Hartamu Menghancurkan Keluargaku

Hartamu Menghancurkan Keluargaku
Bab. 9


__ADS_3

Biru sedang membuatkan cookies jahe untuk Ichigo. Hari ini, Indira sedang tidak ada di rumah. Jadi Biru leluasa pergi ke dapur. Sudah beberapa kali Biru meminta bantuan Paman Ben untuk tidak mengatakan tentang kegiatannya kepada siapapun. Dan pelayan di dapur pun tutup mulut.


Dengan penuh semangat, Ichigo menemani Biru di dapur. Ia duduk tenang memperhatikan setiap gerakan Biru.


Paman Ben memasuki area khusus membuat cemilan itu. Ia ingin memastikan Biru bergerak dengan leluasa dan bebas tanpa mata-mata Indira.


"Kakek Ben." Panggil Ichigo.


"Saya, Nona."


"Ichi rindu Nenek. Apa Nenek sudah sembuh?"


"Eh, Ichi sudah bisa bilang 'r'." Ucap Biru sambil tersenyum senang.


"Selamat Nona." Paman Ben tersenyum lembut menatap Ichigo. "Dan ya, Nenek sudah bisa dikunjungi. Nyonya Besar sudah sehat."


"Yes!" Ichigo bertepuk tangan. "Mama, kita ke Nenek ya."


"Iya sayang." Jawab Biru dengan memaksakan senyum. Biru tidak tahu situasi yang akan terjadi di sana. Apakah menegangkan seperti berhadapan dengan Indira? Atau malahan lebih menyeramkan dari itu?


Tapi Biru tidak mau membuat Ichigo sedih dengan menolak ajakannya. Biru hanya bisa menyiapkan diri untuk semua kemungkinan terburuk yang akan terjadi.


Paman Ben mengantar Biru dan Ichigo menggunakan Buggy Car. Karena paviliun tempat Nenek Keyko tinggal sedikit lebih jauh di belakang. Dipisahkan oleh rumah kaca dan danau buatan.


Selama tinggal di rumah Kinomoto, Biru belum pernah pergi jauh dari rumah utama. Iya merasa hanya istri palsu, dan kontrak bisnis itu hanya berlaku satu tahun. Jadi Biru tidak ingin mengenal seluk beluk kediaman itu.


Setibanya di paviliun, kedatangan mereka disambut oleh Bibi Lun, pelayan setia Keyko Kasagawa, Nenek dari Sora dan Natsuki Kinomoto.


"Selamat datang Nyonya Muda, Nona Besar."


"Nenek Lun." Ichigo berlari masuk ke dalam pelukan Bibi Lun.


"Nona sudah tambah besar." Bibi Lun mengusap kepala Ichigo.


"Halo, nama saya Biru." Biru memperkenalkan diri sambil menunduk.


Bibi Lun mengerjap. Ternyata Tuan Muda mencari daun muda, makanya baru menikah. Muda sekali.


"Nyonya, jangan begitu." Bibi Lun merasa tidak enak dengan keramahan Biru. "Saya Lun, pelayan Nyonya Besar. Mari, saya akan membawa Nyonya untuk bertemu Nyonya Besar."


"Kalau begitu, saya akan kembali, Nyonya." Paman Ben berpamitan pada Biru.


"Terima kasih Paman Ben."


Ichigo sudah berlari lebih dulu menuju kolam ikan yang berada di teras samping. Ia sudah hafal dengan kebiasaan Nenek Buyutnya.


Sesampainya Biru disana, Ichigo sudah memeluk dan mencium Nyonya Keyko berulang kali.


Bibi Lun segera menghampiri untuk memberitahukan keberadaan Biru. Tanpa mereka ketahui, Biru mengepalkan kedua tangan untuk mengatasi debaran jantungnya. Ia benar-benar gugup. Biru tidak pernah berpikir akan membohongi seorang sesepuh.


Keyko berdiri dan menatap Biru dengan tatapan yang sulit Biru artikan. Biru membungkuk memberi salam, kemudian berjalan mendekat.


"Buyut, ini Mama Ichigo. Cantik kan?"


Bibi Lun tersenyum mendengar ucapan Ichigo, namun Keyko masih terus menatap Biru dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Selamat siang, Nyonya Besar. Saya Biru." Ucap Biru dengan penuh hormat.


"Apakah Sora sudah gila?" Tanya Keyko tiba-tiba.


Mampus aku. Gumam Biru dalam hatinya.


"Kenapa dia menikahi anak sekolah?" Imbuh Keyko lagi.


"Ehh?" Biru mengangkat kepalanya menatap Keyko dengan dahi berkerut.


"Nyonya … "


"Apa orang tuamu sudah menjualmu ke Sora?"


Biru mengerjap. "Tidak … tidak begitu Nyonya."


"Lalu bagaimana? Kau mengorbankan masa mudamu dan menikah dengan duda tengik itu? Pasti dia mengancammu. Iya 'kan?"


"Nyo … Nyonya. Umur saya sudah 24 tahun." Sahut Biru untuk menghentikan kesalahpahaman Keyko.


"Apa?" Nyonya Keyko dan Bibi Lun sama-sama terkejut. Keduanya terang-terangan memindai Biru. Dari kepala sampai ujung kaki, kembali ke kepala lagi.


"Jangan takut sayang, jujur saja. aku akan memberi pelajaran pada anak itu." 


Biru bingung, ia tak dapat berkata-kata lagi. Hingga akhirnya ia ingat pernah menyimpan KTP dalam bentuk pdf di dalam ponsel pintarnya. Biru segera mengambil ponsel dan menunjukkan KTP miliknya pada Nenek Keyko.


"Ini KTP saya, Nyonya."


Keyko menggunakan kacamata untuk membaca. Keningnya berkerut begitu membaca nama lengkap Biru.


Namanya seperti tidak asing. Ah, aku sudah tua. Sudah melupakan banyak hal.


Begitu melihat tahun lahir Biru, Keyko menarik nafas lega. Sementara itu, Ichigo yang tidak mengerti dengan percakapan Nenek buyutnya, sibuk memberi makan ikan koi.


"Kau diberkati dengan wajah seperti anak-anak. Bibi face." Ucap Keyko.

__ADS_1


"Baby face, Nyonya." Bibi Lun mengoreksi.


"Ya ya ya. Pokoknya itu." Keyko melambaikan tangannya dan kembali duduk di kursi taman. "Kemarilah Nak." Ia memanggil Biru.


Biru segera datang dan duduk di samping Keyko. Mereka mengamati Ichigo yang masih memberi makan ikan.


"Ichigo, apakah kau mau ikan Buyut mati kekenyangan?" Tanya Keyko.


"Tidak Buyut. Ichi ingin mereka semakin gemuk, Ichi mau makan ikan gemuk."


"Kamu mau makan ikan Koi Nenek?" Keyko menegakkan tubuhnya.


Dengan polosnya Ichigo mengangguk. "Nanti Buyut bisa beli lagi."


Keyko menatap tak percaya, sedangkan Biru dan Bibi Lun menahan senyum. Tiba-tiba seekor kelinci mendekati Ichigo. Dengan cepat dia meletakkan pakan ikan kemudian berusaha meraih kelinci berwarna putih itu.


"Sepertinya Snow kabur lagi dari kandangnya." Ujar Bibi Lun.


"Tak apa. Biar Ichigo berhenti mengkhayal makan ikan Koi." Ucap Keyko sambil memijat pelipisnya.


Biru mengamati Keyko dan tersenyum. Meski usianya sudah sangat tua, tubuh Keyko masih terlihat bugar. Hanya sedikit pucat karena baru saja sembuh.


"Hahhh." Keyko mendesah kasar. "Kapan koki itu akan datang? Aku sudah sangat ingin makan sup sarang burung walet."


"Mohon bersabar, Nyonya Besar." Jawab Bibi Lun.


"Saya bisa memasaknya jika Nyonya mau."


"Panggil aku Nenek." Keyko meralat.


"Eh, iy … iya, Nenek."


"Apa kamu bisa membuatnya? Seleraku sangat tinggi."


"Saya akan berusaha sebaik mungkin."


Keyko mengangguk. "Lun, antar Biru ke dapur. Biarkan dia berusaha mengambil hati mertuanya ini."


"Eh?" Biru terkejut. Ia tidak punya niat mencari muka. Ia hanya merasa kasihan melihat raut wajah Keyko yang sangat ingin makan sup itu. Ah, sudahlah.


"Mari, Nyonya Muda." Ajak Bibi Lun.


Tidak sampai 1 jam, Bibi Lun dan Biru sudah kembali sambil membawa sebuah mangkuk berisi sup burung walet. Biru terkejut ketika melihat sudah ada orang lain di sisi Keyko.


Pantas saja Bibi Lun membawa banyak mangkuk. Gumam Biru setelah melirik Bibi Lun yang berjalan di sampingnya.


"Nah, sup sudah jadi. Ayo Amaya, kita cicipi  masakan cucu menantuku." Ajak Keyko.


Keyko terkekeh. "Jangan salah Amaya, dia sudah cukup umur. Biru memang dianugerahi bibi face oleh Tuhan."


"Baby face." Amaya mengoreksi.


"Ya itu." Jawab Keyko. "Biru, perkenalkan. Ini adik perempuanku, Amaya."


"Senang bertemu dengan anda, Nyonya. Saya Biru." Biru membungkuk.


"Aduh cantik, panggil saja aku Oma Amaya." Ujar Amaya. Keyko melirik tak suka.


"Kenapa?" Tanya Amaya. "Aku lebih nyaman dipanggil dengan sebutan Oma daripada Nenek." Jelas Amaya.


"Ya ya ya." Keyko mulai menikmati sup buatan Biru. "Ya ampun." Keyko terperangah.


"A … ada apa Nek?" Biru cemas. "Tidak enak ya."


"Kebalikannya sayang. Ini enak sekali. Lebih enak dari buatan koki langgananku." Puji Keyko.


Biru menarik nafas lega. Amaya yang ikut menikmati sup itu pun mengangguk-anggukkan kepala membenarkan ucapan Keyko.


"Lun, ayo makan juga. Ini sangat enak." Keyko memberi sebuah mangkuk pada Bibi Lun. Wanita paruh baya itu menerima dengan rasa sungkan yang begitu terlihat.


"Saya mencari Ichigo dulu." Ucap Biru begitu melihat ketiga wanita di depannya menikmati sup buatannya.


"Iya, mungkin dia ada di taman belakang."


Biru segera mencari Ichigo. Begitu melihat kedatangannya, Ichigo segera datang dengan wajah riang.


"Mama." Ichigo segera memeluk Biru.


Hati Biru terasa hangat. Refleks ia mengecup kepala Ichigo berkali-kali.


Jika anakku hidup, mungkin usia mereka sama. Lirih Biru dalam hatinya. Dan ia pun semakin mengeratkan pelukannya pada Ichigo. Tanpa bisa dihindari, rasa sayang Biru pada gadis kecil itu makin bertambah.


***


Tanpa terasa, hari sudah menjelang sore. Biru dan Ichigo sudah berkumpul kembali di ruang tengah paviliun bersama Keyko dan juga Amaya.


"Aku pulang." Terdengar suara Sora. Ia sudah mendapat kabar dari Paman Ben jika Nenek Keyko sudah bisa dikunjungi. Oleh sebab itu Sora bekerja dengan semangat supaya bisa cepat pulang untuk menemui Keyko.


Namun sayangnya, tak ada satupun yang menyambutnya. Semua wanita di ruangan itu sibuk bercanda. Bahkan Ichigo tampak begitu lepas tertawa sambil menikmati es krim yang ia dapat dengan susah payah setelah berhasil membujuk Keyko.


Sora berhenti melangkah. Ia takjub dengan pemandangan di depannya. Hati Sora terasa hangat melihat hal yang sudah lama tidak terjadi. Ichigo tertawa lepas dan Keyko tersenyum lebar. Padahal ia sering melihat Nenek Keyko diam dan jarang sekali tertawa.

__ADS_1


"Kau sudah pulang?" Nenek Amaya yang menegur Sora lebih dulu.


"Papa!" Seru Ichigo, namun tidak mendekat.


Sora tersenyum dan mendekati mereka. "Apa yang membuat para gadisku bahagia?"


"Dasar duda tengik! Kau pikir paviliun ku adalah harem?" Tanya Nenek Keyko.


Sora terhenyak mendengar pertanyaan Neneknya. Sudah lama sekali ia tak mendengar Nenek berbicara seperti itu. Nenek berubah drastis setelah kematian Orang tuanya. Dan hari ini, sepertinya Nenek kembali ceria seperti dulu.


"Harus Oma akui, seleramu sangat bagus. Istrimu sangat cantik dan imut. Bibi face." Ujar Amaya.


"Baby face." Kini gantian Keyko yang mengoreksi.


"Ya ya, itu maksudku." Amaya tertawa.


Sora tersenyum tipis, ia menatap Biru yang masih saja sibuk makan es krim dengan Ichigo. Ketika ia menatap wajah Biru, Sora tersenyum geli.


Dengan cepat ia melangkah dan tangannya terulur mengusap bibir Biru.


"Kau dan Ichigo sama saja. Makan es krim sampai belepotan begini." Ucap Sora dengan ibu jari menyapu bibir Biru.


Tangan Sora berhenti, matanya terpaku pada bibir Biru yang lembut dan menggugah selera. Bibir mungil yang merona itu benar-benar menguji imannya.


Biru pun terdiam, ia begitu terkejut dengan perlakuan Sora hingga otaknya menjadi sangat lambat untuk mencerna apa yang sedang terjadi. Sedangkan Keyko dan Amaya sudah saling menyenggol melihat adegan di depan mata mereka. Bibi Lun tersenyum lebar melihat keromantisan Tuan Mudanya. Ichigo tak berhenti menatap sambil terus menyuap es krim ke dalam mulutnya.


"Sora!" Tiba-tiba terdengar teriakan Arini. Begitu mengetahui Sora menuju paviliun, ia memang langsung menyusul.


Senyuman di wajah Keyko, Amaya dan Bibi Lun langsung pudar. Sedangkan Sora dan Biru, keduanya mengerjap dan segera menjauhkan diri. Dari posisi Arini, Sora seakan sedang mencium Biru. Dan hal itu membuat emosinya meledak.


"Perempuan tak tahu diri! Berani menggoda kekasihku!" Arini emosi, tanpa melihat situasi ia langsung memaki.


"Jika bukan karena pamanmu, Hasan, aku sudah lama menyewa pembunuh untuk menyingkirkanmu." Ucap Amaya dengan dingin. Sebagai adik dari Keyko, ia paham betul dengan situasi di keluarga Kinomoto.


Arini mengerjap, ia seakan tersadar sedang berada dimana. "A … aku."


"Maaf Nek." Sora membungkuk dan menarik tangan Arini untuk pergi.


"Kenapa kamu menciumnya?!" Tanya Arini ketika mereka sudah berada di Buggy Car.


"Aku tidak menciumnya."


"Bohong!!! Aku akan mengatakan pada Paman kalau kamu sudah keterlaluan!" Ancam Arini. "Bisa-bisa pernikahan ini tidak hanya satu tahun seperti yang kamu katakan.


Sora memijat pelipisnya. "Tanya saja pada Nenek. Aku tidak menciumnya. Percayalah padaku." Ucap Sora dengan nada memelas.


Sora meraih tangan Arini dan mengecupnya. "Fine Dining?" Tawar Sora.


Arini terdiam. Sudah lama juga ia tidak menikmati makan malam mewah. 


Baguslah, sudah lama tidak posting kemewahan di Instagram. Nanti para pesaingku menganggap status sosialku sudah merosot.


"Baiklah, tapi aku yang tentukan restorannya."


"Ya, silahkan." Jawab Sora.


Ia memaksakan seulas senyum. Tidak lama lagi akan diadakan rapat dewan direksi. Ia tidak ingin mengambil resiko.


Sora segera mengantar Arini sampai ke halaman depan. Ia meminta Arini pulang lebih dulu diantar supir dan berjanji akan menjemput Arini pada malam hari.


Sedangkan di paviliun, Bibi Lun sudah membawa Ichigo untuk membersihkan diri. Kini tinggalah Biru seperti seorang tahanan di depan para hakim.


Keyko menghela nafas dengan kasar. Sedangkan Amaya memijat pelipisnya.


"Kamu adalah istrinya, Nak." Ucap Amaya pelan.


"Saya tahu, Oma. Tapi jika Tuan eh suami saya gegabah, kasihan nasib para pekerja." Biru beralasan.


Beruntung Natsuki sudah menceritakan percakapannya dengan Sora dan menjelaskan situasi di perusahaan. Biru jadi bisa membela Sora dan dirinya di depan para sesepuh.


"Bukankah tadi Oma juga mengatakan hal yang sama." Imbuh Biru lagi.


Amaya menggeleng-gelengkan kepala. Hatinya dipenuhi rasa iba pada gadis muda di depannya. Sedangkan Keyko, ia langsung memeluk Biru.


"Kamu yang sabar ya sayang. Nenek ada di pihakmu." Ucap Keyko sambil mengusap punggung Biru.


Ucapan Keyko membuat hati Biru teriris. Biru merasa sangat bersalah telah membohongi kedua wanita di depannya.


Ya Tuhan. Apa yang sudah aku lakukan? Keluh Biru di dalam hatinya.


Tanpa sadar, Biru meneteskan air mata. Amaya yang melihat itu segera menghampiri dan ikut memeluk.


"Menangislah sayang. Kau pasti sudah sangat menderita."


Keyko terkesiap, ia kemudian menepuk-nepuk punggung Biru. "Tumpahkan segala kesedihanmu."


Astaga, semakin salah paham. Biru mengerang dalam hati. Padahal ia menangis karena rasa bersalah.


   


...****************...

__ADS_1


__ADS_2