Hartamu Menghancurkan Keluargaku

Hartamu Menghancurkan Keluargaku
Bab. 48


__ADS_3

"Setelah mencelakai Utami, aku menelepon Paman Hasan untuk meminta perlindungan. Kebetulan beliau juga ada di kota Malang untuk urusan bisnis. Setidaknya itu yang ia katakan kepadaku."


"Paman Hasan memberiku jaminan semua akan baik-baik saja. Ia hanya memintaku untuk mencari tahu apakah ada saksi atau tidak."


"Ketika aku memberikan nama dan alamat saksi, Paman terlihat begitu bersemangat. Malam itu juga kami menuju alamat yang diberikan Sora."


"Aku yang tiba lebih dulu dan memantau keadaan. Tapi karena takut, aku hanya mengintip sedikit."


"Keadaan di dalam rumah sedikit kacau, kulihat ada 2 orang duduk di lantai. Hanya sesaat saja aku mengintip. Kemudian aku berlari ke gerbang dan menunggu Paman."


"Ternyata Paman sudah sampai, ia langsung memberi instruksi pada anak buahnya untuk masuk. Sedangkan Paman menyuruhku untuk menunggu di dalam mobil."


"Aku memasang headset di telinga dan mendengarkan musik dengan volume besar. Aku tidak ingin mendengarkan suara-suara mengerikan."


"Mungkin 1 atau 2 jam kemudian barulah Paman datang. Aku segera mematikan musik dan bertanya, Paman menjawab sudah beres. Tidak akan ada lagi saksi karena mereka sudah membunuh semua penghuni rumah. Tapi kami tidak segera pergi dari sana."


"Agak lama barulah anak buahnya datang dan berkata tidak menemukan sertifikat tanah dimana-mana. Paman begitu marah, ia memukul stir mobil dengan cukup keras."


"Saat aku bertanya, Paman Hasan bilang ia mencari sertifikat tanah di kaki gunung milik Om Jun Kinomoto. Ku tanya lagi, kenapa dicari di rumah ini, Paman hanya bilang ini adalah rumah teman Om Jun."


"Paman Hasan begitu menginginkan sertifikat tersebut. Namun Paman melarang ku membahas ini di depan Sora."

__ADS_1


"Paman bahkan berpesan, jika aku berhasil menikah dengan Sora. Hal pertama yang harus aku cari adalah sertifikat tersebut."


"Hanya itu yang aku tahu." Arini mengakhiri ceritanya.


"Jadi Pamanmu ingin merebut harta keluarga Kinomoto?" Tanya Arya lagi.


"Ya, sepertinya begitu. Entahlah. Tugasku hanya berusaha menjadi istri Sora. Itu saja." Jawab Arini dengan wajah bersungguh-sungguh. "Tolong, lepaskan aku."


Antonio memberi kode, Jimmy segera mendekat dan melepaskan Arini dari kursi.


"Bawa ke kamarnya." Perintah Antonio lagi.


"Ap ... apa?" Arini terkejut, ia menyangka akan dibebaskan sepenuhnya.


Belum sempat Arini mengatakan sesuatu, ia sudah dibawa menjauhi Arya dan Antonio.


"Sudah direkam semuanya?" Tanya Antonio pada Arya.


"Sudah."


"Ada apa? Wajahmu terlihat sedih."

__ADS_1


Arya menarik nafas dalam-dalam. "Entahlah, aku memikirkan Sora dan Biru. Tidak tahu bagaimana Biru akan menanggapi ini."


"Kalau begitu jangan kirim rekaman itu."


"Maksudmu?"


"Bawa sendiri pada Biru. Dampingi dia saat mendengarkan rekaman itu." Antonio memberi saran.


Biru adalah korban selamat dari pembantaian yang menimpa keluarganya. Dan kini, tanpa disengaja Biru kembali berada di dalam pusaran perebutan harta. Arya memang harus melindunginya.


"Ya, kau benar Antonio. Aku takut jika sesuatu menimpa dirinya. Apalagi Hasan sudah mengetahui siapa Biru yang sebenarnya."


"Pakailah pesawat pribadiku. Akan lebih aman."


"Terima kasih. Tapi, apa kau tidak ingin ikut?"


Antonio tertawa kecil. "Tentu saja aku ingin pergi. Tapi aku tidak akan membiarkan perempuan itu mendapat celah."


"Baiklah kalau begitu."


"Ayo, kita atur keberangkatan kalian sekarang juga."

__ADS_1


Antonio dan Arya meninggalkan area tersebut dan mempersiapkan keberangkatan Arya untuk kembali ke Indonesia.


...****************...


__ADS_2