Hartamu Menghancurkan Keluargaku

Hartamu Menghancurkan Keluargaku
Bab. 11


__ADS_3

Beberapa hari beristirahat membuat Sora merasa lebih bugar. Selama sakit, Sora tidak ingin dijenguk oleh siapapun termasuk Arini. Sora menghabiskan banyak waktu di paviliun. Tentu saja hal itu membuat Indira kesal. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Di depan Sora, Indira harus berlakon sebagai menantu serta ibu tiri yang baik.


Biru terlihat sibuk di dapur. Hari ini, Ichigo ingin makan pizza. Sora menatap Biru dari jauh. Entah kenapa, akhir-akhir ini, melihat Biru berkutat di dapur untuk memasak atau membuat kudapan menjadi hobi baru bagi Sora.


Ponsel Sora berdering. Setelah melihat nama sang penelepon, Sora berdecih kemudian pergi menuju halaman depan. Tanpa Sora ketahui, di dapur, Biru menarik nafas lega melihat Sora pergi. Ia tahu jika Sora sering menatapnya saat sedang bekerja di dapur. Dan itu membuat Biru risih.


Di halaman depan, Sora menggeser ikon berwarna hijau dengan berat hati.


"Ya Arini."


"Sayang, kenapa kau tidak ingin aku jenguk?"


Terdengar suara Arini merajuk. Sora menghela nafas kasar.


"Apa kau mau berhadapan dengan Nenek?"


"Itu … tentu saja tidak. Tapi kamu kan bisa istirahat di rumah utama. Kenapa harus di paviliun? Biar bebas dengan Biru ya."


Suara Arini sarat dengan nada kebencian saat menyebut nama Biru.


"Bukankah di rumah utama kami juga tidur di kamar yang sama?"


"Ya tapi … tapi …"


"Sudahlah Arini. Lagipula kau selalu memantau keadaanku lewat ibu. Jadi tidak perlu khawatir diam-diam aku akan pergi kencan." Sindir Sora.


Arini terdiam, Sora menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut. Masih terhubung.


"Kalau tidak ada yang ingin kau katakan, aku akan menutup telepon."


"Tu … tunggu." Akhirnya Arini bersuara. "Aku hanya ingin berpamitan. Aku akan ke London hari ini. Aku ada pekerjaan disana selama 1 minggu."


"Dengan siapa?"


"Sendiri. Saat ini aku sudah di bandara."


"Jaga dirimu baik-baik."


"Sora … "


Belum sempat Arini melanjutkan kalimatnya, Sora sudah memutuskan panggilan. Bayangan Arini berpakaian minim kembali melintas. Sora marah, tapi ia tidak bisa bertindak gegabah.


***


Biru terkejut melihat kesibukan di pantry yang ada di lantai 2. Pelayan dan pegawai toko elektronik hilir mudik membawa perkakas tukang dan karton-karton. Terlihat beberapa peralatan memasak yang baru. 


"Ada apa?" Tanya Sora yang muncul di belakang Biru.


"Pantry-nya, kenapa diperbaiki?" Tanya Biru tanpa melepas pandangannya dari pantry.


"Biar kamu tidak mengganggu koki di lantai 1 kalau mau buat cemilan untuk Ichi. Atau pergi jauh ke paviliun hanya untuk buat cemilan."


Dahi Biru berkerut, ia lalu menatap Sora. Dan Biru semakin terkejut saat melihat suami gadungannya itu. Sora memakai baju yang Biru siapkan.


"Apa ada yang salah?" Tanya Sora.


Biru menghela nafas. "Saya memasak di paviliun, karena kebetulan kami sedang berada disana saat Ichigo ingin makan sesuatu. Jika sedang di rumah utama, saya akan pakai dap … pur." Biru sadar sudah keceplosan.


Sora menatap Biru dengan intens, bahkan ia mengubah posisi tubuhnya hingga menghadap ke arah Biru. 


"Kenapa?" Tanya  Biru, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


Sora tertegun. Dia begitu tenang, disaat sudah salah bicara pun masih bisa bersikap biasa.


"Jadi, kamu sudah sering memasak di rumah ini?"


"Hanya untuk Ichigo."


Sora mengangguk-anggukkan kepala. Kemudian Paman Ben datang menghampiri mereka berdua.

__ADS_1


"Tuan, Nyonya."


"Ada apa Paman?" Tanya Sora.


"Saya sudah membeli beberapa bahan untuk memasak dan membuat kue. Mohon Nyonya memeriksa setelah pantry siap digunakan. Jika ada yang kurang, saya akan membelinya lagi."


Biru menatap Sora lagi. Ia seolah bertanya melalui tatapan matanya.


"Pantry ini khusus untukmu. Buatlah makanan atau kudapan apapun yang Ichigo mau. Aku percaya kau tahu mana yang baik dan mana yang tidak untuk anak kecil." Ujar Sora.


Biru beralih menatap pantry sejenak kemudian menatap Paman Ben.


"Terima kasih, Paman. Nanti saya akan memeriksanya."


"Baik, Nyonya. Permisi, Tuan."


***


Biru berkutat dengan mesin penggiling pasta. Ia sedang membuat sistik untuk Ichigo. Sambil bekerja, otaknya berpikir keras. Satu toples kue yang berukuran sedang berisi sistik bisa kosong dalam waktu semalam. Padahal Biru yakin sudah kembali mengisi toples tersebut setelah Ichigo menghabiskan setengah dari sistik yang baru saja dibuat Biru.


Sebelum berangkat sekolah, Ichigo terlihat sedih karena sistik miliknya sudah habis. Oleh sebab itu, Biru kembali mengisinya.


"Kenapa kerja sambil melamun?"


Suara Natsuki membuat Biru menjengit.


"Oh itu."


"Ada apa? Sora menindasmu?"


Biru menggeleng. "Bukan Kak. Aku hanya sedang berpikir. Siapa yang memakan sistik milik Ichigo. Hanya dalam waktu satu malam, sistik itu habis tidak tersisa. Ichigo jadi sedih."


"Begitu rupanya." Natsuki manggut-manggut. "Sora yang menghabiskan."


"Apa?"


"Semalam aku melihatnya mengambil sistik itu dan membawanya ke ruang kerja. Dia kan suka ngemil sambil kerja."


"Bukan cuma sistik. Cemilan lain yang kau buat di paviliun juga begitu."


"Aku kira Ichigo sedang kuat makan."


"Bukan Ichigo, tapi papanya."


Biru tersenyum simpul.


"Tapi, harusnya kau berhenti memanggilku "kak". Aku kan adik iparmu." Protes Natsuki.


Biru hanya tertawa pelan. "Entahlah. Aku lebih nyaman memanggil kak."


"Tidak boleh. Mulai sekarang, panggil namaku saja."


Biru mendesah kasar. Ya Tuhan, seharusnya tidak seperti ini. Keluh Biru dalam hatinya.


"Baiklah, aku pergi ke butik dulu ya."


"Ya, hati-hati di jalan."


Selepas kepergian Natsuki, Biru kembali memasak. Setelah sistik siap, ia menyediakan sebuah toples lain untuk diisi sistik yang akan diberikan pada Sora.


Namun saat akan membawa ke dalam ruang kerja, Biru bingung. Dia tidak pernah masuk saat ruangan itu kosong. Jadi Biru tidak berani. Dia tahu sampai dimana batasannya sebagai istri gadungan di sisi Sora.


"Ada apa, Nyonya?" Tanya seorang pelayan yang baru selesai membersihkan ruang kerja Sora.


"Oh, kebetulan. Tolong bawa toples ini masuk ke dalam ruang kerja Tuan Muda. Bisa?"


"Dengan senang hati, Nyonya."


"Terima kasih." Biru merasa lega setelah memberikan cemilan tersebut.

__ADS_1


Selesai membuat cemilan, Biru pergi menuju paviliun. Ia akan mengajak Nenek Keyko melihat-lihat sayuran di dalam rumah kaca.


Setibanya disana, Nenek Keyko dan Bibi Lun telah siap untuk keluar. Meski berstatus Nyonya Besar keluarga Kinomoto, namun pergerakan Keyko sangat terbatas. Dan ini pun adalah ulah dari Indira.


Nenek Keyko berjalan kaki dengan Biru di sebelahnya. Sementara Bibi Lun berada di belakang mereka. Rumah kaca yang mereka tuju, tidak terlalu jauh dari paviliun.


Namun saat sudah dekat, mereka terpaksa berhenti karena beberapa pria tiba-tiba menghadang.


"Nyonya Besar, silahkan kembali ke paviliun." Perintah salah satu dari antara para penghadang.


"Kami hanya ingin melihat sayur-sayuran di rumah kaca." Ucap Bibi Lun.


"Pergi, atau kami terpaksa menggunakan kekerasan." Ancam pria itu.


"Kenapa kami tidak boleh ke rumah kaca?" Tanya Biru dengan tenang.


"Jangan banyak tanya!!!" Bentak pria tadi.


"Tapi beliau adalah Nyonya Besar rumah ini." Biru tidak mundur.


Pria itu tertawa mengejek. "Memangnya kenapa kalau wanita tua yang sudah akan mati itu adalah Nyonya Besar."


"Jaga mulutmu!" Desis Biru.


"Seret mereka semua!" Perintah Sang Pria kepada anak buahnya.


Begitu mereka mendekat, Biru segera menutupi Nenek Keyko dan Bibi Lun dengan tubuhnya.


"Jangan coba-coba."


Pria di depan Biru tersenyum sinis. "Memangnya kamu mau apa?" Tanyanya dengan tangan terulur hendak membelai pipi Biru.


Dengan cepat Biru menangkap tangan pria tersebut. Kemudian memutarnya dengan sangat kuat hingga lengan pria itu bergeser.


"Aakkhh!!!"


Melihat rekannya kesakitan, pria lain ikut menyerang Biru secara bersamaan. Namun Biru dengan mudahnya membuat mereka tumbang satu per satu.


Pria yang memberikan instruksi menggeram. Ia dipenuhi amarah ketika melihat semua anak buahnya terkapar di tanah.


"Mengurus perempuan saja tidak becus." Geramnya dan menuju Bibi Lun. Ia sengaja memilih target lain ketika Biru masih menghajar salah satu anak buahnya yang masih bisa bangkit dan melawan.


Ketika sudah dekat dengan Nenek Keyko dan Bibi Lun, pria itu menyeringai.


"Perempuan-perempuan tua yang menyusahkan Nyonya Indira." Ucapnya kemudian mengarahkan tinju ke perut Bibi Lun.


Namun belum sempat tangan besar itu menyentuh tubuh Bibi Lun. Biru sudah lebih dulu menarik kerah bajunya ke belakang dengan sangat kuat. Pria itu nyaris terjungkal. Namun belum sempat berdiri tegak, Biru sudah ada di samping dan menendang perutnya menggunakan lutut.


"Aaakkhhhh!!!"


Biru membuat pria itu jatuh dengan posisi bersimpuh. Namun itu belum cukup bagi Biru. Tubuh Biru melayang dengan kaki kanan lurus ke depan. Menghantam dada pimpinan penghadang itu dengan sangat kencang.


"Uhhuuukkkk!!!!" Percikan darah keluar dari mulutnya. Tubuhnya melayang beberapa saat dan kemudian jatuh ke tanah dengan sangat kuat.


Nenek Keyko dan Bibi Lun yang menyaksikan itu takjub dengan kemampuan bela diri yang dimiliki Biru.


"Terima kasih, Nak." Nenek Keyko segera memeluk Biru yang berjalan menghampiri mereka.


"Sudah tugas saya melindungi Nenek." Ujar Biru begitu mengurai pelukan mereka.


"Nyonya Muda hebat. Terima kasih sudah menyelamatkan saya." Kata Bibi Lun dengan sudah mata berair.


Biru mengusap buliran yang sempat menetes. "Sama-sama, Bibi."


"Jadi, sekarang bagaimana, Nek? Mau lanjut atau kembali ke paviliun?" Tanya Biru.


Nenek Keyko berpikir sejenak. "Lebih baik kita kembali. Biarkan orang lain membersihkan jalanan ini dulu. Besok baru kita ke rumah kaca."


"Baiklah kalau begitu." Biru kembali berjalan di sisi Nenek Keyko, dan Bibi Lun mengikuti mereka dari belakang.

__ADS_1


...****************...


  


__ADS_2