
"Tuan, saya sudah siap." Ucap Biru sambil menyeret dua buah koper berukuran besar. Hari ini mereka akan pulang ke Jakarta.
"Hanya itu?" Tanya Sora.
"Ya. Jika ada yang saya perlukan, saya akan membelinya di Jakarta."
Sora mengangguk, ia segera mengeluarkan sebuah kartu dari dalam dompetnya.
"Gunakan ini untuk berbelanja. Bagaimanapun, kau adalah istriku."
"Tidak perlu. Saya punya uang untuk memenuhi kebutuhan saya sendiri." Tolak Biru tanpa berpikir panjang. "Lagipula ini hanya pernikahan palsu. Anda tidak wajib menafkahi saya." Imbuh Biru. Ia berani mengatakan itu karena saat ini mereka hanya berdua.
Sora menatap Biru dalam-dalam, dan dengan berani Biru membalas tatapan Sora.
"Kau mengatakan pernikahan palsu dengan begitu mudah. Apakah kau tidak punya perasaan?" Akhirnya Sora menanyakan hal yang membuatnya penasaran. Karena selama ini Biru terlalu dingin dan tak berperasaan di depan Sora.
"Pernah punya." Jawab Biru dengan tenang.
Tepat disaat yang hampir bersamaan, Zayn masuk bersama beberapa petugas hotel untuk mengambil barang-barang.
"Pergilah lebih dulu, Ichigo sudah menunggu di lobi." Ucap Sora pada Biru.
"Iya Tuan." Biru segera berbalik meninggalkan Sora.
Sora menatap kepergian Biru kemudian memijat pelipisnya.
"Zayn."
"Ya Tuan."
"Tidakkah menurutmu Biru sangat aneh? Pernikahan ini palsu, namun karena tidak tahu, ibu, Raya dan Arini jadi membencinya. Tapi sepertinya dia biasa saja dan tidak tertekan."
"Bukankah itu bagus, Tuan? Anda tidak perlu mengkhawatirkan Nona Biru akan melibatkan perasaannya." Zayn memberikan pendapat.
"Ya, tapi … " Sora berdiri sambil berkacak pinggang. "Kau tahu, tadi aku bertanya apakah dia tidak memiliki perasaan. Dan jawabannya adalah per..nah..pu…nya." Sora menekankan setiap suku kata dari jawaban Biru.
Zayn terdiam sesaat. "Itu unik." Ujar pemuda itu lagi.
"Hahhhh!!! Sudahlah, ayo kita kembali."
***
Hari sudah menjelang sore ketika mereka tiba. Kediaman Kinomoto berdiri di atas lahan yang sangat luas. Namun semua itu tidak menarik perhatian Biru. Ia hanya menarik nafas dalam-dalam ketika akan memasuki rumah. Ichigo yang sudah terlelap telah lebih dulu masuk digendong oleh Farah.
"Selamat datang, Nyonya Muda." Sapa para pelayan yang sudah berdiri dengan rapi di pimpin oleh seorang pria tua.
Natsuki segera memeluk lengan Biru. "Ini adalah Paman Ben. Dia kepala pelayan di rumah ini." Ujar Natsuki.
"Halo, Paman. Saya Biru. Senang bertemu dengan anda." Ucap Biru sambil sedikit membungkuk.
"Senang bertemu anda, Nyonya Muda." Balas Paman Ben.
"Paman, tolong minta beberapa pelayan membersihkan kamarku. Aku akan tinggal disini lagi." Pinta Natsuki.
"Apa?!" Raya yang baru akan masuk terkejut.
"Kenapa? Ini kan rumah orang tua kandungku." Jawab Natsuki.
"Aku … "
"Raya hanya terkejut, dia senang kalau kakak perempuannya pulang." Indira memotong ucapan Raya.
"Ngobrolnya di dalam saja." Ujar Sora yang masuk diikuti Arini. "Arini, pulanglah. Aku lelah dan tidak akan menemanimu."
Arini yang diperlakukan seperti itu segera menekuk wajahnya.
"Sayang … " Ucapan Arini terjeda karena Paman Ben segera menatapnya dengan tajam.
"Nyonya Indira, makanan sudah dibuat sesuai permintaan anda." Kata Paman Ben pada Indira.
Kedua tangan Indira mengepal. Ia menahan kesal. Meski dia adalah istri sah mendiang Jun Kinomoto, namun ia tidak dipanggil Nyonya Besar. Malahan Biru yang baru menikah dengan Sora, sudah dipanggil Nyonya Muda, sapaan yang selama ini diinginkan Indira. Cara Paman Ben memanggilnya membuat Indira selalu merasa kalau dia adalah orang asing.
"Terima kasih, Ben." Indira berjalan dengan cepat meninggalkan tempat itu diikuti oleh Raya.
"Tante … bagaimana dengan aku?" Tanya Arini. Namun sayangnya Indira tak menggubris pertanyaan gadis itu. Arini menghentakkan kaki dan berbalik pergi. Mulutnya terlihat komat kamit, ia menggerutu.
"Hahaha." Natsuki tertawa bahagia. "Ayo kakak ipar, aku akan mengantarmu ke kamar kalian." Natsuki yang masih memeluk lengan Biru segera menarik gadis itu untuk mengikutinya.
Setibanya di lantai dua, Natsuki langsung memberi informasi.
"Seluruh bagian di sebelah kanan dari tangga adalah area pribadi Sora dan Ichigo. Pintu paling ujung di sana adalah kamar kalian berdua. Bersebelahan dengan kamar Ichigo. Kemudian ruang kerja, gym, dan ruang berlatih balet bagi Ichigo. Di depan kamar kalian ada sebuah pantry."
Natsuki memberi penjelasan panjang lebar.
"Bagaimana dengan sebelah kiri?" Tanya Biru.
"Kamarku dan kamar mendiang orang tua kami."
"Lalu, Nyonya Indira dan Raya?"
"Mereka berdua di lantai 1. Kau akan punya banyak waktu luang. Jadi mulai besok aku akan memberi home tour agar kau tidak tersesat di dalam rumah ini." Ucap Natsuki diiringi tawa kecil.
Biru tersenyum. "Terima kasih banyak."
"Pergilah, temui suamimu." Natsuki mendorong lengan Biru dengan pelan.
Biru berdecak, namun ia tetap melangkah ke kamar yang sudah dikatakan Natsuki. Sebelum masuk, Biru mengetuk pintu. Namun baru saja ingin mengetuk, daun pintu sudah terbuka hingga kepalan tangan Biru hampir mengenai wajah Sora.
"Baru jadi istri sudah berani memukul, hmm?"
"Maaf Tuan. Saya tidak tahu kalau Tuan akan membuka pintu."
"Hhhhh…. Masuklah." Sora kembali ke dalam kamar dan Biru segera menyusul.
Kamar yang didominasi warna putih dan silver itu terlihat sangat rapi. Tidak terlalu banyak perabotan di dalam kamar, hingga terlihat banyak ruang yang semakin menambah kesan luas.
"Kemarilah." Panggil Sora yang berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
Meski ragu, Biru melangkah mendekati Sora.
"Ini adalah walk in closet." Ucap Sora dan masuk semakin dalam. "Disana kamar mandinya." Ia menunjuk sebuah pintu yang tidak jauh dari pintu masuk.
"Kopermu sudah ada disini." Sora memberi tahu. "Kau bisa mengatur bajumu. Sebelum aku mandi." Setelah mengatakan hal itu, Sora segera pergi.
Dia cukup ramah untuk ukuran suami gadungan. Gumam Biru.
Biru segera menata bajunya di dalam walk in closet. Namun tidak semua ia keluarkan dari dalam koper. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan. Jadi dia tidak akan membuat dirinya nyaman di rumah itu.
Setelah selesai, Biru masuk ke dalam kamar mandi dan mengisi bathtub dengan air hangat. Kemudian ia menyisir walk in closet untuk melihat penataan baju Sora. Setelah mendapat yang ia cari, Biru menyiapkan baju untuk suami palsunya dan meletakkan baju itu di atas ottoman persegi.
"Apakah sudah selesai?" Tanya Sora yang akan mandi.
"Sudah Tuan. Dan ini baju anda." Jawab Biru dan langsung keluar.
Sora menatap ke arah ottoman itu untuk sesaat. Kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi. Ketika ia sudah selesai mandi, ia tidak memakai baju yang Biru siapkan. Sora memilih bajunya sendiri.
Sora keluar dari walk in closet dan mencari Biru. Ternyata gadis itu sudah tertidur di atas sofa. Sora mengambil selimut dan menutupi tubuh Biru.
***
Biru menggeliat, ia membuka matanya perlahan. Niatnya untuk baring-baring sebelum tidur. Tapi ternyata ia malah benar-benar tertidur. Biru melihat selimut yang menutupi tubuhnya.
"Pasti Tuan Sora yang menutupiku." Ujar Biru dengan suara lirih. Kemudian ia menatap ke atas tempat tidur, tampak Sora masih lelap.
"Dia tidak memakai baju yang aku siapkan."
Namun Biru tidak peduli. Ia turun dari sofa dan masuk ke dalam kamar mandi untun membersihkan diri. Setelahnya, ia menyiapkan baju Sora dan meletakkannya kembali di atas ottoman.
Biru keluar dari kamar setelah mendapat pesan dari Natsuki. Hari ini setelah makan pagi, ia akan berkeliling rumah ditemani oleh Natsuki dan Ichigo.
Selama beberapa jam, Biru berkeliling rumah. Kini Biru duduk sendiri di tuang tengah karena Natsuki menerima telepon dari Andre. Sedangkan Ichigo, ia sudah bosan meminta Farah menemaninya menggambar.
"Ooo, jadi Nyonya besar sudah menikmati posisinya dan bermalas-malasan." Suara Raya terdengar mendekat.
"Maklum, orang miskin tiba-tiba menjadi istri orang kaya." Imbuh Indira.
"Betul itu Ma. Sedikit lagi kita akan melihat ketamakan orang miskin ini."
Biru hanya menatap dua orang di depannya dengan datar.
"Dasar tidak tahu malu. Tidak punya muka." Umpat Raya.
Tiba-tiba ponsel Indira berdering. "Sayang, Mama terima telepon ini dulu." Indira pergi dengan terburu-buru dengan senyum sumringah di wajahnya.
Raya hanya menatap sesaat kemudian ia menoleh ke sekeliling mereka. Setelah dirasa aman, ia menatap Biru dengan tajam.
"Hei l0nt3! Aku sudah tahu tentang perjanjian kalian soal rumah keluargamu. Jadi, jika kau ingin rumah itu, jangan pernah mengadu pada Kak Sora tentang masa lalu kita. Jika tidak, kau tidak akan pernah melihat rumah itu lagi." Ucap Raya penuh ancaman.
Biru melipat tangan di depan dada dan menatap Raya dengan sinis. "Kau pikir aku takut denganmu?" Biru menatap Raya dengan tajam. "Lain kali, jika ingin menyingkirkanku, kirim lebih banyak orang. Preman-preman itu tidak berguna sama sekali."
Raya terkejut, ia tidak menyangka Biru akan mengetahui ulahnya dengan cepat.
"Ap … apa maksudmu?" Raya mulai gugup. Dia berusaha untuk berkilah. "Lagipula, aku tidak tahu menahu soal penyerangan mu di depan swalayan itu."
Kedua alis Biru terangkat. "Bagaimana kau tahu aku diserang di halaman swalayan? Padahal aku tidak pernah mengatakannya." Ujar Biru dengan senyum sinis.
***
Sore harinya, mereka berkumpul di taman untuk menikmati teh sore. Sebenarnya Biru tidak ingin bergabung, namun ia penasaran dengan rencana jahat Indira kepadanya.
Di taman sudah disiapkan sebuah meja bulat yang besar. Terlihat sudah ada Indira, Raya dan Arini disana. Tanpa gentar, Biru mendekat dan langsung duduk.
"Biru, coba rasa kue ini. Rasanya sangat enak." Arini menyodorkan sepotong kue. Biru mencicipi kue tersebut.
"Bagaimana?" Tanya Arini antusias.
"Enak."
"Syukurlah. Itu kue permintaan maaf atas kekasaranku kemarin. Aku membuatnya sendiri." Sahut Arini.
"Arini begitu pandai membuat kue. Kalau kau, apa yang bisa kau masak?" Tanya Indira dengan tatapan meremehkan.
Tanpa berpikir, Biru menggeleng. "Tidak ada."
"Sudah kuduga. Lihatlah Arini. Cantik, seorang model, pintar membuat kue lagi. Dia sempurna bagi Sora."
Biru hanya mengangguk-anggukkan kepala tanpa berniat untuk mengatakan sesuatu.
Seorang pelayan tiba membawa beberapa cangkir teh. Setelah menatanya, ia segera berdiri di salah satu sisi bersama rekannya yang lain.
Biru segera mengambil teh miliknya dan minum. Baru seteguk, Biru segera berdiri dan membuang teh di dalam mulutnya ke arah samping.
"Menantu, ada apa?" Tanya Indira dengan wajah cemas yang dibuat-buat. "Apa rasanya tidak enak?"
"Tapi punyaku baik-baik saja, enak seperti biasa." Arini menimpali.
Biru berdiri, ia menghampiri pelayan yang membawa teh tadi. Pelayan yang melihat kedatangan Biru pun hanya bersikap tenang, bahkan menatap Biru.
"Ada apa nyo … aaakkhhh!!!" Pelayan itu terhuyung ke belakang sambil memegang pipinya yang terasa sakit akibat tamparan Biru.
Setelah menampar pelayan di hadapannya, Biru menatap yang lain dengan tajam. Ia melakukan itu agar menjadi pelajaran bagi yang lain.
"Biru, jangan berlebihan. Teh ini baik-baik saja. Jangan memukul orang yang tidak bersalah!" Ucap Indira dengan wajah marah.
"Ada apa ini?" Tanya Sora yang baru saja datang bersama Paman Ben.
"Sayang." Arini berdiri dan menyambut Sora. "Biru hanya sedikit kesal. Jadi dia menampar pelayan tak bersalah itu." Ucapan Arini terdengar begitu lembut. Ia bahkan menarik tangan Sora agar duduk di sampingnya dan Sora hanya menurut.
Biru diam, ia kembali duduk dengan tenang.
Ayo, apalagi yang akan kalian katakan? Gumam Biru dalam hatinya.
"Memangnya apa kesalahan pelayan itu?"
"Istri mu meludahkan kembali teh yang baru saja ia minum. Mungkin teh miliknya tidak enak. Padahal teh kami baik-baik saja." Adu Indira.
__ADS_1
"Mungkin Biru ingin lebih dilayani. Maklumi saja sayang, dia baru dengan kemewahan ini." Timpal Arini sambil menyodorkan sepotong kue untuk Sora. Namun Arini segera memotong menjadi bagian yang lebih kecil dan menyuap Sora. Seperti anak kecil, Sora membuka mulutnya menerima suapan Arini.
Arini tersenyum penuh kemenangan. Sedangkan Biru benar-benar tidak peduli dengan kemesraan Sora dan Arini.
Sora yang melihat sikap Biru semakin kesal.
Apakah dia tidak bisa membela dirinya sendiri? Atau mungkin benar yang dikatakan Arini, oleh sebab itu dia hanya diam saja.
"Biru, katakan padaku. Bagaimana pelayan di rumah ini harus melayani mu agar kau tidak sembarang memukul orang?" Tanya Sora sambil menyesap teh miliknya. "Teh ini enak." Gumamnya lagi.
"Saya … " Belum sempat Biru menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Ichigo datang sambil berlari.
"Mamaaaa. Haus." Dengan cepat ia mengambil teh milik Biru.
"Jangan!" Pekik Biru dan pelayan tadi bersamaan. Namun terlambat.
"Bbbuuuffffffff!!!" Ichigo menyemburkan tehnya. "Mama mama." Gadis kecil itu panik dan menjulurkan lidahnya. Sang pelayan jatuh terduduk dengan tubuh bergetar.
"Minum ini sayang." Biru segera menyodorkan segelas air putih.
Sora pun beranjak dari tempat duduknya dan berjongkok di depan Ichigo. Pria itu mengambil tisu dan membersihkan mulut putrinya.
"Sepelti ail laut, papa." Ujar Ichigo tanpa ditanya. "Tidak enak."
Mendengar itu Sora langsung mengambil teh milik Biru dan meminumnya.
"Tuan ja … ngan!" Sia-sia Biru melarang.
"Bbuufffff!!!"
"Tidak enak kan Papa." Ichigo menatap Sora dengan meringis.
"Farah, bawa Ichigo ke dalam." Titah Sora.
"Baik Tuan." Farah segera menggendong Ichigo ke dalam.
"Mama." Ichigo tidak mau pergi.
"Nanti Mama menyusul Ichigo." Sahut Biru dijawab oleh anggukan gadis itu.
Indira, Arini dan Raya diam membisu. Tubuh ketiganya menegang.
"Paman Ben, pecat pelayan yang membuat minuman untuk istriku."
"Baik Tuan."
Paman Ben segera masuk ke dalam rumah untuk mengambil gaji dan pesangon.
"Tuan, am … ampuni saya. Nona Arini, tolong … "
"Pelayan tidak tahu diri!" Indira berdiri dan memukul pelayan tersebut. "Berani-beraninya kamu!"
"Nyonya, saya … "
Plakkkk!!!!
"Diam!!!" Sekali lagi Indira memukul wanita itu. Biru merasa iba, ia sadar, pelayan itu hanya diperalat oleh ketiga wanita di depannya.
Beberapa menit kemudian, Paman Ben kembali dengan beberapa petugas keamanan. Mereka membawa pelayan tadi pergi.
Biru mendesah kecewa. Sudah selesai? Cuma begini saja? Membosankan. Keluh Biru. Ia menginginkan pertunjukan yang lebih seru yang bisa disuguhkan oleh Indira cs.
"Saya permisi, ingin menemani Ichigo, sesuai janji saya."
"Tunggu." Sora berusaha mencegah, namun Biru tetap berdiri dan segera melangkah pergi.
***
Keesokan paginya, Biru terlambat untuk sarapan karena harus mengurus Ichigo terlebih dahulu. Gadis kecil itu sedang tantrum hingga Farah kewalahan menghadapinya.
Setibanya Biru di ruang makan, ia melihat Arini sedang meletakkan roti di piring Sora.
"Maaf aku melayani Sora. Kulihat kau sibuk dengan Ichigo." Ujar Arini dengan lembut.
"Tidak apa-apa. Lagipula sepertinya kau terbiasa melayani suami orang." Sahut Biru. Natsuki tertawa kecil mendengar ucapan Biru.
Apalagi Biru terlihat santai meminum jus yang baru dihidangkan Paman Ben untuknya. "Terima kasih Paman. Jusnya enak."
"Sama-sama Nyonya Muda. Ini sudah tugas saya." Jawab Paman Ben.
Sora menatap Biru seakan tak percaya. Lidahnya benar-benar tajam. Lirih Sora.
Sedangkan Arini, diam-diam mengepalkan tangan menahan amarah.
Biru menyelesaikan makannya dengan cepat. Sebab ia masih akan kembali melihat Ichigo.
"Permisi, saya harus melihat Ichigo." Biru berdiri dan kembali ke lantai dua.
"Aku ikut." Natsuki menyusul. Meninggalkan Sora, Arini, Indira dan Raya di meja makan.
Arini mengambil kesempatan itu untuk mengambil hati Sora. Sebab semenjak Sora melihatnya memukul dan memaki Biru, Arini merasakan perubahan sikap Sora kepadanya.
Namun Sora malah menjauhkan piring. Ia sudah tidak berselera untuk makan. Pagi ini ia kecewa karena ditolak Ichigo yang sedang tantrum. Ditambah lagi suasana di meja makan yang tidak nyaman, membuatnya merasa tertekan.
"Aku akan melihat Ichigo juga." Ujar Sora dan langsung pergi. Ia bahkan menulikan telinganya, tidak peduli dengan teriakan Arini.
Sesampainya di kamar Ichigo, ia melihat Biru sedang menggendong putrinya. Ichigo yang merasa mulai tenang segera minta turun dan ingin bermain bersama Natsuki yang sedang menyisir boneka barbie.
Sora mendekati Biru dan ikut berdiri mengawasi Ichigo.
"Jangan siapkan baju lagi untukku." Bisik Sora pada Biru.
"Saya tidak ingin hanya makan, minum dan tidur secara gratis. Jadi hanya itu yang bisa saya lakukan." Jawab Biru juga dengan bisikan.
Sora menatap Biru secara terang-terangan. Namun Biru tetap acuh, bahkan ia ikut duduk di playmate dan bermain bersama Natsuki dan Ichigo.
...****************...
__ADS_1