Hartamu Menghancurkan Keluargaku

Hartamu Menghancurkan Keluargaku
Bab. 33


__ADS_3

Biru dan Ichigo sudah berada di tempat tidur. Seperti biasa, sebelum tidur Biru akan membacakan sebuah buku cerita sebagai pengantar tidur.


Biru memegang sebuah buku dan memilih akan membacakan cerita yang mana. Namun Ichigo menahan tangannya.


"Mama."


"Iya sayang."


"Apakah adik bayiku sudah selesai dibuat?"


"Ap ... apa?"


"Iya, Nenek bilang kalau Ichi mau adik, Mama sama Papa harus buat dulu. Jadi, apa adik Ichi sudah selesai dibuat?"


Biru menelan salivanya dengan kasar. "Ichi, itu ... "


"Tepungnya habis ya Ma. Kalau habis, biar Ichi sama Sus Farah beli lagi."


Kedua alis Biru terangkat. Biru tidak bisa untuk tidak tertawa. Namun sekuat tenaga ia menahannya. Dalam pikiran Ichigo, membuat adik sama seperti membuat kue.


Dengan lembut Biru mengusap rambut Ichigo. "Ichi sayang, sudah siap jadi kakak?"


"Iya Mama, Ichi sudah siap seperti Gloria." Ichigo mengangguk tegas. "Eumm...Mama, kakak itu apa?"


Biru tersenyum lembut. "Kakak itu orang yang lebih dulu lahir dari adik."


"Oooo."


"Dia harus bisa membagi mainan dengan adik. Harus menyayangi adik. Menemani adik bermain. Me ... "


"Kalau begitu, kapan Ichi main sendiri? Ichi sayang mainan Ichi, kenapa harus dibagi?"


"Karena berbagi itu perbuatan baik."


Mata Ichigo berbinar-binar. "Iya Mama. Ibu guru juga bilang begitu."


"Berarti Ichi sudah siap menjadi kakak."


"Jadi, mana adiknya Ichi, Mama?"


Biru terperangah, ia kembali ke titik yang sama.

__ADS_1


Bagaimana cara menjelaskan ini? Keluh Biru dalam hati.


***


Biru melangkah masuk ke kamarnya dengan raut wajah yang lelah. Ichigo akhirnya tertidur setelah mendengar penjelasan Biru. Penjelasan yang berputar-putar terdengar seperti cerita pengantar tidur di telinga Ichigo.


"Ada apa?" Tanya Sora sambil meletakkan bukunya.


"Eumm, ya, Ichigo bertanya apa adik sudah selesai dibuat atau belum." Jawab Biru canggung.


Sora tersenyum, ia tidak terkejut karena sudah beberapa kali Farah melapor pada Sora. Ichigo meminta hal yang sama, seorang adik.


"Jangan dipikirkan. Suatu saat dia akan lupa."


Sora mencoba membesarkan hati Biru. Namun tidak berhasil, karena Biru masih terlihat merasa bersalah.


Sora menghela nafas, ia turun dari tempat tidur dan menghampiri Biru yang berdiri di tengah ruangan.


"Aku tahu, permintaan Ichi memang berat. Aku akan mencari cara bagaimana menjelaskan kepada Ichi." Ucap Sora sambil meletakkan kedua tangannya di kedua pundak Biru.


Biru yang semula menunduk mengangkat wajahnya dan menatap Sora. "Terima kasih, Bang."


***


Setelah Sora dan Ichigo pergi, Ichigo memutuskan untuk menelepon Arya.


"Apa kabar, Dek?"


"Baik Mas. Indira belum pulang ke rumah."


"Tapi harus tetap waspada. Mengerti?"


"Iya Mas." Biru terkekeh pelan. "Mas, Biru mau tanya. Apa Ibu pernah menyinggung tentang sahabat pena Ayah?"


Terdengar hening diujung sambungan, sepertinya Arya sedang berfikir.


"Iya, pernah. Bahkan Ibu mengirimkan sebuah amplop besar seminggu sebelum kejadian maas itu."


"Amplop? Apa isinya?"


"Mas tidak tahu, karena Ibu berpesan jangan dibuka."

__ADS_1


Biru menggigit bibir. Ia terpaksa menelan rasa kecewa.


"Ada apa sebenarnya?"


"Ternyata mendiang ayah mertua adalah sahabat pena ayah."


"Apa? Kau yakin?"


Biru mengangguk meski Arya tidak bisa melihat anggukan itu.


"Iya Kak. Nenek sendiri yang cerita. Aku juga melihat sendiri foto Ayah di tumpukan surat."


Terdengar Arya menarik nafas berat. "Kalau begitu, Mas akan pulang terlebih dulu ke Hongkong. Karena saat itu Ibu berkata, itu adalah berkas milik sahabat pena Ayah. Ibu meminta tolong agar Mas menyimpannya."


"Kenapa dikirim ke Mas?"


"Menurut Ibu, rumah sudah tidak aman lagi. Dan Ibu juga berpesan, tidak ada yang boleh tahu kalau Mas menyimpan berkas dari sahabat pena Ayah. Berkas itu akan dikirim kembali jika ahli waris sahabat Ayah sudah mengambil alih perusahaan."


Biru dan Arya terdiam untuk beberapa saat.


"Mas."


"Iya."


"Sepertinya, berkas yang dimaksud adalah sertifikat tanah milik keluarga Kinomoto."


"Tahu darimana?"


"Nenek Keyko. Beliau mengatakan Jun mengirim sertifikat ke Ayah karena sudah tidak ada tempat yang aman lagi. Ada pengkhianat di perusahaan dan keluarga mereka."


"Begitu rupanya." Suara Arya terdengar berat.


"Apakah ... itu ... itu berarti ..." Mendadak Biru merasa gugup.


"Ayah dan Ibu dibunuh orang yang menginginkan sertifikat itu. Begitu maksudmu?" Sambar Arya.


"Iy ... iya."


"Hhhhhhhhhhh... Mas juga berpikir begitu, Dek."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2