Hartamu Menghancurkan Keluargaku

Hartamu Menghancurkan Keluargaku
Bab. 38


__ADS_3

Biru berkutat dengan bahan-bahan segar untuk membuat isian sandwich. Setelah Indira pulang, Biru kembali beraktivitas di pantry lantai 2. Ia tidak ingin terlalu sering bertemu Indira. Biru takut khilaf dan menusukkan pisau ke perut wanita itu.


"Aku bantu." Ucap Sora tiba-tiba.


Biru tersenyum dan memberikan pisau yang ia pegang. "Terima kasih."


Sora membalas senyuman Biru, ia lanjut memotong timun sedangkan Biru memanggang roti. Baru beberapa saat bekerja sama, tiba-tiba Sora menjerit kecil.


"Aduh!" Ia bahkan memasukkan ujung jari telunjuknya ke dalam mulut.


Biru menjengit dan berbalik. Namun ia segera paham apa yang sedang terjadi dan segera mengambil kotak P3K setelah mematikan kompor.


"Kenapa tidak hati-hati sih Bang?" Tanya Biru sambil merawat luka di jari Sora.


"Maaf, aku tidak fokus." Jawab Sora asal. Ia sedang menikmati wajah cantik Biru dalam jarak yang cukup dekat.


"Semua pekerjaan membutuhkan fokus. Apalagi saat menggunakan benda tajam. Buat orang khawatir saja." Oceh Biru.


Kedua alis Sora terangkat, ia tersenyum senang. "Kamu ... khawatir?"


Biru yang sedang memasang plester menghentikan jarinya. Ia tidak sadar dan mengucapkan isi hatinya begitu saja.


"It ... itu." Biru bingung. Namun ia cepat-cepat kembali memasang plester. "Sudah selesai."


Sora mendekatkan wajahnya. "Terima kasih." Usai mengatakan itu Sora mengecup bibir Biru dengan lembut.


Biru yang terkejut tidak sempat menghindar. Ia bahkan masih terdiam saat Sora menjauhkan bibirnya.


Melihat Biru yang tidak menolak dan menghindar, Sora kembali mencium bibir Biru. Bahkan ia menyesap bibir bawah Biru dengan lembut.


"Ehmmm!!! Urus anak dulu."


Suara Natsuki membuat Sora dan Biru menjengit. Keduanya saling menjauhkan tubuh. Wajah Biru terlihat sangat merah, sementara Sora hanya menggaruk kepala.

__ADS_1


Sora kemudian menatap Natsuki dengan kesal. Sedangkan yang ditatap malah memonyongkan bibirnya menunjuk ke arah pintu kamar Ichigo.


Sora terkejut dan melihat ke pintu. Di ambang pintu Farah sedang berdiri sambil menutup mata Ichigo dengan jarinya.


Menyadari situasi sudah aman, Farah mengangkat tangannya dari wajah Ichigo.


"Ichigo-chan." Sora merentangkan kedua tangannya.


"Ohayou gozaimasu." Sapa Ichigo sambil berlari ke dalam pelukan Sora.


"Ohayou."


"Papa sama Mama lagi buat adik bayi ya buat Ichi. Apakah sudah jadi?" Tanya Ichigo setelah Papa Sora berdiri dan menggendongnya.


"Ppphhahahahahah." Natsuki tergelak mendengar pertanyaan Ichigo.


Sedangkan Sora tersenyum penuh arti menatap Biru. "Belum sayang. Karena Mama sedang sibuk."


Ucapan Sora disambut dengan tatapan maut dari Biru. Tapi Sora tidak peduli, ia bahkan tersenyum lebar.


Aduh Ichi. Tiba-tiba Biru merasa kepalanya berdenyut.


***


E-mail dari Arya masuk saat Biru sedang bersiap menjemput Ichigo sesuai permintaan gadis kecil itu.


"Video apa ini?" Biru mengernyit saat lampiran menunjukkan file dengan format video. Arya hanya menulis kata 'berita luar biasa'.


Saat sedang mengunduh, pintu kamarnya diketuk.


"Siapa?"


"Maaf Nyonya, Tuan Muda sudah menunggu."

__ADS_1


Jawab suara dari balik pintu.


"Terima kasih."


Biru segera memasukkan ponsel ke dalam tas tangan yang ia bawa kemudian bergegas keluar.


Di depan pintu utama, Sora sudah berdiri menunggunya. Ia tersenyum saat melihat kedatangan Biru. Senyuman Sora menular hingga Biru pun menyunggingkan senyuman manisnya.


Selama perjalanan ke sekolah Ichi, Biru diserang gelisah. Kadang ia menyesali keputusannya menyanggupi permintaan Ichigo. Berada dalam satu ruangan bersama Sora, dan hanya berdua, membuat Biru merasakan sensasi banyak kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya.


"Ada yang tidak nyaman?" Tanya Sora saat mereka berhenti di lampu merah.


"Oo, itu. Tidak Bang." Jawab Biru sambil memaksakan seulas senyum.


"Lain kali, jangan menyanggupi permintaan Ichigo jika itu membuatmu tidak nyaman."


Perkataan Sora membuat Biru mati kutu. Ia tidak tahu harus menjawab apa.


"Kita sudah sama-sama dewasa Biru, dan aku rasa aku tidak perlu mengucapkan lewat kata-kata lagi. Jadi aku juga mengerti jika kau merasa perasaan ini berkembang terlalu cepat untuk kita."


Wajah Biru memerah seperti udang rebus. Sora tidak berbasa-basi.


"Maaf, aku tidak pandai merangkai kata dan membuat suasana romantis." Ucap Sora yang menoleh ke kanan kiri. Menyadari mereka masih berada di lampu merah.


"Tapi ... aku tetap ingin mengatakannya." Imbuh Sora.


Biru menatap Sora dengan kerutan di dahinya. Keduanya bertatapan, hingga keadaan sekitar seakan memudar dalam pandangan masing-masing.


"Biru ... "


Tin...Tin...Tin...Tin...Tin...


Suara klakson yang bersahut-sahutan membuat Biru dan Sora terkesiap. Mereka sama-sama melihat ke arah lampu lalu lintas, ternyata sudah berubah hijau. Sora kembali mengemudikan mobilnya dengan sedikit gugup.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2