Hartamu Menghancurkan Keluargaku

Hartamu Menghancurkan Keluargaku
Bab. 40


__ADS_3

Biru tercenung saja di balkon sejak video yang Arya kirim berakhir. Ia tidak menyangka, seseorang dengan label 'sahabat' akan tega melakukan kejahatan pada sahabatnya sendiri. Air mata Biru bergulir saat ia teringat akan Ichigo. Gadis kecil itu tumbuh tanpa sosok seorang Ibu karena keegoisan Arini.


Posisi paling dekat memang posisi yang baik jika ingin menancapkan pisau sedalam mungkin.


Biru menarik nafas dalam-dalam dan mengusap air matanya. Ia menatap ke sekeliling, hari sudah mulai gelap. Biru memutuskan beranjak dari tempatnya duduk untuk makan bersama Ichigo.


"Ichi sayang." Biru masuk dan melihat Ichigo sedang bermain boneka bersama Farah.


"Makan yuk." Ajak Biru.


"Sama Papa juga ya Ma."


Biru menggeleng sambil tersenyum. "Tidak sayang, Papa akan makan malam bersama Om Zayn dan teman bisnisnya."


Ichigo segera meletakkan bonekanya dan berdiri menggandeng tangan Biru. Senyumannya tidak luntur. Dan itu membuat hati Biru teriris.


Aku harus membuat perhitungan dengan monster itu.


"Mama." Panggil Ichi pada Biru disela-sela makan.


"Iya sayang."


"Ichi sayang Mama." Ujar Ichi sambil menyunggingkan senyum manisnya.


Biru terkesiap, hatinya tercubit. Ia mengulurkan tangan mengusap kepala Ichi dengan penuh sayang.


"Mama juga sayang Ichi." Jawab Biru sambil menahan air mata. Lehernya sampai sakit meredam gejolak perasaannya.


Setelah makan malam, Biru menemani Ichigo untuk belajar. Namun tak lama kemudian panggilan dari Arya masuk ke ponselnya.


"Ichi, belajar sama sus Farah dulu ya sayang. Mama mau terima telepon."


"Iya Mama."


Biru mengecup kening Ichigo dan keluar dari kamar gadis kecil itu.


"Halo Mas."


"Kamu sudah nonton video yang Mas kirim?"


"Iya Mas, sudah." Jawab Biru sambil melangkah cepat ke arah balkon. Dari tempatnya duduk saat ini, ia bisa langsung melihat ke gerbang rumah.


"Aku tidak menyangka, dia sejahat itu."


Terdengar suara tawa Arya. "Yang lebih jahat dari dia pasti ada."


"Aku harap aku bisa memberi pelajaran langsung kepada Arini."


"Bisa Mas atur. O iya dek, ada yang sedang mencari informasi tentang kamu. Bagaimana? Eksekusi atau berikan yang dia mau."


"Berikan saja yang dia mau, Mas." Jawab Biru tanpa berpikir panjang.


"Kamu yakin?" Tanya Arya memastikan.


"Iya Mas, aku yakin."

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu."


***


Malam semakin larut, Biru keluar dari kamar Ichigo setelah ia memastikan kalau Ichigo sudah tertidur pulas.


"Hai Kakak ipar." Sapa Natsuki yang baru saja pulang.


"Hai. Baru pulang?"


"Iya." Natsuki menghempaskan tubuhnya di sofa yang tepat berada di tengah.


"Mau aku buatkan minuman hangat?" Tawar Biru.


"Ya, tolong."


Biru menuju pantry dan membuatkan coklat hangat untuk Natsuki.


"Sora sedang keluar?" Tanya Natsuki sambil memiringkan tubuh menatap Biru.


"Iya, ada makan malam dengan klien." Jawab Biru sambil mengaduk coklat dan susu cair di atas kompor.


Natsuki tidak bertanya lagi, ia nampak sedang menikmati waktunya bersantai.


"Apakah sedang banyak pekerjaan?" Tanya Biru yang datang membawa segelas coklat panas.


"Terima kasih." Natsuki menyambut minuman itu dengan sumringah. "Ya, ada pesanan mendadak."


Keduanya kemudian berbincang-bincang hingga Natsuki menghabiskan minumannya.


"Terima kasih untuk coklat hangatnya, kakak ipar." Natsuki beranjak dari duduknya.


"Sama-sama, adik ipar." Sahut Biru disambut tawa Natsuki.


"Baiklah, aku akan mandi dan beristirahat. Selamat malam."


"Selamat malam."


Setelah kepergian Natsuki, Biru tidak langsung kembali ke kamarnya. Ia masih duduk dan menimbang-nimbang. Baik buruknya jika ia memberi tahu Sora dan Natsuki tentang pengakuan Arini.


Biru memijat pangkal hidungnya. Ia tidak tahu bagaimana harus memutuskan. Sementara keselamatan mereka semua masih terancam.


"Bagaimana ini?" Biru berbaring di sofa itu dan memejamkan matanya rapat-rapat sambil terus memijat pelipisnya.


"Biru! Apa yang terjadi? Mana yang sakit?"


Sora yang baru tiba segera berjalan cepat ke arah Biru. Sedangkan Biru, karena terkejut ia segera duduk.


"Tidak Abang. Aku tidak sakit."


"Lalu kenapa? Apa Ichigo menyusahkan mu?" Sora duduk di samping Biru dan mengusap kepalanya dengan lembut.


Biru menggigit bibirnya, ia benar-benar gugup. Gugup karena tidak tahu harus seperti apa.


"Katakan dengan jujur. Jangan simpan masalahmu sendiri."

__ADS_1


Tapi ini bukan masalahku. Keluh Biru dalam hatinya.


"Aku ... "


"Apa sesulit itu bercerita kepadaku? Apa kau tidak mempercayai suami mu ini? Hmmm?"


Hhhhhhhh ....


Biru menghela nafas kasar. Apa yang terjadi, terjadilah.


"Abang, sebaiknya kita masuk ke kamar dulu." Ajak Biru dan Sora menyetujui usul itu.


Setibanya di kamar, Biru segera duduk di tepi ranjang. Ia menyiapkan video pengakuan Arini terlebih dahulu.


"Sebelum Abang melihat ini, tolong berjanjilah 1 hal. Jangan bertindak gegabah."


Sora mengangguk. "Ya, Abang janji."


Biru menyerahkan ponsel pada Sora. Kemudian sambil duduk di samping Biru, Sora menekan icon play untuk memulai video tersebut.


Sepanjang video diputar, reaksi Sora selalu sama, menahan amarah. Mata Sora mulai memerah dan berkaca-kaca. Hembusan nafasnya terdengar semakin cepat.


Begitu Biru melihat tangan Sora bergetar, Biru segera mengambil paksa ponsel miliknya meski video belum berakhir. Ia lalu memeluk Sora dengan erat. Benar saja, tangis Sora pecah seketika itu juga.


Biru diam, ia tak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya mengusap punggung Sora. Meski Biru tahu itu tidak berarti apa-apa. Tidak mampu mengurangi rasa sakit dan kemarahan Sora. Tali setidaknya Biru ingin Sora tahu, Sora tidak sendiri. Sora masih punya Biru yang bersedia menjadi tempat bersandar. Membagi semua rasa sakit bersama.


Sora mulai tenang, ia mengurai pelukannya. Biru segera mengambil segelas air putih dan mengangsurkan itu pada Sora.


"Terima kasih." Sora menerima air itu dan meminumnya.


Setelah Sora selesai minum, Biru mengambil gelas itu dan meletakkannya kembali pada tempatnya. Kemudian ia duduk di samping Sora.


"Aku percaya padanya, kami semua begitu percaya padanya." Ujar Sora setelah beberapa saat terdiam. "Tapi dia ... "


Sora tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Ia menarik nafas dalam-dalam. Berharap bisa menghempaskan sesak yang bercokol di dadanya.


"Biru."


"Iya Bang."


"Tidak bisakah Mas Arya membunuhnya saja?" Tanya Sora dengan kilatan kemarahan di matanya.


Biru meraih tangan Sora dan menggenggamnya dengan hangat. "Bisa saja. Tapi jika itu terjadi, kita semua akan mati."


Sora berdiri, dan Biru melepaskan genggamannya. Biru mengerti, saat ini Sora sedang dipenuhi amarah.


"Jadi, dia hidup dengan tenang sedangkan kami harus tersiksa menahan dendam?"


"Tentu saja tidak. Tapi kita harus waspada, Arini tidak sendiri. Ada terlalu banyak hal yang terkait. Kita akan membongkar semuanya satu per satu."


Biru berdiri dan maju ke depan Sora. "Kami butuh kesabaran Abang. Kami perlu Abang menahan diri. Aku tahu itu sulit. Tapi tolong, demi keselamatan kita, demi Ichigo."


Perlahan, Sora mulai tenang. Meski rasa sakitnya itu belum bisa berkurang. Tapi Sora sadar yang Biru ucapkan sangat masuk akal.


Saat Sora terdiam, Biru memberanikan diri melangkah lebih dekat dan memeluk Sora.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2