Hartamu Menghancurkan Keluargaku

Hartamu Menghancurkan Keluargaku
Bab. 26


__ADS_3

Biru menggeliat pelan. Tangannya memegang ke arah samping untuk kembali memeluk Ichigo.


Hmmmm .... Ichi masih tidur. Biru tersenyum masih dengan mata tertutup.


Eummmmm???? Ichi kok besar sekali ya? Batin Biru, namun masih enggan membuka mata.


Tangan Biru bergerak kesana kemari tak terkendali. Eh? Ichigo tidur sambil bawa squishy? Biru mer3m45 pelan dan segera membuka kedua matanya.


"Sudah puas r3m45-r3m45nya?" Tanya Sora yang menatap Biru dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Aaaaaaaaaaaaaa!!!" Biru refleks mengangkat tangannya dari atas celana Sora dan bergerak mundur. Bahkan setelah mencapai tepi ia segera turun dari tempat tidur.


"Ma ... maaf Bang! Maaf Bang! Ti ... tidak sengaja." Biru sudah tidak berani mengangkat wajahnya.


"Tskkkk!" Sora bergerak dengan lambat menuju kamar mandi. Sesekali ia melirik Biru, namun Biru masih tetap pada posisinya, menunduk mencari benda ajaib di lantai.


Setelah mendengar pintu ditutup, Biru segera mengambil baju ganti dan masuk ke dalam kamar Ichigo. Farah yang baru bangun terkejut dengan kedatangan Biru yang tak mengatakan apapun namun langsung masuk kamar mandi.


Suasana makan pagi terasa canggung bagi Sora dan Biru. Bahkan Biru tidak berani menatap Sora walau sebentar. Indira yang melihat itu tersenyum dalam hati. Ia mengira Sora dan Biru sedang bertengkar.


Kesempatan yang bagus untuk merusak citra Biru di mata Sora. Gumam Indira dalam hatinya.


***


"Iya Mas, aku segera kesana." Ucap Biru pada seseorang diujung sambungan telepon. Dengan senyuman yang tidak pernah luntur, Biru pun bergegas keluar dan menolak diantar supir. Biru lebih memilih untuk naik taksi.


Beberapa kemudian Biru tiba di sebuah restoran yang menjadi tempat pertemuan. Biru terlihat sangat cantik dengan dress berbahan denim dan sepatu sneakers berwarna putih. Ia juga mengikat semua rambutnya. Membuat siapa saja yang melihat tidak akan percaya jika usianya sudah kepala 2.


Setibanya di dalam restoran, Biru sudah ditunggu oleh Jimmy dan diantar menuju sudut restoran yang sepi.


"Mas." Biru terlihat bahagia bertemu dengan Arya.


"Dek." Arya merentangkan kedua tangannya. Membuat Biru segera masuk ke dalam pelukan Arya.

__ADS_1


"Biru kangen sama Mas."


"Iya, Mas juga." Sahut Arya sambil mengusap kepala Biru.


Setelah beberapa menit, Arya mulai merasa sesak. Rupanya Biru semakin mengeratkan pelukannya.


"De ... Dek. Le ... pas." Nafas Arya mulai terengah.


"Tidak." Jawab Biru sambil menyeringai dalam pelukan Arya.


"Aduh, Biru." Arya mengerahkan seluruh tenaganya. Akhirnya dekapan Biru pun terlepas.


Arya segera menarik nafas dalam-dalam. Mencoba mengisi seluruh rongga dadanya dengan oksigen. Melihat itu, bukannya iba, Biru malah tersenyum puas. Sedangkan Jimmy hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah Biru.


Ia awalnya mengira akan tercipta suasana syahdu dengan atmosfer penuh kasih sayang karena kedua saudara kandung itu sudah lama tak bertemu. Ternyata realita tak seindah ekspektasi.


"Salah sendiri, Mas tidak pinjamin aku uang. Sudah begtiu, mengizinkan aku menikah sama Sora." Biru merajuk. "Kalau waktu itu Mas ngasih uang 'kan aku tidak perlu menikah."


"Kalau waktu itu kamu tidak pulang ke Malang, kamu tidak perlu menikah." Arya membalik ucapan Biru.


Biru ingin mengatakan sesuatu ketika seorang pelayan datang membawa kopi dan juga butter croissant sebagai teman minum kopi. Oleh sebab itu mereka menunggu hingga si pelayan pergi.


"Tadi mau bilang apa?" Tanya Arya setelah menyesap kopinya.


"Apa yang membuat Mas pulang?"


"Romanov."


Kedua alis Biru terangkat. "Dia menelepon? Cepat sekali langsung mengadu."


"Dia mendatangi Mas." Arya menatap tajam. "Kenapa tidak bilang kamu mau dibunuh?"


Biru tersenyum tipis. "Kan tidak jadi Mas."

__ADS_1


Arya mengusap wajahnya dengan kasar. "Nyawa bukan mainan, Dek!" Sentaknya kesal.


"Aku juga tidak bermain, Mas. Kalau aku tidak dapat mengatasinya, aku pasti akan cerita ke Mas." Sahut Biru membela diri.


Hhhhhhh


Terdengar helaan nafas kasar dari Arya. Ia menyesap kopinya lagi untuk menjeda obrolan yang tensinya mulai naik ini.


"Sebenarnya bukan hanya itu yang membuat Mas pulang."


"Lalu?"


"Ramdan."


1 kata yang terucap dari mulut Arya itu membuat Biru mematung. Dengan rahang mengeras dan mata menatap tajam, Biru memandangi Arya. Aura membunuh memenuhi lingkungan itu. Membuat Jimmy semakin waspada jika tiba-tiba Biru mengamuk.


"Apa yang Mas sembunyikan?"


Arya terlihat ragu, namun sudah tidak ada jalan untuk kembali. "Mas ... Mas tidak membunuh Ramdan."


"Mas!!!" Biru menggebrak meja dan berdiri.


Disaat bersamaan Jimmy mengeluarkan Taser Gun dan menodongkannya pada Biru.


Arya mengangkat tangan meminta Jimmy menurunkan senjata kejut listrik ditangannya. Sedangkan Biru segera menoleh sesaat pada Jimmy dan kembali menatap Arya dengan penuh kemarahan.


Suasana menjadi begitu hening. Beberapa pelayan yang sempat melihat Jimmy mengeluarkan senjata bahkan sampai membeku di tempatnya masing-masing. Beruntung posisi mereka sedikit tersembunyi dan restoran sedang sepi karena belum jam makan siang.


Setelah berhasil menenangkan diri, Biru akhirnya duduk kembali.


"Kenapa Mas tidak membunuhnya?" Tanya Biru pada akhirnya.


"Karena dia tidak membunuh orang tua kita."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2