
Arya tidak mengantar Arini ke tempat tujuannya. Dengan alasan lapar, Arya membawa Arini ke sebuah bistro makanan Indonesia.
"Arini, Apa kau keberatan jika menemaniku makan? Maaf, tapi aku agak lapar dan sedang rindu masakan Indonesia." Tanya Arya saat ia menghentikan mobil di halaman bistro.
Ah ya ampun Arya. Bilang saja mau ngajak makan malam, gengsi banget. Tapi aku suka. Arini makin melambung.
Arini mengangguk semangat. "Tentu saja, aku tidak keberatan. Hitung-hitung sebagai balas budi sudah membayar minumanku."
Arya tersenyum simpul. "Tunggu sebentar." Ia bergegas turun dan mengitari mobil untuk membukakan pintu. Bahkan Arya mengulurkan tangan membantu Arini turun.
Keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam bistro. Arya sengaja memilih tempat di salah satu sudut dan mulai memesan makanan. Sedangkan Arini hanya memilih buah-buahan segar.
Tanpa curiga sedikit pun, sambil makan dan minum Arini menceritakan kegiatannya sehari-hari sebagai model. Meski Arya tidak banyak bicara dan merahasiakan pekerjaannya, itu tidak mengurangi nilai plus Arya di mata Arini.
Arya melirik jam tangannya.
"Apakah sudah ingin pulang?" Tanya Arini dengan berat hati, ia masih ingin menghabiskan waktu dengan Arya.
"Tidak." Jawab Arya disertai gelengan. Seharusnya obat itu sudah bekerja.
"Kau sedih jika harus berpisah?" Tanya Arya untuk menguji reaksi obat yang dicampur ke dalam makanan dan minuman Arini.
"Tentu saja." Jawab Arini spontan. Raut wajahnya bahkan terlihat sedih.
Arya terkekeh pelan. "Tenang saja, malam ini belum berakhir."
"Benarkah?" Mata Arini berbinar.
"Ya." Arya menatap potongan buah di piring Arini. "Apakah apelnya enak?"
"Iya, sangat manis dan renyah."
__ADS_1
"Tapi aku lebih suka apel dari kota Batu, Malang." Ujar Arya.
"Jadi kamu dari Malang?"
"Iya."
Raut wajah Arini berubah.
"Kenapa? Ada sesuatu yang mengingatkanmu tentang Malang?" Tanya Arya dengan raut wajah setenang mungkin.
"Aku tidak menyukai kota itu." Jawab Arini. "Mengingatkanku akan banyak hal menyebalkan."
Kedua alis Arya terangkat. "Begitu rupanya. Memang apa yang terjadi antara dirimu dengan kota Malang?"
"Yahhh...kekasihku menikahi perempuan lain di kota itu." Arini terlihat sedih. "Padahal kota itu adalah titik awal aku bisa mendapatkannya. Tapi malah berakhir disana juga." Jawab Arini sambil menusuk-nusuk potongan apel dengan garpunya.
"Bagaimana kau mendapatkannya?"
"Dengan membunuh istrinya."
Arini mengangguk-anggukkan kepala. "Iya, tapi sebenarnya itu tidak sengaja. Aku ingin meminta Utami mengalah secara baik-baik."
"Ceritakan."
Arini yang berada dalam pengaruh obat menceritakan semua tanpa beban. Ia bahkan tidak merasa aneh dengan permintaan Arya itu.
"Aku sudah menyukai Sora sejak lama. Tapi dia lebih memilih Utami, sahabatku."
"Saat itu kami semua pergi ke Malang untuk berlibur. Sekaligus refreshing agar Utami tidak tegang menunggu waktu melahirkan."
"Aku dan Utami belanja di pasar dekat vila. Saat kembali, aku menceritakan perasaanku pada Sora. Aku memintanya untuk mengalah karena aku sudah tidak sanggup memendam perasaanku lebih lama lagi."
__ADS_1
"Utami marah dan memintaku menepikan mobil. Ia berdiri nekat pulang sendiri. Aku takut dia mengadu pada Sora, Utami tidak bisa dibujuk. Akhirnya aku dengan sengaja menabraknya."
"Saat Utami menggelepar, aku turun dari mobil melihat kondisinya. Aku pikir dia sudah pasti mati. Jadi aku langsung pergi dari sana."
"Apa kau tidak takut Keluarga Sora curiga?" Tanya Arya memotong cerita Arini.
"Tidak, karena aku bilang mobilku mogok, jadi Utami pulang sendirian."
"Dan mereka percaya?" Tanya Arya lagi.
"Iya, Sora begitu percaya kepadaku. Sama seperti Utami."
Arya bergidik ngeri menatap Arini. "Lanjutkan."
"Ternyata Arini tidak mati. Ia koma. Bahkan Dokter masih sempat menolong bayinya. Namun ia meninggal satu bulan kemudian."
"Ada yang menolongnya ke rumah sakit?" Tanya Arya setelah Arini terdiam.
"Ya, sepasang suami istri. Sora menceritakannya kepadaku. Bahkan kata Sora mereka melihat semua kejadian itu. Kemudian aku menanyakan identitas dan alamat mereka dengan alasan ingin berterima kasih mewakili Sora."
"Sora percaya dan mengucapkan terima kasih. Karena ia jadi tidak repot-repot meninggalkan Utami."
Tubuh Arya menegang. "Siapa nama suami istri itu? Apa kau ingat?"
"Tentu saja ingat. Mana mungkin aku melupakannya. Nama mereka Arman dan Nawangsari."
Rahang Arya mengeras. "Kau, membunuh mereka?" Tanya Arya sambil menggertakkan gigi.
"Tidak, aku tidak mau mengotori tanganku. Hoaammm." Tiba-tiba Arini menguap. "Maaf, bisakah kita pulang? Aku merasa lelah."
Arya menelan rasa penasarannya. Efek obat itu sudah hampir habis. Saat obat itu tidak lagi bekerja, korban akan mengantuk dan tertidur. Saat ia bangun, ia tidak akan ingat apapun yang terjadi pada hari sebelumnya. Oleh sebab itu obat yang Arya gunakan sangat laris di kalangan pelaku kejahatan s3ksu4l.
__ADS_1
Arya memanggil semua anak buahnya yang menyamar dan menguasai bistro, mereka membawa Arini pulang ke apartemen perempuan itu.
...****************...