
Dua minggu berlalu.
Sejak pembicaraannya dengan Sora di kamar Ichigo, kini hubungan Biru dan Sora semakin baik setiap harinya. Sora semakin sering mengajak Biru untuk berbincang. Meski sikap Biru masih tetap sama, tapi ia juga tidak menolak saat Sora mencoba membangun komunikasi dengannya.
"Siapa yang menyuruhmu masak di tempat ini?!" Hardik Indira saat melihat Biru memasak di dapur utama. "Keluar dari tempat ini!!! Jangan membawa virus kemiskinanmu ke dalam dapur!!!"
Biru menghentikan gerakannya mengaduk makanan kemudian meminta pelayan yang berada di sisinya untuk melanjutkan. Ia lalu berbalik menatap Indira.
"Hanya karena kau dekat dengan ibu mertuaku, bukan berarti kau bisa menjadi Nyonya Besar atas rumah ini! Aku adalah Nyonya yang sebenarnya!"
Biru mengangkat kedua alisnya. "Saya hanya memasak hidangan yang diminta suami saya untuk makan malam. Kenapa Ibu Mertua sampai mengaitkan ke posisi di dalam rumah? Lagipula masih ada Nyonya Besar Keyko, kenapa Ibu Mertua mengklaim bahwa andalah Nyonya rumah ini?! Sepertinya Ibu Mertua begitu mengidam-idamkan posisi Nyonya Besar."
Perkataan Biru membuat beberapa pelayan dan chef senior yang sudah lama bekerja untuk keluarga Kinomoto segera menatapnya. Meski hanya sebentar, Indira merasa sangat tidak nyaman.
Ia lantas menghampiri Biru dengan cepat. "Jaga mulutmu, menantu kurang ajar!!!" Saat itu juga tangannya melayang menuju pipi Biru.
Saat ujung mata Biru menangkap sesosok tubuh di belakang Indira, ia membiarkan tangan wanita itu menyentuh pipinya.
Plakkk!!!
"Itu pelajaran bagimu karena sudah berani menentangku! Dan ini jadi pelajaran yang lain juga. Mulai sekarang, perempuan miskin ini dilarang masuk dapur!"
"Apakah salah jika aku ingin istriku memasak untukku, Ibu?" Sora bertanya dengan tangan mengepal. Hatinya memanas melihat Biru dipukul oleh Indira bahkan dihina.
"So … Sora … Ibu … "
"Lagipula, aku yang memintanya." Imbuh Sora sambil berjalan mendekati Biru kemudian memegang pipinya.
Sora mengatupkan rahang dengan erat saat melihat pipi Biru yang merah.
"Jangan marah Ibu. Saya memang tidak pantas disini, Bang." Biru memasang wajah tegar.
"A … apa? Sora … jangan percaya …"
"Aku juga tidak tuli, Ibu. Tadi aku mendengar dengan jelas ucapan Ibu setelah memukul istriku." Sora merangkul bahu Biru dan membawanya pergi.
Bertepatan saat Paman Ben akan masuk ke dapur. Pria tua itu mengernyit saat melihat pipi Biru yang merah.
"Paman. Tolong siapkan bahan sayuran, ikan dan juga daging di pantry atas. Agar istriku lebih bebas memasak untukku." Pinta Sora pada Paman Ben.
Ben menatap ke arah dapur, terlihat Indira dengan wajah penuh kemarahan menatap ke arahnya.
"Baik Tuan, saya akan mengisi bahan segar di pantry lantai atas." Jawab Ben pada Sora.
"Terima kasih Paman."
Sora menggenggam tangan Biru dan mengajaknya pergi ke lantai 2. Biru menatap tangannya, kemudian menatap Sora.
Tadi 3 kali dia menyebut kata istriku. Ada apa dengannya?
Setibanya di kamar, Biru langsung duduk di sofa. Sedangkan Sora masuk ke dalam walk in closet untuk membuka baju kantornya.
__ADS_1
"Kenapa membiarkan dirimu dipukul?" Tanya Sora yang sudah berganti baju.
"Saya tidak membiarkan diri saya dipukul."
Sora mengernyit mendengar jawaban Biru.
"Kan Abang sudah membalasnya untuk saya. Itu balasan yang lebih menyakitkan daripada pukulan."
"Kau memanfaatkanku?"
"Maaf." Jawab Biru acuh.
"Tidak semudah itu."
"Jadi?"
Sora bersedekap. "Buatkan cemilan, untuk besok dibawa ke kantor."
Biru terkekeh pelan. "Baiklah."
Keesokan harinya, Biru setengah berlari menuju ke depan. Karena sibuk mengurus Ichigo, ia lupa memberikan setoples cemilan yang sudah ia buat untuk Sora.
"Abang!"
Sora yang hendak masuk ke mobil segera berhenti dan menunggu Biru mendekat.
"Lupa." Biru mengangkat toples yang ia bawa.
Sora tersenyum menerima toples dari tangan Biru.
Cup…
Setelah mengecup pipi Biru, Sora langsung masuk ke dalam mobil. Meninggalkan Biru yang masih terpaku karena terkejut.
Biru mengerjap beberapa kali. Saat fokusnya kembali, ia mengedarkan pandangannya dan mendapati pelayan, petugas keamanan dan tukang kebun yang berada di depan sedang curi-curi pandang menatapnya sambil tersenyum.
"Ehmmm!" Biru berdehem karena canggung.
Begitu berbalik, ia terkejut melihat Natsuki sedang menutup mulutnya. Namun terlihat dari matanya kalau Natsuki sedang tertawa.
"Tidak lucu." Ucap Biru saat berjalan melewati Natsuki.
"Memang tidak lucu. Tapi sangat manis." Sahut Natsuki sambil mensejajari langkah Biru.
Di mobil, Sora meraba bibirnya. Ia sendiri tidak menyangka bisa begitu berani mencium pipi Biru.
"Akhir-akhir ini otak dan gerak tubuhku tidak sinkron." Gumamnya pada diri sendiri.
Pagi itu terjadi kehebohan di kalangan pelayan, semua membahas tindakan Sora yang mereka anggap romantis. Indira yang tidak sengaja mendengar para pelayan perempuan bergosip hanya bisa mengepalkan kedua tangannya erat-erat.
***
__ADS_1
Biru, Sora dan Ichigo sedang bersantai di dekat paludarium yang dilengkapi dengan kolam ikan koi. Ichigo tampak sangat menikmati aneka jenis buah potong yang Biru siapkan.
"Mama, Ichi kenyang." Ichigo mengusap perutnya. "Ichi mau main sepeda ya Ma."
"Iya sayang." Biru berdiri dan hendak menemani Ichigo bersepeda.
"Nanti kembali ya. Biar Farah yang menemani." Ucap Sora pada Biru. "Ichigo-chan, main sama suster ya."
"Iya Papa."
"Abang …" Biru ingin melayangkan protes, namun Sora sedang tidak ingin dibantah.
"Kamu temani aku." Ujarnya memotong ucapan Biru.
Biru menghela nafas, ia lantas mengantar Ichigo dan Farah. Mengawasi sebentar kemudian kembali pada Sora.
Namun saat ia sudah dekat, ia mendengar suara seorang wanita yang sedang marah.
Arini? Pikir Biru.
Biru meneruskan langkah dan benar saja, Arini sedang menatap Sora dengan kesal.
"Sibuk apa sih sampai nggak bisa jemput aku?" Arini penuh dengan emosi, namun Sora tidak menanggapi. Ia tetap memandangi ipad yang ia pegang.
"Sora!" Karena kesal diabaikan, Arini merebut ipad milik Sora.
Namun dengan cepat dan kasar, Sora kembali merebut ipad dari tangan Arini.
"Aku sibuk. Pergilah." Sora pun berdiri dan melangkah pergi. Ketika melewati Biru, ia segera menarik tangan Biru agar ikut bersamanya.
"Sora!"
"Sora!"
Sia-sia saja Arini berteriak, karena Sora sengaja menulikan telinganya. Ia bahkan semakin menggenggam erat tangan Biru.
Indira yang mendengar teriakan Arini segera menghampiri wanita itu.
"Arini! Kamu kemana saja sih?!" Tanya Indira dengan kesal. "Lihat! Sora kena guna-guna perempuan itu! Kamu sih, lama sekali pulangnya."
Arini melirik kesal pada Indira. "Sibuk Tan. Pekerjaanku di London bertambah." Jawab Arini masih dengan wajah masam.
"Aaarrghhhh!" Arini menghentakkan kakinya. "Pokoknya Tante harus tanggung jawab. Sora harus kembali tunduk dan tergila-gila sama aku."
"Kok Tante?"
"Kalau tidak, aku akan bilang ke Paman. Biar uang bulanan Tante dipangkas!" Ancam Arini.
Indira terkejut, ia kesal dengan ancaman Arini. Namun akhirnya ia memaksakan seulas senyum.
"Tante akan cari cara untuk menjatuhkan Biru di depan Sora." Ujarnya sambil mengusap tangan Arini.
__ADS_1
Arini tersenyum sinis melirik tangan Indira. Ia tahu kalau Pamannya mengubah laporan keuangan perusahaan agar bisa memberikan uang lebih pada Indira. Padahal Sora juga sudah memberikan jatah pada wanita itu. Akan tetapi semua itu seakan tidak cukup. Oleh sebab itu, Arini menggunakan kartu yang ia miliki untuk menekan Indira.
...****************...