, membuat Biru dan Natsuki kompak menatap mereka berdua.
"Ma … maaf, Ma." Ucap Raya lagi.
Keduanya berjalan melewati tempat Biru dan Natsuki duduk tanpa bersuara.
"Selamat malam." Terdengar suara Arini dari arah depan.
__ADS_1
"Hai sayang." Sahut Indira. Ternyata Indira dan Raya berencana menyambutnya.
Natsuki dan Biru tidak peduli dan memilih melanjutkan melihat majalah. Namun begitu teringat akan pertanyaan Biru, Natsuki segera menutup majalahnya.
"Kenapa bertanya seperti tadi?" Tanya Natsuki pada Biru.
"Ada seorang temanku yang sedang hamil. Pacarnya sih mau bertanggung jawab. Namun sayangnya temanku itu memergoki pacarnya sedang bercinta dengan perempuan lain." Jawab Biru. Dari sudut matanya Biru melihat, ketiga perempuan tadi sedang berjalan sambil menatapnya dan Natsuki.
"Kalau aku, aku pasti akan membunuh mereka berdua." Ujar Natsuki.
Raya yang mendengar itu semakin ketakutan. Ia menjadi sangat gelisah.
***
"Makan yang banyak ya sayang. Ini kesukaanmu, 'kan?" Arini dengan telaten mengatur makanan di piring Sora.
"Terima kasih ya." Ujar Sora tulus setelah menerima piring dari tangan Arini.
Arini melirik Biru dengan senyum puas. "Iya sayang."
Namun Arini harus menelan rasa kecewa karena Biru sama sekali tidak menggubris apa yang ia lakukan. Biru malah sibuk menyuap Ichigo yang duduk di sampingnya.
"Kenapa bukan Mama yang ambil makanan Papa? Halusnya Mama." Ucap Ichigo tiba-tiba.
"Sayang, kan tante cuma bantu Papa Ichigo." Sahut Arini dengan suara super lembut yang membuat bulu kuduk meremang.
"Ichigo sama Papa bukan sayangnya tante, tapi sayangnya Mama." Ichigo memasang wajah marah.
"Ichi." Biru mengusap punggung Ichigo dengan lembut. "Itu hanya panggilan yang menandakan Tante Arini bukan orang asing buat kita."
"Begitu ya Mama."
"Iya sayang. Lanjut makan lagi ya."
Ichigo mengangguk dan segera membuka mulut ketika Biru kembali menyuapinya.
Sora yang menyaksikan itu merasa terusik. Tidak pernah Ichigo protes terang-terangan seperti ini.
Sepertinya, Ichi sudah benar-benar menganggap Biru sebagai mamanya.
"Kakak, mulai besok aku mau tinggal di apartemen." Kata Raya dengan tiba-tiba.
"Lho? Kenapa?" Indira terlihat menatap Raya dengan dahi berkerut.
"Aku mau lebih dekat kampus saja Ma. Apalagi aku kan sudah mulai menyusun Tesis." Raya beralasan. "Mama kan tahu, aku sering terlambat bangun. Kalau di apartemen, biar terlambat, aku masih bisa ngejar dosen." Imbuhnya sambil sesekali melirik Biru.
"Bagaimana menurut kamu, Sora?" Indira meminta pendapat Sora.
"Yang penting Tesis Raya bisa selesai. Aku tidak akan mempermasalahkan yang lain." Sora menatap Raya. "Dan jaga pergaulan kamu." Sora mengingatkan.
Raya menelan ludah dengan kasar. "Iy … iya Kak."
Biru yang hanya diam menggeram dalam hati. Ia kesal Raya melarikan diri.
Dasar pengecut! Umpat Biru dalam hatinya.
Setelah makan malam, semua berkumpul di ruang keluarga. Membahas kepindahan Raya dan aturan yang diberikan Sora untuk adik bungsunya itu. Ichigo yang merasa bosan meminta Farah agar mengantarnya ke kamar.
Begitu pembahasan tentang Raya berakhir, Sora segera naik ke lantai 2. Tidak Sora sangka, Arini menyusulnya dari belakang.
Bahkan wanita itu dengan agresif menarik Sora masuk ke dalam pelukannya dan langsung mencumbu Sora. Keduanya mabuk dalam gelora asmara hingga tidak memperhatikan sekitar. Dari celah pintu yang terbuka, Ichigo menyaksikan peristiwa tersebut.
Perlahan Ichigo mundur, wajahnya terlihat sangat sedih. Ia kembali berbaring di ranjangnya dalam diam. Farah yang baru keluar dari kamar mandi segera menghampiri.
"Non Ichi kenapa?" Tanya Farah yang heran dengan perubahan raut wajah Ichigo.
Ichigo hanya menggeleng, ia lantas memejamkan matanya. Selama ini, Ichigo tidak suka jika Sora dan Arini dekat. Terlebih lagi jika tanpa sengaja Arini memeluk Sora. Ichigo memang tidak mengerti apa yang tadi sedang dilakukan Papanya dan Arini. Yang Ichigo tahu, ia tidak suka melihat kedekatan keduanya.
...****************...
__ADS_1