Hartamu Menghancurkan Keluargaku

Hartamu Menghancurkan Keluargaku
Bab. 13


__ADS_3

"Ichigo hanya kelelahan." Kata seorang Dokter Anak yang baru selesai memeriksanya. "Saya akan memberikan resep vitamin. Kalau badannya kembali panas, beri saja obat penurun panas seperti biasa. Jika tidak, cukup berikan vitaminnya."


"Terima kasih Dokter." Ucap Sora dan mengantar pria paruh baya itu untuk keluar.


"Mama." Ichigo mengulurkan tangannya. Seperti biasa, ia ingin tidur dalam pelukan Biru.


Biru tersenyum dengan lembut. Ia mengecup kepala Ichigo kemudian berbaring di sisi gadis kecil itu.


"Saya akan membuat bubur untuk Nona." Farah berpamitan. Biru pun hanya mengangguk.


Beberapa saat kemudian, Sora datang membawa secarik kertas.


"Bagaimana dia?" Tanya Sora sambil duduk di sisi Ichigo sehingga gadis kecil itu berada di tengah orang tuanya.


"Dia baru saja tertidur." Jawab Biru dengan suara pelan.


Sora mengangguk. "Aku pergi membeli vitamin dulu ya." Sora menunjukkan resep itu kepada Biru.


"Iya."


Sora mengulurkan tangan mengusap kepala Ichigo, kemudian kepala Biru. Hal itu tentu saja membuat Biru terkesiap. Namun Sora seperti tidak sadar. Pria itu kemudian pergi.


Baru saja keluar dari pintu, Sora seakan tersadar. Ia lantas memukul dahinya.


"Astaga. Apa yang sudah aku lakukan?"


Ia ingin berbalik dan menjelaskan pada Biru. Namun apa yang akan ia katakan? Sora mendesah kasar dan menuruni tangga sambil terus merutuki kecerobohannya.


Beberapa jam kemudian, Sora kembali dengan wajah lelah. Ia tidak menyangka akan terjadi kecelakaan di depannya sehingga ia terjebak kemacetan.


Sora bertemu dengan Farah yang baru saja turun dari lantai 2.


"Selamat malam, Tuan."


"Malam. Apa Ichigo sudah tidur?"


"Sudah Tuan. Nona sempat terbangun dan makan bubur, kemudian kembali tidur."


"Bagaimana dengan istriku?"


Sora terhenyak setelah mendengar ucapannya sendiri. Awalnya ia ingin menyebut nama "Biru". Namun entah kenapa yang terucap malah "istriku".


Haiiissss, ada apa dengan diriku?


"Nyonya juga sudah tertidur sambil memeluk Nona."


"Baiklah. Kau bisa pergi beristirahat. Biar aku dan istriku yang akan mengurus Biru."


Sora mengerjap. Istriku lagi???? Ya ampunn...


"Terima kasih Tuan."


Sepeninggal Farah, Sora segera memukul bibirnya sendiri sambil naik ke lantai 2.


Dengan perlahan Sora membuka pintu kamar Ichigo. Pria itu meletakkan vitamin putrinya di nakas bersama obat yang lain. Kemudian berdiri menatap Biru dan Ichigo yang sudah terlelap. Melihat keduanya tidur dengan tenang, membuat Sora merasa semua akan baik-baik saja. Seakan kehidupannya sudah kembali utuh.


Sora mendekat ke sisi Biru, memandangi wajah cantik itu sepuas hatinya. Bare face aja udah cantik begini, apalagi pakai skincare sama make up. Batin Sora.


Mata Sora menelusuri setiap jengkal wajah Biru, hingga kemudian netranya berhenti di bibir tipis Biru yang kemerahan.


Entah apa yang merasuki Sora. Ia dengan berani membungkuk dan mengecup bibir Biru. Tak hanya sekali, beberapa kali hingga akhirnya Sora ******* bibir istri gadungannya itu meski hanya sebentar.


Astaga, lembut, hangat dan manis. Gumam Sora sambil kembali memandangi bibir Biru.


Sora mengusap wajahnya dengan kasar saat instingnya mulai memaksa untuk berbuat nekat. "Aku ingin lagi. Tapi aku tak mau dihajar olehnya." Lirih Sora pada dirinya sendiri. Akhirnya Sora memilih berdiri di bagian kaki ranjang.


Tiba-tiba Biru menggeliat pelan, detik berikutnya terlihat kelopak mata Biru terbuka. Sora tiba-tiba menarik nafas lega.


"Eum, Abang … " Ucap Biru dengan suara sedikit serak. "Sudah pulang?"


****!!!


Sora menggeram di dalam hati. Suara Biru terdengar sangat seksi dan menggoda.

__ADS_1


"Ehmmm! Iya. Vitaminnya ada di nakas." Sora menunjuk ke arah nakas dengan dagunya. "Bagaimana keadaannya?" Tanya Sora sambil duduk di sebuah single sofa tak jauh dari ranjang Ichigo.


Biru duduk dengan punggung bersandar di kepala ranjang. "Panasnya sudah turun." Ucap Biru sambil menatap Ichigo kemudian mengusap kepala gadis itu.


Dibalik ekspresi datar dan dingin, Biru sebenarnya sangat lembut dan hangat. Terutama pada Ichigo.


Apakah benar kata Raya? Tapi selama kami bersama, dia tidak pernah menggodaku sama sekali.


Sora menatap Biru dengan hati bertanya-tanya.


"Biru, Raya bilang kau adalah wanita panggilan. Apakah benar?"


Kedua alis Biru terangkat, sedangkan Sora ia langsung mengerjap.


Hhhhh, lagi? Lidah ini lebih cepat daripada otak. Hahhh...Sudahlah.


Sora mengeluh dalam benaknya.


Biru menatap Sora dengan tenang, tidak terlihat ia marah atau bersiap untuk menyerang.


"Enam tahun yang lalu. Saya dihamili oleh kekasih saya." Biru bercerita dengan pelan. "Jadi … ya, jika ada yang bilang saya bukan perempuan baik-baik, itu benar adanya. Tapi saya tidak pernah menjual diri. Sampai saat ini, dia adalah pria pertama saya."


Sora terdiam sejenak. "Lalu, dimana anak kalian?"


"Sebelum pernikahan kami, saya memergokinya bercinta dengan perempuan lain. Saya minta putus namun dia tidak mau. Dia menganiaya saya hingga akhirnya saya melaporkannya ke polisi."


Sora tiba-tiba memindahkan sofa yang ia duduki ke samping ranjang agar lebih dekat dengan Biru.


"Lalu?" Mimik wajah Sora menandakan kalau ia antusias.


"Tidak sampai 24 jam, karena uang dan koneksi keluarganya, dia bebas bersyarat. Dan yahh, tentu saja. Dia langsung datang ke rumah."


"Untuk apa?"


"Meminta saya untuk melanjutkan rencana pernikahan. Tapi saya tidak mau. Dia naik pitam, apalagi orang tua saya ikut menghalangi. Dia menganiaya kami semua." Biru tersenyum getir. "Malam itu, saya kehilangan kedua orang tua dan juga janin di dalam kandungan saya."


Wajah Sora terlihat tegang dengan rahang mengeras. Ia tidak menyangka, perempuan cantik bertubuh mungil di depannya ini memiliki masa lalu yang mengerikan. Dikhianati dan dianiaya. Sora tidak bisa membayangkan jika hal itu menimpa Natsuki. Kini Sora mengerti kenapa Biru begitu menyayangi Ichigo.


Biru menunduk dan tersenyum tipis. "Sudahlah Bang. Saya mohon, jangan dibahas lagi. Semua bisa terjadi juga karena kesalahan saya dalam memilih pasangan. Saya tidak mendengarkan nasehat orang-orang disekitar saya."


Bagaimana kalau kamu tahu perempuan itu adalah adikmu, Raya? Apakah kamu akan membunuhnya? Kurasa tidak. Gumam Biru dalam hati.


"Hhaahhggg." Biru terkesiap saat tiba-tiba tubuhnya bergerak ke depan dengan sangat cepat. Belum sempat Biru mencerna apa yang terjadi, ia sudah masuk ke dalam pelukan Sora.


"Abang … " Biru hanya bisa mengucapkan itu saking terkejutnya.


Sora tidak segera melepas Biru. Dan Biru pun tidak mengerti, kenapa ia tidak bisa menolak pelukan Sora yang terasa … nyaman.


Meski tidak membalas pelukan Sora, namun akhirnya Biru memejamkan mata menikmati kehangatan kombinasi lengan kekar dan dada bidang Sora.


***


Sayang, maaf ya. Aku tidak jadi pulang hari ini. Masa kerjaku di London diperpanjang.


Sora membaca pesan singkat yang dikirim oleh Arini. Ia tidak berniat sedikitpun untuk membalas pesan tersebut. Namun mencegah Arini akan mengadu yang macam-macam pada Hasan, akhirnya Sora mengirim kalimat yang berisi dukungan.


Sora meletakkan ponsel di atas meja. Namun bunyi notifikasi membuat pria itu kembali mengambil benda pipih itu.


Sora tersenyum begitu membaca pesan yang dikirim oleh Farah. Sebelum berangkat kerja, Sora memang meminta Farah untuk mengirim foto saat Biru bermain dengan Ichigo.


Baby sitter Ichigo itu mengirim foto yang memperlihatkan Ichigo sedang duduk di pangkuan Biru. Dan Biru memegang buku ensiklopedia khusus anak-anak, buku yang Ichigo sangat sukai.


Tok…Tok…Tok…


"Masuk!" Seru Sora sambil menatap pintu.


Begitu pintu terbuka, Sora langsung berdiri.


"Hai."


"Selamat siang."


Natsuki dan Andre memberi salam kemudian menutup pintu.

__ADS_1


Sora memeluk Natsuki untuk beberapa saat.


"Tenang saja, dia pulang dalam keadaan utuh." Ujar Andre sambil duduk di sofa tamu yang berada tidak jauh dari meja kerja Andre.


Sora mengurai pelukannya dan menatap Andre dengan tajam. "Jika ada yang lecet aku akan membunuhmu."


"Sebelum kulitnya lecet, aku pasti sudah mati di tangannya." Andre membela diri. Sedangkan Natsuki hanya tertawa kecil.


Kemudian Natsuki dan Sora menyusul duduk bersama Andre.


"Ichi sudah sembuh, 'kan?" Tanya Natsuki sambil meletakkan sebuah amplop coklat besar di meja.


Sora mengangguk. "Hanya sakit selama 2 hari. Biru merawatnya dengan baik."


"Oh, Ev yang cantik. Aku semakin menyayangimu. Tidak sabar untuk memberi oleh-oleh yang aku bawa."


Sora mengernyit. "Sampai sekarang aku tidak tahu kenapa kau selalu memanggilnya Ev."


Natsuki dan Andre saling menatap dan tersenyum. "Ada deh." Ucap keduanya bersamaan.


Sora hanya menggeleng-gelengkan kepala kemudian membuka amplop yang Natsuki letakkan.


"Kau sudah siap? Tidak mau menunggu ceritaku?" Tanya Natsuki begitu tangan Sora masuk ke dalam amplop.


"Tidak perlu."


Sora melanjutkan apa yang sedang ia lakukan. Ia menarik keluar isi di dalam amplop. Rupanya beberapa lembar foto. Foto Arini yang berada di London.


Sementara itu, Andre segera membuka Macbook miliknya.


"Nama pria itu Cedric William Alexander III." Kata Natsuki begitu Sora melihat foto seorang pria bule mencium bibir Arini.


"Kemana yang ke IV, V dan VI?" Tanya Sora sambil melihat foto selanjutnya.


Natsuki hanya tersenyum kecil.


"Rumah sakit?" Sora memperlihatkan sebuah foto.


Natsuki menggeleng. "Klinik ilegal. Dia melakukan aborsi."


Sora menatap Natsuki dengan tajam. Kemudian Andre menyodorkan Macbook miliknya untuk memperlihatkan video yang berisi rekaman di dalam ruang Dokter.


Beberapa menit setelah melihat rekaman itu, wajah Sora memerah, nafasnya memburu. Rahangnya mengeras. Sora dipenuhi dengan amarah yang meluap-luap.


Dengan satu kali gerakan, ia berdiri. Membuat Natsuki dan Andre menjengit.


"Aborsi kedua kalinya?! 2 Natsuki! Ini sudah yang kedua kalinya!" Sora mengulang ucapan Dokter di video yang memperingatkan Arini.


"Arini sialan!!! Perempuan brengsek!!!" Aarrgghhhhhh!!!" Sora berteriak di dalam kantor sambil meninju-ninju udara.


Satu jam kemudian…


Sora sudah tidak berteriak lagi. Ia sedang terdiam, tampak memikirkan sesuatu.


Sedangkan Natsuki dan Andre, tidak mengucapkan sepatah kata pun. 


"Kalian pasti lelah, pulang dan beristirahatlah." Ucap Sora.


"Bagaimana denganmu?" Tanya Natsuki.


"Hhhhh…aku baik-baik saja. Jangan ada yang melihat rekaman itu. Dan jangan ada yang mengatakan pada Hasan kalau aku sudah tahu kebusukan keponakannya."


Natsuki dan Andre mengangguk kemudian berpamitan.


Sora duduk bersandar dan menatap langit-langit ruangan. Ia jadi teringat dengan cerita Biru.


"Hhhhhh … Aku tidak beda dengan Biru. Mempertahankan orang yang salah tanpa mau mendengarkan nasehat orang lain. Tapi aku tidak ingin kejadian pada Biru menimpa keluargaku." Kata Sora pada dirinya sendiri.


Ia berdiri dan menuju ke mejanya. "Zayn, kemarilah." Ucap Sora setelah menekan intercom.


...****************...


 

__ADS_1


__ADS_2