
Indira dan Hasan sudah diamankan, lingkungan rumah tua itu juga sudah dibereskan oleh anak buah Arya. Entah kemana mereka membuang mayat-mayat anak buah Hasan.
Nenek Keyko, Bibi Lun, Farah dan Ichigo lebih dulu dibawa ke Rumah Sakit. Sedangkan Natsuki masih ingin bersama dengan Sora dan Andre.
"Biru, apa kau terluka?" Tanya Sora setelah mengumpulkan keberanian menghampiri Biru.
"Aku ... baik-baik saja." Jawab Biru.
Meski terlihat biasa, Sora tahu Biru menyembunyikan sesuatu. Sora ingin bertanya lebih lanjut, namun ia mengurungkan niatnya.
Di dekat mereka berdiri, Arya dan Kilian sedang berbicara.
"Aku rasa The Eagle akan balas menyerang." Gumam Arya.
Kilian menggeleng. "Tidak, mereka hanya meminjamkan sedikit anak buah pada Hasan. Jika tidak, mana mungkin Hasan menyewa ku." Jelas Kilian.
"Dimana kalian bertemu?" Tanya Biru antusias.
"Lewat Choky, anak buah Hasan. Tampaknya ia punya banyak kenalan seputar Hit Man [pembunuh bayaran]."
Dari jawaban Kilian, Biru menduga Choky jugalah yang menyewa Romanov.
Saat mereka akan bergerak ke kendaraan masing-masing, salah seorang anak buah Arya datang sambil berlari. Ia terlihat terluka.
"Bos, pria itu ... pria itu." Pemuda tersebut terjatuh.
"Dia melumpuhkan kalian? Dimana rekanmu yang lain?" Tanya Arya pada anak buahnya.
__ADS_1
"Pura-pura mati."
Biru tersenyum puas mendengar jawaban itu. Tak lama kemudian ponsel Sora berdering.
"Dari Hasan." Sora memberitahu.
Mereka semua segera mengelilingi Sora ketika Sora mengangkat telepon dan mengaktifkan loudspeaker.
"Kalian jangan senang dulu. Aku akan menghancurkan kalian. Terima kasih untuk mobilnya."
Sementara mendengar Hasan berbicara, Biru sudah mengeluarkan peluit khusus miliknya.
"Kalian harus membayar hutang." Desis Sora.
Terdengar gelak tawa dari Indira dan Hasan. Tidak menunggu lama, Biru segera meniup peluit khusus tersebut. Membuat semua yang ada disitu menatapnya dengan heran.
"Tolong!"
"Aaaa ... jangan gigit!"
"Lepaskan!"
"Aaaa ... sakit ... tolong!"
Teriakan-teriakan itu terdengar bersamaan diiringi geraman dan suara anjing sedang menggigit dan mencabik mangsa.
Tatapan mengerikan mereka layangkan pada Biru. Sedangkan Biru, ia balas menatap semua yang ada di situ satu per satu tanpa merasa bersalah.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Biru dengan santai. "Aku hanya memberi makan anjing peliharaan ku." Biru mengucapkan itu tanpa beban.
"An eye for an eye."
***
Rumah Sakit, Ruang Perawatan Raya...
Raya sudah siuman, dan kini ia sedang diperiksa oleh dokter dan perawat. Namun pikirannya tidak tenang. Ia segera teringat akan Indira yang mendesaknya untuk menggugurkan kandungan.
Raya menatap ke sekeliling ruangan, ia merasa lega tak melihat keberadaan Indira. Namun rasa takut tidak pergi begitu saja. Indira bisa datang kapan saja. Kemudian ia teringat akan Samuel yang juga sudah menolak bertanggung jawab.
Raya mulai frustasi, ia merasa tidak memiliki tempat. Sang Mama, orang terdekat yang diandalkan Raya bahkan memintanya melakukan aborsi.
Ketakutan yang Raya rasa semakin lama semakin besar. Ia belum diberitahu kalau janinnya sudah diangkat. Begitu dokter dan perawat meninggalkannya, Raya mulai berhalusinasi. Rasa cemas yang luar biasa menyergapnya.
Raya menangis, ia duduk dan mulai memberontak. Tak lama kemudian Raya melepas peralatan yang terpasang di tubuhnya.
Alarm berbunyi di ruang jaga. Dokter dan perawat berlarian kembali ke kamar Raya. Saat mereka tiba Raya sudah menggeser kaca jendela.
"Jangaaaannnnn!!!" Teriak para tenaga medis itu bersamaan.
Terlambat.
Raya sudah melompat keluar. Tubuhnya menghantam tanah dengan kecepatan tinggi.
Raya meregang nyawa seketika itu juga.
__ADS_1
...****************...