
Kediaman Kinomoto...
Ketenangan rumah besar itu tiba-tiba terusik oleh teriakan Indira. Bukan hanya sumpah serapah namun juga terdengar tangisan mengiba dari Raya.
Keributan itu membuat Sora, Biru dan Natsuki turun ke lantai 1. Paman Ben dan beberapa pelayan pun muncul. Saat mereka tiba di ruang tengah, tampak Indira memukuli bahkan menarik Raya.
Sora yang melihat itu segera berlari memisahkan mereka. Paman Ben pun ikut membantu, pria itu menarik Indira dan menahan agar Indira tidak lagi memukuli Raya. Sedangkan Sora segera menarik Raya dan menyembunyikan perempuan itu di belakang tubuhnya.
"Lepaskan aku Ben!" Teriak Indira. "Sora! Jangan lindungi Raya! Dia anak tidak tahu diri!"
"Ibu, ada apa? Kenapa memukuli Raya seperti ini?!" Tanya Sora pada Indira.
"Tanyakan kepadanya! Anak tidak tahu diri! Tidak tahu diuntung!" Maki Indira lagi.
"Raya, ada apa?" Tanya Sora sambil sedikit memalingkan wajahnya.
Raya hanya menangis, ia menggeleng. Tidak sanggup untuk menjawab pertanyaan Sora.
"Dia hamil, Sora. Raya hamil." Jawab Indira dengan histeris. Tubuh Indira bahkan luruh dalam pelukan Paman Ben. Indira tak sadarkan diri.
"Ibu!" Sora melepas Raya dan membantu Paman Ben untuk meletakkan tubuh Indira di sofa. Biru dan Natsuki pun ikut membantu.
"Mama ... Mama ... Maaf Ma." Raya hanya mampu menangis terisak-isak.
Setelah posisi Indira aman, Sora segera kembali memghampiri Raya.
"Katakan pada Kakak. Apa benar kamu hamil, Raya?" Tanya Sora penuh intimidasi.
__ADS_1
Raya diam, ia hanya bisa menangis.
"JAWAB!!!"
Semua yang mendengar bentakan Sora menjengit kaget.
Raya berdiri dengan kepala yang semakin menunduk. "Iy ... Iya Kak." Jawab Raya takut-takut.
Sora mengusap wajahnya dengan kasar, sementara Natsuki hanya tersenyum sinis.
"Siapa laki-laki itu?" Tanya Sora lagi. Namun Raya kembali terdiam, ia tidak segera menjawab.
"Rayaaa." Panggil Sora penuh penekanan.
"Pa ... pacar Raya kak. Na ... namanya Samuel Hamel." Jawab Sora terbata.
"Keluarga importir sutra itu?" Tanya Sora pada Natsuki dan hanya dijawab dengan anggukan oleh Natsuki.
Sora terdiam, ia tidak tahu harus berkata apa. Akhirnya Sora memutuskan untuk membuat Indira sadar terlebih dulu. Namun sebelum Sora mendekati Indira, Raya menahan tangan Sora.
"Jangan dulu bangunkan Mama." Pinta Raya.
Sora mengernyit. "Kenapa?"
Raya mengusap air matanya dengan kasar. "Mama menyuruh Raya menggugurkan kandungan ini Kak."
"Apa?!" Sora menatap tak percaya. "Tapi ... Kenapa?"
__ADS_1
"Mama tidak menyukai keluarga itu, dan juga ... " Raya tidak berani melanjutkan kalimatnya.
"Dan juga apa, Raya?" Desak Sora.
"Sa ... Samuel ... tidak mau bertanggung jawab." Jawab Raya dengan suara lirih.
Natsuki geleng-geleng kepala. Sebagai rekan bisnis keluarga Hamel, Natsuki sudah sering mendengar sepak terjang Samuel, casanova keluarga tersebut. Tidak mengherankan jika Pemuda itu tidak mau bertanggung jawab. Sudah banyak gadis yang menjadi korban.
"Laki-laki brengsek!" Umpat Sora.
Saat menyadari ada Biru, tangis Raya benar-benar berhenti dan berubah menjadi kemarahan.
"Kau! Ini pasti ulahmu!" Raya menunjuk Biru dengan tangannya.
"Apa maksudmu Raya?" Tanya Sora tidak terima.
"Aku yakin dia yang membujuk Samuel agar tidak bertanggung jawab Kak."
"Omong kosong!" Sahut Sora dan Natsuki bersamaan.
"Aku bahkan tidak mengenal kekasihmu!" Jawab Biru dengan tenang.
"Huhhh!!!" Raya mencibir. "Jangan berpura-pura Biru. Kau pasti ingin balas dendam karena aku sudah tidur dengan Ramdan sebelum pernikahan kalian. Iya 'kan?!"
"APA?!!!"
"APA?!!!"
__ADS_1
...****************...