
Saat tiba Rumah Sakit, hanya ada Natsuki dan Paman Ben di depan tempat pertolongan pertama untuk Raya.
"Bagaimana?" Tanya Sora pada Natsuki.
"Di dalam ada 2 orang perawat, mereka yang terus memantau kondisi Raya." Jawab Natsuki. "Astaga, aku tak percaya bisa ikut menolong ****** kecil itu." Imbuh Natsuki sambil memijat pelipisnya.
"Mungkin jauh di dalam lubuk hatimu kau sangat menyayangi Raya." Cibir Biru.
"Jangan asal." Sergah Natsuki.
Sora berdiri. "Aku butuh kopi."
"Aku ikut." Biru segera menyusul Sora yang pergi mencari mesin penjual kopi otomatis.
Saat melewati sebuah lorong yang sepi, langkah Biru terhenti. Ia mendengar suara seorang wanita yang sedang menangis. Begitu juga dengan Sora.
Keduanya berhenti di mulut lorong dan bersembunyi di balik dinding.
"Itu suara Ibu." Bisik Sora.
Biru hanya mengangguk.
"Jika terjadi sesuatu pada putriku, aku tidak akan membiarkanmu Indi." Suara seorang pria terdengar penuh penekanan dan sarat akan kemarahan.
__ADS_1
"Kau tahu sendiri aku begitu membenci Keluarga Hamel setelah mereka menghinaku." Indira membela diri di sela-sela tangisnya.
"Tapi jangan kau siksa Raya. Meski aku begitu mencintaimu, aku juga bisa menyiksamu jika terjadi sesuatu pada kesayanganku."
"Kau kejam Hasan."
"Bukankah kau juga sama? Raya itu putri kita, bagaimana kau tega mendesak Raya seperti itu."
Kalimat terakhir yang mereka dengar membuat genggaman Sora di tangan Biru semakin kuat. Namun Biru tidak mempermasalahkan itu, karena ia pun terkejut.
Biru merasa tangannya bergerak, dan dengan cepat ia kembali menarik Sora yang akan mendatangi Hasan dan Indira. Sora menatap Biru dengan tatapan tidak terima. Biru menggeleng, bahkan Biru langsung mengajak Sora untuk kembali.
Biru tidak menuju Natsuki, ia terus menarik Sora hingga tiba di tempat parkir. Biru memaksa Sora untuk duduk di kursi penumpang, ia sendiri yang akan menyetir. Sora tidak membantah, ia tetap diam.
Hal itu membuat tugas Biru menjadi lebih mudah. Dengan cepat ia mengarahkan mobil ke jalan raya.
"Ayo turun." Ajak Biru.
Meski keningnya berkerut, Sora tetap mengikuti kemana Biru pergi. Mereka berjalan terus ke belakang. Bisa Sora lihat kalau Biru cukup di kenal di tempat pencucian tersebut.
"Biru?" Pak Tio yang sedang memeriksa mesin sebuah mobil terkejut melihat kedatangan mereka.
"Pak Tio. Perkenalkan ini Sora. Suami saya."
__ADS_1
Sora segera mengulurkan tangan dan disambut oleh Pak Tio.
"Sora."
"Tio. Jadi inilah pria beruntung itu." Pak Tio tersenyum menggoda Biru.
"Ya begitulah." Jawab Biru diiringi tawa kecil. "Boleh pinjam gym?" Biru mengutarakan tujuannya.
"Ya, pakai saja. Tidak akan ada yang mengganggu kalian." Pak Tio segera meneruskan pekerjaannya.
Biru mengajak Sora berjalan menuju sebuah ruangan yang pintu besinya sudah berkarat. Di dalam ruangan tersebut terdapat beberapa alat bantu berlatih dan berolahraga. Meski pintunya jelek, tapi peralatan di dalam masih bagus bahkan baru.
Biru mendekati sebuah samsak yang tergantung disana.
"Lampiaskan disini."
Biru menatap Sora penuh arti. Kemudian mendekati sebuah lemari dan mengambil pembalut katun dan mulai membalut kedua tangan Sora. Setelah itu barulah Biru memasangkan sarung tinju.
Begitu tugas Biru selesai, Sora langsung berdiri dan mulai meninju samsak. Dari suara yang dihasilkan, Biru bisa tahu seberapa besar tenaga yang Sora keluarkan.
Biru membiarkan Sora melampiaskan semua kemarahan yang bercokol di hatinya. Kemudian Biru keluar dari ruangan itu untuk memberi makan hewan peliharaannya.
Biru tahu memberi waktu agar Sora melampiaskan semua kemarahan dan kekecewaannnya. Yang dianggap adik selama ini ternyata sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengan Sora. Raya adalah anak hasil perselingkuhan Indira dan Hasan, orang kepercayaan Jun.
__ADS_1
Biru jadi menemukan titik terang pengkhianat yang dicurigai mendiang Jun hingga Papa Sora itu mengirim sertifikat kepada ayah Biru.
...****************...