Hartamu Menghancurkan Keluargaku

Hartamu Menghancurkan Keluargaku
Bab. 36


__ADS_3

Arya menatap tajam ke meja bar di depannya. Seorang wanita dengan angkuhnya duduk menyesap minumannya. Berlagak anggun sambil menolak ajakan beberapa pria untuk bergabung.


Arya maju dan berhenti tepat di samping Arini.


"What can I get for you, Sir?" Tanya Sang Bartender pada Arya.


"A pint of Remedy, please." Pinta Arya pada Sang Bartender.


"Certainly, Sir. A pint of Remedy is coming up."


Arya melakukan semuanya itu tanpa menoleh sedikit pun pada Arini.


Dari salah satu sudut, seorang anak buahnya mendekati Jimmy.


"Jim, apa Tuan tahu menggoda wanita? Kenapa Tuan cuek begitu?"


Jimmy menoleh menatap rekannya dengan datar. "Apa kau tahu kalau Tuan bisa mendengar semua percakapan kita?" Jimmy balik bertanya sambil memegang alat bantu dengar di telinganya sendiri.


Sementara itu Arya yang mendengar ucapan anak buahnya dengan jelas hanya bisa menghela nafas.


Ketika pesanannya datang, Arya tidak beranjak kemana-mana. Ia memilih tempat duduk yang ada di sebelahnya. Menyisakan satu buah kursi kosong antara dia dan Arini.


Dari sudut matanya, Arya tahu kalau Arini mencuri-curi pandang ke arahnya. Tidak mungkin wanita itu bisa menolak, suit mahal, ditambah parfum dengan aroma favorit Arini. Paket lengkap.


Arya telah mempelajari daftar pria yang berkencan dengan Arini. Bukan hanya sekedar kaya, Arini cenderung menyukai pria dari kalangan old money.


"Ehm!" Arini berdehem. "Hi, Asian?" Arini membuka percakapan.

__ADS_1


Arya menoleh sejenak. "Indonesia." Jawabnya singkat dan kembali menyesap minumannya.


"Wah, sama dong." Arini terlihat antusias. "Boleh duduk di samping kamu?" Tanyanya seakan-akan sudah akrab.


"Boleh." Lagi-lagi Arya bersikap cuek.


Tapi Arini semakin penasaran. Setelah duduk cukup dekat, Arini mengamati sejenak penampilan Arya.


Tidak salah, ini suit dari Savile Row. Batin Arini setelah mengenali suit buatan penjahit terkenal di London.


"Di Indonesia tinggal dimana?" Tanya Arini sambil mengamati wajah Arya. Mirip sama siapa ya?


"Eum, sebenarnya aku sudah lama tinggal di Hongkong." Jawab Arya.


"Wah, tapi bahasa Indonesia kamu masih bagus." Puji Arini.


Arya sudah menyelesaikan minumannya, ia mengeluarkan black card miliknya dan menyerahkan itu pada bartender.


"Apa kau keberatan?" Tanya Arya pada Arini disertai tatapan yang dalam.


Arini terkesiap. "Ten ... tentu saja tidak." Dadanya berdebar, tatapan Arya membuatnya melayang.


Arya membayar minuman miliknya dan juga Arini. Namun sebelum pergi ia memberi dua lembar uang £20.


"For you."


"Thank you, Sir."

__ADS_1


Arini mendengus kesal, Arya tidak mengajaknya pergi. Namun ia tidak ingin kehilangan mangsa. Arini bergegas menyusul.


"Kenapa membayar pakai kartu kredit kalau punya uang cash?" Tanya Arini saat ia berhasil mensejajarkan langkah dengan Arya.


"Sejujurnya, itu uang cash terakhir yang ada di dompet. Tidak cukup untuk membayar minuman kita berdua." Jawab Arya tidak sepenuhnya jujur. Karena Jimmy yang memegang sisa uang yang lain.


Tiba di luar Bar, Arya berhenti. "Terima kasih sudah menemani minum. Permisi."


"Eh, tunggu." Arini menangkap tangan Arya. Tapi ia segera melepas saat Arya menatap tangan mereka. "Maaf." Ucap Arini dengan wajah dibuat semanis mungkin.


Arya diam-diam tersenyum sinis. "Ada apa?" Tanyanya pada Arini dengan suara rendah. Membuat Arini merinding sekaligus semakin bersemangat untuk mendapatkan Arya.


"Sebenarnya tadi aku menunggu teman. Tapi dia tidak datang. Apa kamu bisa mengantarku pulang?" Tanya Arini, ia sedang berbohong. Jelas-jelas ia datang hanya untuk mencari mangsa.


Arya pura-pura menghembuskan nafas dengan berat.


"Baiklah. Ayo ikut."


Jawaban Arya membuat Arini bersorak girang dalam hatinya.


Arya berjalan menuju mobil yang sudah Jimmy siapkan. Bugatti Chiron, yang Arya pinjam dari seorang rekan bisnisnya.


Jimmy dan rekannya yang berdiri tak jauh dari bar menggeleng-gelengkan kepala.


"Andai Tuan melakukan hal yang sama saat sungguh-sungguh menarik perhatian seorang gadis. Bukan jebakan seperti ini." Gumam Jimmy pelan.


"Andai kau ingat Tuan bisa mendengar semua percakapan kita." Imbuh rekannya lagi membuat netra Jimmy membeliak.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2