
Arya bergerak cepat untuk menemukan Arini. Setelah mendapat informasi lokasi wanita itu, anak buahnya menunggu Arini di depan pintu kamar hotel. Beberapa anak buah Arya menyamar sebagai pelayan yang mengantar pesanan. Setelah berada di kamar, mereka dengan cepat menyergap kemudian membius Arini dan membawanya menggunakan brankar. Tidak ada orang yang curiga sebab sebuah ambulance sudah menunggu.
Ambulance berhenti di sebuah area pembangunan yang terbengkalai. Bertepatan dengan Arini yang mulai sadar.
Arya membiarkan pintu belakang ambulance terbuka, sedangkan ia dan anak buahnya berdiri menunggu di luar.
Arini yang sudah sepenuhnya sadar duduk perlahan dengan wajah kebingungan. Apalagi saat melihat Arya dan anak buahnya berdiri menatapnya dengan tajam.
"Si ... siapa kalian?" Tanya Arini yang mulai ketakutan.
Arya tersenyum puas, obat yang ia gunakan saat itu sesuai dengan rumornya. Arini tak mengingatnya sama sekali.
"Aku Arya, kakak kandung Biru." Jawab Arya dengan tenang.
Arini tertawa sinis. "Jadi, ****** itu memintamu untuk menangkap diriku?"
Arya mengepalkan kedua tangannya, ia tak terima saat Biru dihina seperti itu. Tapi Arya masih bisa menahan diri, toh kehidupan Arini akan seperti di neraka mulai saat ini.
Arya memberi kode, dua orang anak buahnya masuk ke dalam ambulance.
"Pergi! Lepaskan aku!"
Arini memberontak, ia melawan. Tapi tenaganya tak ada apa-apanya jika dibandingkan kedua pria bertubuh kekar itu.
Akhirnya Arini kembali tak sadarkan diri. Mereka memindahkan Arini ke dalam sebuah minivan yang sudah menunggu.
Arya membawa Arini yang dalam keadaan tidak sadar ke sebuah "rumah aman" milik Arya dan seorang sahabatnya yang jauh dari London. Ia memilih sebuah pedesaan sebagai tempat menyembunyikan tawanan.
Mobil memasuki gerbang besar yang dijaga ketat beberapa orang bersenjata. Kemudian memasuki jalan yang diapit oleh pepohonan layaknya sebuah hutan kecil. Beberapa menit kemudian mereka tiba di sebuah bangunan bergaya kastil kuno.
Bangunan itu dulunya memang adalah sebuah kastil terbengkalai. Arya dan sahabatnya membeli kastil tersebut untuk digunakan sebagai "rumah aman" mereka berdua.
Ketika mobil berhenti di depan pintu utama, Arya turun lebih dahulu. Seorang pria bergaya parlente sudah menunggu.
"Antonio."
__ADS_1
"Arya."
Keduanya saking berpelukan sejenak. Namun saat Arya mengurai pelukannya, mata Antonio tertuju pada tubuh Arini yang berada dalam gendongan anak buah Arya.
"Dia wanita yang kau maksud?"
"Ya."
Antonio menyeringai. "Sudah berani menyakiti Biru, berarti sudah siap sengsara."
Antonio memberi kode dan mereka segera membawa Arini ke sayap kiri kastil.
"Ingin istirahat dulu?" Tawar Antonio pada Arya.
"Aku akan menggeleng jika sudah mendapat berita. Nyawa Biru dalam bahaya. Sepertinya bajingan itu menyewa orang-orang dari The Eagle." Arya menjelaskan sambil memasuki ruang kerja Antonio.
"Sialan! Bagaimana mereka bisa ikut campur?"
The Eagle adalah salah satu pesaing Antonio sebagai kartel narkoba internasional. Anak-anak buah mereka sering terlibat baku tembak. Dan sudah banyak yang mati akibat perang antar kartel tersebut.
"Kecuali mereka sudah mulai menjadi pemasok." Antonio menyodorkan gelas kristal berisi minuman beralkohol pada Arya.
"Terima kasih." Arya mengambil gelas tersebut dan langsung menyesap cairan kuning keemasan yang ada di dalam gelas. "Mungkin kita bisa mengorek keterangan dari wanita itu juga."
"Mengenai itu." Antonio menjeda ucapannya, ia terlihat ragu. "Apa kau yakin akan menggunakan kekerasan? Tidak bisa cara lain?"
Arya tersenyum sinis. "Untuk apa memakai cari yang baik. Dia tidak layak."
Antonio mengedikkan bahu. "Aku hanya bertanya, sayang sekali, kulitnya begitu halus. Bisa jadi nilai tawar untuk begundal penghuni padang gurun itu."
Arya tertawa, sahabat mereka, pangeran dari timur tengah yang dimaksud Antonio memang tidak bisa melewatkan perempuan cantik.
"Jangan, kita tidak tahu Arini bersih atau tidak." Arya meletakkan gelasnya. "Ayo."
Keduanya segera menuju sayap kiri kastil. Disana Arini sudah sadar dan duduk dengan tangan serta kaki terikat.
__ADS_1
Begitu melihat kedatangan Arya, emosi Arini meledak. Ia mencaci maki Arya untuk melampiaskan kemarahannya.
"Brengsek! Lepaskan aku! Kalau tidak Biru akan mati!" Teriak Arini. Antonio yang juga mengerti bahasa Indonesia mulai marah saat Arini mengancam membawa nama Biru. Arya menyentuk pundak sahabatnya itu untuk menenangkan Antonio.
Arya dan Antonio segera duduk di kursi mereka yang berhadapan langsung dengan kursi Arini.
"Ceritakan kepadaku, 6 tahun yang lalu, apa dilakukan di rumah Tuan Arman di kota Malang?" Tanya Arya pada Arini.
"Hahh!" Arini tertawa sumbang. "Aku tidak mengerti apa yang kau katakan."
Arya mengambil ponselnya, ia memutar rekaman Arini saat di bistro. Namun tidak semuanya, hanya saat Arini menyebut rumah orang tua Arya.
Mata Arini membola. "Ka ... kapan aku mengatakan itu?" Tanya Arini yang tidak pernah merasa berbicara seperti di dalam video. Namun Arini pun tidak menampik kalau video tersebut asli, bukan editan.
"Tidak penting. Jawab pertanyaan Arya!" Sentak Antonio.
"Kalau aku tidak mau? Bagaimana?" Arini tersenyum sinis. "Apa kalian berdua tidak malu memukul wanita?"
"Aku malu." Jawab Antonio dengan cepat.
"Aku juga." Sahut Arya.
Arini tersenyum penuh kemenangan, ia merasa bisa memperdaya Arya dan Antonio.
"Tapi aku tidak." Tiba-tiba Jimmy muncul dari samping dan memukul wajah Arini dengan sangat kuat.
"Aaakkhhhh!" Arini jatuh bersama kursi hingga tak sadarkan diri.
Arya dan Antonio sampai berdiri karena terkejut.
"Bloody hell!!! Jimmy! What the **** are you doing!!!" Antonio meradang. "Cavalo!" Makinya lagi menggunakan bahasa italia.
Sementara itu, Arya hanya bisa geleng-geleng kepala.
Setelah beberapa saat mereka menunggu Arini untuk sadar, Arya menatap Jimmy lagi. "Cepat sadarkan dia. Waktu Biru tidak banyak."
__ADS_1
...****************...